oleh : Nazwa Auliana
Mentari pagi mulai menyapa, semester terakhir sekolah menengah atas sebentar lagi usai. Siswa mulai merenungi setelah ini aku akan kemana dan jadi apa. Salah satunya pada siswi yang bernama Nazwa, ya siswi semester terakhir di kelas 12. Semester terakhir yakni semester 6 para siswa mulai sibuk mencari perguruan tinggi terbaik, mulai belajar dengan giat agar bisa masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Sosialisasi tiap minggu untuk menginformasikan cara mendaftar ke perguruan tinggi serta tips yang lainnya. Nazwa, si gadis kecil sekarang sudah tumbuh memasuki fase dewasa. Mulai memikirkan kedepannya hendak menjadi apa dan seperti apa jalan yang dilaluinya. Dulu hanya belajar rajin agar mendapat prestasi yang baik tidak lupa diselingi bermain bersama teman-teman dan berbagi cerita serta pengalaman itu semua sebagai obat di saat stres melanda.
Memasuki detik-detik terakhir sekolah perasaanku berada di ambang kelabilan antara senang atau sedih telah menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun. Terlepas dari pikiran apapun itu, aku harus siap. Hidup terus berjalan jangan sampai diriku sendiri terjebak di dalamnya. Aku mulai mengamulasikan nilai-nilai dari semester satu sampai lima. Melihat hasil psikotest untuk melihat minat dan keahlianku dimana. Ternyata aku memiliki minat karir yang dominan pada bidang medical. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mendaftar perguruan tinggi negeri di fakultas ilmu kesehatan. Beberapa bulan setelah memasuki semester dua. Tibalah pengumuman yang menegangkan untuk semua siswa, yaitu pengumuman rangking pararel. Hanya terdapat 99 kuota saja untuk bisa mendaftar melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Yaps aku menduduki rangking 18 pararel dari 224 siswa MIPA di sekolah. Hal itu yang membuat aku bangga bisi mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Hari pendaftaran telah tiba, semua siswa yang mendapat ranking pararel dikumpulkan untuk mendaftar di jurusan yang mereka minati. Tidak lupa juga sebelumnya aku sering konsul kepada guru Bimbingan Konseling (BK). Aku memilih prodi pilihan pertama mengambil ilmu keperawatan di Universitas Padjadjaran, sedangkan pilihan kedua aku memilih prodi keperawatan di Universitas Pendidikan Indonesia. Aku ingin menjadi seorang ahli kesehatan yang kompeten, bisa berkontribusi langsung pada masyarakat. Detik sebelum pengumuman aku melaksanakan ujian akhir kelas 12, untuk mengisi nilai-nilai pada ijazah. Disini perasaan malah jadi tak tentu, banyak sekali pikiran yang memenuhi isi kepala. Belum apa-apa saja sudah agak lelah, tetapi aku mulai belajar dari semua ini . Aku harus fokus pada tujuan terdahulu, dan yang pertama fokus pada ujian akhir kelas 12 dan aku belum memikirkan persiapan UTBK.
Satu hari sebelum ujian selesai, tepatnya pada tanggal 26 Maret 2024 serentak semua pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) diumumkan, perasaan semua kelas 12 pasti dilanda rasa cemas. Tapi aku sudah siap menerima hasil apapun itu. Ayah dan ibuku sudah menasehati apapun hasilnya itu yang terbaik katanya. Meskipun dengan perasaan berat hati aku menerimanya. Hari pengumuman pun tiba 26 Maret 2024 semua siswa cemas termasuk aku. Aku takut segalanya, bagaimana jika aku tidak lolos. Meski memiliki peluang yang kecil tapi aku masih
berharap. Tetapi ternyata Tuhan berkendak lain, ternyata aku mendapat hasil merah. Semua orang menyebutnya warna cinta. Tandanya Tuhan sangat cinta pada hamba-Nya untuk berjuang lebih keras lagi.
Aku pun mulai meyiapkan materi UTBK, sedikit demi sedikit mempelajari tujuh subtest. Satu bulan aku belajar keras, meskipun ini terbilang mepet untuk belajar. Jangan ditiru ya, semua harus di persiapkan lebih awal. Tetapi saat hari pengumuman pada tanggal 13 Juni 2024, dan aku kembali gagal. Seharusnya mendapat kata selamat tetapi yang tertulis hanya ucapan semangat. Kalian tahu perasaan saat itu ? Ya sangat sedih dan kecewa. Harapan satu-satunya aku tertolak. Oh iya, aku mendaftar di Universitas Pendidikan Indonesia, prodi keperawatan Bumi Siliwangi, dan keperawatan Universitas Pendidikan Indonesia kampus Sumedang.
Aku mulai merenungi semuanya, dan bertanya pada diriku sendiri. Mengapa aku selalu gagal untuk diterima di prodi yang aku inginkan, padahal tujuan cita-cita itu aku ingin membantu orang yang sakit, membantu orang-orang yang membutuhkanku tanpa memandang apapun itu. Tapi merenungi saja membuat aku berjalan di tempat terus. Oh ya, itu salah satu hal salah. Bagaimana aku ingin menjadi manusia kuat diberi ujian segitu saja sudah kecewa. Ingat Tuhan membawamu sejauh ini bukan untuk gagal. Pasti setelah datang badai terbitlah Pelangi.
Kembali bangkit setelah melalui kekecewaaan. Aku mencari-cari kampus untuk berkuliah, memiliki akreditasi unggul. Aku tertarik untuk mencoba mendaftar di salah satu kampus swasta Cimahi, yaitu Universitas Jenderal Achmad Yani. Sebelumnya aku berkomfirmasi kepada ayah dan ibu agar menjadi pendukung ke depannya. Ayah dan ibu sangat mendukung, membuatku kembali semangat untuk bangkit. Mulailah mendaftar di Fakultas Ilmu dan Teknologi Kesehatan memilih prodi ilmu keperawatan prodi yang selalu aku harapkan, pilihan kedua aku memilih prodi kebidanan. Jalur yang di pakai untuk mendaftar yaitu melalui nilai rapot, hasil perjuangan selama 3 tahun di sekolah.
Hari demi hari telah terlewati, aku menunggu pengumuman pertama dan yaps ternyata aku lolos seleksi tahap pertama. Tapi aku belum mengetahui lolos di prodi pilihan satu atau dua. Seleksi dua aku mengikuti tes kesehatan. Aku melakukan tes kesehatan di rumah sakit di antar oleh ayahku. Pengecekan tes kesehatan diantaranya tes HBsAg, buta warna, tinggi badan, berat badan, semuanya di cek. Alhadulillah semua normal, dan aku langsung mengirimkan berkas hasil pemeriksaan kesehatan. Satu minggu setelah pengiriman berkas, pengumuman seleksi tahap dua keluar. Akhirnya atas nama Nazwa Auliana telah lolos menjadi mahasiswa kebidanan di Universitas Jenderal Achmad Yani. Meskipun lolos pada pilihan kedua, dan prodi yang aku inginkan hanyalah tinggal harapan. Aku sangat bersyukur telah di terima pada pilihan kedua. Aku tahu ini pasti yang terbaik untukku setelah ditolak beberapa kali memilih prodi keperawatan. Jika tidak begitu aku tidak akan sibuk mencari program beasiswa, perlombaan, dan mencari informasi lainya untuk mendukung aku menjadi mahasiswa yang aktif dalam hal apapun. Perjalanan baru akan dimulai aku siap menjalani semuanya. Semoga Tuhan kuatkan aku dan lancarkan segalanya. Karena aku sangat yakin skenario Tuhan dibuat dengan sebaik-baiknya.

