Oleh Erisya Azzahra
Berat banget ya hidup? Udah berjuang sejauh mana? Kok ngeluh mulu sih, haha. Sini tos dulu, buat kita yang dibebani ekspektasi orang-orang di sekitar kita, terutama orang tua. Terkadang orang tua memang ga sadar, kalau setiap perkataan mereka justru memberikan tekanan batin buat anak-anaknya. Terlepas dari lahir sebagai anak pertama sebagai tulang punggung keluarga, anak tengah yang kadang ‘‘tak dianggap, ataupun anak terakhir sebagai harapan terakhir keluarga yang dituntut menjadi lebih sempurna dari kakak-kakaknya. Pasti kita semua lelah juga kan sama keadaan?
Namun, tanpa tekanan itu justru aku sendiri ga bisa tumbuh sebaik ini. Dulu cita-ci’taku banyak, bahkan sering berubah-ubah. Kadang mau jadi psikolog, kadang guru, bahkan kadang mau jadi presiden. Setidaknya itulah yang terjadi padaku, sampai suatu ketika aku ditawari guruku untuk mengikuti Lomba Cerdas Cermat Sejarah dan Permuseuman. Mungkin sejak saat itu pula aku menyukai apapun tentang sejarah, aku mengerti bahwa terkadang kita perlu melihat ke belakang dulu sebelum melangkahkan kaki ke depan supaya tidak terjerembab dalam lubang yang sama. Sejarah juga tidak mengajarkanku untuk ‘takut mencoba hal-hal baru, justru aku semakin tertantang untuk mendapatkan kesalahan-kesalahan baru, tentu asal masih di jalan yang benar aku pun ‘tak apa.
Sayangnya aku ‘tak melanjutkan pendidikanku di SMA jurusan IPS, aku justru melipir ke SMK Akuntansi sebab orang tuaku ‘takut jika aku berhasil masuk SMA, aku perlu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sementara mereka sendiri ‘‘tak cukup dana untuk membiayai itu. Alhasil jadilah aku yang harus menganyam pendidikan di sekolah yang tidak aku inginkan sebelumnya, terbayangkan rasanya gimana? Meskipun berat, awalnya aku berambisi penuh untuk mendapat peringkat pertama di kelas. Tetapi, lama-kelamaan aku pun lelah, hilang sudah motivasiku untuk menjadi si paling nomer satu di kelas semenjak aku disibukkan dengan berbagai kegiatan di sekolah selain belajar tentunya.
Lalu, misiku selanjutnya ialah berusaha memfokuskan diri untuk lolos dalam seleksi perguruan tinggi. Saat itu, yang terpikirkan padaku hanyalah STAN, salah satu perguruan tinggi kedinasan dengan biaya kuliah gratis alias dibayari oleh negara. Kamu ingat, guruku yang menawariku untuk mengikuti LCC juga sempat merekomendasikan itu sebelumnya. Beliau selalu memotivasiku dengan menceri’takan murid-muridnya yang bernasib sama denganku dan akhirnya berhasil memuliakan orang tuanya.
Aku pun memutuskan untuk mulai belajar materi SKD (Seleksi Kemampuan Dasar) dan bergabung dalam grup ambis belajar di Telegram. Siapa sangka, pada tahun 2021, STAN justru menerapkan kebijakan baru dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru yaitu dengan menggunakan nilai Tes Potensi Skolastik di UTBK sebagai persyaratan administrasi. Akhirnya aku menyusun kembali jadwal belajarku dengan tambahan materi yang tentu diujikan di TPS, bodoamat dengan komponen ujian lainnya di UTBK (kimia, ekonomi, geografi, dll) aku ‘tak mempelajari itu. Haha, omong kosong jika aku ‘tak memusingkannya. Justru aku pun memutuskan mempelajarinya sebab setelah dipikir-pikir sayang juga ikut tes UTBK, tetapi nilai selain subtes TPS buruk, siapa tau nasibku ternyata lolos di PTN.
Aku belajar terus secara mandiri, tanpa bimbingan belajar. Bahkan disela-sela praktek kerja lapangan, aku masih sempat membuka materi. Boom!! Tetapi, ternyata pada tahun 2023, kebijakan seleksi masuk PTN berubah. UTBK tidak lagi menyer’takan soal-soal kimia, geografi, sejarah, dsb. itu, tetapi mulai membaurkan materi yang ada dengan berfokus pada kemampuan numerasi dan literasi. Sungguh kebijakan baru yang melegakan untuk anak-anak sepertiku yang notabanenya sama sekali tidak mempelajari materi-materi di SMA yang diujikan di UTBK.
Masalahnya sekarang, aku harus mampu meyakinkan orang tuaku ini yang susahnya minta ampun. Kadang ada dilema yang menyeruak di hatiku, menjadi beban orang tua yang ‘tak berkesudahan, tetapi bagaimana dengan nasib mimpi-mimpiku? Digantung dan ditinggalkan begitu saja? Tidak mudah berharap kuliah di PTN terbaik sementara kondisi ekonomi keluargaku semakin memburuk. Ayahku yang ‘tak segera mendapat panggilan untuk bekerja, gaji ibuku yang turun, ditambah adikku yang baru masuk sekolah dasar menyebabkan ibuku sering mengomel. Belajar di rumah jadi ‘tak tenang, aku pun terkadang mengungsi ke perpus’takaan daerah atau ke sekolah saat akhir pekan. ‘tak jarang pula aku menghabiskan waktu belajarku saat dini hari hingga menjelang subuh sebab suasana begitu sepi dan jelas aku menyukainya.
Singkat cerita, pagi itu aku berangkat UTBK diantar ayahku ke FEB UGM. Aku memilih DIV Bahasa Inggris UGM di pilihan pertama dan S1 Pendidikan IPS UNY di pilihan kedua. Keduanya sudah kupikirkan matang-matang tentu dengan pertimbangan dan restu orang tuaku, meskipun Bahasa Inggris benar-benar melenceng dari passion-ku. Aku ‘tak henti-hentinya berdoa supaya diberikan kemudahan dalam mengerjakan ujian. Soal demi soal kukerjakan, suara goresan pensil dan tetikus pun mulai memenuhi ruang ujian. Lemas dan linglung sudah pikiran sekaligus badanku dibuatnya. Beberapa soal memang setipe dengan ulasan-ulasan yang diberikan peserta ujian sebelumnya di Twitter, tetapi tetap saja shock dan jelas membuatku pesimis.
Tepat pada 20 Juni 2023 pukul 15.00, pihak penyelenggara ujian mengumumkan kelulusan kami. Sengaja aku mengulur waktu untuk membukanya, baru setelah sholat ashar aku pun memberanikan diri untuk mengecek hasilnya. Apapun yang terjadi jelas aku sudah pasrah, setidaknya aku berdoa kalaupun memang aku tidak lolos, aku meminta supaya aku tidak menangis karena berkecil hati dan kecewa. “Ya Allah, alhamdulillah”, aku benar-benar histeris sebab aku berhasil lolos di pilihan pertama. Kamu tahu di keluargaku yang menangis hanyalah aku, memang kedua orang tuaku turut bahagia, tetapi keduanya sama-sama sedang berpikir keras untuk membiayai pendidikanku selanjutnya.
Perjalananku mengejar kampus impian ternyata tidaklah mudah, banyak seleksi beasiswa PTS dan PTN yang aku ikuti dan berakhir gagal di tengah prosesnya, entah karena orang tuaku tiba-tiba ‘tak menyetujui jika aku kuliah di Bandung ataupun lagi-lagi dengan dana yang harus dikeluarkan karena beasiswa yang aku ikuti tidak menyediakan biaya hidup juga. Tetapi, Tuhan itu Maha Adil, Dia tahu makhluknya ini butuh pertolongannya. Setelah ‘tak satupun seleksi beasiswa PTS kudapatkan, Tuhan memberiku kesempatan untuk merasakan kuliah di UGM.
Tips & Trick
- Luruskan niat untuk tujuan-tujuan yang baik, misalnya kamu ingin lolos di kampus ini prodi ini supaya kamu bisa membanggakan dan membahagiakan orang tuamu. Tanam niat itu dalam-dalam, tanpa perlu kamu beritahukan ke orang lain. Niat yang kuat akan membuatmu berkomitmen dan bersungguh-sungguh dalam mengejar impianmu. Ingat, yang orang lain lihat hanyalah hasilnya, bukan prosesnya (impian yang diraih dengan cara baik lebih memberikan rasa kepuasan tersendiri bagi peraihnya, jangan menjadi pecundang dengan menggunakan cara-cara licik untuk meraihnya). Kalau perlu ce’tak logo kampus impianmu atau quote-quote nylekit yang mampu mengingatkan dan menggugah semangatmu untuk meraih impian-impian awalmu. Jangan ‘takut impianmu tidak menjadi kenyataan, kalaupun terbebani dengan keadaan ekonomi keluarga yang kurang baik kamu dapat mencari dan memanfaatkan beasiswa-beasiswa yang dapat menyukupi kebutuhan pendidikanmu seperti beasiswa-beasiswa kampus swasta, beasiswa KIPK, dsb.
- Tentukan target nilai yang ingin kamu capai, sesuaikan dengan passing grade kelulusan prodi dan kampus impianmu. Tidak perlu menulis target yang sempurna, misal 1000 untuk semua subtes kecuali memang kamu benar-benar yakin dan jenius untuk dapat menggapainya. Sebenarnya bebas, kalaupun kamu ingin menuliskan 1000 pun tidak masalah. Tetapi aku sarankan untuk menyesuaikan dengan kemampuan kalian atau paling tidak selisih sedikit di atas nilai passing grade kelulusan. Lalu tulis pada sticky notes dan tempel di depan meja belajarmu.
- Rutin mengevaluasi diri dengan mengikuti tryout-tryout gratis darimanapun sumbernya. Jangan lupa untuk melihat apakah skormu sudah memenuhi target nilai belum, jika sudah tingkatkan, kalau belum semangat kejar lagi! Kamu juga dapat bergabung dengan teman-teman ambis di sosial media, seperti Telegram dan Twitter (X, sekarang). Teman-teman tersebut sangat membantu kamu, terlebih lagi mendekati hari H ujian dengan segala review-review soal yang diujikan. Tetapi jangan lengah dengan hanya memantau perkembangan tipe-tipe soal yang keluar, mulailah mencari tau dan memahami metode penyelesaiannya.
- Yang satu ini tergantung sugesti dan kepercayaan masing-masing, tetapi aku sarankan untuk tidak memilih hari pertama ujian. Kamu dapat memilih pertengahan atau akhir jadwal ujian setidaknya supaya kamu tidak clueless. Tetapi tergantung, jika kamu memang tidak sabar dan ingin tertantang cobalah untuk memilih hari pertama itu. Ini sebenarnya bukan acuan kamu lolos atau tidak, jadi bukan masalah jika kamu mendapat bagian di hari pertama sebab aku sendiri tidak tahu pasti proses penentuan nilainya bagaimana, mungkin dengan jumlah soal yang dijawab benar dengan memperhitungkan rata-rata nilai setiap peserta ujian pada sesi yang sama atau bukan? Aku tidak tahu.
- Tetapi, penting untuk senantiasa melibatkan Tuhan di setiap perjalanan kita. Jangan lupa untuk berdoa dan meminta restu orang tua kalian supaya diberikan kemudahan dan jalan. Coba renungkan dan sadari kenikmatan dari ibadah yang kalian lakukan selama menempuh perjalanan itu, setiap tangis dan keluhan yang kalian curahkan mampu membangun harapan-harapan yang mendorong kalian untuk maju. Kalian juga dapat melakukan ibadah ekstra seperti puasa Senin-Kamis, sedekah subuh, dsb, tetapi niatkan dengan tulus dan ikhlas, tidak semata-mata hanya ingin lolos kampus impian saja. Serta jangan lupa untuk berdoa supaya kamu tidak menangis jika harapanmu ternyata tidak sesuai dengan realita, ingat setiap hal-hal yang terjadi di dunia ini ada sebab akibatnya. Jika kamu tidak lolos di kampus impianmu itu, bukan berarti kamu lantas disebut gagal. Mungkin ada kabar-kabar baik yang sedang menunggumu, beri dirimu ruang untuk bersabar dan let it flow.

