Surat Untuk Almamater Yang Belum Kupakai

“Suatu hari nanti, aku akan berada disana”

Kalimat itu selalu terlintas setiap kali video PIONIR Universitas Gadjah Mada muncul di beranda ponselku. Riuh tepuk tangan, semangat yang memenuhi setiap sudut kampus, dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka berhasil menarik perhatianku. Sudah beberapa kali aku menonton video yang sama, tetapi perasaan itu tidak pernah berubah, setiap kali melihat sesuatu yang berkaitan dengan UGM, hatiku selalu bergetar. Entah mengapa, kampus itu terasa begitu dekat, seolah memanggilku untuk suatu hari menjadi bagian darinya.

Hai..Namaku Keyla Azzahra, seorang santri yang percaya bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas. Sejak pertama kali mengenal UGM, aku mulai mencari tahu lebih banyak tentang kampus itu. Aku membaca kisah para mahasiswanya, mengenal berbagai program studinya, hingga akhirnya jatuh hati pada Program studi D4-Bahasa Inggris. Bagiku, jurusan itu bukan hanya menarik, tetapi juga memiliki prospek yang luas untuk masa depan. Sejak saat itu aku memiliki satu tujuan yang selalu kusimpan dalam hati: menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada.

Sebagai seorang santri yang tinggal di pondok pesantren. Hari-hariku dipenuhi dengan hafalan, kegiatan pondok, dan pelajaran sekolah. Tidak jarang aku harus belajar hingga larut malam setelah menyelesaikan kewajiban sebagai seorang santri. Lelah tentu menjadi teman sehari-hari, tetapi aku percaya bahwa setiap pengorbanan akan menemukan hasilnya.

Alhamdulilah, Ketika pengumuman siswa eligible, namaku berada di peringkat kedua di sekolah. Kesempatan mengikuti SNBP menjadi secercah harapan yang membuatku semakin yakin bahwa langkahku menuju UGM semakin dekat.

Sayangnya, harapan itu harus pupus.

Namaku tidak tercantum sebagai mahasiswa yang diterima melalui SNBP. Saat itu aku sedih, tetapi aku mencoba memahami bahwa banyak faktor yang memengaruhi hasil seleksi, termasuk rekam jejak sekolah dan alumni. Aku memilih untuk tidak berlama-lama tenggelam dalam kekecewaan. Aku bangkit dan memutuskan untuk fokus menghadapi UTBK

Di tengah perjuangan itu, Allah memberiku kesempatan yang sangat berharga. Aku mendapatkan beasiswa bimbingan belajar dari BAZNAS. Kesempatan tersebut kusyukuri sepenuh hati karena aku tahu tidak semua orang bisa mendapatkannya. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, berusaha memanfaatkan setiap materi yang diberikan sebaik mungkin.

Ketika jadwal UTBK diumumkan, aku mendapat giliran di hari pertama sesi kedua. Jujur, aku sempat panik dan merasa belum siap. Namun, aku berusaha menenangkan diri. Sebelum berangkat ujian, aku meminta doa kepada kedua orang tua, guru, teman-teman, dan orang-orang terdekat. Aku juga memperbanyak ibadah. Tahajud, duha, salat hajat, serta berwudhu sebelum berangkat menjadi caraku memohon pertolongan kepada Allah. Hari itu aku mengerjakan setiap soal dengan keyakinan bahwa semua usahaku tidak akan sia-sia.

Namun Kembali, takdir berkata lain

Aku gagal.

Air mata yang kutahan akhirnya jatuh. Aku merasa telah mengecewakan banyak orang yang percaya kepadaku. Rasanya seluruh perjuangan yang telah kulakukan belum mampu membawaku ke tempat yang selama ini aku impikan.

Perjuanganku ternyata belum berhenti di sana.

Aku mencoba mengikuti seleksi Indonesian Gold Generation Scholarship di Universitas Telkom. Aku gagal.

Aku Kembali mencoba jalur Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu Universitas Gadjah Mada. Lagi-lagi aku gagal.

Aku belum menyerah. Aku mengikuti SMUP Universitas Padjajaran dengan harapan masih ada pintu lain yang terbuka. Saat pengumuman, namaku masuk ke daftar calon pengganti. Aku menunggu dengan penuh harapan hingga putaran pertama, kedua, bahkan ketiga.

Namun hasilnya tetap sama.

Aku tidak diiterima

Lima kali mencoba masuk perguruan tinggi negeri. Lima kali pula aku harus menerima kenyataan bahwa namaku belum berhasil lolos

Yang paling berat ternyata bukan kegagalannya. Melainkan rasa Lelah karena semua usaha seakan tidak membuahkan hasil. Aku pernah mendengar orang berkata,

“Aduh sok-sokan mau masuk UGM”

“UGM itu tinggi, jangan terlalu berharap”

Bahkan ada yang menertawakan mimpiku. Kalimat-kalimat itu sempat membuatku goyah, ditambah lagi dengan biaya pendaftaran yang tidak sedikit, waktu belajar yang Panjang, dan rasa Lelah karena harus membagi fokus antara kehidupan sebagai santri dan persiapan masuk perguruan tinggi. Ada saat dimana aku benar benar ingin berhenti bermimpi.

Namun, setiap kali hampir menyerah, selalu ada keyakinan yang menarikku Kembali berdiri

Aku percaya bahwa Allah tidak mungkin membawaku sejauh ini hanya untuk gagal. Aku juga selalu mengingat sebuah kalimat yang sangat kusukai “Alasan kamu sangat menginginkan sesuatu adalah karena versi dirimu dimasa depan sudah mendapatkannya.”

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa mimpiku belum selesai

Tahun ini aku akan melanjutkan Pendidikan di Universitas Pelita Bangsa. Bukan karena aku melupakan mimpiku, tetapi karena aku ingin tetap berjalan sambil mempersiapkan Langkah berikutnya. Aku tidak ingin berhenti belajar hanya karena satu tujuan belum tercapai.

Di sela-sela perkuliahan nanti, aku akan Kembali mempersiapkan diri menghadapi SNBT 2027. Aku ingin belajar lebih disiplin, memperbaiki kelemahan yang dulu masih menjadi kekuranganku, memperbanyak latihan soal, menjaga konsistensi, dan tentu saja mendekatkan diri kepada Allah. Aku ingin memberikan versi terbaik dari diriku Ketika kesempatan itu datang Kembali

Mungkin Sebagian orang menganggap lima kali kegagalan adalah alasan untuk berhenti. Namun bagiku, lima kegagalan adalah lima pelajaran yang mengajarkanku arti sabar, ikhlas, dan pantang menyerah

Aku tidak tahu apakah tahun depan aku benar benar akan menjadi mahasiswa UGM. Tetapi aku tahu satu hal, aku tidak ingin menyesal karena menyerah terlalu cepat.

Untuk siapa pun yang sedang memperjuangkan kampus impiannya, izinkan aku mengatakan satu hal. Jangan pernah merasa mimpimu terlalu tinggi hanya karena orang lain belum mampu melihatnya. Tidak semua perjuangan berakhir cepat. Ada mimpi yang memang meminta kita untuk bertahan sedikit lebih lama agar ketika berhasil, kita benar-benar menghargai setiap prosesnya.

Hari ini mungkin aku belum mengenakan almamater kampus impianku.Namun aku percaya, setiap doa yang kupanjatkan, setiap air mata yang jatuh, dan setiap usaha yang kulakukan sedang membentuk jalan menuju masa depan yang telah Allah siapkan.

Dan ketika hari itu benar benar tiba, aku ingin tersenyum sambal berkata kepada diriku sendiri, “Terimakasih sudah memilih bertahan.”

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *