KETIKA AYAH MEMINJAM HARAPAN
Nama: Nayla Shoyibah
Asal: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Purwakarta
Program Studi: Pendidikan Sistem dan Teknologi Informasi
"Kalau sudah lulus, kerja saja. Buat apa kuliah?"
Kalimat itu pernah kudengar lebih dari sekali. Dulu, saat masih duduk di bangku SMP, aku bahkan tidak pernah membayangkan akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di lingkungan tempatku tumbuh, kuliah bukanlah sesuatu yang biasa. Banyak orang memilih bekerja setelah lulus sekolah karena tuntutan hidup yang tidak mudah.
Aku pun sempat berpikir bahwa hidupku akan berjalan seperti itu: menyelesaikan sekolah, lalu bekerja.
Namun semuanya berubah ketika aku diterima di salah satu SMA negeri favorit. Lingkungan baru mempertemukanku dengan teman-teman yang memiliki berbagai cita-cita besar. Mereka berbicara tentang universitas impian, jurusan kuliah, hingga beasiswa. Awalnya aku hanya menjadi pendengar. Akan tetapi, semakin lama aku mulai bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa aku tidak mencoba bermimpi juga?”
Sejak saat itu, aku mulai memandang pendidikan dengan cara yang berbeda.
Aku menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ijazah, melainkan tentang membuka kesempatan yang lebih luas dalam hidup. Kesadaran tersebut semakin kuat ketika aku melihat kondisi di sekitarku. Keterbatasan ekonomi membuat sebagian orang harus menjalani kehidupan yang sebenarnya tidak mereka impikan. Beberapa perempuan di lingkunganku bahkan terpaksa mengambil pekerjaan yang berisiko demi bertahan hidup.
Melihat kenyataan itu membuatku semakin yakin bahwa aku ingin memiliki jalan hidup yang berbeda. Aku ingin membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan untuk mengubah masa depan.
Sayangnya, tidak semua orang percaya pada mimpiku.
Ada yang mengatakan bahwa aku lebih baik langsung bekerja setelah lulus sekolah. Ada pula yang meremehkanku karena berasal dari kampung. Menurut mereka, aku tidak akan mampu bersaing dengan orang-orang yang memiliki fasilitas dan kesempatan lebih baik.
Ucapan-ucapan tersebut sering kali membuatku sedih. Aku mulai mempertanyakan kemampuanku sendiri. Namun, di tengah keraguan itu, ada satu orang yang tidak pernah berhenti percaya kepadaku.
Ayah.
Ayahku hanyalah lulusan sekolah dasar. Beliau bekerja sebagai sopir dan menghabiskan sebagian besar waktunya di jalan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun demikian, beliau selalu memiliki keyakinan yang besar terhadap pendidikan.
Ketika ada orang yang menyuruhku mengubur mimpi untuk kuliah, ayah justru menjadi orang pertama yang membelaku.
Beliau sering berkata bahwa beliau ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Kalimat sederhana itu menjadi sumber kekuatan yang terus mendorongku untuk melangkah maju.
Aku tidak pernah malu memiliki ayah lulusan SD. Sebaliknya, aku bangga. Pendidikan formal beliau mungkin terbatas, tetapi cara beliau memandang masa depan jauh lebih luas daripada banyak orang yang meremehkan impianku.
Dengan dukungan kedua orang tua, terutama ayah, aku berusaha belajar sebaik mungkin selama SMA. Alhamdulillah, aku berhasil masuk peringkat empat besar siswa eligible di sekolahku. Saat itu aku merasa semakin dekat dengan impian untuk berkuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kampus yang sejak lama menjadi tujuan utamaku.
Aku memilih Program Studi Pendidikan Sejarah melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Dengan penuh harapan, aku menunggu hasil pengumuman.
Namun, Allah memiliki rencana yang berbeda.
Hari pengumuman SNBP menjadi salah satu hari paling berat dalam hidupku. Namaku tidak tercantum dalam daftar peserta yang diterima.
Aku merasa gagal.
Semua usaha yang kulakukan selama bertahun-tahun seolah runtuh dalam sekejap. Aku menangis, kecewa, dan mulai mempercayai semua keraguan yang selama ini menghantuiku. Aku berpikir bahwa mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk kuliah.
Kekecewaan itu membuatku kehilangan semangat. Aku bahkan tidak lagi memiliki keinginan untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Saat teman-temanku sibuk mempersiapkan diri, aku memilih bekerja sebagai kasir di sebuah kedai makanan.
Aku mencoba menerima kenyataan bahwa mungkin mimpiku telah berakhir.
Namun ternyata, harapan itu belum benar-benar hilang.
Menjelang hari terakhir pendaftaran SNBT, ayah melihat informasi bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk mengikuti seleksi. Beliau tidak memahami perbedaan antara SNBP dan SNBT. Yang beliau pahami hanya satu hal: anaknya masih memiliki peluang untuk meraih cita-cita.
Saat itu aku sudah hampir menyerah.
Sebaliknya, ayah justru masih berjuang.
Karena tidak memiliki uang yang cukup untuk biaya pendaftaran, beliau meminjam uang kepada temannya agar aku dapat mengikuti SNBT.
Aku masih mengingat momen itu dengan jelas.
Di saat aku hampir mengubur mimpiku sendiri, ayah justru meminjam harapan untukku.
Melihat keyakinan di mata beliau, aku akhirnya memutuskan untuk mencoba sekali lagi.
Aku kembali belajar dengan waktu yang sangat terbatas. Siang dan malam kuhabiskan untuk mengejar ketertinggalan. Aku belajar hingga kelelahan dan beberapa kali mengalami mimisan.
Ibuku sempat khawatir melihat kondisiku. Namun aku meyakinkan beliau bahwa ini adalah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan.
Di tengah perjuangan tersebut, ada satu hal yang berubah dalam diriku.
Cara aku berdoa.
Ketika mengikuti SNBP, aku terlalu fokus pada apa yang kuinginkan. Aku berdoa agar diterima sesuai dengan harapanku. Namun menjelang SNBT, aku belajar tentang keikhlasan.
Aku tidak lagi memohon agar Allah memberikan apa yang kuinginkan.
Aku hanya memohon agar Allah memberikan yang terbaik.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar pasrah.
Aku berkata dalam doa, “Ya Allah, jika kuliah adalah jalan terbaik bagiku, mudahkanlah. Namun jika bukan, kuatkanlah aku untuk menerima keputusan-Mu.”
Hari pengumuman SNBT akhirnya tiba.
Sebelum membuka hasilnya, aku melaksanakan salat dan berdoa. Tidak ada lagi ekspektasi yang berlebihan. Tidak ada lagi tuntutan kepada Allah. Yang ada hanyalah kepasrahan.
Ketika hasilnya muncul di layar, aku terdiam.
Aku diterima.
Aku dinyatakan lulus di Program Studi Pendidikan Sistem dan Teknologi Informasi UPI Kampus Purwakarta, kampus impian yang selama ini kuharapkan.
Tangisku pecah saat itu juga.
Dengan tangan gemetar, aku segera menelepon ayah yang sedang bekerja. Di seberang telepon, beliau juga menangis.
Hari itu, kami menangis bersama karena bahagia.
Namun perjuangan kami belum selesai.
Ketika pengumuman Uang Kuliah Tunggal (UKT) keluar, keluarga kami kembali diuji. Besaran UKT yang harus dibayarkan terasa sangat berat bagi kondisi ekonomi keluarga.
Kami sempat bingung dan khawatir.
Ayah kembali berusaha mencari berbagai cara agar aku tetap bisa melanjutkan pendidikan. Kami mengajukan banding UKT dan terus berharap ada jalan keluar.
Di saat yang sama, aku menunggu pengumuman Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah. Sejujurnya, aku tidak terlalu berharap diterima. Aku hanya berharap beban biaya kuliah dapat sedikit berkurang.
Namun lagi-lagi Allah menunjukkan pertolongan-Nya.
Aku dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah penuh, yang mencakup pembebasan UKT sekaligus bantuan biaya hidup.
Saat kabar itu datang, ayah kembali menangis. Ibuku pun ikut menangis haru.
Untuk kesekian kalinya, aku menyaksikan bahwa Allah mampu membuka jalan dari arah yang tidak pernah kami sangka.
Hari ini aku berkuliah di kampus impianku. Aku memilih bidang pendidikan karena ingin menjadi guru yang mampu menginspirasi banyak orang. Aku ingin menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan. Aku ingin menjadi bukti bahwa anak kampung, anak dari keluarga sederhana, dan anak yang pernah diremehkan pun berhak memiliki mimpi yang besar.
Dari perjalanan ini, aku belajar bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, kegagalan hanyalah cara Allah mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.
Dan dari semua pelajaran yang kudapatkan, ada satu hal yang paling membekas dalam hatiku: ketika aku hampir kehilangan harapan, ayah tidak meminjam uang untuk pendaftaran SNBT semata. Beliau meminjam harapan agar aku tetap berani bermimpi.
Harapan itulah yang akhirnya mengantarkanku sampai di titik ini.
