Kampus Swasta

Karya : Azzura F. Sonik

‘Deg’ jantungku terus berdegup kencang tat kala seorang guru menghampiri kelasku dengan selembaran kertas berisi daftar nama siswa siswi eligible. “Apakah aku salah satunya?” “Apa aku bisa masuk urutannya?” ucapku dalam hati. Keringatku mulai mengucur deras dari muka, tangan, kaki, dan….

Tunggu tunggu sepertinya aku belum memperkenalkan diri. Aku Azzura Faadhilah Sonik, biasa dipanggil Azzura, Ara, atau Sayang juga boleh. Lanjut, awalnya aku sudah merasa percaya diri bisa mendapatkan posisi eligible. Tapi, namanya juga wanita pasati banyak overthinkingnya. Sekolahku termasuk sekolah top 1000, siswa siswinya tidak perlu diragukan lagi, sudah pasti pintar pintar dong, karena itu harapanku sedikit demi sedikit memudar. 

Guruku pun mulai menyebutkan satu persatu nama temanku di kelas, sayang namaku tak kunjung terdengar. Rasanya saat itu harapanku sudah benar benar memudar. Hingga masuk ke urutan 60-an, salah satu nama membuatku lemas seketika. Namaku disebut pada urutan ke-69 dari 90 siswa yang diterima. Responku jelas kaget dan jantungku benar benar tak kurasakan lagi, tak perduli aku urutan berapa, tak perduli peluang lulus bagaimana, yang kupikirkan saat itu bagaimana caranya aku pulang dan memberi informasi ini pada ibuku. 

Itu sekilas cerita awal dari perjalanan panjangku. 

“Dek, kamu nggak belajar? Nanti waktu SNBT mau jawab apa kalau nggak belajar?” omel Bundaku. 

“Bun, pengumuman SNBP aja belum keluar loh, masa udah harus belajar sih, nanti aja ah belajarnya kalau udah pengumuman.” Memang terkesan sombong, tapi itu merupakan salah satu sifat burukku di masa lalu. 

Aku selalu yakin dan percaya diri bahwa aku akan lulus pada SNBP, padahal jurusan yang ku ambil termasuk jurusan terfavorit. Farmasi UNSRI salah satu universitas impianku. Aku berasal dari Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, bagiku masuk UNSRI merupakan cita cita seluruh anak Lubuk Linggau. Di sekolahku tak banyak orang yang bisa tembus ke universitas di pulau Jawa, karena sekolahku berada di kota kecil yang jauh dari Ibu Kota Sumatera Selatan. Hal itu membuatku tak pernah berpikir untuk menginjak pulau Jawa. 

“Emangnya kamu bakal lulus? Jurusan yang kamu ambil itu termasuk favorit loh,” ucap Bundaku. 

“Bunda kok jadi doain yang buruk buruk sih. Harusnya Bunda dukung pilihanku dong,” rungutku. Aku merasa kesal dan merasa diremehkan. 

“Bunda kan cuma ngingetin, yaudah kalau nggak mau dengar,” balasnya kesal. Perdebatan seperti ini sudah sangat sering terjadi semenjak aku dinyatakan lulus eligible. 

Setelah ku pikir pikir, sifatku memang sangat buruk, pemalas, sombong, dan selalu percaya bahwa semua akan berjalan sesuai rencanaku. Padahal semua yang kita jalani itu Tuhan yang menentukan. Seperti lagu Bernadya “Lebih percaya cara caraku, pilih ragukan rencana sang maha penentu.” Karena pemikiran yang seperti itu, aku tak pernah mempersiapkan SNBT, tak pernah memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya. 

Hingga tibalah aku pada puncak runtuhnya semua pondasi harapan yang kubangun. Pada tanggal 26 maret, hari di mana pengumuman SNBP akhirnya keluar, aku mendapatkan tanda cinta dari pihak SNMPMB. Aku tidak diterima dipilihan pertama maupun kedua. Saat itu aku baru saja bangun tidur, terbangun karena temanku menelpon untuk membuka pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Prestasi. aku berharap semua ini hanya mimpi dan halusinasiku. Rasanya benar benar seperti mati rasa, aku kecewa dan aku merasa sedih tak bisa membanggakan Bundaku, aku juga sedih karena namaku tak jadi dipajang di feed instagram sekolah. 

Jika kalian berpikir aku akan langsung menangis, maka kalian salah. Aku tak menangis, justru aku tertawa untuk menutupi semua sedihku. Dengan suara yang berat dan tercekat aku memberi tau Bundaku, “Bun, aku nggak lulus.” Aku siap menerima jika Bundaku marah, tapi aku salah. 

“Nggak papa, kan sebelumnya Bunda udah bilang jangan terlalu berharap. Jurusan yang adek mau itu favorit, universitasnya juga favorit, wajar aja kalau nggak lulus. Dan…kalau adek mau nangis, nangis aja.” Bundaku tampak tenang, dengan suara lembutnya yang membuat pertahananku runtuh seketika. 

Beribu ribu maaf kuucapkan dengan air mata yang terus mengalir. Entah kenapa, padahal sebelumnya tak begini. Rasanya lebih sakit ketika Bundaku tak memarahiku, rasanya lebih kecewa ketika Bundaku menenangkanku. ‘Apa aku sudah gagal?’ aku sempat berpikir demikian, tetapi ayahku terus meyakiniku bahwa Tuhan itu baik, dan pilihan Tuhan pasti yang terbaik untukku. 

Hari hari berikutnya kulalui tanpa semangat, jadi gini rasanya ditolak ‘sakit tapi tak berdarah’. Teman seperjuanganku juga sama tak lulusnya di SNBP ini, tapi mereka memiliki cadangan tersendiri. Karena aku berasal dari madrasah, aku dan teman teman sekolahku bisa mencoba mendaftar di UIN melalui jalur SPAN-PTKIN. Jalur SPAN-PTKIN merupakan jalur masuk berdasarkan nilai rapot. Teman teman terdekatku mendaftar ke sana, dan aku tidak. Alasannya karena aku tidak tertarik untuk masuk UIN. 

Dan hari hariku semakin suram ketika teman temanku dinyatakan lulus melalui jalur SPAN-PTKIN. Bukannya aku tak ikut bahagia, hanya saja aku merasa tertinggal jauh dari mereka. Sedih, aku merasa sangat insecure. Kini aku taka da lagi teman belajar, dan semangat belajarku juga perlahan menghilang. 

“Bun, aku nggak mau ikut UTBK ya,” ucapku tiba tiba. 

“Loh kenapa?” heran Bunda.

“Teman temanku semuanya udah masuk kuliah, sedangkan aku belum. Aku nggak mau kalau belajar sendirian, lagian ujung ujungnya pasti nggak lulus lagi,” sungutku. Alasanku berpikir demikian karena kakakku juga tak lulus pada SNBT 3 tahun yang lalu dan pastinya aku akan sama dengannya. 

“Terus kalau nggak ikut UTBK adek mau kuliah di mana?” Tanya bunda.

“Aku mau kuliah di kampus tempat abang kuliah aja, masuk swasta.” 

“Yaudah nanti Bunda bilang sama Ayah dulu.”

Kedua orang tuaku pernah berkata, mereka tak mengharapkanku masuk PTN, PTS juga tak masalah asalkan aku serius untuk kuliah. Karena itu aku menjadi semakin malas dan memilih untuk mengibarkan bendera putihku. 

Keesokan harinya, ayah memanggilku untuk berdiskusi. Aku pikir ayahku akan menolak.

“Jadi adek nggak mau ikut UTBK?” Tanya ayahku.

“Iya, aku mau masuk swasta aja,” jawabku mantap.

“Adek yakin? Emangnya adek nggak mau ngerasain ikut UTBK?” ayahku mencoba untuk bernegosiasi. Ayahku bukannya tak setuju aku masuk swasta hanya saja ini terlalu cepat untuk menyerah. 

Aku terdiam sejenak. “Ayah sama Bunda nggak mengharapkan adek lulus kok. Tapi setidaknya adek ada pengalaman ikut UTBK, selama ini kan adek belum pernah ikut tes. Nanti waktu tes UTBK di Bengkulu adek jangan mikir mau tes, tapi kita ke sana buat jalan jalan, sambil mencoba hal hal baru,” saran Ayahku. 

“Yaudah Yah adek daftar UTBK.”

Awalnya aku bingung ingin mengambil jurusan apa, hatiku masih tertuju pada suatu ketidakpastian seperti Farmasi UNSRI. Tak pernah ada di list impianku untuk bersekolah di pulau Jawa. Namun, satu jurusan menarik perhatianku. Pengobatan Tradisional Indonesia jurusan langka yang hanya ada di dua universitas saja, Airlangga dan Universitas Negeri Yogyakarta. 

Aku berpikir, “Apa aku coba UNY aja ya? Di kota yang katanya kota pelajar.”

Ragu tapi rasa penasaranku membawaku untuk memilih Petra dipilihan pertama. Ini juga hasil diskusiku dengan kedua orang tuaku. Walau abangku berkata jangan terlalu berharap, dan Bundaku yakin aku tak lulus dengan cara belajarku yang memang belum pernah belajar sama sekali. Aku tetap memilih Jogja di pilihan pertama. 

Tak lama dari saat aku mendaftar UTBK, Bunda dan Ayahku mengajakku ke Padang untuk menagntarkan nenekku. Sejujurnya aku merasa malas sekali, karena yang akan ditanyakan pasti “Jadinya kamu kuliah di mana Zur?” 

Waktu itu ketika aku berkumpul dengan semua sepupuku kita berbincang bersama terkait masa depan. Wajahku biasa tapi hatiku tak tenang. Aku yakin pertanyaan di atas akan ditanyakan tak lama lagi. 

“Nanti Zura ada niatan merantau?” Tanya kakak sepupuku. Tuhkan nanya nanya. 

“Dia mana bisa jauh dari Bundanya, dia kan manja. Kemana mana pasti harus sama Bunda.,” cerca Tanteku cepat. Tuhkan sok tau.  

“Engga kok, nanti aku rencananya mau kuliah di Padang atau nggak Palembang,” sanggahku. 

“Ngerantau kok dekat dekat yang jauh dong kalau merantau,” sindirnya. Lah kok ngatur. 

Aku tak menjawab lagi. Aku memang sengaja tak memberi tau siapapun terkait pilihan pertamaku di SNBT, karena aku takut jika tidak lulus maka aku akan malu. Tapi, dari hari itu aku bertekad untuk lulus di pilihan pertama. Aku harus masuk Jogja untuk membuktikan kepada tanteku bahwa aku bisa kok. Anak Lubuk Linggau ini juga pasti bisa kok ke Jawa. 

Setelah pulang dari Padang. Aku mulai memaksakan diriku belajar tiap malam. Bersumberkan youtube Pak Frans dan soal soal dari bank soal. Walau kadang nangis, tapi aku tetap belajar. Terus, terus, dan terus sampai hari H-1 keberangkatanku ke Bengkulu. Kondisiku mulai tak jelas, kepalaku pusing, mual, dan jantungku tak kunjung tenang. Itu menyebabkanku tak bisa tidur pada malam harinya. Bundaku mengerti apa yang ku rasakan, ia mengelus elus punggungku hingga aku terlelap. Ketika aku sampai di Bengkulu, ayahku membuktikan ucapannya terkait jalan jalan. Ayahku mencoba untuk membuatku tak terpikirkan UTBK, aku jalan jalan ke Pantai, memakan makanan favoritku, dan lain lain. Sampai hari H ujian tes berbasis komputer dimulai. 

Setelah UTBK selesai aku hanya meratapi apa yang akan ku lakukan selanjutnya. Aku tetap mendaftar di swasta tempat abangku kuliah. Aku hanya mendaftar tetapi tidak mengikuti tesnya. Kenapa? Karena aku lulus di pilihan pertamaku di SNBT. Yup, Jogja I’m coming. 

Aku sempat ragu, aku tak memiliki keluarga di sini. Tak ada siapapun yang ku kenal, dan taka da bahasa Jawa yang ku pahami. Tapi apakah aku menyerah? Tidak, aku tidak menyerah. Aku bukanlah aku yang dulu, yang selalu takut mencoba hal hal baru, selalu takut untuk memulai kehidupan yang baru. Aku tetap memilih Perguruan Tinggi Negeri itu. Aku yakin Tuhan baik padaku. Ketika aku dilanda rasa bimbang, temanku bernama Neza mengenalkanku pada Budhenya di Jogja. Padahal mereka tak mengenalku tapi mereka merangkulku dan keluargaku dengan baik selama di sana. 

Mereka mengenalkanku tentang Jogja dan seisinya. Tentang tata karma dan sedikit bahasanya. Aku merasa kagum, senang, terharu, begitu pula dengan Bundaku. Seandainya saat itu aku memilih menyerah mungkin aku tak akan pernah menginjakkan kakiku di pulau Jawa. Mungkin aku tak akan pernah melihat Malioboro, mendaki Candi Prambanan dan berfoto di tugu UNY. 

Untungnya bumi masih berputar,

Untungnya ku tak pilih menyerah,

Untungnya ku bisa rasa hal hal baik yang datangnya belakangan. 

Ya… kini aku telah 2 bulan di Jogja. Homesick? Jelas saja jarak dari kotaku ke Jogja memakan 2 hari perjalanan menggunakan bus, dan menghabiskan 2 juta dengan pesawat. Aku bukan keluarga kaya yang bisa bolak balik menggunakan pesawat. 

Tapi, seandainya aku tak di sini. Aku tak mungkin berani untuk terus berkembang, untuk mencoba terjun dalam organisasi, dan bertemu dengan teman teman yang merangkulku hangat.

~TAMAT~