Kertas-kertas lusuh penuh coretan tercecer di atas ranjang bersama dengan tumpukan buku soal yang hampir usang dimakan waktu. Hari-hari menjadi murid SMA begitu asyik karena bisa selalu bersama dengan mereka yang menyenangkan. Namun, saat pagi datang rasanya begitu melelahkan bergelut melawan hembusan angin dingin dan rasa malasku setiap pagi. Dahulu diriku bagaikan seekor kelelawar yang tetap terjaga dikala malam. Jika nokturnal itu melakukannya demi mengisi perut, aku melakukannya demi mengisi otak. Sebenarnya kami sama saja, ingin terlelap saat mentari mulai menampakkan sinarnya. Namun, sayangnya tak ada kesempatan sama sekali untuk memanjakan sepasang mata yang selalu ingin menutup diri. Perkenalkan aku Maulidia Nur Rahmi akrab disapa Lidia, waktu itu aku merupakan seorang murid SMA tingkat tiga yang baru menginjak usia 18 tahun. Perjalanan SMA ku penuh perjuangan dan pengorbanan demi meraih cita- cita dan kampus impian. Segala cara kulakukan demi bisa mencapai apa yang ku inginkan.
Sejak pagi hingga malam tiba, kertas dan pulpen seolah tak mau jauh dari jari- jariku. Bukan tanpa alasan, aku memang sedang merancang sesuatu yang sangat besar hingga aku rela menghabiskan waktuku setiap harinya. Meskipun begitu, hatiku sama sekali tak pernah bimbang untuk melewati jalanku sendiri demi menggapai angan- anganku sejak dulu. Ternyata memiliki impian itu menyenangkan. Setiap malam, aku dan lima orang kawanku sering bertanya- tanya tentang bagaimana kehidupan kami setelah masa ini selesai. Ya, aku adalah salah satu murid asrama yang tinggal bersama dengan teman sebaya. Sekumpulan remaja yang kebingungan dengan hidupnya masing- masing masih tengah asyik bersenda gurau di depan sepiring nasi kala itu. Tak ada yang lebih menyenangkan selain bincang hangat kami setelah makan bersama setiap malam. Kehidupan asramaku berjalan tiga tahun lamanya, terkadang terasa melelahkan tetapi kenangan berkesan justru menjadi bermakna saat ceritanya telah usai. Hal itu sebenarnya bukanlah akhir menyenangkan dari hari panjang yang ku lewati. Saat malam tiba, kembali ku paksa bara api semangat menyala disaat teman- temanku sudah tertidur lelap meski terkadang aku hanya berpura- pura pada diriku sendiri. Diriku saat itu begitu teguh pada prinsip tak ingin menyia- nyiakan waktu. Tak ada waktu untuk mendengar keluh kesah jiwa yang selalu menginginkan terlena dengan nikmat sesaat. Meskipun lelah aku selalu percaya bahwa pengorbanan tak akan mengkhianati hasil maka dari itu aku selalu memperbesar usaha agar aku merasa layak mendapatkan hal yang ku impikan .Aku tahu betul waktuku saat ini amat berharga dan takkan bisa terulang meski aku menyesalinya kelak. Jiwaku memang pandai berbohong. Jika aku boleh berterus terang, jujur aku lelah. Lelah sekali menipu diri sendiri dan selalu berusaha menginginkan hal yang terbaik, walau akhirnya tetap kulakukan. Pepatah mengatakan ‘Jika kamu tidak berjalan hari ini maka kamu harus berlari esok.’ Aku menyadari bahwa dibagian bumi lain masih ada orang yang berusaha lebih besar, lebih banyak, dan rela mengalahkan ego untuk tetap melakukan usaha sampai titik penghabisan. Aku tak tahu siapa itu tapi yang ku yakini hanya satu, orang- orang itu tak ingin mengalah hanya karena merasa lelah. Jika orang lain mampu maka aku pun pasti mampu. Jika orang lain bisa, maka aku pun harus begitu. Terus saja ku buat skenario orang- orang yang harus ku lawan. Bukan untuk berkelahi dan saling memaki, tapi untuk melihat siapa yang bisa mendapat kursi yang dimimpi- mimpi.
Sejak 30 hari tersisa menuju tes seleksi perguruan tinggi negeri, aku selalu berusaha mencari motivasi untuk bangkit kembali. Entah itu kubaca atau kudengar, namun banyaknya motivasi tak kunjung membuatku bersemangat lagi. Sudah se-tahun lamanya aku belajar mati-mati dari pagi hingga malam. Namun, entah apa yang terjadi diriku seolah kehilangan jati diri. Kemana aku yang selalu bersemangat itu? Dimana hati yang berdebar saat ingat impian itu? Jujur saja terkadang hatiku berdebar saat membayangkan bisa menjadi mahasiswa kedokteran gigi di kampus impianku. Aku bisa melihat bagaimana bangganya aku dan orangtuaku kelak meskipun hari-hari panjang akan habiskan dengan kesibukan di kampus. Aku tahu perjalanan menjadi seorang dokter memang tak akan mudah tapi aku yakin dan percaya bahwa aku bisa bertanggung jawab terhadap kewajibanku. Selang beberapa bulan menuju tes SNBT, perasaanku semakin campur aduk. Terkadang percaya diri tetapi terkadang merasa pesimis .Hari-H tes seleksi PTN pun tiba. Doa- doa terus saja kulantukan sejak duduk di depan layar komputer. Hari itu ku pasrahkan semuanya pada Sang pemilik rencana terbaik. Usaha sudah kulakukan, bahkan doa pun selalu ku panjatkan. Tak henti- hentinya ku meminta pada Yang Maha kuasa. Dalam doaku aku selalu meminta “Jika yang ku mau memang yang terbaik untukku maka mudahkanlah dan jika bukan maka lapangkanlah hatiku agar bisa menerima segala ketetapan-Mu.”
Tiga puluh hari berlalu, hari itu pula aku harus benar- benar menerima hasil yang sama sekali tak pernah ku bayangkan. Harapan indah berada di tempat yang ku inginkan harus ku ikhlaskan. Keinginan berada di Kampus Prabu ternyata hanya angan-angan yang tak berkesudahan. Seketika aku merasa usahaku selama ini sia-sia. Sekolah pagi hingga sore dilanjut les hingga malam bahkan badan yang lelah sepanjang hari akhirnya hanya berujung nihil. Aku pikir semunya akan berjalan sesuai yang ku inginkan melihat perjuangan selama ini yang bisa dibilang keras itu. Tiba- tiba aku berpikir bagaimana jika aku bisa menembus ruang dan waktu. Mungkin perjalananku sangat kelabu, ceritaku dianggap tak seru bahkan memercayainya pun orang takkan mau. Andai saja aku bisa menjadi manusia yang bisa melihat masa depan dan membuat segalanya menjadi lebih gampang tanpa penuh kekhawatiran dan kegelisahan. Mungkin orang-orang aka berpikir bahwa sukses sangatlah mudah bagiku. Tak ada rintangan, tak ada kesulitan, dan tak ada tangisan saat semuanya terasa begitu berat. Memang apa salahnya pergi ke masa depan untuk kembali ke masa lalu? Jika karakter fiksi saja bisa kembali ke masa lalu dan mengubah alur kisah yang tak diinginkannya aku pun pasti begitu. Namun, sayangnya aku bukan time traveller yang bisa menjentikkan jari dan memutar waktu agar bisa mengubah blok B saat UTBK demi mengubah nasib. Jika aku bisa bertemu dengan diriku yang dulu, akan ku rebut saja semua buku teka-teki menyulitkan itu, ku sembunyikan di atas rak tertinggi, dan ku bisikkan “Jangan terlalu keras! Kamu akan gagal.” Kemudian, akan ku biarkan saja diriku terlelap layaknya hibernasi beruang hutan saat musim dingin datang. Tak perlu menghafal rumus aritmatika cukup tidur, makan, dan bersenang-senang. Apakah terlalu berlebihan? Menurutku tidak.
Ya.. setiap manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa. Adakalanya aku harus jatuh untuk mengerti bahwa tak selamanya rencana akan selalu berjalan sesuai keinginan. Sehebat apapun kita berusaha jika memang hal yang diinginkan itu bukan untuk kita maka hal itu selamanya takkan pernah menjadi milik kita. Ibarat seseorang yang terjatuh ke lembah yang dalam saat ia berusaha memetik bunga di seberang. Ada kalanya ia merasa sedih atas rencananya yang tak tergapai. Namun, di tempat itulah justru ia menemukan ribuan bunga yang lebih cantik rupanya. Mengagumkan bukan? Sama hal nya dengan kasih sayang Tuhan yang mungkin tak pernah kita mengerti tentang bagaimana cara menyelamatkan para hamba-Nya dengan sangat istimewa. Mengambil makna dari pengibaratan tersebut, aku selalu meyakini bahwa apapun yang menjadi milikku takkan pernah melewatkanku dan apapun yang hilang dariku merupakan cara Tuhan untuk memberi sesuatu yang lebih indah kepadaku. Sebenarnya kegagalan kali ini bukanlah yang pertama kali. Lalu, bagaimana caraku menerimanya dan tetap memandang hidup itu adil? Dulu aku pernah menginginkan berada di tempat yang menurutku luar biasa dan banyak dikelilingi orang-orang hebat. Aku sangat merasa layak untuk mendapatkannya dan tak ada keraguan sama sekali untuk mencoba. Namanya anak muda pastilah ingin merasakan menjadi bagian dari sesuatu yang mengagumkan. Namun, belum sempat aku mencobanya takdir berkata lain. Terpaksa aku menerima sesuatu yang sama sekali tak pernah ku inginkan. Hati memang tak bisa dibohongi, meski aku mencoba menerima jalan hidupku saat itu tetap saja selalu ada penyesalan setiap harinya. Merasa tertinggal, merasa tak diinginkan, dan merasa kehilangan diri sendiri adalah sebuah siksaan bagiku kala itu. Satu tahun lamanya aku mencoba bersabar dan menerima semuanya, tiba-tiba hal yang tak disangka datang kepadaku. Harapanku sejak dulu akhirnya tercapai meskipun terkadang merasa tak percaya impian lama menjadi nyata, terkadang pula aku bersyukur dan bisa mengambil makna bahwa tak pernah ada doa yang tertolak. Entah itu diwujudkan segera, diganti dengan yang lebih baik, atau ditunda sampai waktunya tiba. Takdirku adalah yang ke-tiga kala itu. Aku sangat bersyukur karena merasa Tuhan telah mendewasakanku dengan cara yang istimewa. Mungkin memang harus ‘Terbentur, terbentur, lalu terbentuk’ untuk bisa memaknai kegagalan yang pernah kita lewati.
Tidak ada manusia yang tak pernah mengalami kegagalan bahkan anak kecil pun sering terjatuh saat ia belajar berjalan. Apakah ia mengeluh dan tak pernah mencoba lagi? Jelas tidak. Satu hal yang ia tahu hanyalah terus mencoba untuk berjalan lagi meskipun ia belum bisa memaknai arti dibaliknya. Ya.. kali ini pun aku berusaha bangkit lagi dan kembali meyakini bahwa masih ada hari-hari esok yang harus ku lewati meskipun alurnya tak sama seperti yang pernah ku rancang dengan rapi. Aku bersyukur masih bisa mewujudkan impianku menjadi seorang dokter gigi walau di tempat yang berbeda. Sebenarnya, sejak SMA aku bukan tergolong siswa berprestasi yang bisa meraih medali olimpiade ataupun menjadi juara kelas seperti siswa-siswa lain. Namun, aku selalu berusaha belajar dan aktif di kelas hingga akhirnya nilai raporku selalu naik dengan signifikan. Saat ini aku sudah menjadi bagian dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan menjadi calon mahasiswa kedokteran gigi di sana. Di masa-masa penuh perjuangan ini aku selalu bersyukur bisa menjadi anak dari orangtua yang mengerti akan pentingnya pendidikan dan tak pernah berhenti memberikan dorongan serta semangat bagiku agar aku yakin bisa meraih cita-citaku. Tak hanya orangtua, tetapi sahabat, kerabat, dan guru-guru pun selalu mendoakan yang terbaik untukku. Aku merasa senang berada di lingkungan suportif yang bisa membuatku berkembang menjadi lebih baik dan lebih giat. Maka dari itu aku bertekad untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik agar tak mengecewakan mereka.
Aku harap kisah perjuangan yang aku tulis bisa bermanfaat dan menjadi suntikkan motivasi bagi para membaca.

