Kampus Swasta

Hallo! perkenalkan saya Azka Naftania Anisti seorang remaja dari desa yang memiliki mimpi tinggi. Saya adalah anak ke-2 dari tiga bersaudara yang bertekad untuk dapat mengangkat derajat keluarga. Saya selalu mengusahakan yang terbaik, karena saya yakin akan ada jalan untuk orang yang berjuang. 

Latar Belakang Kondisi Keluarga

Semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa keluarga saya memiliki keterbatasan ekonomi. Yang saya tahu, kondisi keuangan keluarga saya tengah bermasalah cukup rumit. Pada awalnya, saya didera ketakutan dan overthinking. Saya bertanya pada diri sendiri, 

“Kira-kira aku bisa lanjut kuliah ngga ya?”

“Kalau aku kuliah, apakah aku akan menambah beban orangtuaku?”

 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sempat menjadi makanan sehari-hari bagi saya. Keraguan itu muncul disertai dengan fakta bahwa biaya kuliah tentu tidak murah. Semakin saya berpikir, rasanya justru semakin membingungkan. Saya hanya berada pada lingkaran ketakutan yang justru saya buat sendiri. Akhinya, perlahan saya mulai menguraikan pikiran-pikiran saya. Saya menulisnya di secarik kertas, yang isinya: 

Aku ingin membantu ayah dan ibu 

Aku ingin mengangkat derajat keluargaku 

Caranya ada 2, lulus sma langsung kerja atau kuliah dulu baru kerja

Kalau aku lulus sma langsung kerja, aku belum mampu, ayah ibu juga engga kasih izin

Jadi aku harus kuliah dulu supaya bisa dapat pekerjaan yang lebih baik 

Tapi kalau aku kuliah, biaya nya pasti juga banyak. Aku takut membebani Ayah dan Ibu

Jadi aku harus cari cara supaya bisa lanjut kuliah tanpa membebani Ayah dan Ibu.

 

Tulisan-tulisan itu adalah bukti nyata keresahan diri saya. Dibanding hanya dipikirkan, pikiran saya jauh lebih lega sesaat setelah menuliskannya. Karena dari situ, saya langsung dapat menyadari bahwa ternyata masalah saya tidak serumit itu. Ternyata saya hanya perlu mencari solusi terbaik untuk permasalahan saya. Hingga tibalah saya pada situasi dimana jika ada waktu luang, pasti saya akan mencari-cari informasi terkait beasiswa yang diberikan untuk kuliah. 

Menemukan Universitas Impian

Setelah berhari-hari browsing melalui internet dan sosial media, saya menemukan beberapa informasi terkait universitas yang menyediakan beasiswa untuk calon mahasiswanya. Informasi tersebut saya rangkum dan pilah, hingga akhirnya saya menemukan universitas yang kebetulan menyediakan program studi sesuai dengan minat saya, yaitu dibidang logistik. Alangkah senangnya saya pada saat itu. Tidak sampai disana, saya kembali melanjutkan mengulik informasi terkait syarat dan ketentuan pendaftaran dari program beasiswa tersebut. Saya berusaha memahami dengan baik setiap tahapan seleksi yang nantinya akan saya lalui. Jika dijabarkan, seleksi tersebut terdiri dari lima tahapan, yaitu administrasi, tes potensi akademik, tes psikotes, wawancara, dan medical check up.  Saya bertekad, saya harus menyelesaikan setiap tahapan tes dengan baik dan berusaha agar diterima. 

Mencuri Start Belajar

Langkah pertama yang saya lakukan adalah saya memberitahu orangtua saya terkait adanya program beasiswa tersebut. Saya meminta izin dan melihat respon dari kedua orangtua saya. Bersyukurnya orangtua saya memberikan respon positif dengan mendukung penuh dan memberikan doa-doa baiknya kepada saya. Dan dari sinilah perjuangan saya dimulai kembali. 

Saya berusaha memahami dengan baik setiap tahapan seleksi yang nantinya akan saya lalui. Jika dijabarkan, seleksi tersebut terdiri dari lima tahapan, yaitu administrasi, tes potensi akademik, tes psikotes, wawancara, dan medical check up. Saya yakin disetiap tesnya pasti perlu dipersiapkan dengan baik. Dan untuk mempelajari semua tes yang diujikan, tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sehingga saya merasa, saya tidak boleh lagi membuang-buang waktu.

Usai menyiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk proses seleksi administrasi, saya tidak mau mengulur waktu. Sembari menunggu proses pendaftaran ditutup dan seleksi tahap pertama di umumkan, saya mengumpulkan soal-soal tes potensi akademik, tes psikotest, dan pertanyaan yang sering ditanyakan saat wawancara berlangsung. Saya mencari contoh soal melalui internet kemudian saya cetak agar lebih mudah saya kerjakan. Tidak hanya itu, saya juga membeli beberapa buku di online store, menonton pembahasan di YouTube, dan bertanya kepada kakak kelas SMA maupun kakak tingkat yang saya ajak berkenalan untuk dijadikan referensi. 

Disaat teman-teman sekolah masih santai, saya sudah harus giat belajar. Disela pergantian jam pembelajaran di sekolah, saya memilih untuk mengerjakan latihan soal disaat teman-teman saya dapat leluasa bermain gadget. Jika jam istirahat sekolah belum habis, saya kembali membuka buku dan mengerjakan soal latihan sembari menunggu pelajaran selanjutnya dimulai. Lalu saat pulang sekolah, hampir setiap hari saya selalu mampir ke perpustakaan daerah untuk lanjut mengerjakan soal latihan hingga petang berakhir. Kegiatan tersebut terus berulang dan menjadi rutinitas, hingga hari dilaksanakannya tes seleksi tiba.

Manajemen Waktu yang Baik

Meski sibuk mempersiapkan diri untuk tes masuk universitas, saya tidak bisa serta merta meninggalkan tanggung jawab saya yang lain. Sebagai anak, saya memiliki tanggung jawab untuk membantu orangtua di rumah. Sebagai pelajar, saya tidak boleh melupakan tanggung jawab saya untuk mengerjakan tugas dan mengikuti ujian sekolah yang tentu harus dipersiapkan juga. Selanjutnya, sebagai pengurus organisasi, saya memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam setiap kegiatan yang akan atau sedang dilaksanakan. Dan sebagai makhluk Tuhan, kewajiban untuk beribadah adalah suatu hal yang tidak dapat diganggu gugat. 

Segala peran yang saya jalankan tentu tidak dapat berjalan lancar tanpa adanya manajemen waktu yang baik. Dalam hal ini, saya mensiasati dengan menetapkan waktu beribadah adalah sebagai saat yang tepat untuk saya beristirahat dan melaksanakan ibadah. Tanggung jawab saya untuk membantu membersihkan rumah, saya alihkan di pagi hari sebelum berangkat sekolah dan setelah pulang sekolah. Sedangkan tugas sekolah saya kerjakan setelah beres-beres rumah selesai. Organisasi yang saya ikuti untungnya bersifat fleksibel, sehingga saya dapat menyesuaikan waktunya dengan mudah. 

Melawan Rasa Malas dan Berusaha Konsisten Belajar

Rutinitas yang saya lakukan setiap hari nyaris sama. Saya berkutat dengan berbagai macam soal yang nantinya akan diujikan dan tidak sekali dua kali rasa malas itu datang. Namun, saya selalu ingat dengan tujuan saya. Saya ingin sukses, saya ingin lolos dan masuk ke universitas ini. Saat saya merasa malas belajar, saya akan mengambil sedikit jeda waktu untuk melakukan hal-hal yang saya sukai. Saya membuat suasana hati dan tempat belajar agar terasa nyaman untuk belajar kembali. Dan cara itu sukses membuat saya kembali belajar. 

Tahapan seleksi yang dilakukan berjalan selama hampir 5 bulan. Selama itu saya berusaha untuk konsisten. Saya lebih dulu belajar bahkan sebelum pengumuman lolos ke tahap selanjutnya diumumkan. Setelah tes administrasi, tanpa menunggu pengumuman saya langsung belajar materi tes potensi akademik. Setelah tes potensi akademik, saya lanjut mencari tahu terkait tips dan trik menjawab tes psikotes. Dan seterusnya hingga tes medical check up. 

Berdoa Setelah Berusaha 

Bagi saya, yang tak kalah penting selain usaha adalah doa. Saya yakin segala hal yang terjadi dalam hidup saya adalah atas kehendak Allah. Maka setelah beribadah saya selalu menyisipkan doa agar Allah memberikan saya kemudahan, memberikan saya hasil yang terbaik, dan memberikan kekuatan kepada saya untuk menerima segala hasilnya.  Akhirnya usaha yang disertai dengan doa membuahkan hasil yang luar biasa baik. Pada tanggal 29 Mei 2024, saya dinyatakan lolos dan diterima menjadi penerima beasiswa di Universitas Logistik dan Bisnis Internasional (ULBI) dengan program studi Administrasi Logistik sesuai dengan impian saya selama ini. 

Dengan ditulisnya cerita ini, saya harap dapat memberikan inspirasi dan semagat kepada teman-teman yang membacanya. Saya percaya setiap dari kita dapat masuk universitas yang diimpikan apabila mau berusaha dan berjuang. Sampai jumpa!