oleh: Santi Auliah
Sejak saya duduk di bangku SMK, saya sudah memiliki impian besar: masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit di provinsi saya. Kampus ini tidak hanya dikenal memiliki reputasi yang baik, tetapi juga menjadi incaran ribuan siswa setiap tahunnya. Kesempatan untuk bisa menimba ilmu di sana menjadi harapan banyak orang, termasuk saya. Namun, saya sadar bahwa jalan menuju impian tersebut tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang harus saya hadapi, mulai dari persaingan ketat hingga keterbatasan finansial.
Awalnya, saya mencoba peruntungan lewat jalur SNMPTN, berharap bahwa nilai-nilai yang saya peroleh di SMK cukup untuk membuka pintu masuk ke kampus impian saya. Namun, kenyataan berkata lain. Saya gagal di jalur tersebut, dan rasa putus asa mulai merayapi hati saya. Di titik ini, saya mulai bertanya-tanya, apakah saya juga akan gagal di jalur SBMPTN? Namun, saya tidak punya banyak pilihan. Dengan kondisi keuangan keluarga yang terbatas, saya tahu bahwa mendaftar melalui jalur mandiri bukanlah opsi yang bisa saya ambil. Biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tinggi di jalur mandiri terlalu memberatkan. Maka, saya menaruh seluruh harapan saya pada SBMPTN.
Saat itu, saya tahu persaingan di jalur SBMPTN akan jauh lebih ketat. Ribuan siswa dari berbagai latar belakang akan bersaing untuk memperebutkan kursi yang terbatas. Terlebih lagi, saya menyadari bahwa latar belakang pendidikan saya sebagai siswa SMK jurusan Teknik Komputer Dan Jaringan (TKJ) menambah tantangan tersendiri. Materi yang diujikan di SBMPTN sebagian besar adalah materi SMA, terutama di rumpun soshum yang mencakup Ekonomi, Geografi, Sosiologi, dan Sejarah. Ini benar-benar bertolak belakang dengan materi yang saya pelajari di SMK.
Menyadari kesenjangan ini, saya tahu saya harus belajar lebih giat. Namun, lagi-lagi keterbatasan finansial menghalangi saya untuk mengikuti bimbingan belajar yang mungkin bisa membantu. Saya tidak menyerah. Saya memutuskan untuk belajar secara mandiri. Dengan hanya bermodalkan sebuah ponsel dan koneksi internet, saya mencari semua sumber belajar gratis yang bisa saya temukan. Saya menggunakan aplikasi belajar dengan akun gratis, menonton video-video pembelajaran di YouTube, dan mengumpulkan materi dari berbagai situs internet. Setiap hari, saya menetapkan jadwal belajar yang ketat, mulai dari pukul 9 pagi hingga 11 malam. Musim pandemi COVID-19, yang menyebabkan sekolah ditutup, justru menjadi peluang bagi saya untuk belajar lebih intensif.
Saya memulai persiapan ini sejak kelas 11. Setiap hari, saya berlatih menjawab soal-soal, memahami konsep-konsep yang belum saya kuasai, dan terus memotivasi diri untuk belajar. Meski tanpa bimbingan langsung, saya tetap berusaha memahami materi sebaik mungkin. Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Ada saat-saat di mana saya merasa lelah dan putus asa, terutama setelah kegagalan di jalur SNMPTN. Pikiran tentang kemungkinan gagal di SBMPTN terus menghantui saya. Bagaimana jika saya tidak berhasil? Apa yang akan saya lakukan selanjutnya? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul, membuat saya ragu pada kemampuan diri sendiri.
Namun, setiap kali rasa putus asa datang, saya ingat motivasi yang diberikan oleh kedua orang tua, kakak, dan sahabat saya. Mereka terus mendukung saya, meyakinkan bahwa usaha keras saya akan membuahkan hasil. Dukungan mereka menjadi sumber kekuatan bagi saya untuk terus maju, meskipun proses yang saya tempuh terasa sangat berat.
Akhirnya, tibalah hari pengumuman hasil SBMPTN. Saya tidak bisa menggambarkan betapa gugupnya saya saat itu. Semua usaha dan doa saya selama ini seolah-olah berada di ujung penantian. Ketika saya melihat nama saya tercantum sebagai salah satu peserta yang lulus, saya tidak bisa menahan air mata. Perasaan senang, haru, dan syukur bercampur menjadi satu. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa mengalahkan ribuan pesaing dan diterima di kampus impian saya. Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orang tua, kakak, dan sahabat yang selalu mendukung saya tanpa henti.
Perjuangan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Tantangan yang saya hadapi selama ini bukanlah penghalang, melainkan ujian yang menguatkan tekad saya. Kampus impian ini bukan hanya sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga simbol dari perjuangan dan tekad yang kuat. Kini, setiap langkah yang saya ambil di kampus ini selalu mengingatkan saya akan proses panjang yang telah saya lalui untuk sampai ke sini. Pengalaman ini akan terus menjadi inspirasi dalam hidup saya, bahwa dengan kerja keras dan doa, impian sebesar apa pun bisa menjadi kenyataan.

