Kampus Swasta

Setiap orang memiliki mimpi yang berbeda-beda. Bagi siswa-siswi SMA sederajat, masuk perguruan tinggi negeri bisa dibilang menjadi mimpi sebagian besar dari mereka. Dan saya adalah salah satunya.

Sebelumnya perkenalkan nama saya Naja Sakinah Nur Syahidah. Saya adalah salah satu alumni dari SMA Bina Insani yang berhasil lolos SNBT 2024 dan sekarang menjadi mahasiswi program studi Pendidikan Matematika di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat diumumkan lolos SNBT 2024 pada tanggal 13 Juni 2024 kemarin, saya senang bukan main. Mengingat bagaimana jalan yang saya lalui tidaklah mudah.

Teringat pada saat seleksi SNBP 2024, saya terpilih sebagai salah satu siswa Eligible di sekolah saya. Saat itu saya memilih UIN Jakarta dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai pilihan pertama dan kedua. Sejujurnya saat itu saya memang tak terlalu berharap lolos SNBP karena hanya mengandalkan nilai rapor.

Tak lolos SNBP

Sumber: Dokumentasi pribadi

Sesuai dugaan, saya dinyatakan tidak lolos SNBP 2024. Saya tidak terlalu sedih namun cukup mengganggu konsentrasi belajar saya yang saat itu sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian sekolah keesokan harinya. Saya sangat bersyukur karena mendapat ucapan semangat dari orang-orang di sekitar saya (keluarga dan teman). Karena itu membuat kepercayaan diri saya kembali bangkit.

Mendaftar UTBK SNBT

Entah apa yang ada di pikiran saya, saya terus menunda-nunda mendaftar UTBK SNBT. Padahal orang tua saya selalu mengingatkan untuk mendaftar UTBK, namun saya malah tak mengindahkan perkataan orang tua saya. Hingga tibalah tanggal 5 April 2024, dimana tanggal itu adalah hari terakhir pendaftaran UTBK SNBT 2024. Saat itu bulan Ramadhan, saya mendaftar setelah santap sahur. Awalnya berjalan lancar, tapi setelah itu betapa terkejutnya saya karena beberapa pusat UTBK terdekat sudah penuh. Tak ada pilihan lain, daripada melewatkan SNBT 2024, akhirnya saya memilih pusat UTBK di UNTIRTA Serang.

Setelah mendaftar UTBK SNBT, saya mendapat jadwal UTBK pada hari Rabu, 15 Mei 2024. Dimana tanggal 15 Mei itu hari kedua UTBK gelombang 2.

Terhitung kurang lebih 40 hari menuju 15 Mei dan di saat itu saya baru fokus belajar. Saya agak menyesal karena tak serius belajar UTBK beberapa bulan yang lalu. Padahal saya sangat bersemangat di awal, tapi di pertengahan jalan saya mulai melewatkan jadwal belajar UTBK. Tugas sekolah yang datang bertubi-tubi membuat pikiran dan waktu saya banyak dihabiskan untuk menyelesaikan tugas sekolah dan kerja kelompok sampai melewatkan belajar UTBK.

Dari sekian banyaknya Try Out yang saya ikuti, paling tinggi skornya hanya mencapai angka 400-an. Karena itu, setelah mendaftar UTBK saya berusaha mengejar ketertinggalan di waktu yang sesingkat itu.

Karena sekolah sudah libur (hanya tinggal menunggu perpisahan dan hasil ujian sekolah), jadi waktu yang saya punya benar-benar saya pakai untuk belajar UTBK. Dari pagi hingga malam, saya duduk di depan meja belajar dan berkutat dengan soal-soal UTBK.

Perlu perjuangan dan pengorbanan untuk meraih sebuah mimpi. Saya harus mengurangi waktu bermain bersama teman, menonton film favorit dan bermain game karena waktu yang saya miliki sebagian besar digunakan untuk belajar UTBK.

Sakit kepala, maag, stress, insomnia dan nyeri otot karena duduk terlalu lama sudah menjadi hal yang biasa bagi pejuang UTBK. Saya contohnya. Terkadang, saya juga merasa terlalu lelah untuk belajar. Di saat seperti itu, saya menonton film atau sekadar makan makanan favorit untuk mengembalikan semangat belajar. Sebuah pesan untuk pejuang UTBK 2025 dan seterusnya, penting untuk beristirahat yang cukup. Karena dengan istirahat yang cukup, otak bisa berkonsentrasi secara maksimal.

Satu hari sebelum UTBK, saya bersama ayah saya berangkat ke Serang menggunakan sepeda motor. Karena menggunakan sepeda motor, tentu saja kami tak bisa lewat jalan tol dan harus berkendara selama 3 jam.

Sesampainya di Serang, saya menumpang di kost kakak sepupu yang berkuliah di UNTIRTA. Sore harinya, saya dan ayah saya pergi melihat lokasi tes tempat saya UTBK keesokan harinya. Lokasinya berjarak 8 KM dari kost sepupu saya.

Jalanan macet, langit mulai gelap. Kami menghabiskan terlalu banyak waktu di perjalanan pulang. Saya sampai di kost sepupu saya pukul setengah tujuh malam. Sisa waktu yang saya punya menjelang utbk saya gunakan untuk belajar sekilas dan beristirahat.

Keesokan paginya, saya dan ayah saya bersiap menuju lokasi utbk. Karena diharuskan datang satu jam sebelum tes dimulai, saya berangkat pukul 05.30 dari kost sepupu. Baru saja ingin menaiki motor, ban motor kami bocor. Alhasil, ayah saya meminjam motor sepupu saya untuk mengantar saya ke lokasi UTBK. Tak berhenti sampai disitu, di tengah perjalanan menuju lokasi UTBK hujan mulai turun. Untungnya hujan itu hanya sebentar.

Sesampainya di lokasi UTBK, saya menunggu di pinggir lapangan. Mungkin karena terlalu panik, asam lambung saya naik. Jadi, sembari menunggu saya minum obat maag. Hingga saat tes akan segera dimulai, saya dan peserta lain diarahkan ke lab komputer yang berada di lantai 2. Sebelum masuk ke lab komputer, semua peserta UTBK diperiksa menggunakan metal detector dan diraba sekilas dari telinga hingga kaki untuk memastikan semua peserta tak membawa alat komunikasi dan alat bantu hitung.

Saat tes dimulai, entah mengapa saya menjadi sulit berpikir. Bahkan di soal hitung-hitungan yang bisa terbilang sederhana, saya perlu waktu untuk memahaminya. Ada beberapa soal yang harus saya baca berulang kali karena saya tak bisa memahami maksud soalnya. Mungkin karena tidur yang kurang nyenyak beberapa hari terakhir, saya menjadi sulit berkonsentrasi.

Saat di dalam lab komputer, 3 jam lebih berakhir dengan sangat cepat. Jujur saya sedikit kecewa dengan diri sendiri karena belum memberikan yang terbaik.

Setelah UTBK saya merasa lega tapi belum sepenuhnya. Mengingat bagaimana otak saya sulit bekerja di saat UTBK berlangsung. Ikhtiar sudah dilaksanakan, beribu doa saya langitkan. Hasilnya benar-benar saya pasrahkan kepada Allah SWT dan saya benar-benar berharap agar saya lolos di pilihan pertama.

Dinyatakan lolos seleksi SNBT

Pada tanggal 13 Juni 2024 saya membuka pengumuman hasil UTBK setelah sholat Ashar, syukur Alhamdulillah saya lolos di pilihan pertama, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di jurusan Pendidikan Matematika. Senang dan haru menjadi satu. Saya tak menyangka telah melewati proses yang panjang ini.

Sumber: Dokumentasi pribadi

Setiap mimpi memerlukan usaha untuk mewujudkannya. Bukan hal mudah untuk menggapai suatu mimpi. Dibutuhkan tekad, semangat dan kerja keras untuk menggapainya. Jangan lupa juga untuk mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa agar cita-citamu segera terwujud.

Pejuang PTN 2025 dan seterusnya, semangat ya! Tak ada yang tak mungkin selagi kita berusaha dan berdoa. Apapun mimpimu, semoga esok lusa mimpi itu ada di tanganmu.