Perjalanan Menemukan Jalan Terbaik

Oleh : Asmaul Fauziyah Ramadani

Di tempat saya tumbuh, melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi bukanlah sesuatu yang lazim. Banyak anak yang setelah lulus SD memilih mondok, lalu ketika dewasa menikah. Namun, ibu saya selalu percaya bahwa hidup saya harus berbeda.

Perkenalkan, nama saya Asmaul Fauziyah Ramadani, mahasiswi semester 4 Universitas Negeri Surabaya. Saya lahir dan besar di Kabupaten Sampang, Madura. Saya sendiri juga merupakan lulusan pondok pesantren. Di tengah lingkungan yang menganggap pendidikan tinggi bukan sebuah kebutuhan, ibu saya justru memiliki keyakinan yang berbeda. Beliau selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah bekal terbaik untuk mengubah masa depan.

Keyakinan itu lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Setelah bercerai dari ayah, ibu menjadi tulang punggung keluarga. Karena hanya lulusan SMP, pilihan pekerjaan beliau sangat terbatas hingga akhirnya beliau bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup kami dan membiayai pendidikan saya. Melihat perjuangan beliau setiap hari membuat saya memahami bahwa pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar, tetapi juga tentang memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik.

Sejak SMA, saya memiliki impian untuk kuliah di Universitas Airlangga. Program studi yang paling saya minati adalah Hubungan Internasional. Namun, ibu berharap saya mengambil program studi di bidang kesehatan karena menurut beliau peluang kerjanya lebih menjanjikan. Walaupun kami memiliki keinginan yang berbeda, saya tetap menghormati pilihan beliau. Yang terpenting bagi saya saat itu adalah bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

Karena sekolah asal saya tidak terdaftar dalam SNBP, saya hanya memiliki kesempatan melalui jalur UTBK. Selama hampir satu tahun penuh saya belajar dengan sungguh-sungguh. Saya mengikuti bimbingan belajar, mengerjakan latihan soal, dan berusaha memberikan yang terbaik. Namun, harapan itu belum menjadi kenyataan.

Selama dua tahun saya mengikuti UTBK dengan persiapan yang maksimal, tetapi dua kali juga saya harus menerima kenyataan bahwa saya belum berhasil lolos. Hari pengumuman menjadi salah satu momen paling berat dalam hidup saya. Saat saudara saya mengabarkan bahwa ia berhasil lolos SNBT, saya ikut bahagia untuknya. Namun, di sisi lain saya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Rasanya semua usaha yang telah saya lakukan belum cukup. Di saat saya hampir kehilangan harapan, ibu berkata, "Tidak apa-apa kalau belum berhasil. Kita masih punya jalan lain." Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan.

Saya kemudian mencoba berbagai jalur masuk PTN. Hingga akhirnya saya dinyatakan lolos di Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Brawijaya melalui jalur mandiri. Saat itu saya sangat ingin memilih Universitas Brawijaya, tetapi ibu memiliki pertimbangan lain sehingga saya memutuskan berkuliah di Universitas Negeri Surabaya. Jujur, saya sempat menyesal. Bukan karena diterima di UNESA, melainkan karena saya tidak mencoba jalur mandiri Universitas Airlangga dengan program studi kesehatan yang sejak awal disarankan ibu. Penyesalan itu membuat saya menjalani tahun pertama kuliah tanpa semangat. Saya merasa berada di tempat yang bukan pilihan saya.

Di saat yang sama, saya juga memikirkan beban biaya kuliah yang sepenuhnya ditanggung ibu. Saya mencoba berbagai peluang beasiswa, mulai dari KIP Kuliah, Beasiswa Unggulan, hingga Glow & Lovely Bintang Beasiswa. Namun, semuanya belum membuahkan hasil. Saat itu saya benar-benar merasa kehilangan arah. Saya gagal masuk kampus impian, belum bisa menerima program studi yang saya jalani, dan kembali harus menerima berbagai penolakan.

Semakin lama saya terjebak dalam penyesalan, saya justru semakin sulit melangkah. Dari situlah saya mulai belajar menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi saya masih bisa menentukan bagaimana saya menjalani hari ini.

Perlahan saya mulai membuka diri terhadap berbagai kesempatan yang ada di kampus. Saya mengikuti perlombaan yang dianjurkan dosen, meskipun belum pernah menjadi juara. Awalnya saya hanya ingin mencoba, tetapi dari setiap perlombaan saya belajar berpikir lebih kritis, bekerja sama dalam tim, menyusun ide, dan berani keluar dari zona nyaman. Saya menyadari bahwa sebuah pengalaman tidak harus diakhiri dengan kemenangan agar tetap menjadi sesuatu yang berharga.

Saya juga aktif menjadi panitia LKMM-TD, Upgrading, dan PKKMB Fakultas. Dari berbagai kegiatan tersebut, saya belajar bertanggung jawab, berkomunikasi dengan banyak orang, serta mengatur waktu di tengah kesibukan kuliah. Tanpa saya sadari, pengalaman pengalaman itulah yang perlahan mengembalikan rasa percaya diri yang sempat hilang.

Selain aktif di kampus, saya juga bekerja sebagai affiliate Shopee untuk mendapatkan tambahan uang jajan. Penghasilannya memang tidak selalu besar, tetapi saya bangga karena bisa mulai belajar mandiri dan sedikit demi sedikit membantu meringankan beban ibu.

Saya pun kembali memberanikan diri mencoba berbagai beasiswa. Alhamdulillah, saya berhasil lolos tahap administrasi Beasiswa Djarum Plus. Meskipun perjalanan saya masih panjang dan belum dinyatakan sebagai penerima beasiswa, kabar itu menjadi penyemangat bahwa usaha yang dilakukan dengan sungguh sungguh tidak akan pernah sia sia. Saya juga mendaftar Beasiswa Sahabat dan berencana kembali mencoba Beasiswa Unggulan. Bagi saya, kegagalan bukan lagi alasan untuk berhenti, melainkan motivasi untuk terus memperbaiki diri.

Perjalanan saya juga tidak selalu mendapat dukungan dari semua orang. Sebagian keluarga dari pihak ayah pernah mengatakan bahwa “ perempuan tidak perlu sekolah tinggi karena pada akhirnya hanya akan mengurus rumah tangga”. Dulu perkataan itu membuat saya sedih. Namun, kini saya memilih menjadikannya sebagai motivasi untuk membuktikan bahwa perempuan juga berhak berpendidikan, berkarir, berkarya, dan tetap menjadi sosok yang baik bagi keluarganya.

Hari ini saya memang belum berada di kampus yang dulu saya impikan. Saya juga belum berhasil mendapatkan semua beasiswa yang saya perjuangkan. Namun, ketika melihat kembali perjalanan yang telah saya lalui, saya sadar bahwa saya telah tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih kuat.

Dulu saya begitu sibuk menyesali program studi yang saya jalani. Kini saya justru bersyukur karena melalui tempat inilah saya mendapatkan kesempatan untuk berkembang, mengenal potensi diri, dan belajar bahwa setiap jalan memiliki hikmahnya masing masing. Ternyata, takdir Allah tidak selalu membawa kita ke tempat yang kita inginkan, tetapi sering kali membawa kita ke tempat yang paling kita butuhkan.

Saya tidak bisa mengubah masa lalu ibu dan juga tidak bisa menghapus semua kegagalan yang pernah saya alami. Namun, saya bisa terus berjuang agar semua pengorbanan beliau tidak berhenti pada dirinya. Saya ingin suatu hari nanti ibu tidak lagi bekerja keras demi masa depan saya, melainkan bisa melihat bahwa perjuangannya telah mengantarkan saya menjadi perempuan yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Bagi saya, itulah makna pendidikan yang sesungguhnya, bukan hanya mengubah masa depan saya, tetapi juga menjadi cara terbaik untuk membalas cinta dan perjuangan seorang ibu.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *