Kampus Swasta

“Cerita ini masih belum berakhir. Jadi, maaf jika aku sedikit terlambat ibu” Isi hatiku saat semua terasa berat bagiku. 

Ini kisahku, tentang perjuanganku tuk  menggapai mimpi untuk bisa berkuliah dan menjadi seorang mahasiswa. 

Kata orang, “Masa SMA adalah masa yang sangat indah.”. Kurasa, hal itu memang benar adanya. 

Saat menduduki bangku kelas 10 yang pada saat itu masih masa pandemi COVID-19, sekolah terpaksa tetap melakukan kegiatan pembelajaran secara daring. Meskipun daring, aku selalu mengikuti pembelajaran dengan sungguh-sungguh, tugas pun selalu aku kerjakan tepat waktu. 

Usia SMA adalah usia dimana kita sedang mencari jati diri, dan di SMA inilah yang menjadi tempat kita untuk mencari jati diri dan aku mencoba keluar dari zona nyamanku. 

Selama SMA, aku mengikuti beberapa ekstrakurikuler, seperti badminton, futsal, tonti, dan baseball. Saat itu, aku juga pernah mendapatkan kejuaraan tingkat provinsi untuk cabang olahraga baseball. Saat menduduki bangku kelas 11, aku pernah termotivasi untuk menjadi seorang polisi. Setiap hariku diisi dengan latihan fisik, dan belajar materi lewat mana saja. Hingga pada akhirnya, cita-citaku untuk menjadi polisi harus ku kubur dalam-dalam. Karena aku ada sedikit kekurangan dalam diriku, terutama dalam masalah gigi. Jadi, sejak saat itu, aku mencoba untuk mengikhlaskan saja impianku itu. 

Hari kenaikan kelas pun tiba. Kini aku sudah harus betul-betul memutuskan dan mempersiapkan tentang kelanjutan studiku. Aku akan melanjutkan kemana? Dan bagaumana aku akan sampai kesana?. Setelah beberapa waktu aku berpikir dan mematabkan hati, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studiku dengan berkuliah.

Seiring berjalannya waktu, tak terasa ternyata sebentar lagi pendaftaran kuliah mulai di buka. Aku mulai berpikir dan menyiapkan strategi yang matang agar bisa masuk ranking eligible di sekolah. Entah kenapa, ketika menduduki bangku kelas 12, tiba-tiba waktu terasa sangat cepat. Setiap hariku diisi dengan berpikir tentang jurusan apa yang sekiranya akan aku ambil. Selama berpikir tentang jurusan dan universitas yang akan aku pilih, aku sering membaca dan mencari informasi di internet untuk mencari inpirasi dan juga memantabkan hati. Aku juga beberapa kali masuk  masuk ke grup media sosial yang isinya anak-anak seusiaku untuk bisa lebih mengetahui informasi yang belum aku ketahui. Selain itu, tentunya aku selalu berusaha untuk meningkatkan nilai raportku. 

Hingga akhirnya, aku dinyatakan masuk dalam ranking eligible di sekolahku dan menjadi siswa terpilih untuk berpeluang dapat masuk ke kampus impianku melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Tentu saja, dengan antusias aku memberi tau hal ini pada ibuku, dan ibu juga sangat merasa senang. 

Sesuai dengan keputusan awalku, aku akhirnya mendaftar di salah satu universitas ternama di provinsi ku. Aku memilih universitas ini karena selain ini adalah mimpiku, menurutku nilai rata-rata raportku tergolong aman untuk masuk ke jurusan dan universitas ini menurut data di tahun sebelumnya. 

Sembari menunggu pengumuman yang masih cukup lama, di sekolah aku mempersiapkan diri untuk pelaksaan ujian praktek dan juga tidak lupa untuk belajar materi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), supaya jika belum lolos aku bisa mengikuti jalur lain yaitu Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT). Namun, tidak lupa aku selalu berdoa supaya aku bisa lolos SNBP. 

Hingga akhirnya, waktu yang telah ditunggu-tunggu tiba. Entah kenapa perasaanku pada hari itu merasa gelisah sepanjang hari. Pada hari Selasa, 26 maret 2024, pukul 15.00 WIB. Setelah melaksanakan sholat ashar, aku mencoba membuka hasil pengumuman itu dan ternyata masih error. Aku tidak menyerah begitu saja, dan terus mencoba. Setelah beberapa kali percobaan, aku bisa membukanya, tetapi sayangnya kali ini belum rezekiku. Jelas, perasaan kecewa akan semua itu pasti ada dalam benak ku, tetapi bagaimanapun waktu terus berjalan. 

Aku harus bangkit dan mencoba lagi. Sejak saat itu, aku sering mengerjakan soal tryout dimana pun dan kapan pun. Meskipun aku tidak ikut bimbingan belajar, aku tetap semangat agar bisa diterima di kampus impianku kali ini. Tak lupa juga aku mendaftar untuk mengikuti UTBK yang nilainya akan dipergunakan dalam pelaksanaan SNBT. 

Tak terasa, telah tiba waktunya aku melaksanakan UTBK bersama temanku. Setelah ujian, aku tidak lupa untuk selalu meminta kepada Allah supaya diberikan hasil yang memuaskan. Kini, telah tiba waktunya hari pengumuman kelolosan SNBT, dan ternyata ini juga masih belum menjadi rezekiku. 

Setelah itu, aku masih memiliki plan terakhir yaitu dengan mengikuti ujian mandiri. Selama menunggu hasil pengumuman ujian mandiri aku juga mengikuti tes seleksi sekolah kedinasan. Walaupun aku mendapatkan skor yang lumayan tinggi kala itu, tetapi ternyata aku masih tidak lolos di perankingan. Sampai tiba waktu pengumuman ujian mandiri dan ternyata itu juga belum menjadi rezekiku. Saat itu, aku sangat merasa terpukul, merasa kecewa, dan bingung, tetapi ibuku selalu ada disampingku dan selalu menguatkanku. Entah apa jadinya aku jika tidak ada ibuku saat itu. 

Setelah itu, aku berpikir untuk mencari pekerjaan terlebih dahulu dan aku sempat berkerja di salah satu bengkel di daerahku. Tak berjalan lama, akhirnya aku keluar dari pekerjaanku karena ibuku memintaku untuk mencoba mendaftar kampus swasta lewat jalur penelusuran minat dan bakat. Kali ini, semua aku persiapkan dengan sungguh-sungguh dan akhirnya aku dinyatakan lolos di universitas ini, tetapi aku juga bingung karena melihat biaya pendidikanku yang sangat besar. Namun, ibu menyuruhku untuk tetap mengambil itu. 

Aku mempertimbangkan hal itu karena kondisi ekonomi keluargaku yang sedang kurang stabil. Tetapi aku tetap yakin untuk mengambil kesempatanku kali ini dan berpikir jika masih banyak beasiswa yang bisa ikuti hingga akhirnya aku mengambil kesempatan itu. 

 

“Jalani saja dulu apa yang sedang kau lakukan, hiraukan semua yang menghalangimu fokus on your progress”