Takdir membawa langkah kakiku menuju sebuah Pondok Pesantren sejak aku lulus dari bangku Sekolah Dasar hingga telah 5 tahun kusinggahi pondok ini, lalu seperti bangun dari tidur panjang, tak terasa aku telah berada hampir di penghujung masa putih abu abu. Kegelisahan mulai menyelimuti hati dan pikiranku. Banyak pertanyaan yang mulai muncul dalam benakku, seperti kemanakah aku harus meneruskan rajutan mimpiku ini ? selang beberapa waktu tuhan memberikan jawabannya melalui bulekku. Ia memberikan saran untuk melanjutkan pendidikanku di kampusnya dulu (Universitas Diponegoro), Universitas top 6 di Indonesia. Aku mulai mengulik informasi tentang kampus tersebut dan jalur masuknya, mulai dari SNBP, SNBT, dan juga jalur mandiri. Untuk membulatkan tekadku, survey kampus pun kulakukan. Aku tertarik untuk mempelajari kondisi psikis manusia, psikologi pun menjadi jurusan yang kuminati pada saat itu.
Libur semester telah usai, aku mulai fokus belajar untuk persiapan TKA (Tes Kompetensi Akademik) yang diselenggarakan perdana di tahun 2025 oleh Kemendikdasmen. Menurut berita yang beredar nilai dari TKA akan dijadikan salah satu faktor pendukung SNBP. Aku mulai melakukan konseling terkait dengan perkuliahan dengan beberapa guru, utamanya wali kelas dan guru BK. Disitu seringkali aku disudutkan oleh guru bk dan beberapa guru lainnya karena menurut mereka jurusan dan kampus yang kutuju bukanlah pilihan yang realistis untuk SNBP mengingat aku berasal dari lembaga MA swasta yang tidak terlalu dikenal dan jurusan kelasku pada saat itu yang tidak linear dengan pilihan jurusan kuliahku. Namun dari banyaknya pasang mata yang menyudutkanku, terdapat satu guru yang sangat antusias dan mensupport pilihanku terlepas dari kenyataan bahwa jurusan dan kampus tersebut memang bukanlah pilihan yang realistis. Ia adalah mentor bimbel persiapan SNBT milik yayasan luar dan menjabat sebagai wali kelasku. Aku sering memanggilnya bunda gigih. Seperti namanya, ia adalah sosok guru yang gigih dalam mengajar dan membimbing siswanya. Kegigihannya dibuktikan melalui bimbel gratis yang ia buka bagi semua siswa yang memiliki tekad yang tinggi untuk masuk PTN. Ia selalu berpesan bahwa persiapan SNBT harus dipersiapkan matang matang karena tidak ada jaminan kami bisa lolos di SNBP. Kami juga dituntut untuk tetap mempesiapkan diri menghadapi TKA dan PAS di bulan november dan desember.
Di tengah tengah kesibukan belajar aku juga turut disibukkan oleh berbagai urusan keorganisasian. Sistem keorganisasian disitu memang sedikit kacau. Sistem reorganisasi baru dilaksanakan pada akhir semester ganjil di kelas 12. Hal itu, membuat fokus kami sedikit berantakan. Akhirnya hari pelaksanan TKA pun tiba dan telah usai, tinggal menunggu rilisnya pengumuman nilai. Sembari menunggu pengumuman nilai rilis aku menyibukkan diri dengan kegiatan reorganisasi dan belajar untuk mempersiapkan PAS.
Awal bulan Januari hasil TKA resmi diumumkan kepada seluruh siswa. Aku meperoleh hasil yang lumayan tinggi bagiku namun cukup rendah untuk menjadi pendukung SNBP. Aku mulai memikirkan opsi cadangan (backbunner) untuk SNBP. Tak terasa pendaftaran SNBP telah dibuka, namun aku belum menemukan pilihan yang tepat. Berkat bantuan aplikasi rasionalisasi SNBP, aku mengetahui bahwa nilai ku aman di beberapa universitas dengan jurusan psikologi umum, mulai dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), UIN Sunan Ampel Surabaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pilihanku mulai berpindah ke kampus yang passing gradenya am lebih realistis untuk diterima. Admin dari aplikasi tersebut menyarankanku untuk memilih
UIN Malang dan UNESA, karena passing gradenya yang lumayan rendah. Aku meminta persetujuan dari orang tua terlebih dahulu. Alhamdulillah orang tuaku selalu mendukung semua pilihanku. Aku meyakinkan diriku sendiri sebelum menekan tombol finalisasi SNBP. Gambaran aku berfoto di depan patung pangeran diponegoro saat aku survey kampus kala itu mulai menggoyahkan keyakinanku. Lalu bunda gigih datang menghampiri dan duduk di depanku seraya berkata “kamu mau ngikut arahan adminnya atau ngikutin dirimu sendiri itu adalah hak kamu, saya dan adminnya hanya membantu memfasilitasi saja. Kalau kamu mau idealis ya terserah, tapi yang perlu kamu tahu adminnya itu udah berpengalaman dalam hal kayak gini dan banyak juga yang lolos, jadi ya terserah kamu aja”. Aku mulai merenungi kalimat demi kalimat yang beliau lontarkan. Akhirnya keputusanku sudah bulat. Kutekan tombol finalisasi itu dan selesai.
Hari demi hari kulewati dengan harap harap cemas namun tetap mengantisipasi kemungkinan terburuk. Aku mengikuti bimbel dari bunda gigih dan mencoba memahami berbagai bentuk model soal SNBT walaupun berulangkali gagal fokus. Beliau menyarankan kami untuk mengikuti tryout dari bimbel beliau agar dapat mengetahui sejauh mana kemampuan kami dalam mengerjakan soal jika diberikan target waktu. Akses tryout pun menjadi kendala. Kami menjadi murid sekaligus santri di sebuah lembaga Pondok Pesantren yang memiliki perraturan tidak diperkenankan membawa alat elektronik dalam bentu apapun. Kami memikirkan straegi agar tetap dapat melakukan saran dari bunda gigih. Ide cemerlang pun muncul. Masing masing dari kami membawa ponsel namun setelah penggunaan dititipkan kepada staff TU.
Rencana pun kami jalankan dengan semestinya hingga pada suatu hari saat kami baru saja selsai mengerjakan tryout, aku dipanggil ke kantor asrama. Sesuai dugaanku, aku diintrogasi terkait penggunaan alat eletronik. Aku berusaha membela diri walaupun terus diinterupsi dan disangkal, namun bukan aku namanya jika harus mengalah ketika beradu argumen hingga akhirnya aku keluar dengan kondisi aman namun dalam posisi dipantau.
Tak terasa hari itu pun tiba, hari yang kunantikan sekaligus hari yang paling kucemaskan,
31 Maret 2026. Hari pengumuman SNBP. Dari pagi hingga waktu dzuhur tiba aku tetap melasanakan KBM seperti biasa. Setelah dzuhur aku memutuskan tidur untuk menghilangkan kecemasan. Aku terbangun saat adzan berkumandang. Aku segera bergegas mengganti pakaian dan mengambil wudhu lalu sholat ashar berjamaah. Aku mengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati meminta kepada sang pemilik takdir, merayunya agar takdirnya dan harapanku dapat beriringan. Terlalu tinggi memang rayuanku namun apalah daya mengingat diriku hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki kuasa. Aku keluar dari masjid membawa langkahku ke sebuah ruangan dimana ponsel ku tersimpan. Aku sudah mendapat izin saat pagi tadi untuk mengakses ponsel. Disana sudah ada 2 manusia yang kerab kupanggil Alif dan Abil. Aku bertanya tentang hasil pengumuman mereka. dena Alif menunjukkan layar monitor laptopnya yang merah menyala dengan tawa yang kutahu itu adalah tawa yang dipaksa. Ternyata Abil baru akan membuka pengumumannya dan hasilnya biru pertanda ia lolos SNBP. Aku kian tidak sabar menanti. Aku segera membuka laman pengumuman SNBP. Kumasukkan ID peserta dan tanggal lahirku. Sebelum menekan tombol hasil, aku menjauhkan layar ponsel dari wajahku. Dengan tangan yang bergetar. Aku menekannya lalu memberanikan diri melihat layar ponselku dan hasilnya BIRU, aku lolos SNBP di UIN Malang. Rasa Haru dan tidak menyangka menyelimutiku. Aku langsung bergegas menelpon ibuku di rumah untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut. Ketika panggilan tersambung aku langsung memberitahunya dengan penuh semangat. Rasa haru pun menyelimuti kami. Ibuku menangis sesenggukan. Namun hal yang tidak pernah kuduga adalah ibuku mengangkat telponku masih berada di atas sajadah lengkap dengan mukena dan tasbih di tangannya. Ternyata diseberang sana terdapat tangan ringkih yang tengah merayu tuhannya agar mengabulkan harapan anaknya. Aku baru menyadari bahwa cepat terkabulnya doa seorang ibu itu nyata adanya. Tiba tiba bunda gigih datang menyusul kami. Ketika beliau sampai di ambang pintu langsung kami serbu dengan kalimat “Bu, saya lolos”. Air mata menetes dari mata beliau. Rasa tidak menyangka dan haru menyelimuti beliau. Ditengah isakan tangisnya kami hanya bisa mengucapkan sekian banyak terima kasih dari hati yang benar benar tulus.
Hidup adalah pilihan dan setiap manusia berhak untuk memilih. Setiap pilihan mengandung resiko, konsekuensi, dan tanggung jawabnya masing masing. Lewati itu semua dengan penuh keberanian dan keyakinan. Jika pilihanmu salah kembalilah. Tidak ada yang melarangmu untuk kembali dan memulai pilihan yang baru. Sekian dan terima kasih
