“Satu Kursi di Antara Dua Puluh Ribu Harapan”

Hal apa yang dapat membuat seseorang rela mengorbankan masa remajanya, menolak semua ajakan nongkrong, dan menghabiskan malam malamnya di depan meja dengan tumpukan buku yang hampir memenuhi seisinya. Jika ditanya setahun yang lalu, mungkin saya akan menjawab demi kampus impian itu. Belajar tanpa henti, entah berapa banyak buku yang saya coret coret, dan berapa banyak ajakan nongkrong yang saya tolak demi satu nama kampus itu.

Di sore itu aku menatap layar komputer dengan sangat gugup, perlahan meyakinkan diri untuk membuka pengumuman itu, ketika hasilnya keluar mataku terbelalak dan teriakanku yang keras membangunkan orangtua ku ketika aku menatap layar komputer yang menampilkan warna biru dengan satu kata sakti "DITERIMA", sesaat itu semua rasa lelah, semua cemoohan, dan semua doa yang dipanjatkan seolah terbayarkan dalam sekejap mata. Namun disisi lain terlihat dokumen rincian biaya kuliah terlihat sangat mustahil untuk disandingkan dengan finansial keluarga ku. Aku terdiam, merasa menang dan kalah dalam satu waktu menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit. Beberapa hari aku berdiskusi dengan orangtuaku, kenyataannya ekonomi memaksaku untuk berhenti. Hari itu aku belajar bahwa impian tidak harus diraih dengan cara yang kita bayangkan.

Setelah berminggu-minggu memilih berdamai dengan kenyataan, Tiba tiba muncul notifikasi di handphone, aku hanya membaca sekilas "beasiswa penuh", hal itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun, jari saya terus mengulir layar handphone dan membaca syarat demi syarat. Jika jalan ini terbuka, bukankah itu tanda bahwa saya belum diizinkan untuk menyerah. Dan kali ini taruhannya bukan hanya soal nilai, tapi soal pembuktian diri bahwa impian saya layak untuk diperjuangkan.

20 ribu lebih pendaftar dengan kuota beasiswa 4 ribu orang. Secara matematis, peluang untukku tampak seperti titik kecil di tengah hamparan luas. Seleksi itu bukan hanya sekedar formalitas, ia adalah saringan yang sangat ketat. Dan aku hanya terfokus pada satu hal, yaitu ada satu kursi yang layak untuk aku perjuangkan.

Mulailah di tahap pertama yaitu tahap seleksi administrasi berkas, aku memastikan setiap berkas tidak ada kesalahan, karena aku tahu kesalahan kecil bisa berdampak besar. Perlahan saya memilah dan mempertimbangkan kampus mana yang akan saya pilih di 10 pilihan pertama, dikarenakan terdapat 42 kampus yang bermitra dengan beasiswa ini. Setelah menunggu beberapa minggu, muncul notifikasi E-Mail yang menyatakan saya lulus seleksi Administrasi dan akan lanjut ke tahap Tes Akademik.

Pada Tes Akademik diperlukan komputer sebagai sarana pengerjaan soal. Pada saat itu saya menggunakan fasilitas perpustakaan Desa karena saya tidak memiliki komputer ataupun laptop, ratusan soal berbaris tanpa ampun dengan durasi waktu 5 jam. Leher saya mulai kaku, tangan saya gemetar, rasanya ingin sekali meninggalkan layar komputer tersebut, tapi saya teringat mengapa saya berasa disini. Soal demi soal telah terjawab, antara yakin dan tidak akhirnya saya selesai mengerjakan tes tersebut.

Gambar 1

Minggu minggu setelah tes akademik terasa sangat panjang, namun suatu pagi sebuah email dengan subjek yang sangat dinanti muncul dilayar. Saya membacanya berulang kali memastikan saya tidak salah lihat, tidak disangka saya dinyatakan lolos ke tahap selanjutnya yaitu tahap wawancara, rasa lelah setelah 5 jam di depan layar akhirnya tergantikan dengan pengumuman itu.

Koneksi internet saya cek berulang kali, dan memastikan latar belakang terlihat rapi serta ruangan yang tenang. Rumah ku seketika menjadi tempat paling tenang, aku memberitahu orang tua ku agar tidak berisik selama satu jam kedepan. Saat pewawancara mulai bertanya tentang motivasi ku, aku tidak lagi menjawab dengan hafalan, aku menjawab dengan luka dan harapan. Tangan ku terus meremas ujung baju dibawah meja untuk menyalurkan rasa gugup. Setelah wawancara selesai dan panggilan ditutup, sejenak aku menatap layar handphone, menunggu apakah aku telah memberikan jawaban yang terbaik.

Minggu minggu penantian itu sangat menyiksa, hanya 4.000 yang akan tersenyum, aku berbaring menatap langit langit kamar dan bertanya apakah usaha ku sudah cukup? Dan apakah aku sudah memberikan yang terbaik?

Lalu hari pengumuman itu tiba, aku membuka website untuk melihat apakah ada terselip nama ku diantara 4 ribu orang itu. Jantung ku berdegub kencang saat memasukkan nomor pendaftaran. Tanganku gemetar saat membaca pengumuman, dan kalimat itu terlihat jelas "selamat anda dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa". Melihat nama ku ada di antara 4000 kuota itu, membuat segalanya masuk akal. Semua begadang, rasa lelah menatap layar selama 5 jam, ketakutan biaya kuliah, dan semua keraguan saat aku hampir menyerah. Aku tidak hanya memenangkan sebuah beasiswa, aku memenangkan hak untuk tidak menyerah pada keadaan. Hidup memang lucu, terkadang kita harus kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.

Gambar 2

Pada tanggal 1 September 2025 Aku diberangkatkan ke Kampus yang sudah menjadi pilihan dan takdirku. Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Program Studi D3 Manajemen Logistik. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung, tempat tinggal yang nyaman, teman teman yang baik, dan proses pembelajaran di kelas yang sangat seru. Hal ini baru bagiku, mempelajari tentang sawit, dan mempelajari bagaimana dunia logistik bekerja. Saat ini statusku adalah perantau, orangtua berada jauh di Sumatera Utara dan aku di jawa Barat, tetapi semua ini demi masa depan dan demi harapan kedua orang tua dan orang orang tersayang.

Gambar 3

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *