Merakit Mimpi dari Angka ke Lapangan Hijau: Langkahku Menuju SAINS DATA ITERA

Oleh: Dendy Noverianto

Layar monitor yang menampilkan konfigurasi router, deretan IP Address, dan susunan rumit kabel LAN adalah pemandangan sehari-hari yang menemani masa remajaku. Sebagai siswa jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN 1 Bandar Lampung, duniaku selalu berkutat pada infrastruktur teknologi dan perangkat keras. Namun, di balik kerumitan kabel jaringan yang biasa kususun di laboratorium sekolah, ada sebuah ambisi yang terus bergemuruh di dada: “aku ingin memutus batas tradisi dan menjadi sarjana pertama di keluargaku”. Bagiku, gelar sarjana bukanlah sekadar titel akademis, melainkan sebuah pembuktian dan persembahan bahwa keluarga kami pun mampu menembus tingginya tembok pendidikan tinggi.

Masa sekolah menengah kejuruan seringkali diidentikkan dengan lulusan yang difokuskan untuk siap langsung terjun ke dunia kerja. Meski begitu, tekadku untuk berkuliah sangat bulat. Kesempatan emas itu seolah benar-benar nyata ketika aku dinyatakan eligible untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Harapan besar langsung kusandarkan pada jalur undangan tersebut. Aku sudah membayangkan senyum bangga orang tuaku melihat putra mereka melangkah mulus ke kampus impian. Namun, realita terkadang memiliki cara kerja yang menguji ketegaran. Pengumuman SNBP itu datang membawa kalimat "Mohon Maaf", mengubur angan-angan yang sudah kubangun berminggu-minggu lamanya. Ada rasa kecewa yang mendalam; seolah segala usaha keras selama di SMK belum cukup untuk menorehkan sejarah baru di keluargaku.

Di tengah rasa patah semangat tersebut, aku menyadari bahwa meratapi keadaan tidak akan menjadikanku seorang mahasiswa. Aku mulai mencari kegiatan pelarian yang bermanfaat dan secara tidak sengaja mendaftar sebuah kelas gratis Data Analytics yang berdurasi selama sepekan. Siapa sangka, kelas singkat itu justru menjadi titik balik yang luar biasa karena berhasil menghubungkan dua dunia yang kucintai. Di luar rutinitasku sebagai anak IT, aku adalah seorang pendukung setia FC Barcelona. Sebagai penggemar sepak bola, aku selalu memiliki ketertarikan yang unik pada angka dan statistik pertandingan. Melihat detail penguasaan bola, persentase akurasi operan sukses, hingga Expected Goals (xG) selalu membuatku terpukau.

Di kelas analitik data tersebut, mataku akhirnya terbuka lebar bahwa hobi mengamati statistik sepak bola itu bisa direalisasikan menjadi sebuah profesi yang nyata, yaitu sebagai seorang Sports Analyst. Pemahaman ini ibarat menemukan kepingan puzzle mimpiku yang selama ini hilang. Jika di SMK aku belajar membangun infrastruktur jaringannya, maka di sini aku belajar mengolah "nadi" dari informasi itu sendiri: data. Ketertarikan yang masif ini langsung menajamkan fokusku pada satu target program studi: Sains Data.

Pilihan sudah dibuat, dan kini saatnya memperjuangkannya habis-habisan lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Transisi dari materi kejuruan SMK yang serba praktikal ke materi tes UTBK yang sangat akademis menuntut pengorbanan yang ekstrem. Demi mengejar ketertinggalan dan mewujudkan mimpi menjadi sarjana pertama, aku mengambil keputusan radikal: mengurung diri dan tidak keluar rumah sama sekali selama kurang lebih tiga minggu penuh. Kamarku berubah menjadi medan pertempuran yang sunyi. Tumpukan buku, lembaran coretan penalaran matematika, dan layar laptop yang terus memutar video pembahasan soal menjadi teman setiaku sehari-hari. Masa isolasi tiga minggu itu sangat menguras ketahanan mental. Namun, setiap kali rasa lelah datang menyerang, bayangan raut wajah bangga orang tuaku di hari wisuda kelak, serta mimpiku menganalisis data pertandingan di tepi lapangan hijau, kembali menyuntikkan semangat yang tak ada habisnya.

Segala jerih payah dan pengasingan diri selama berhari-hari itu akhirnya terbayar lunas. Tangis haru keluarga pecah ketika kata "Selamat" terpampang jelas di layar pengumuman SNBT, menyambutku secara resmi sebagai bagian dari program studi Sains Data di Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Kegagalan di jalur SNBP sebelumnya ternyata bukanlah sebuah penolakan, melainkan skenario terbaik dari Tuhan untuk menuntunku menemukan passion sejatiku, sekaligus menempa daya juangku.

Kini, menjalani rutinitas sebagai mahasiswa semester 2 di ITERA, aku menyadari satu pelajaran hidup yang sangat penting: tidak peduli dari mana kita berasal, entah dari sekolah umum maupun kejuruan, dan tidak peduli latar belakang keluarga kita, mimpi besar berhak dimiliki oleh siapa saja. Langkahku di dunia perkuliahan ini mungkin baru saja dimulai, namun aku sangat yakin, setiap barisan kode dan algoritma yang kupelajari hari ini adalah jalan setapak yang akan membawaku mewujudkan sejarah bagi keluarga dan mimpiku menjadi seorang Sports Analyst. Visca Barça, dan hidup mahasiswa!

Tinggalkan Komentar