Menjemput Cahaya dari Gelap.
Elsi may nina Ginting.
Haaai! Aku Nina. Inilah kisah perjuanganku menuju kampus impian:
Bagiku, dunia terasa penuh warna namun samar. Sejak lahir hingga usia sembilan tahun, aku termasuk dalam kategori tunanetra low vision, sehingga masih bisa menangkap bayangan dan cahaya. Saat itu, aku bersekolah di sekolah umum negeri, duduk bersama teman-teman di kelas, dan belajar layaknya anak-anak pada umumnya.
Namun semuanya berubah saat aku berusia sembilan tahun. Penyakit glaukoma perlahan merenggut sisa penglihatanku, hingga dunia yang pernah aku kenal tertutup kegelapan total. Aku terpaksa berhenti bersekolah saat baru memasuki kelas empat SD.
Setiap pagi, suara riuh dan langkah kaki teman-teman terdengar jelas saat mereka melintas menuju sekolah. Sementara aku hanya bisa berdiam diri dan merenung, rasanya hatiku hancur lebur; rasa putus asa menghantui setiap detik hidupku.
Namun, Sang Kuasa tidak membiarkanku tenggelam selamanya. Pada usia lima belas tahun, kabar tentang Sekolah Luar Biasa (SLB) A Yapentra datang seperti cahaya di tengah malam. Tempat itu adalah sekolah berbasis asrama yang khusus mendidik dan membina anak-anak tunanetra, Hatiku saaangat bahagia.
Meski harus mengulang dari kelas satu SD dan usiaku sudah lebih tua dari teman sekelas, aku tidak merasa minder, karena dapat bersekolah kembali, adalah keinginan ku 6 tahun belakangan ini.
Di sana, aku belajar banyak hal: membaca dan menulis huruf Braille, mengembangkan bakat, hingga kemandirian untuk hidup di masyarakat. Berkat usaha keras, aku diizinkan lompat kelas dan menyelesaikan pendidikan dasar hanya dalam dua setengah tahuun!.
Setelah itu, aku dipercaya untuk melanjutkan ke jenjang SMA di sekolah umum, SMA negeri 2 lubuk pakam. Kembali ke sekolah umum ternyata membawa tantangan sosial yang baru.
Ya. Aku memang tidak pernah mengalami perundungan secara fisik, namun mereka kerap kali mengucilkanku. Pendapatku tidak dihiraukan, kebolehanku disepelekan, bahkan kehadiranku tidak dianggap penting. Aku sungguh merasa sepi walau di tengah keramaian.
Tapi syukur, bukan berarti tidak ada orang yang peduli sama sekali padaku; masih ada tangan-tangan baik yang mau merangkulku, mereka selalu sigap membantu, bag hujan di musim kemarau.
Karena aku merupakan murid berkebutuhan khusus, pihak sekolah mengizinkanku menggunakan ponsel untuk mengakses pembelajaran. Setiap kali guru mengajar di depan kelas, aku selalu merekam suara mereka. Rekaman materi itulah yang kemudian aku putar dan pelajari ulang setiap malam saat sudah kembali ke Asrama Yapentra. Mengandalkan buku audio, huruf Braille, dan rekaman suara itu, aku berjuang keras menjaga nilai rapor dan meraih prestasi akademis selama tiga tahun SMA.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. Melalui jalur prestasi SNBP, aku resmi diterima sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Rasanya luar biasa bisa membuktikan bahwa kita tetap bisa bersaing dan meraih mimpi, apa pun kondisi fisik kita.
Dari perjalanan ini, aku paham satu hal: keterbatasan bukanlah tembok penghalang, melainkan cara kita belajar melihat dunia dengan hati. Mataku memang tak lagi menangkap cahaya, tapi semangat dan harapan dalam diriku justru semakin terang. Aku yakin, selama berani melangkah dan tak mudah menyerah, jalan terang pasti akan terbuka bagi siapa saja.
