Kampus Swasta

Namaku Syifa, aku lahir di kota Makassar pada tahun 2005. Walaupun lahir di kota besar, aku menghabiskan masa kecil hingga remajaku disebuah desa yang jauh dari kota kelahiranku. Ibu ku merupakan seorang guru yang mengajar disalah satu sekolah menengah di desa tersebut. Masa kecilku terbilang cukup sulit. Aku dan keluargaku tinggal di desa yang tidak kami kenali, kami pun tinggal di perumahan yang sempit dan pada waktu itu kondisi ekonomi kami masih tergolong sulit dikarenakan ayah yang baru saja gagal dalam mengembangkan usahanya dan ibu yang masih berstatus sebagai guru honorer. Namun, kami beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik di sekitar kami.

Sejak kecil orang tuaku sudah menekankan betapa pentingnya Pendidikan.  Mereka selalu memberikan yag terbaik untuk menunjang pendidikanku. Ketika aku berada di bangku kelas 4 sekolah dasar, aku mengikuti olimpiade sains. Awalnya aku merasa sedikit minder dikarenakan perwakilan dari sekolah lain kebanyakan dari kelas 5 dan kelas 6 dimana mereka sudah lebh banyak mendapatkan materi yang kemungkinan akan muncul pada soal olimpiade. Namun berkat kerja keras dan doa dari orang tua, aku bisa menjadi perwakilan dari kecamatanku untuk lanjut di tingkat kabupaten. Orang tuaku sangat senang mendengar kabar tersebut.

Hari itu aku berangkat ke kota kabupaten dengan salah seorang guruku. Aku masih mengingat jelas pada hari itu ayah memberiku selembar uang lima puluh ribu sembari mengatakan “maaf ya nak, ayah cuma bisa kasih segini”. Aku tersenyum melihat wajah ayahku yang sangat tulus dan bangga kepadaku, mungkin bagi sebagian orang selembar uang itu hanya uang biasa, namun bagiku selembar uang dari ayah itu adalah sesuatu yang besar dan akan membawa keberkahan bagiku. Aku berjanji tidak akan membelanjakan uang itu, “aku ingin menyimpannya” pikirku saat itu. 

Beberapa tahun kemudian, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku di sebuah pesantren milik Prof. KH. Nasaruddin Umar M.A. Syukurnya, pada waktu itu kondisi keuangan kami sudah mulai naik. Di tahun pertama aku bersekolah disana, aku merasa sangat minder dikarenakan teman-temanku yang lain sudah memiliki basic dalam berbahasa Inggris sedangkan aku yang dari desa ini tidak tau apa-apa. Aku belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat bersaing dengan mereka dan beruntungnya aku berhasil meraih peringkat tiga diantara santri-santri yang lain. Beberapa waktu pun berlalu, akhirnya aku berada di kelas 10 Madrasah Aliyah. Masih di tempat yang sama, aku mulai aktif mengikuti lomba-lomba bahsa Inggrd dibantu oleh ustadz dan ustadzahku yang sangat baik dan tentunya ikhlas dalam membimbingku. Aku mengikuti olimpiade bahasa Inggris tingkat kabupaten dan berhasil memenangkan lomba tersebut dan membawa pulang piala. Tak berhenti disitu, aku kembali mengikuti olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan secara online, mulai dari olimpiade di bidang bahasa Inggris, biologi dan sejarah maupun lomba menulis cerpen. Dan berkat olimpiade-olimpiade tersebut aku berhasil mendapatkan 3 medali emas, satu medali perunggu dan tentunya beberapa sertifikat nasional yang akan sangat membantu dalam pendaftaran untuk masuk ke perguruan tinggi nantinya. Ketika kelas 11 Madrasah Aliyah, aku didapuk sebagai duta bahasa di pesantrenku setelah melalui seleksi bahasa Arab dan Inggris, selain itu aku juga menjadi ketua Forum Bahasa Al-Ikhlas, suatu lembaga yang saat itu setara dengan OSIS namun hanya fokus pada pengembangan bahasa asing di pondok pesantren. Aku juga mulai sering ditunjuk sebagai MC di beberapa acara penting di pesantren.

Singkat cerita, aku akhirnya berada di kelas 12. Dengan berbagai macam sertifikat nasional yang aku punya, aku memutuskan untuk mendaftar di Universitas Hasanuddin jurusan Hubungan Internasional dan Pendidikan Dokter Gigi. Namun sedihnya aku gagal diterima. Awalnya aku merasa kecewa pada diriku sendiri, aku sempat berpikir bahwa usahaku selama ini sia-sia. Hingga akhirnya dinyatakan lulus seleksi perguruan tinggi (SPAN) di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Aku sempat ingin menolak karena bukan itu kampus dan jurusan yang aku inginkan. Namun orang tuaku selalu mengingatkan bahwa semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Dengan berat hati, aku akhirnya menerima dan mencoba untuk meingikhlaskan kampus dan jurusan impianku. Setelah setahun lebih menjalani kehidupan perkuliahan, aku mulai menyadari banyak hal. Walaupun pada awalnya semua terasa berat dan tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku selalu dipertemukan dengan hal-hal baik disekitarku. Aku beruntung bisa dipertemukan dengan orang-orang dan lingkungan yang baik sehingga aku bisa bertumbuh ditempat yang asing namun penuh dengan kebahagiaan ini.

Dari sini aku belajar bahwa tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan, terkadang kita harus mengalah pada takdir, namun bukan berarti kita harus menyerah pada mimpi kita. Aku percaya bahwa suatu hari aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada apa yang selama ini aku inginkan. Aku juga percaya bahwa akan selalu ada hal baik yang akan kita jumpai dimanapun kita berpijak. Tuhan itu Maha Adil.