Namaku Aisya Azura, dan di usiaku yang baru menginjak delapan belas tahun, hidupku seakan menjadi seperti labirin yang penuh dengan teka-teki menantang. Setiap sudut menyimpan rahasia dan rasa sakit yang tak terduga, dari kabar buruk yang terus saja menghantui hingga impian yang terasa semakin jauh. Namun, di balik setiap rintangan, ada kekuatan yang membara dalam diriku, mendorongku untuk terus melangkah. Dalam kisah ini, aku akan mengungkapkan perjuangan yang telah membentukku, dan bagaimana setiap cobaan itu mengajarkan arti sejati dari keberanian dan harapan.
Semua itu bermula pada Jumat, 7 Juni 2024. Menerima surat dropout dari sekolah jelas bukanlah impian bagi seorang siswa di penghujung masa SMA-nya Di mana ini adalah masa-masa paling memusingkan dengan berbagai macam ujian yang seolah tak ada habisnya. Namun, di tengah kesulitan ini, kenangan-kenangan indah juga sedang terukir. Awalnya, aku berharap untuk mengabdi di pesantren selama setahun penuh pada tahun ajaran baru, tetapi kenyataan berkata lain; aku dikeluarkan dengan kasus yang dapat terbilang cukup remeh.
Konsekuensi yang memang sudah seharusnya ku terima. Berani mengirimi kedua orangtuaku sebuah pesan whatsapp lewat handphone kakak kelasku yang diam-diam ia selundupkan ke dalam pondok pesantren, adalah langkah fatal yang mengakhiri impianku. Sudah seharusnya aku mengambil banyak pelajaran pada SP 1 dan SP 2, namun aku tidak pernah membayangkan bahwa SP 3 yang menyelesaikan masa SMA-ku lebih awal kala itu adalah kesalahan teremeh yang berakibat fatal. Kala itu, terdapat sembilan orang anak yang dikeluarkan termasuk aku.
Semua itu kian remuk ketika ijazahku tertahan sebagai jaminan untuk membayar denda yang sama sekali tidak murah. 50.040.000 adalah nominal yang tak akan pernah ku lupakan seumur hidup. Bahkan aku tak pernah melihat nominal sebesar itu pada rekening kedua orang tuaku. Dengan apa aku harus membayar denda ini? Batinku merintih.. Dan di sinilah aku, memeluk raga ini sembari sesekali berbisik “Tak apa, tak apa Ra.”
Sejak hari itu aku terus berpikir keras tentang bagaimana akan melanjutkan hidupku. Sebagai anak sulung dalam keluarga menengah ke bawah, mewajibkanku memikul sebuah tanggung jawab besar atas kesejahteraan ketiga adikku. Semua itu terasa semakin berat ketika aku menyadari sulit sekali berupaya tanpa selembar ijazah. Hingga tebersit sebuah ide, bagaimana jika aku mencoba mengikuti ujian paket C?
Namun, sayangnya, ide itu tidak berjalan mulus seperti yang kuharapkan. Pada hari itu, seseorang dari Kementerian Pendidikan memberi tahu ibuku bahwa individu yang telah memiliki ijazah tidak dapat mengikuti ujian paket C. Mengingat bahwa menahan ijazah merupakan tindakan yang melanggar undang-undang, ia pun menyarankan ibuku untuk mengajukan laporan kepada pihak Kementerian Pendidikan di wilayah pesantrenku.
Dengan mempertimbangkan surat persetujuan yang dikeluarkan pihak pesantren, yang melarang kami membawa urusan sekolah kepada pihak berwajib, mengajukan laporan tentu bukanlah langkah yang mudah. Situasi ini jelas menciutkan semangatku dan membuatku merasa tertekan.
Tahun ajaran baru pun telah dimulai. Normalnya teman-temanku akan mulai menjalani masa pengabdiannya selama setahun. Di antara sembilan anak yang dikeluarkan, lima di antaranya sudah mulai aktif beraktivitas. Mereka bangkit dengan cepat, membuatku semakin berpikir keras tentang langkah apa yang harus kuambil saat ini.
Di tengah keterpurukan, aku menemukan sebuah lembaga tahfidz yang menawarkan beasiswa bagi siswa dengan nilai rapor di atas 80 Dengan penuh antusiasme, aku mendaftar di lembaga tersebut. Aku melewati berbagai prosedur pendaftaran dan berdoa dengan penuh harap, yakin bahwa Allah akan merestui jalanku. Dalam waktu dua hari, aku menerima kabar bahwa aku diterima sebagai peserta. Senang sekali rasanya, sampai seolah-olah aku akan mengakhiri mimpi-mimpi kelam ini.
Namun, ibuku tidak setuju dengan kepergianku. “Cianjur itu jauh, Kak! Kenapa tidak cari yang di Jogja saja?” Ucapnya kala itu. Aku terdiam, menarik napas dalam-dalam untuk menahan kekecewaan yang semakin mendalam, sementara isak tangis pilu mulai menggerogoti hatiku. Ya Allah… jika ini bukan jalanku, lalu ke mana lagi aku harus melangkah, ya Allah…
Iri sekali melihat mereka yang diterima di kampus-kampus ternama, sedangkan aku di sini masih bergelut dengan kenyataan pahit yang harus ku terima. Hingga suatu hari, sepupuku mengenalkan sebuah kampus dengan biaya terjangkau tanpa uang pangkal. Aku yang semula ragu akhirnya memantapkan diri ini untuk mendaftar melalui jalur rapot. Ku usahakan segala persyaratan kala itu. Mulai dari nilai rapot semester 1 hingga semester 5, surat tes kesehatan, foto pas 3×4 berlatar biru, dan masih banyak lagi. Semua itu berhasil aku lengkapi.
Sedikit sekali rasa antusiasku kala itu. Aku pasrah, dan menyerahkan segalanya kepada Allah, apapun hasilnya nanti, semua itu sudah sesuai dengan kehendak-Nya dan aku siap menerimanya. Aku mengingat firman-Nya dalam surah Al-Baqoroh ayat 216 “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Dan hari yang tak pernah ku duga pun tiba—hari di mana Allah menjawab semua keluh kesahku. Di universitas ini, Allah memberiku kesempatan untuk memulai langkah baru. Usia delapan belas memang merupakan masa terberat bagi seorang remaja, dan aku merasakannya begitu dalam. Beban yang kutanggung terkadang membuatku sulit berdamai dengan kenyataan. Namun, di titik ini, banyak pelajaran berharga yang bisa aku ambil, syukuri, dan pelajari. Diterima di universitas tahun ini adalah pencapaian besar yang sepenuhnya di luar kendaliku. Semua ini tidak mungkin terjadi tanpa kehendak-Nya. Maka percayalah bahwa Allah akan selalu menepati janji-janji-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Aku, Aisya Azura, bersiap untuk memasuki dunia perkuliahan pada prodi Kebidanan di Islam University. Aku amat sangat bersyukur atas perjalanan panjang yang telah kujalani. Dari setiap cobaan yang menguji ketahanan hatiku, aku belajar untuk tidak menyerah, dan setiap langkah menuju mimpiku terasa lebih berarti. Hari ini, aku meninggalkan masa lalu yang penuh tantangan dan membuka lembaran baru yang dipenuhi harapan. Dengan tekad yang kuat dan semangat yang membara, aku siap untuk menghadapi segala halangan di depan, berkomitmen untuk menjadi seorang bidan yang tidak hanya ahli, tetapi juga membawa nilai-nilai kasih sayang dan kepedulian kepada setiap nyawa yang kutangani. Ini adalah awal baru, dan aku yakin setiap perjuangan ini akan membimbingku menuju masa depan yang lebih cerah.

