“Pilihan Kedua Tidak Menghentikan Mimpiku”
Karya: Victoria Angelica Gunardi
Mahasiswi Universitas Tadulako, Program Studi Ilmu Komunikasi
Mimpi Yang Datang Diwaktu Yang Tak Terduga
Ada satu hari yang tidak pernah benar-benar bisa kulupakan.
Hari itu, namaku memang dinyatakan lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Banyak orang mengucapkan selamat. Mereka mengira aku sedang merayakan keberhasilan yang selama ini kuimpikan. Padahal, di balik layar gawai yang masih menyala itu, aku sedang belajar menerima kenyataan bahwa mimpiku tidak berhenti di tempat yang selama ini kutuju.
Aku diterima di universitas pilihan kedua.
Source: Google.com
Mungkin bagi sebagian orang, itu tetap sebuah keberhasilan. Namun, bagiku yang telah menghabiskan berbulan-bulan untuk mengejar kampus pilihan pertama, kabar itu meninggalkan perasaan yang sulit dijelaskan. Aku bersyukur karena masih diberi kesempatan melanjutkan pendidikan, tetapi di saat yang sama aku juga harus mengikhlaskan impian yang selama ini kujaga.
Hari itu menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Perjalanan itu sebenarnya dimulai jauh sebelum pengumuman diterima.
Setelah lulus SMP, aku melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi karena mengikuti keinginan orang
tua. Saat itu, aku belum benar-benar memahami apa yang ingin kulakukan di masa depan. Aku hanya berusaha menjalani pilihan yang menurut keluargaku adalah yang terbaik.
Selama beberapa tahun, semuanya berjalan seperti biasa. Hingga menjelang tahun terakhir sekolah, aku menemukan sesuatu yang perlahan mengubah arah hidupku.
Aku jatuh hati pada bahasa.
Berawal dari rasa penasaran, aku mulai belajar bahasa Inggris dan bahasa Korea secara mandiri. Semakin sering belajar, semakin aku menyadari bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kosakata atau aturan tata bahasa tetapi di balik setiap kalimat, ada budaya, cara berpikir, dan kehidupan yang saling terhubung.
Saat itulah aku memiliki mimpi yang benar-benar lahir dari keinginanku sendiri. Aku ingin menjadi penerjemah internasional.
Source: Google.com
Mimpi itu terasa jauh dari jurusan yang sedang kutempuh. Namun, justru karena itulah aku ingin memperjuangkannya. Aku percaya bahwa seseorang tidak harus selamanya berjalan di jalur yang sama dengan masa lalunya.
Satu-satunya jalan yang terpikir saat itu adalah melanjutkan pendidikan ke universitas negeri. Aku menetapkan satu tujuan. Aku ingin diterima di kampus yang menjadi pilihan pertamaku. Sejak saat itu, hari-hariku berubah.
Sebagai siswa SMK, aku lebih banyak belajar praktik kerja nyata dibandingkan materi akademik yang diujikan dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Banyak materi yang harus aku pelajari sendiri dari awal. Ada rumus yang baru benar-benar kupahami setelah membacanya berulang kali. Ada soal yang membuatku ingin menyerah karena terasa begitu sulit.
Meski begitu, aku terus mencoba.
Sepulang sekolah, aku kembali membuka buku dan laptop. Ketika teman-teman lain mulai beristirahat, aku justru memulai sesi belajar yang sering kali berlangsung hingga larut malam. Meja kecil di kamar menjadi tempatku menghabiskan waktu bersama buku, latihan soal, dan secangkir kopi yang perlahan mulai dingin.
Tidak ada yang benar-benar melihat prosesku saat itu.
Orang-orang mungkin hanya akan mengetahui hasil akhirnya. Mereka akan tahu apakah aku diterima atau tidak. Padahal, sebelum satu kalimat pengumuman muncul di layar, ada berbulan-bulan usaha yang dijalani dalam diam.
Aku percaya semua itu akan membawaku lebih dekat pada kampus impian. Aku tidak tahu bahwa hidup sedang menyiapkan jalan yang berbeda.
Belajar Menerima Jalan Yang Berbeda
Perjalanan yang kubayangkan ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Hari pengumuman itu masih kuingat dengan jelas. Aku membaca hasilnya berulang kali, seolah berharap ada sesuatu yang berubah setiap kali layar gawai kubuka kembali. Namun, hasilnya tetap sama.
Aku diterima di universitas negeri. Bukan universitas yang selama ini kuimpikan.
Untuk beberapa saat, aku hanya duduk memandangi layar tanpa mengatakan apa pun. Rasanya aneh. Aku seharusnya merasa bahagia karena berhasil lolos. Namun, di saat yang sama aku juga sedang kehilangan sesuatu yang selama berbulan-bulan menjadi tujuan perjuanganku.
Banyak orang mengucapkan selamat kepadaku. Aku membalas setiap ucapan itu dengan senyum dan ucapan terima kasih.
Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan mereka. Hanya saja, mereka tidak melihat bagian yang harus kulepaskan pada hari yang sama.
Butuh waktu bagiku untuk menerima kenyataan itu.
Aku sempat bertanya pada diri sendiri apakah semua usaha yang kulakukan masih belum cukup?
Namun, semakin lama kupikirkan, semakin kusadari bahwa tidak semua pertanyaan dalam hidup memiliki jawaban. Ada hal-hal yang hanya bisa diterima.
Keadaan ekonomi keluarga juga tidak memberiku banyak pilihan. Mengulang seleksi pada tahun berikutnya bukan keputusan yang mudah. Aku tidak ingin membebani orang tua lebih lama hanya karena terus mengejar satu nama universitas.
Akhirnya, aku menerima universitas pilihan kedua sebagai tempatku melanjutkan pendidikan. Bukan karena rasa kecewaku sudah hilang. Melainkan karena aku percaya bahwa mimpi tidak boleh berhenti hanya karena jalannya berubah.
Beberapa minggu kemudian, aku berangkat menuju kota yang akan menjadi tempatku belajar.
Aku membawa satu koper berisi pakaian, beberapa buku, dan harapan yang masih berusaha kukumpulkan kembali.
Perjalanan menuju kota itu terasa lebih panjang daripada biasanya. Sepanjang jalan, aku lebih banyak memandang keluar jendela daripada berbicara. Ada banyak hal yang berputar di kepalaku. Tentang kehidupan baru yang belum kukenal. Tentang kampus yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam bayanganku. Tentang apakah aku akan mampu bertahan di tempat yang benar-benar asing.
Sesampainya di sana, semuanya terasa baru. Jalan-jalan yang belum pernah kulewati.
Gedung-gedung yang belum pernah kulihat. Orang-orang yang belum pernah kukenal.
Di tengah keramaian itu, aku menyadari bahwa kini aku benar-benar sendirian.
Aku memang sudah terbiasa merantau sejak SMP. Namun, menjadi mahasiswa menghadirkan tantangan yang berbeda. Tidak ada lagi guru yang mengingatkan jadwal pelajaran. Tidak ada keluarga yang bisa ditemui ketika hari terasa berat. Semua keputusan, sekecil apapun, harus kuambil sendiri.
Tapi perlahan, aku belajar menyesuaikan diri.
Aku mengenal ritme perkuliahan, mencari cara agar tetap bisa mengikuti setiap mata kuliah, sekaligus mengatur pengeluaran agar cukup hingga akhir bulan.
Sejak awal, aku sadar bahwa kondisi ekonomi keluargaku membuatku tidak bisa hanya bergantung pada kiriman dari rumah.
Aku mulai menerima berbagai pekerjaan lepas yang sesuai dengan kemampuanku. Aku membantu menyusun presentasi, menyunting dokumen, dan mengerjakan berbagai pekerjaan lain yang dapat kulakukan di sela-sela waktu kuliah. Penghasilannya memang tidak selalu besar, tetapi cukup membantuku memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ada hari ketika semuanya terasa berjalan lancar.
Ada pula hari ketika pekerjaan datang bersamaan dengan tugas kuliah yang menumpuk. Tubuh terasa lelah, sementara waktu seolah tidak pernah cukup.
Sering kali aku pulang ke kamar kos ketika langit sudah gelap. Ruangan kecil itu selalu menyambutku dengan keheningan yang sama.
Aku meletakkan tas, duduk beberapa saat di tepi tempat tidur, lalu kembali membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai atau membaca materi kuliah yang harus dipelajari.
Rutinitas itu berlangsung hampir setiap hari. Lelah perlahan menjadi sesuatu yang biasa.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih sulit kuhadapi daripada rasa lelah. Rasa sepi.
Aku sering melihat teman-teman datang ke kampus bersama orang tua mereka. Ada yang diantar hingga gerbang, ada yang dibawakan makanan, dan ada yang sekadar berbincang sebentar sebelum memasuki ruang kuliah.
Aku senang melihat kebersamaan mereka. Namun, tanpa kusadari, pemandangan sederhana itu sering membuat langkahku melambat. Aku tidak memiliki momen seperti itu.
Tidak ada yang menungguku di gerbang kampus. Tidak ada yang datang membawakan makanan.
Tidak ada pelukan yang bisa kudapatkan ketika hari terasa begitu melelahkan.
Pada awalnya, aku mengira kesepian adalah sesuatu yang harus kulawan. Lama-kelamaan aku justru belajar menerimanya.
Aku mulai memahami bahwa bertumbuh tidak selalu berarti memiliki semua yang kita inginkan. Kadang, bertumbuh berarti tetap berjalan meskipun tidak ada siapa pun yang menemani.
Dan di kota itulah, perlahan-lahan, aku mulai belajar menjadi tempat pulang bagi diriku sendiri.
Menemukan Kembali Kepercayaan Diri
Kesepian memang tidak langsung menghilang.
Namun, perlahan aku mulai memahami bahwa hidup tidak akan berubah hanya karena aku terus meratapi keadaan. Aku masih memiliki kuliah yang harus kuselesaikan, pekerjaan yang harus kutuntaskan, dan satu mimpi yang sejak awal tidak pernah benar-benar kutinggalkan.
Aku masih ingin menjadi penerjemah internasional.
Di tengah rutinitas yang padat, aku tetap menyisihkan waktu untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Korea. Kadang hanya satu jam sebelum tidur. Kadang lebih singkat karena tubuh sudah terlalu lelah. Tidak jarang aku membuka materi belajar sambil berusaha menahan kantuk setelah seharian mengikuti kuliah dan menyelesaikan pekerjaan.
Langkahku memang kecil. Namun, aku tidak ingin berhenti.
Aku percaya bahwa mimpi tidak selalu diwujudkan melalui lompatan besar. Ada kalanya ia bertumbuh melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan konsisten.
Sedikit demi sedikit, semangat yang sempat hilang mulai kembali.
Aku tidak lagi terlalu sibuk membandingkan diriku dengan orang lain. Aku mulai belajar menikmati proses yang sedang kujalani, meskipun jalannya berbeda dari yang pernah kurencanakan.
Suatu hari, kampusku mengadakan perlombaan seni dan penulisan tingkat fakultas. Awalnya aku hanya melihat pengumuman itu sekilas.
Aku sempat ragu untuk mendaftar. Ada suara kecil dalam diriku yang berkata bahwa mungkin aku belum cukup baik. Bukankah selama ini aku selalu merasa datang dari tempat yang tertinggal? Bukankah aku pernah gagal mencapai kampus yang paling kuinginkan?
Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memilih untuk tidak mendengarkan keraguan itu.
Aku mendaftarkan diri.
Aku menyiapkan karya itu di sela-sela kesibukan kuliah dan pekerjaan. Tidak ada proses yang benar-benar mudah. Ada malam ketika aku harus bergantian mengerjakan tugas kuliah dan menyelesaikan naskah lomba. Ada saat ketika rasa lelah membuatku ingin berhenti sebelum semuanya selesai.
Meski begitu, aku tetap melanjutkannya. Bukan karena yakin akan menang.
Aku hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa kegagalan pada satu kesempatan tidak seharusnya membuatku berhenti mencoba kesempatan yang lain.
Hari pengumuman pemenang akhirnya tiba.
Ketika namaku disebut sebagai peraih juara kedua, aku sempat terdiam beberapa saat. Aku tidak menyangka.
Bukan karena merasa karyaku tidak layak, melainkan karena sudah terlalu lama aku terbiasa meragukan diriku sendiri.
Piala itu akhirnya berada di tanganku.
Mungkin bagi sebagian orang, itu hanyalah sebuah perlombaan tingkat fakultas. Namun, bagiku, benda sederhana itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Piala itu menjadi bukti bahwa perjalanan seseorang tidak selalu ditentukan oleh tempat ia memulai.
Aku teringat pada diriku sendiri beberapa bulan sebelumnya. Seorang siswa SMK yang berusaha mengejar ketertinggalan materi ujian. Seorang calon mahasiswa yang harus menerima kenyataan bahwa kampus impiannya tidak menjadi tempat ia melanjutkan pendidikan. Seorang perantau yang belajar menguatkan dirinya sendiri di kota yang asing.
Semua perjalanan itu seakan berkumpul dalam satu momen ketika aku menggenggam piala tersebut.
Dengan perasaan bahagia, aku segera menghubungi orang tuaku.
Entah mengapa, saat itu aku berharap mereka akan ikut merasakan kebahagiaan yang sama.
Aku membayangkan akan ada ucapan selamat, mungkin juga sedikit rasa bangga yang terdengar dari seberang telepon.
Namun, respons yang kuterima jauh lebih sederhana daripada yang kubayangkan. Percakapan itu berlangsung singkat.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada kata-kata yang menunjukkan kegembiraan secara berlebihan.
Sesaat, aku kembali merasakan ruang kosong yang pernah kurasakan sebelumnya. Namun, kali ini aku tidak larut di dalamnya.
Aku mulai memahami bahwa tidak semua kasih sayang diungkapkan melalui pujian. Orang tuaku membesarkanku dengan cara mereka sendiri. Mereka jarang mengucapkan kata-kata yang hangat, tetapi mereka tidak pernah berhenti mendukungku untuk terus bersekolah meskipun keadaan ekonomi kami tidak selalu mudah.
Kesadaran itu mengubah cara pandangku.
Aku tidak lagi mencari pengakuan untuk membuktikan bahwa usahaku berarti.
Karena perlahan aku belajar bahwa menghargai diri sendiri juga merupakan bagian dari proses bertumbuh.
Piala itu kemudian kubawa pulang ke kamar kos. Kini ia berdiri di sudut meja belajarku.
Setiap kali melihatnya, yang kuingat bukanlah posisi juara atau penghargaan yang kuterima. Yang kuingat adalah perjalanan panjang yang membawaku sampai ke titik itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari pengumuman masuk perguruan tinggi, aku merasa telah berdamai dengan pilihan kedua yang dulu begitu sulit kuterima.
Bukan Kampus Yang Mengubahku
Kini, ketika mengingat kembali seluruh perjalanan itu, aku tidak lagi bertanya mengapa aku gagal masuk ke universitas pilihan pertama.
Pertanyaan itu perlahan kehilangan maknanya.
Yang lebih sering kupikirkan justru bagaimana perjalanan tersebut mengubah caraku memandang hidup.
Dulu aku mengira perjuangan masuk kampus berakhir ketika pengumuman seleksi diumumkan.
Ternyata aku keliru.
Perjuangan yang sesungguhnya justru dimulai setelah aku mengenakan jaket almamater, tinggal jauh dari rumah, belajar bertahan di kota yang asing, membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, lalu perlahan membangun kembali kepercayaan pada diriku sendiri.
Pilihan kedua yang dulu terasa seperti sebuah kegagalan ternyata memberikan ruang untuk diriku bertumbuh.
Di tempat itulah aku belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Aku belajar bahwa kecewa tidak harus membuat seseorang berhenti melangkah. Dan yang paling penting, aku belajar bahwa mimpi tidak pernah berubah hanya karena jalan yang ditempuh menjadi berbeda.
Hari ini, aku masih terus belajar bahasa Inggris dan bahasa Korea.
Mimpi menjadi penerjemah internasional itu masih sama seperti pertama kali hadir di dalam benakku beberapa tahun lalu.
Bedanya, kini aku tidak lagi terburu-buru.
Aku percaya setiap langkah kecil yang kulakukan hari ini sedang membawaku mendekat ke tujuan yang sama.
Sesekali aku masih melihat piala yang berdiri di sudut meja kamar kosku. Benda itu tidak pernah mengingatkanku pada kemenangan.
Ia mengingatkanku pada perjalanan.
Pada malam-malam ketika aku belajar hingga larut.
Pada hari ketika aku harus menerima kenyataan bahwa kampus impianku tidak menjadi tempatku berkuliah.
Pada kota asing yang mengajarkanku cara bertahan.
Pada diriku sendiri yang pernah merasa tertinggal, tetapi memilih untuk terus berjalan.
Kini aku mengerti bahwa yang paling menentukan bukanlah di kampus mana seseorang diterima.
Melainkan bagaimana ia memaknai setiap kesempatan yang diberikan kepadanya.
Karena pada akhirnya, kampus pilihan kedua tidak pernah benar-benar menjauhkan aku dari mimpi. Justru dari sanalah aku belajar cara memperjuangkannya.
Di bawah langit yang sama, setiap orang sedang memperjuangkan mimpinya dengan cara yang mungkin tidak pernah diketahui oleh dunia.
