Kampus Swasta

“Kamu ga eligible? Gapapa! Ga ikut bimbel? Ga masalah! Yang penting kamu punya tekad!” Kata-kata itu bergema di telingaku, seolah-olah menjadi soundtrack dalam film perjuangan hidupku. Saat itu, aku baru saja menerima kenyataan pahit: aku tidak termasuk dalam kategori siswa eligible untuk masuk Perguruan Tinggi. Seakan runtuh, mimpi kuliah di Universitas Negeri terasa sirna. Apakah aku bisa?.

Namun, aku bukanlah tipe orang yang mudah menyerah pada takdir. Aku selalu teringat kutipan dari Inspiring Women “Kalau mimpi kamu tidak membuatmu takut, berarti mimpimu belum cukup besar.” Aku memutuskan untuk berjuang lagi, membuktikan bahwa mimpi itu belum redup.

Aku membentuk kelompok belajar bersama mereka yang memiliki “kondisi” sepertiku, yang juga memiliki mimpi yang sama. Kami bermodalkan Tryout gratis, materi belajar, dan beberapa informasi beasiswa yang kami dapatkan dari memanfaatkan media sosial. Kami menjuluki diri kami sebagai “Tim tak terduga”, sebuah tim yang penuh semangat dan tekad untuk membuktikan bahwa mimpi bisa diraih dengan cara yang tak biasa.

Kami belajar dan berlatih dengan tekun, menjelajahi dunia pengetahuan dengan rasa ingin tahu seolah akan menemukan sebuah harta karun impian di dalamnya. Saling memotivasi, berbagi strategi belajar, dan saling menyemangati di saat-saat sulit juga kami lakukan. 

Hari demi hari berlalu, tes itu semakin dekat. Rasa gugup dan khawatir tak dapat dihindari. Namun, baik aku maupun mereka tetap yakin pada potensi diri kami. Saat hari tes tiba, tiap dari “Tim tak terduga” ini melangkah dengan percaya diri seolah sedang menuju medan perang untuk meraih kemenangan.

Pengumuman hasil tes pun keluar, aku membuka skor nilai ku lebih dahulu, rasa lega memenuhi hati. Skor yang kudapatkan cukup tinggi, melebihi ekspektasi. Kemudian, dengan percaya diri ku buka hasil tes yang telah lama ku nanti ini “….DINYATAKAN TIDAK LULUS SELEKSI SNBT SNPMB 2024. JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT!” Aku terduduk lemas, menatap layar laptop itu. Seolah seluruh dunia sedang berputar, menghilangkan jejak mimpi yang selama ini ku kejar. Perasaan Kecewa dan sedih memelukku erat.

Cause there we are again when I love you so.. Back before you lost the one real thing you’ve ever know…It was rare, I was there, I remember it all to well…” lagu itu menggema di seluruh penjuru kamar selama 2 hari ini, aku kehilangan semangat hidup. Ternyata benar bahwa ini lebih sakit daripada putus cinta. Tak berselang lama, mereka yang membersamai ku beberapa bulan terakhir datang menemuiku, ternyata di antara kami hanya aku yang belum berhasil di jalan ini. ”Kau harus semangat! Ini memang berat seperti kata mu
: hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan dimenangkan. Ayo temukan jalan lain itu!” kata mereka, suaranya penuh empati dan dukungan.

Aku merenungkan semua ini “mungkinkah aku harus berjuang sekali lagi?”. Aku bangkit dari dudukku, menarik napas dalam-dalam. Aku menatap cermin, menatap wajahku yang masih dipenuhi dengan kesedihan. Namun di balik itu, aku melihat sebuah tekad dan secercah harapan. “Aku akan berhasil” gumamku, “aku akan berjuang sekali lagi, aku akan menemukan jalan itu”. Aku mulai mencari informasi jalur lain dan peluang baru, aku bersemangat untuk memulai babak baru dalam hidupku “Terima kasih, teman-teman”.

Akhirnya, aku menemukan jalan itu. Aku bertekad untuk mengejar mimpi ini, meraih kesempatan belajar diluar negeri. Memutuskan mengambil gapyear, untuk mulai mempersiapkan segalanya. Prosesnya tak mudah, banyak hal baru yang harus ku pelajari untuk           sampai di ujung jalan ini. Namun, aku tak akan pernah menyerah. Aku terus belajar, berlatih, dan mempersiapkan diri. Mengikuti berbagai seminar dan workshop tentang beasiswa, berdiskusi dengan para alumni penerima beasiswa dan mulai membangun jaringan dengan orang-orang yang berpengalaman. Aku seperti seorang detektif yang mencari petunjuk untuk memecahkan misteri meraih beasiswa ini.

Saat ini, aku tengah berada di tengah proses persiapan untuk meraih mimpi ini, belajar di luar negeri, sebuah langkah berani yang menuntunku ke medan pertempuran baru. Aku tahu, jalan ini takkan selalu mulus. Akan ada rintangan Bahasa, budaya yang asing, dan kerinduan yang menggerogoti. Namun, aku telah memutuskan, aku takkan menyerah. Aku akan terus berjuang, menyerap ilmu dan pengalaman seperti spons yang haus.

Dan ketika akhirnya, aku berdiri di podium kelulusan, dengan toga terurai dan senyum kemenangan, aku akan berteriak lantang “Ini adalah bukti bahwa mimpi takkah pernah mati, bahkan di negeri asing! Ini adalah bukti bahwa aku mampu menaklukkan takdir itu dengan tekad dan sebuah mimpi!” Namun, itu adalah cerita untuk lain waktu. Saat ini, aku masih ditengah proses, mengukir setiap langkah menuju ujung jalan ini. Sampai jumpa di kisah keberhasilan selanjutnya, saat aku telah membaca kata “Selamat kamu di terima…..”.

Ariqah Trijunisa, penjelajah mimpi.