Kampus Swasta

Oleh : Eka Annisa Zalfa Salsabila

Hallo namaku Salsa, mungkin kalian bisa memanggilku Eazs agar kita lebih akrab. Aku sekarang tengah duduk di bangku perkuliahan Jurusan Sastra Indonesia di salah satu universitas negeri di Indonesia, orang-orang biasa menyebutnya “Kampus Para Juara”. Di sini aku akan menceritakan kepada kalian tentang perjalananku mendapatkan universitas negeri, mungkin menurut kalian kisah dan perjalananku ini biasa saja tetapi, aku harap kalian bisa mengambil sisi positif dibalik kisah dan perjalananku ini. Selamat Membaca

Memasuki bangku kelas 3 SMA aku melihat banyak kakak kelas ku yang diterima di perguruan tinggi negeri, hal itu membuat aku bertekat ingin seperti mereka. Aku memiliki keinginan bahwa besok aku harus menjadi mahasiswi di Institute Teknologi Sepuluh Nopember program studi DKV, dari situ aku mulai berfikir bahwa aku bukan siswa yang pintar apalagi berprestasi jadi, tidak mungkin aku akan masuk ke dalam daftar siswa eligible maka, jalur satu-satunya yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kampus impian adalah SNBT karena tidak mungkin aku mendaftar melalui jalur mandiri itu akan memakan banyak biaya dan memberatkan Ayah. Aku mencari informasi seputar SNBT mulai dari subtest yang diujikan, buku-buku yang digunakan, tempat bimbel,dan  try out online gratis. Aku mendapat rekomendasi buku yang sesuai untuk belajar SNBT yaitu “THE KING 2024” buku itu baru rilis di bulan juni 2023 dan aku langsung ikut pre-order pertama. Mengapa aku mimilih buku “THE KING 2024”? karena buku itu tidak hanya menyediakan latihan-latihan soal saja tetapi juga tersedia materi dan penjelasan terkait 7 subtest yang akan diujikan di SNBT dan itu sangat cocok untuk aku yang pemula. Waktu itu aku belum menemukan tempat bimbel yang sesuai jadi, aku hanya mengandalkan belajar dari buku dan latihan try out online. Pertengahan bulan Juli aku diajak temanku join bimbel Bahasa Inggris, tentu saja langsung aku setujui karena aku juga belum bisa berbahasa inggris, mapel itu juga masuk kedalam 7 subtest SNBT maka, aku mau mau saja, sebelum itu aku harus izin dahulu ke orang tua ku, beliau mengatakan ”Tidak usah les Bahasa Inggris, belajar sendiri kan bisa, jangan buang-buang uang, kalo mau les sekalian semuanya aja jangan satu-satu”. Setelah orang tua ku menyarankan seperti itu aku langsung menolak tawaran temanku dan kemudian mendaftar di tempat bimbal lain. Aku menemukan tempat bimbel yang sesuai untukku mulai dari mentor yang seru, ruangan yang nyaman, pennyampaian materinya mudah dipahami tapi, aku hanya bertahan satu bulan saja  karena orang tua ku menyuruhku berhenti, beliau berkata “Belajar sendiri aja, engga usah les-lesan segala, cari latihan-latihan soal di internet kan banyak, Ayahmu engga punya uang buat biayain kamu”  “Kalo belajar sendiri aku engga bisa, apalagi di bagian penalaran matematika, pengetahuan kuantitatif, sama literasi bahasa inggris itu susah kalo aku engga diajari” orang tuaku tidak menjawab dan aku mau tidak mau harus berhenti bimbel, sejak saat itu di akhir bulan Agustus aku mulai belajar SNBT secara mandiri lagi, mengandalkan latihan soal yang dibagikan secara gratis di media sosial.

Beberapa bulan berlalu dan nilai try out ku belum menunjukan adanya perkembangan, aku mulai frustasi apalagi dihadapkan dengan permintaan orang tua agar aku tidak usah melanjutkan kuliah setelah lulus SMA, mereka menyarankan agar aku kuliah di dekat rumah saja, karena terbatas biaya yang akan dikeluarkan. Aku mulai merasa bingung dan bimbang, untuk apa aku belajar SNBT jika aku tidak direstui untuk kuliah di negeri ? semangat belajarku menurun, aku menangis setiap hari, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa kuliah di universitas negeri, menggunakan beasiswa KIPK itu tidak akan mungkin karena aku anak satu-satunya, sehingga tanggungan orang tuaku hanya aku saja dan juga kartu keluarga ku tidak terdaftar dalam kategori tidak mampu, ikut beasiswa yang lain pun tidak akan mungkin karena selama tiga tahun SMA aku tidak memiliki prestasi apapun. Aku berfikir aku ingin tetap kuliah, engga harus dkv dan engga harus ITS juga tidak apa, mungkin jurusan sastra lebih murah dari pada dkv sehingga tidak akan memberatkan Ayah, lagi pula aku juga suka membaca jadi jurusan sastra masih sesuai dengan minatku. Dari situ aku mulai mencari kampus negeri yang memiliki kualitas bagus dan juga murah, kampus itu juga merupakan kampus negeri penerima KIPK terbanyak siapa tau aku salah satu penerimanya dan peluangku buat kuliah bisa tercapai. Maka, aku mulai memperbaiki cara belajarku, aku lebih memfokuskan ke subtest prioritas sesuai jurusan yang aku tuju. Cara itu berhasil, skor try out ku meningkat, orang tuaku juga sudah tidak membahas tentang hal itu lagi jadi, aku bisa belajar dengan tenang, aku juga mencoba mendaftar KIPK setelah diberi saran oleh temanku.

Seminggu sebelum jadwalku UTBK aku harus survei tempat terlebih dahulu, pada tanggal 27 April 2024 aku pergi ke jogja, rencananya aku akan tinggal seminggu sampai aku selesai UTBK tapi Allah berkehendak lain, besoknya tanggal 28 April 2024 setelah magrib aku mendapat kabar bahwa bude yang paling aku sayangi sudah dipanggil oleh yang maha kuasa, saat itu aku merasa hancur sekali, bagaimana tidak hancur, beliau sudah seperti ibu kandung ku sendiri, beliau yang sudah merawatku dari kecil hingga aku mau masuk kuliah, tapi beliau belum sempat melihatku menjadi mahasiswa yang sebenarnya dan ketika beliau meninggalpun aku tidak ada di sisinya. Besoknya aku langsung pulang menggunakan jasa trevel, sesampainya aku di rumah bude sudah dimakamkan dan aku tidak sempat melihat jenazahnya. Seminggu menjelang UTBK aku tidak belajar apalagi menyentuh buku, aku lebih fokus membantu kakak ku mengurus rumah hingga jadwalku UTBK. Di tanggal 2 Mei 2024 aku kembali ke jogja karena di tanggal 3 Mei 2024 aku akan bertempur melawan soal-soal UTBK yang asli. Aku mengerjakan soal UTBK sebisaku, karena selama seminggu aku tidak belajar sama sekali, itupun ada satu soal yang tidak aku isi karena kehabisan waktu, aku mencoba untuk tenang dan fokus mengerjakan subtest berikutnya. Sorenya setelah tes UTBK aku pulang ke kota asalku, aku mencoba untuk melupakan soal UTBK yang aku kerjakan tadi, karena perinsipku jika sudah di takdirkan untukmu akan jadi milikmu yang penting sudah berusaha.

Di tanggal 13 Juni 2024 tepatnya di pukul 15.00 aku mendapat ucapan “Selamat Anda Dinyatakan Lulus Seleksi SNBT SNPMB 2024” pilihan pertama jurusan Sastra Indonesia dan di univ yang aku mau, tetapi sesuai yang aku duga bahwa aku tidak diterima menjadi salah satu penerima beasiswa KIPK, aku tidak begitu sedih lagipula UKT ku juga cukup rendah dan aku bisa mewujudkanku untuk kuliah di universitas negeri walaupun bukan siswa yang berprestasi.