Aku Tidak Dilahirkan untuk Menyerah

Karya: Asih Wulandari

Aku lahir prematur saat usia kandungan ibuku baru sekitar enam hingga tujuh bulan. Tubuhku kecil dan lemah. Sejak awal kehidupan, aku sudah harus berjuang untuk bertahan. Masa kecilku tidak seperti anak-anak pada umumnya. Aku baru bisa berjalan saat berusia enam tahun, ketika teman-teman sebayaku sudah berlari dan bermain dengan bebas.

Cobaan hidupku semakin berat ketika aku didiagnosis menderita leukemia saat duduk di kelas dua sekolah dasar. Di usia yang masih sangat muda, aku harus berkenalan dengan rumah sakit, obat-obatan, dan rasa sakit yang sering datang. Selain itu, aku juga merupakan penyandang tuna daksa. Keterbatasan fisik yang kumiliki sering membuatku merasa berbeda dari orang lain.

Aku menempuh pendidikan dasar di sekolah negeri. Meski sering sakit, aku tetap berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, tantangan yang lebih berat datang saat aku bersekolah di SMP swasta. Selama tiga tahun, aku mengalami perundungan dari lingkungan sekitar. Kata-kata yang menyakitkan dan perlakuan yang tidak menyenangkan membuatku hampir menyerah. Bahkan, aku pernah berpikir untuk pindah sekolah.

Meski demikian, aku memilih bertahan. Aku percaya bahwa hidupku tidak boleh ditentukan oleh orang-orang yang meremehkanku. Aku ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.

Perjalanan hidupku mulai berubah ketika aku duduk di bangku SMA. Aku menemukan dunia yang sangat kucintai, yaitu menulis. Melalui tulisan, aku bisa mengekspresikan perasaan, harapan, dan impianku. Pada tahun 2017, aku berhasil menerbitkan novel pertamaku. Bagi banyak orang, itu mungkin hanya sebuah buku. Namun bagiku, buku tersebut adalah simbol kemenangan atas segala keterbatasan yang pernah kuhadapi.

Pada tahun 2019, aku menerima penghargaan sebagai Siswa Terinspirasi. Penghargaan itu menjadi bukti bahwa perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan sia-sia. Setelah lulus SMA, aku melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta dengan beasiswa penuh prestasi.

Di bangku kuliah, aku kembali menghadapi perundungan dan diskriminasi. Bahkan ada masa ketika karya-karyaku hampir diambil oleh pihak fakultas. Pengalaman itu sangat menyakitkan, tetapi aku tidak menyerah. Aku terus belajar, menulis, dan menghasilkan karya.

Hingga saat ini, aku telah menerbitkan 52 buku, terdiri dari 9 buku solo dan 43 buku antologi. Berbagai penghargaan nasional dan internasional juga berhasil kuraih. Beberapa karyaku bahkan tercatat dalam katalog internasional di Belanda dan Inggris. Aku juga memperoleh penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi Non-Akademik dan Pemuda Berprestasi Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ketika melihat kembali perjalanan hidupku, aku menyadari bahwa semua pencapaian ini lahir dari keberanian untuk tidak menyerah. Aku pernah menjadi anak yang lahir prematur, berjuang melawan leukemia, mengalami keterbatasan fisik, dan menjadi korban perundungan. Namun, aku memilih untuk terus melangkah.

Kisah hidupku mengajarkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh keterbatasan yang kita miliki, melainkan oleh tekad untuk terus berjuang. Aku tidak dilahirkan untuk menyerah. Aku dilahirkan untuk membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh dan menjadi nyata, bahkan dari kehidupan yang penuh tantangan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *