Di Antara Bau Alkohol dan Mimpi yang Hampir Menguap

Pagi itu, bau etanol masih menempel di jas praktikumku. Bel pulang baru saja berbunyi, tetapi aku masih berdiri di laboratorium, memandangi tabung reaksi yang berjejer rapi di meja kerja. Larutan bening di dalamnya perlahan berubah warna setelah beberapa tetes indikator ditambahkan dan proses titrasi dilakukan. Bagiku, perubahan kecil itu selalu terasa menakjubkan. Sayangnya, hidup tidak semudah reaksi kimia. Tidak semua usaha langsung menunjukkan hasil.

Aku adalah siswi SMK dengan jurusan Teknik Kimia Industri. Banyak orang berkata bahwa lulusan SMK sebaiknya segera bekerja. Aku pun sempat berpikir begitu. Keadaan keluargaku tidak bisa dibilang berkecukupan. Ayah bekerja keras setiap hari, sedangkan ibu juga turut membantu dan selalu berusaha mengatur pengeluaran rumah agar tidak lebih besar daripada penghasilan yang kami miliki. Maka dari itu, awalnya orang tuaku kurang setuju dengan pilihanku untuk melanjutkan pendidikan.

Di tengah keadaan itu, bermimpi untuk kuliah sering kali terasa seperti mustahil.

Namun, setiap kali mengenakan jas laboratorium, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Saat melakukan pengujian sampel, mencatat hasil analisis, atau menjalani Praktik Kerja Lapangan sebagai QA/QC Laboratorium, aku menyadari satu hal: rasa ingin tahuku belum selesai. Aku ingin belajar lebih banyak. Aku ingin memahami ilmu yang selama ini baru kusentuh permukaannya.

Aku menuliskan sebuah kalimat kecil di secarik kertas dan menyimpannya di dalam buku praktikum.

Suatu hari aku akan kuliah.

Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi pengingat bahwa aku memiliki tujuan yang harus diperjuangkan.

Sejak saat itu, aku selalu berusaha menunjukkan bahwa aku bisa dan mau menanggung risiko atas pilihanku sendiri. Aku berjanji bahwa pada saat aku kuliah nanti, aku tidak mau menggunakan atau mengambil uang dari orang tuaku. Setelah berdiskusi dan juga sedikit bujukan akhirnya mereka bisa setuju dengan syarat yaitu hanya sampai seleksi prestasi saja. Aku pun menyetujuinya.

Perjalanannya ternyata tidak semudah yang kubayangkan.

Setiap pagi aku berangkat sekolah seperti biasa. Sepulang sekolah, aku membantu pekerjaan rumah sebelum kembali membuka buku hingga larut malam. Kadang rasa lelah membuatku tertidur di meja belajar. Kadang aku harus mengulang materi yang sama berkali-kali karena belum benar-benar memahaminya.

Yang paling sulit ternyata bukan memahami pelajaran, melainkan melawan keraguan dalam diri sendiri.

Aku sering membandingkan diriku dengan teman-teman seusiaku yang tampak lebih siap. Ada yang mengikuti bimbingan belajar, ada yang sudah memiliki rencana kuliah yang matang, bahkan ada yang terlihat begitu yakin akan diterima di kampus impiannya.

Sedangkan aku masih sibuk bertanya dalam hati.

"Apakah mimpiku terlalu tinggi?"

Pertanyaan itu terus menghantuiku hingga hari pengumuman seleksi pertama tiba.

Tanganku gemetar ketika membuka laman hasil seleksi. Ada Ibu di sampingku, menunggu hasil seleksi anaknya dengan wajah yang sama cemasnya, ada sedikit harapan yang terpancar di wajah teduhnya. Jantungku berdetak begitu cepat hingga rasanya suara detaknya memenuhi seluruh ruangan.

Lalu kalimat itu muncul.

"Anda Belum dinyatakan Lolos."

Aku memandangi layar ponsel cukup lama. Rasanya semua usaha yang kulakukan selama berbulan-bulan menghilang begitu saja. Untuk pertama kalinya, aku berpikir bahwa mungkin aku memang tidak pantas mengejar kampus impian.

Ibu bertanya bagaimana hasilnya. Aku pun hanya menunduk sambil menjawab tidak lolos. Di situ wajah ibu sedikit kaget lalu disusul kalimat.

“Mungkin belum rezekinya, gak papa coba lanjut seleksi kedua, tidak ada salahnya untuk memilih tidak menyerah. Tuhan tau hambanya yang mau berusaha. Masalah uang tidak usah dipikir, biar ibu sama ayah yang mikirin.”

Aku kaget. Karena Ibu yang awalnya termasuk ragu denganku tiba tiba berbicara seperti itu. Aku pun dengan cepat mengiyakan kalimat ibu.

Aku mulai menyadari bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan. Ia hanyalah bagian dari proses yang harus dilewati. Aku kembali belajar, tetapi kali ini bukan sekadar mengejar nilai. Aku memperbaiki cara belajarku, mencatat kelemahan yang masih kumiliki, bertanya ketika tidak memahami materi, dan berhenti membandingkan diriku dengan orang lain.

Sedikit demi sedikit, rasa percaya diriku tumbuh kembali.

Kesempatan berikutnya datang beberapa bulan kemudian. Kali ini aku tidak berusaha membayangkan hasilnya. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku sudah memberikan usaha terbaik.

Hari pengumuman kembali tiba. Aku menarik napas panjang sebelum membuka hasilnya.

Beberapa detik kemudian, satu kata muncul di layar.

"Selamat, Anda dinyatakan Lolos."

Aku membacanya berulang kali, seolah takut mataku salah melihat.

Ibu langsung memelukku sambil tersenyum. Ayah yang baru pulang bekerja hanya menepuk bahuku pelan. Tidak ada kata-kata panjang, tetapi sorot mata mereka sudah cukup menjelaskan bahwa mereka sudah mulai ikhlas dan mendukung impian anaknya ini.

Saat itulah aku menyadari bahwa keberhasilanku bukan hanya milikku. Di baliknya ada doa yang tak pernah putus, pengorbanan yang tak pernah diceritakan, dan keyakinan orang tua yang tetap bertahan bahkan ketika aku hampir kehilangan keyakinan pada diriku sendiri.

Kini aku memahami bahwa perjalanan menuju kampus impian tidak pernah hanya tentang diterima atau tidak diterima. Perjalanan itu mengajarkanku untuk lebih sabar, lebih berani, dan lebih percaya bahwa setiap usaha memiliki waktunya sendiri untuk berbuah.

Seperti proses di laboratorium yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran sebelum menghasilkan data yang tepat, hidup juga membutuhkan keberanian untuk terus mencoba meskipun berkali-kali gagal.

Hari ini, aku tidak lagi menganggap kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Aku menganggapnya sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk siapa diriku.

Karena pada akhirnya, kampus impian bukanlah tempat bagi mereka yang tidak pernah jatuh. Kampus impian adalah tempat bagi mereka yang memilih bangkit setiap kali kehidupan berkata, "Coba lagi" Dan aku bersyukur, aku memilih untuk mendengarkan suara itu.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *