Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu, Shalom, om swastiastu, namo Buddhaya salam kebajikan. Perkenalkan nama lengkap saya Widia Wastuti, saya adalah Fresh graduate sarjana pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sulawesi Barat angkatan 2019. Syukur kepada Tuhan saya bisa lulus kuliah bulan November tahun 2023, tahun lalu. Selama mengenyam pendidikan di perkuliahan ada begitu banyak suka duka yang dilalui namun memberikan pembelajaran juga dari terbentur hingga terbentuk. Selain suka duka selama kuliah, sebelum masuk perkuliahan bagiamana saya berjuang bisa masuk Universitas negeri yang saya impikan itu ada begitu banyak tantangan yang dilewati yang hampir buat saya menyerah, bahkan di saat itu saya sudah pasrah dan mengurungkan niat untuk kuliah, karena tantangan begitu banyak, namun pada akhirnya Tuhan begitu baik, memberikan saya kesempatan hingga saat ini saya sudah berstatus sebagai alumni Universitas negeri impian dari kelas 10 SMK yaitu universitas Sulawesi Barat. Berikut adalah kisah saya dalam memperjuangkan kampus impian tahun 2019 yang lalu, dan saya tuangkan kisah ini melalui tulisan.
Pada tahun 2018, saat itu saya kelas 12 di SMK Negeri 1 Mehalaan, Kab. Mamasa Provinsi Sulawesi Barat. Suatu hari Kepala Sekolah dan salah satu guru Komputer namanya Pak Edi mengumpulkan semua siswa kelas 12 (Kelas A, B dan C) dalam suatu ruangan dan saat itu siswa diberitahu bahwa ada 3 siswa kelas 12 yang memenuhi kriteria untuk daftar SNMPTN tahun 2019 dilihat dari nilai rapor dan prestasi. Pada saat itu saya tidak menyangka menjadi salah satu dari ketiga siswa tersebut Salah satu hal yang membuat saya tambah semangat karena disampaikan juga kalau kita lolos daftar SNMPTN, kita juga bisa mendaftar beasiswa yang disebut Bidikmisi, Pak Edi menjelaskan waktu itu tentang beasiswa Bidikmisi. Beliau menjelaskan bahwa Mahasiswa nantinya yang lolos Bidikmisi itu tidak akan membayar uang semester dari Semester awal sampai semester akhir yang lulus tepat waktu. Kemudian ada juga biaya hidup, darisitu saya benar – benar bertekad untuk kuliah, karena sebelumnya saya berencana untuk menganggur beberapa tahun dulu untuk kerja karena keterbatasan ekonomi, namun Tuhan menunjukkan kebaikannya yang luar biasa sehingga saya termotivasi lagi untuk lanjut kuliah.
Di masa – masa pelaksanaan ujian, kami yang memenuhi kriteria daftar SNMPTN disibukkan juga dengan mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan untuk daftar SNMPTN. Salah satu hal yang benar – benar disyukuri adalah dimana Pak Edi salah satu guru Komputer pada saat itu membantu kami mulai dari Registrasi akun LTMPT, proses administrasi semua beliau yang urus, begitu pun dengan pendaftaran Bidikmisi beliau juga yang mendaftarkan kami. Hingga tiba hari dimana pengumuman SNMPTN keluar dan berkat Tuhan kami bertiga lulus sesuai dengan Jurusan dan Kampus yang kami pilih. Pada saat itu saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan untuk PTN saya pilih Universitas Sulawesi Barat dan pilihan kedua Universitas Negeri Makassar. Siapa sangka saya yang dulunya berencana untuk kerja sementara setelah tamat di SMK kini bisa masuk kuliah tanpa test di Universitas impian aku. Dari kelas 10 Universitas Sulawesi Barat adalah kampus impian aku, namun saya tidak pernah berani bercerita ke orang tua karena sadar akan keterbatasan ekonomi.
Pada suatu hari ini adalah awal dari berbagai tantangan yang benar – benar menguras mental dan hampir membuat saya putus asa kuliah. Pada saat itu juga adalah hari dimana acara perpisahan dilaksanakan di sekolah. Kemudian salah satu teman yang juga lulus SNMPTN bernama Fajri mengatakan bahwa dia akan berangkat Majene Sulawesi Barat, lokasi kampus Universitas Sulawesi Barat karena akan ada tes Wawancara untuk mahasiswa baru dan yang mendaftar Bidikmisi dan test wawancaranya deadline hanya sampai besok. Pada saat itu saya mulai panik bagaimana bisa hari ini harus berangkat Ke Majene juga padahal posisinya saat itu masih sementara ikut acara perpisahan di sekolah di Mamasa., sedangkan dari Mamasa ke Majene membutuhkan waktu sekitar 6 – 7 jam jika naik mobil, dan tentunya akan membutuhkan biaya juga. Saya panik saat itu tapi tidak ada cara lain selain berdiam diri karena bingung harus melakukan apa. Keesokan harinya saya menanyakan ke salah satu teman saya yang juga lulus SNMPTN, bernama Sardi, saat itu dia juga bahkan tidak tahu apa -apa dan kaget setelah saya menceritakan ternyata hari ini adalah hari terakhir untuk test wawancara mahasiswa baru. Pada saat itu juga kami benar-benar tidak tahu apa-apa, tidak tahu informasi karena di kampung juga tidak jaringan internet, dan yang kami tahu kami lulus SNMPTN dan saya pikir dinyatakan lulus SNMPTN itu artinya sudah langsung masuk kuliah nantinya, ternyata masih ada tahap – tahap lainnya apalagi yang daftar Bidikmisi. Saya dan Sardi benar – benar tidak tahu apa-apa karena pendaftaran SNMPTN dan Bidikmisi Karena Pak Edi, yang mengurus semua bahkan beliau juga yang membuat akun untuk kami, yang kami hanya tahu adalah kami lulus SNMPTN. Namun selanjutnya beliau juga sudah tidak menginformasikan akan ada test wawancara, sehingga kami tidak tahu apa-apa, mungkin kurangnya komunikasi.
Keesokan paginya saya mulai memberanikan diri menceritakan ke orang tua, saya menceritakan kepada mereka masalah test wawancara yang deadlinenya hanya sampai kemarin, beruntungnya orang tua ternyata mensupport saya, pada hari itu juga saya minta pertolongan ke sepupu saya untuk diantar ke kampung sebelah untuk mencari jaringan beruntungnya saat itu ada kakak kelas saya yang sedang kuliah di universitas Sulawesi Barat pada saat itu saya coba menelpon dan menanyakan apakah benar test wawancara ditutup kemarin dan benar ternyata test wawancara deadlinenya sampai kemarin, saya mulai panik dan putus asa dalam hati saya mengatakan mungkin memang tahun ini tidak akan kuliah. Saya pun kembali ke rumah saat itu dan bercerita lagi ke orang tua, rasanya sedih karena sebelumnya sudah bersemangat bercerita ke orang tua kalau saya lulus SNMPTN dan akan mendaftar beasiswa. Sorenya tiba-tiba Ayah Sardi, datang ke rumah. Beliau datang mengajak ayah saya untuk menemui Kepala sekolah, beliau mengatakan ” kita hubungi Kepala sekolah dulu, siapa tahu dia bisa membantu” pada sore itu juga Ayah saya dan Ayah Sardi berangkat menemui Kepala Sekolah.
Malamnya ayah saya datang membawah kabar baik, Kepala sekolah katanya akan mengusahakan membantu kami, dan besoknya kami di minta untuk menemui beliau. Keesokan paginya saya dan Sardianti menemui Kepala sekolah. Beliau mengatakan bahwa kami diberi kesempatan untuk berangkat ke Majene besok untuk test wawancara dan kumpul berkas. Sampai saat ini saya belum tahu apa cara kepala sekolah kami waktu itu sehingga kami masih diberi kesempatan datag ke rektorat. Saat itu saya benar – benar bersyukur dan harapan yang tadinya hampir pupus, aku kembali bersemangat untuk melanjutkan mimpi. Keesokan harinya aku dan Sardi berangkat ke Majene namun sebelumnya kami harus ke kota Mamasa, karena kebetulan kampung yang saya tempati terpencil belum ada jaringan apalagi rumah sakit, jadi kami harus ke melakukan test kesehatan di rumah sakit kota Mamasa dulu. Perjalanan dari kampung ke kota Mamasa sekitar 1 jam. Kami tiba di Mamasa sekitar jam 2 sore, sesudah test kesehatan sekitar jam 3 sore kami lanjut ke Majene. Sekitar jam 9 malam kami menginap dulu di Polewali Mandar karena keadaan tidak memungkinkan juga untuk lanjut ke Majene. Sekitar jam 5 pagi kami melanjutkan perjalanan ke Majene. Sekitar jam 9 pagi kami tiba di Majene. Tiba di Majene kami kebingungan harus menemui siapa, saat itu saya ingat kakak kelas saya dulu yang juga sementara kuliah di Majene, saya telpon dan meminta tolong untuk diantar ke rektorat. Beruntungnya pada saat itu kakak kelas saya itu juga tidak ada kesibukan jadi dia mengantar kami ke rektorat. Setelah sampai di rektorat syukurnya kami tidak di beri test wawancara kami hanya di minta untuk kumpul berkas pendaftaran Bidikmisi. Namun siapa sangka muncul lagi permasalahan, berkas kami ditolak karena tidak ada Kartu Tanda Peserta SNMPTN. Disitu saya benar – benar tidak tahu apa itu Kartu Tanda Peserta SNMPTN, dan kami hanya diberi waktu sampai jam 3 sore, jika tidak mengumpulkan Kartu Tanda Peserta itu maka kami benar – benar akan gagal kuliah. Di saat itu juga saya sudah putus asa, saya menangis mengingat perjuangan yang dari kemarin bolak balik Mamasa, Majene kemudian saya mengingat biaya yang saya pake untuk sewa ojek yang mengantar semua biaya yang saya pake itu adalah uang pinjaman. Saya benar – benar menangis dan tidak tahu harus berbuat apalagi. Tiba-tiba kakak kelas yang mengantar kami mengatakan coba hubungi guru di SMK yang daftar kalian, pasti dia simpan kartu tanda peserta SNMPTN kalian karena dia yang daftarkan kalian. Namun kami juga kebingungan bagaimana cara menghubungi atau menelepon Pak Edi karena di kampung tidak ada jaringan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 dan tiba- tiba saya melihat salah satu teman kelas namanya Agel sedang online di Facebook. saya berinisiatif untuk chat dan berharap bisa meminta bantuan. Saya cerita ke Sardi dan Ayahnya yang saat itu juga mengantar kami, saya cerita ke mereka kalau ada salah satu teman kelas saya yang sedang online. Sudah beberapa menit saya chat namun belum ada balasannya. Kemudian Ayah Sardi mengatakan ” coba berikan nomor telepon teman kamu biar kita langsung telepon saja”. Untung saat itu Ayah Sardi saat itu mengantar kami, beliau pun menelpon Agel. Ayah Sardi menjelaskan ke Agel kalau saat itu kami benar-benar membutuhkan bantuannya, kami meminta Agel menemui Pak Edii dan memintakan kartu tanda peserta SNMPTN. Dengan kebaikan hati Agel dia mau membantu kami padahal posisinya juga saat itu sedang ada di kampung sebelah untuk mencari sinyal. Setelah sekitar 1 jam menunggu tiba-tiba saya melihat notif chat masuk di HP aku, dan itu chat dari Agel dia mengirimkan foto kartu tanda peserta SNMPTN saya dan Sardi. Saat itu tidak bisa berkata- kata lagi ternyata masih ada orang baik berhati malaikat yang mau membantu sampai saat ini ketika mengingat Agel saya selalu mendoakan yang terbaik karena telah membantu kami sehingga bisa kuliah.
Saat itu juga kami segera mencari tempat print karena mengingat waktunya hanya sampai jam 3, aku dan Sardi mencetak gambar kartu tanda peserta SNMPTN yang Agel kirimkan tadi lalu kami langsung menuju ke rektorat untuk kumpul berkas kembali. Berkat Tuhan akhirnya berkas kami diterima pihak rektorat sebelum jam menunjukkan pukul 3 sore. Pada saat itu saya benar-benar menangis terharu akan kebaikan Tuhan, saya menyadari bahkan di ujung tanduk sekalipun, akan selalu ada mukjizat. Kalau dipikir-pikir tantangan yang sudah dilalui tadi terlihat tidak mungkin di lalui namun Mukjizat itu nyata akan selalu ada cara Tuhan jika kita berusaha. Saya benar- benar bersyukur dan berterima kasih untuk semua yang membantu kami selama proses masuk perkuliahan tanpa orang -orang baik seperti mereka mungkin saat ini saya tidak akan bisa disebut sebagai alumni Universitas Sulawesi Barat jika bukan karena bantuan mereka. Inilah kisah aku pada saat masuk kampus impian aku dulu pada tahun 2019. Dari semua proses itu telah mengajarkan kesabaran, berusaha dan yang paling utama adalah percaya kepada Tuhan. Terima kasih, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.
(Kartu Mahasiswa)

