Perayaan Kegagalan: Sebuah Kisah Perihal Takdir yang Mengantarkanku pada Tempat yang Tepat

Oleh Layyina Faza Dzulhijah

“Sesuatu yang memang untukmu akan datang kepadamu.”

Sore itu, tepat pukul tiga di hari Kamis, 13 Juni 2024, jantungku berdetak begitu kencang. Rasanya, seperti lima kali lipat lebih cepat dari detak jantung perempuan pada umumnya. Tanganku bergetar, cukup hebat sampai-sampai aku tak kuasa menekan tombol ‘lihat hasil pengumuman’ di layar gawaiku.

Bagaimana tidak? Hari itu adalah hari penting yang teramat aku tunggu sekaligus aku takutkan sepanjang 19 tahunku di dunia–hari pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Tulis (SNBT)-ku yang kedua kalinya. Setelah mengalami dua penolakan yang teramat menyesakkan, di hari itu aku kembali menyisakan dua ruang di hatiku. Ruang untuk berbahagia ketika diterima dan ruang untuk kecewa jika kembali ditolak untuk ketiga kalinya. Namun, sebelum jari jemariku yang bergetar ini benar-benar menyentuh layar gawai untuk menemukan jawabannya, ingatan di kepalaku tiba-tiba melayang pada satu tahun lalu yang terasa lebih panjang dari 365 hari pada umumnya.

Penantian dan perjuanganku bermula dari layar merah yang aku dapatkan di hari pengumuman Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP)-ku. Ucapan semangat untuk terus berjuang aku dapatkan kala itu. Hari itu, rasanya tidak terlalu mengecewakan, aku hanya menghabiskan satu jam untuk menangis. Aku pikir, mimpiku untuk menjadi sarjana pertama di keluargaku perlu diusahakan lebih keras lagi. Keesokan harinya, aku putuskan untuk menyisihkan waktu belajar lebih banyak lagi, ku tambahkan tiga jam lebih banyak dari yang sebelumnya hanya dua jam per hari. Hal ini ku lakukan untuk menghadapi tes Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) yang hanya berselang beberapa bulan dari pengumuman SNBP.

Sayangnya, lagi-lagi perjuanganku belum membuahkan hasil yang aku harapkan. Kala itu, saat hasil UTBK diumumkan, yang aku dapatkan adalah ucapan semangat untuk kedua kalinya. Satu-satunya jalan yang tersisa lagi-lagi tidak berpihak padaku. Rasanya bagai tersambar petir di tengah cuaca terik. Begitu menohok dan menyakitkan. Tangisku pecah sampai berhari-hari. Seminggu aku mengurung diriku di kamar. Mematikan ponsel dan menghindari orang-orang karena takut dengan pertanyaan,”gimana hasil UTBKnya?”

Setiap malam setelah pengumuman itu, aku selalu bertanya-tanya perihal bagaimana aku akan menjadi di hari esok. Aku tak memiliki daya untuk mendaftar mandiri sebab aku tahu itu akan membebani orang tuaku yang ekonominya masih belum stabil karena bapak bekerja sebagai pengrajin resin yang upahnya tergantung pada permintaan klien, sementara ibuku tidak bekerja. Namun, rasanya sukar sekali melepas mimpi yang telah aku usahakan sedari lama. Mimpi yang selalu aku bisikkan di titik-titik doaku. Mimpi yang selalu aku panjatkan kepada Yang Maha Esa. Mimpi yang selalu aku harapkan bisa merubah hidup keluargaku.

Di satu malam yang acak setelah menghabiskan banyak air mata dan ribuan lantunan pertanyaan mengapa yang aku ungkapkan melalui tulisan di buku catatanku, aku memutuskan untuk keluar dari kamarku. Aku berupaya untuk kembali ke masa kini, kembali pada keluargaku dan perlahan-lahan kembali bercengkrama dengan dunia luar. Malam itu, aku telah memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupku dengan sebuah keputusan besar yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku: mengambil gap year.

Setelah satu keputusan itu, aku tidak tinggal diam di rumah. Melalui media sosial, aku mencari informasi tentang banyak hal: les gratis, lomba, hingga informasi lowongan kerja. Ku pikir, selain belajar UTBK, aku perlu mengisi satu tahunku dengan hal berharga lain daripada kuhabiskan untuk meratapi nasib dan membanding-bandingkan jalan hidupku dengan orang lain. Di tiga bulan pertama, aku mengisi waktu dengan ikut les desain grafis tidak berbayar sambil terus mengirimkan surat lamaranku ke berbagai lowongan kerja. Aku tidak mau terus menerus membebani orang tuaku dan aku juga perlu menabung untuk dana kuliah kalau-kalau di satu tahun nanti, aku akhirnya lulus ujian.

Tiga bulan berikutnya, aku mengikuti les pembuatan kopi. Aku menyadari bahwa masa gap year ini memberiku banyak pengetahuan yang belum aku dapatkan semasa duduk di bangku formal. Selain belajar UTBK, aku juga belajar banyak hal, salah satunya perihal takdir dan ritme hidup manusia yang tidak selalu selaras. Aku belajar bahwa tiap-tiap dari kita punya masa yang berbeda dan jalan hidup yang berbeda-beda. Maka dari itu, aku memutuskan untuk mulai berhenti membandingkan hidupku dengan orang lain.

Lalu, setelah setengah tahun berlalu, aku makin semangat untuk belajar UTBK. Berbagai try out gratis dan latihan soal yang bertebaran di media sosial selalu aku kerjakan. Buku-buku latihan soal yang aku beli dari hasil tabunganku sudah rampung aku kerjakan. Aku mencari berbagai informasi les bimbingan belajar gratis dan alhamdulillahnya, aku menjadi salah satu penerima beasiswa bimbel ternama yang sudah meloloskan banyak putra putri Indonesia ke perguruan tinggi negeri (PTN). Tentu, rasanya senang sekali karena aku diberi kesempatan untuk belajar tanpa harus membebani orang tuaku. Setiap malam, aku mengikuti kelas-kelas yang tersedia. Semua soal-soal yang ada aku kerjakan dengan sungguh-sungguh. Aku takut menyia-nyiakan waktuku.

Di sela-sela masa pembelajaranku, aku mendapatkan panggilan kerja di toko bunga. Aku bimbang karena aku takut tidak bisa menyesuaikan waktu belajarku. Namun, pada akhirnya aku menerima panggilan itu. Aku membutuhkan uang untuk dana kuliahku agar tidak terlalu memberatkan orang tuaku. Selama bekerja, aku selalu membawa buku latihan soal dan mengerjakannya di waktu istirahat. Meski lelah, aku menyisihkan waktu belajar sepulang kerja karena aku tidak mau terlena. Di masa itu, rasanya berat sekali. Upah yang tidak sepadan dengan rasa lelah semakin menguatkan tekadku untuk berkuliah dan bekerja di tempat yang lebih layak dan sepadan. Setiap malam, aku berdoa sembari menangis kepada Tuhan untuk mempermudah jalanku menuju mimpiku, menuju hidup yang lebih layak, menuju hidup yang memberiku ruang untuk hidup bukan hanya untuk berjuang. Setelah tiga bulan bekerja di toko tersebut, ku putuskan untuk berhenti bekerja. Selain karena kontraknya habis, aku ingin kembali fokus pada tujuan utamaku mengambil gap year: belajar UTBK dengan lebih giat. Tersisa dua bulan lagi menuju hari ujian. Aku isi hari-hariku dengan berdoa dan belajar serta meminta restu orang tuaku. Untungnya, aku punya orang tua yang percaya padaku sehingga aku bisa leluasa untuk berusaha.

Satu tahun itu, rasanya begitu lambat tapi juga begitu cepat karena tiba-tiba hari pendaftaran tiba. Aku diberi kesempatan untuk memilih empat jurusan, dua pilihan adalah strata 1 dan dua lainnya adalah diploma. Kebimbangan kembali menerpaku. Aku dihadapkan pada dua pilihan, idealis atau realistis. Meski sudah berjuang mati-matian, aku takut pilihan idealisku mengantarkanku pada penolakan kesekian kalinya. Maka dari itu, dengan penuh pertimbangan, aku menyusun sebuah skema yang menurutku adil–idealis tetapi tetap realistis.

Begini kira-kira pilihanku.

Gambar 1. Gambar ini diambil dari hasil tangkapan layar kartu SNBT milik Layyina tahun 2024. Tahun keduanya mencoba UTBK

Benar, begitu acak dan begitu tidak linear. Namun, aku punya alasannya. Pilihan 1,2, dan 4 adalah pilihan idealis yang aku juangkan sedari SNBP, sedangkan pilihan 3 adalah pilihan yang aku lewatkan sedari dulu. Masa gapyear ini juga menyadarkanku bahwa aku tidak pernah lepas dari menulis. Sejak sekolah dasar, aku senang menulis di buku harian, aku senang menuangkan isi hatiku melalui untaian kata dan hal tersebut berlangsung hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku baru menyadari bahwa menulis telah menjadi bagian dariku. Perihal ini, aku pernah menuliskannya juga di catatanku. Berikut bunyinya.

“Ini adalah surat untukku. Surat untuk perjalanan menulisku. Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga sebab aku ingin mengingat perjalananku sembari menelisik, bagaimana aku memandang diriku.

Kala itu, usianya baru sepuluh saat ia mendapat buku diary bergembok pertamanya. Senang bukan kepalang sebab buku itu baru bisa ia dapat setelah satu minggu mengirit saku dari mama papa. Halaman pertamanya ia isi dengan nama. Dari situ, ia mulai menulis. Melanturkan segala absurd yang ada di kepalanya. Kadang tentang hal baik perihal kebahagiaan, kadang pula tentang sedih yang ia rahasiakan.

Diary bergembok itu ia isi dengan tinta dan kejujuran jenaka. Pernah tentang seporsi nasi goreng yang tak ia dapatkan. Juga tentang cerita-cerita yang takut ia kumandangkan. Meski tak sempat terisi hingga halaman paling akhir, diary itu mengantarkannya pada jalan-jalan penuh kata yang ternyata menjadi bagian dari dirinya.

Tahun demi tahun. Sejak usianya menginjak 18, ia selalu senang mengabadikan Yang Teristimewa dalam rasa berbalut kata. Tidak sempurna. Tidak pula selalu indah. Seringnya menggelikan cenderung menjijikan. Tapi ia senang melakukannya sebab untaian kata itu adalah murni perasaannya.

Namun, meski senang, ia belum menyadari bahwa menulis adalah caranya menghadapi dunia. Setelah hidup berubah menjadi sedikit lumayan lebih serius, ia tidak pernah memandang kata sebagai bagian dari masa depannya. Di tahun terakhir SMA, ia sibuk berkutat dengan angka yang bukan tandingannya. Terobsesi dengan pensil dan sketsa, tetapi tidak pernah menoleh pada pulpen dan puisi. Padahal, ketika ia gagal mencapai angka dan sketsa, pelariannya adalah kata yang ia rangkai di atas secarik kertas atau di atas buku-buku yang ia buat seadanya.

Laluan-laluan panjang tentang obsesi mengantarkannya pada tulisan yang berisi penerimaan diri. Segala riuh di kepalanya selalu berhasil ditenangkan dengan goresan huruf di atas kertas atau dengan bunyi gemeletuk jari di atas papan tik.

Dengan segala ketidaksempurnaan, ia sadar bahwa ia ingin terus menulis.”

Maka dari itu, aku putuskan untuk memasukkan Bahasa dan Sastra Indonesia ke dalam pilihanku yang “realistis”. Bukan karena itu pilihan yang terasa mudah, tetapi karena jurusan itu terasa begitu dekat denganku.

Setelah meyakini pilihanku, tibalah aku pada hari pembuktian. Hari dimana aku membuktikan hasil belajarku selama berbulan-bulan lamanya, hari UTBK. Hari itu, aku mencoba menenangkan diri. Menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Kuasa. Dalam tiga jam, aku akhirnya berhasil menyelesaikan soal-soal yang rasanya begitu membakar otakku. Setelah keluar dari ruangan yang ternyata sama dengan ruang ujian satu tahun yang lalu, aku berusaha melepaskan bebanku. Membiarkan diriku sejenak untuk bernapas dan beristirahat sampai hari pengumuman tiba. Di UTBK kali ini, aku merasa lebih ringan karena aku menggantungkan semuanya pada takdir Tuhan, bahasa lainnya nothing to lose. Pola pikir itu sangat menenangkanku, menuntunku pada rasa syukur yang tidak bisa aku jelaskan bagaimana detailnya. Rasanya, aku bisa tersenyum setelah melalui satu tahun di tahun 2023 yang penuh lika-liku itu. Senyum yang lebih tulus dan lebih melegakan.

Kemudian, dalam satu kedipan, aku kembali ke masa di mana layar “lihat hasil pengumuman” tiba. Meski sambil menutup mata, jariku pada akhirnya mendarat di tombol itu. Perlahan, aku membuka mataku. Sepersekian detik kemudian, air mataku terurai begitu saja. Aku kembali menangis, bedanya, kali ini tangis itu adalah tangis penuh rasa haru.

Aku… berhasil mencapai mimpi itu. Mimpi yang menjadi pintu untuk mimpi-mimpiku selanjutnya. Aku lolos pilihan ke-3. Pilihan “realistis” yang tidak pernah menjadi pilihanku sebelumnya. Pilihan yang dipilihkan oleh Yang Maha Pengasih.

Gambar 2. Gambar ini diambil dari catatan harian Layyina di 2023.

Sebuah manifestasi yang diijabah oleh Yang Maha Kuasa.

Meskipun sudah lolos, ada satu hal yang membuatku kembali bimbang. Saat melakukan pendaftaran seleksi kuliah, aku selalu menyertainya dengan pendaftaran KIP-K (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) dan aku tidak menjadi salah satu penerimanya. Di tengah kebimbagan itu, aku bertanya kepada orang tuaku sebab uang kuliah tunggal (UKT) yang aku dapatkan termasuk ke dalam golongan tinggi dan orang tuaku tidak memiliki tabungan karena kebutuhan kami yang banyak tidak memungkinkan kami untuk menabung. Saat itu, bapak meyakinkanku untuk tetap berkuliah karena beliau akan mengusahakannya untukku.

Dan… karena kuasa Tuhan, satu hari sebelum pendaftaran ulang ditutup, bapak mendapatkan proyek besar di pekerjaannya sehingga aku bisa tetap berkuliah. Aku teramat bersyukur kala itu. Dengan tekad kuat, aku memutuskan untuk menapaki kesempatan dan jalan yang telah Tuhan titipkan padaku. Aku mencari kosan di Malang dengan harga yang paling terjangkau dan memesan tiket kereta menggunakan uang tabunganku. Uang yang aku kumpulkan dari hasil jerih payahku sendiri. Kota Malang yang teramat asing itu kini menjadi tempatku bertumbuh.

Kini, aku telah menginjak semester 4 dan aku sangat menikmati masa kuliahku di jurusan, kampus, dan kota yang tidak pernah aku sangka-sangka. Meski tidak selalu mudah, tapi ada banyak pengalaman dan hal baru yang aku dapatkan di sini. Tuhan juga banyak mempermudahku. Di semester 2, aku berhasil mendapatkan beasiswa sehingga aku tidak perlu membayar UKT hingga akhir dan aku mendapat uang tambahan untuk hidup. Hal ini setidaknya bisa sedikit meringankan beban orang tuaku.

Perjalananku yang sempat menemui banyak kegagalan perlu aku rayakan, setidaknya melalui tulisan ini. Aku telah melalui banyak hal yang membantuku untuk terus tumbuh. Aku menyadari bahwa Tuhan memberikan sesuatu kepada manusia sesuai dengan porsinya. Jika tidak melalui beragam penolakan, aku tidak akan menyadari bahwa:

Apa yang memang untukmu akan datang padamu di waktu dan momen yang paling tepat. Sebab, Tuhan lebih tahu tentang kemampuan hambanya dan apa yang mereka butuhkan.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *