Kampus Swasta

Oleh Amelia Az Zahra

Meraih kesuksesan bukanlah perkara mudah untuk diraih. Ia selalu diiringi oleh perjuangan dan pengorbanan, meski harus ditempuh di tengah segala keterbatasan. Aku Amelia Az Zahra, gadis berumur 18 tahun yang menjadi lulusan SMAN 2 Kota Mojokerto pada tahun 2023. SMAN 2 Kota Mojokerto merupakan sekolah terbaik di Kota Mojokerto. Aku masuk ke dalam kelas unggulan di SMA itu. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut dan selalu berusaha keras dalam belajar. Kerja kerasku selama 3 tahun sekolah di situ membuahkan hasil, aku berhasil meraih peringkat 13 paralel di jurusan MIPA. Dengan prestasi ini, aku berkesempatan mengikuti SNBP 2023, jalur seleksi yang menjadi harapan banyak siswa di Indonesia untuk masuk ke perguruan tinggi negeri tanpa harus melalui ujian tertulis. 

Kepercayaan diri dan harapanku tinggi saat itu. Aku mendaftar di dua jurusan impianku dan merupakan top pilihan siswa Indonesia yaitu Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) di Universitas Airlangga (Unair). Aku membayangkan betapa bangganya diriku dan keluargaku jika aku bisa lolos ke salah satu jurusan tersebut. Hari-hariku diisi dengan doa dan harapan agar bisa lolos. Namun, ketika pengumuman tiba duniaku serasa runtuh. Aku dinyatakan tidak lolos. Aku menerima kabar itu saat sedang ujian sekolah. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, apalagi melihat banyak teman-teman yang berhasil lolos. Kekecewaan dan kesedihan langsung menghantamku, dan rasanya sulit sekali untuk menerima kenyataan itu.

Meski hatiku terasa remuk, aku memutuskan untuk tidak menyerah. Aku yakin aku harus mencoba lagi, dan kali ini melalui SNBT 2023. Aku tetap mendaftar di FK dan FKG Unair, berharap bahwa usahaku yang kedua ini akan membuahkan hasil yang lebih baik. Aku mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, belajar dari pagi hingga malam, mengikuti bimbingan belajar, dan mengerjakan latihan soal-soal SNBT tanpa henti. Aku benar-benar ingin membuktikan bahwa aku mampu. Namun, takdir sekali lagi berkata lain, aku dinyatakan tidak lolos. Pengumuman itu datang seperti hantaman keras yang meluluhlantakkan semua harapanku. Kesedihan semakin mendalam, dan aku merasa dunia tidak adil padaku. Tekanan demi tekanan membuatku begitu lelah, hingga aku harus dirawat di rumah sakit karena kondisi fisikku drop.

Di titik terendah itu, aku merasa sangat putus asa. Rasanya seperti semua pintu tertutup rapat, dan aku mulai meragukan diriku sendiri. Tapi di tengah kegelapan itu, aku tahu bahwa aku tidak bisa terus-terusan terpuruk. Aku harus bangkit dan mencari jalan lain. Orang tuaku selalu mendukungku dan mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari perjalanan hidup. Namun, satu hal yang sangat berat adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa ikut jalur mandiri di Unair. Biayanya terlalu mahal, dan aku tidak ingin membebani kedua orang tuaku. Apalagi, dua kakakku juga masih berkuliah, dan aku tahu betapa besar pengorbanan orang tua kami untuk membiayai pendidikan kami. Dengan berat hati, aku memutuskan untuk gap year, mengambil waktu satu tahun untuk introspeksi dan mempersiapkan diri lebih baik lagi.

Masa gap year itu tidak mudah bagiku. Setiap hari, aku dihadapkan dengan rasa takut dan kecemasan akan masa depan. Namun, aku berusaha untuk tidak berdiam diri. Aku mencoba mencari peluang lain dengan mendaftar beasiswa di Telkom University, berharap bisa melanjutkan pendidikan di sana tanpa harus membebani orang tua. Aku berhasil melewati beberapa tahap seleksi, tapi lagi-lagi keberuntungan belum berpihak padaku. Aku gagal di tahap akhir. Rasa kecewa itu datang lagi, tapi aku tahu aku tidak boleh berhenti. 

Ketika pendaftaran sekolah kedinasan dibuka, aku pun mencoba belajar untuk tes SKD, berharap bisa mendapatkan kesempatan di sana. Aku belajar materi baru yang jauh berbeda dari sebelumnya, menyiapkan mental untuk menghadapi seleksi yang sangat ketat. Sayangnya, aku tidak lolos. Rasa lelah mulai menghampiri, tapi aku tetap mencoba bangkit. Tak berhenti sampai di situ, aku juga ikut tes CPNS untuk lulusan SMA yang saat itu sedang dibuka. Aku mengikuti semua prosedurnya, berharap ada secercah harapan di jalur ini, tapi sekali lagi, aku belum berhasil sampai akhir. 

Di tengah kesibukan mengejar impian dan menghadapi kegagalan demi kegagalan, aku memutuskan untuk bekerja menjaga stand di mall. Ini kulakukan agar tidak terlalu tenggelam dalam kesedihan dan bisa tetap produktif. Setiap harinya, aku bekerja sambil tetap menyisihkan waktu untuk belajar. Rasanya tidak mudah, capek, sedih, dan terkadang rasa iri melihat teman-teman yang sudah kuliah sering menghampiriku. Kadang aku bertanya-tanya, kapan giliranku tiba? Namun, satu hal yang selalu kupegang adalah keyakinanku bahwa Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya. 

Di awal tahun 2024, aku mendengar kabar baik bahwa ada kebijakan baru dari SNPMB. Sekarang, peserta bisa memilih empat program studi, bukan hanya dua seperti tahun sebelumnya. Ini memberiku secercah harapan baru. Aku merasa inilah kesempatan yang harus kuambil. Aku tidak ingin menyia-nyiakan peluang yang ada. Di pilihan pertama, aku tetap menaruh S1 Kedokteran Unair, meski aku tahu tantangannya sangat besar. Di pilihan kedua, aku memilih S1 Manajemen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), jurusan yang mungkin belum pernah kupikirkan sebelumnya, tapi aku merasa ini adalah pilihan yang realistis. Pilihan ketiga dan keempat tetap di Unair, sebagai wujud kesetiaanku pada mimpiku yang pertama. 

Hari ujian SNBT tiba. Aku mendapatkan sesi kedua yaitu sesi siang, dan saat itu cuaca Surabaya sangat panas. Aku diantar ayahku naik sepeda motor menuju lokasi ujian di Unair. Panasnya terik matahari membuat kepalaku pusing, tapi aku berusaha tetap fokus dan tidak membiarkan kondisi fisikku mengganggu konsentrasiku. Tes berlangsung dengan lancar, meski aku tahu usahaku sudah maksimal, tetap ada rasa was-was yang menghantui.

Ketika pengumuman SNBT tiba, aku sudah pasrah. Aku tidak berharap banyak karena aku tahu beratnya persaingan. Namun, Allah menunjukkan kebesaran-Nya. Aku dinyatakan lolos di pilihan kedua, yaitu S1 prodi Manajemen Unesa. Rasa syukur langsung mengalir deras dalam hatiku. Aku menangis haru, memeluk orang tuaku, dan bersyukur karena akhirnya aku bisa menjadi mahasiswa. Meski jurusan ini bukan tujuanku sejak awal, tapi aku yakin bahwa ini adalah yang terbaik yang Allah berikan untukku saat ini. 

Pengalaman panjang dan berliku ini mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana kita. Kegagalan demi kegagalan justru membentuk diriku menjadi lebih kuat dan tabah. Aku bangga pada diriku sendiri karena berhasil melewati masa-masa sulit, terus berjuang, dan tidak menyerah meski berkali-kali jatuh. Aku percaya bahwa setiap kegagalan adalah bagian dari rencana besar yang telah Allah siapkan, dan aku yakin semua ini akan membawaku menuju masa depan yang lebih baik. Perjuangan ini mengajarkanku arti dari ketekunan, kesabaran, dan kepercayaan pada takdir yang telah digariskan-Nya. Kini, aku siap melangkah ke babak baru sebagai mahasiswa Manajemen Unesa, dengan keyakinan bahwa apa yang kupelajari dari perjalanan ini akan menjadi bekal berharga untuk meraih masa depan yang lebih cerah.