Bukan Kebetulan

Oleh: Elvira Turnip

Beberapa bulan setelah lulus SMK, aku tidak kemana-mana.

Teman-teman sibuk mengurus berkas pendaftaran, menghitung passing grade, membicarakan kampus mana yang paling bagus jurusan apa. Aku hanya menonton itu semua dari jauh, seperti orang yang berdiri di luar toko kaca dan pura-pura tidak lapar.

Rencanaku waktu itu sederhana: kerja. Tidak perlu kuliah. Toh banyak orang sukses tanpa ijazah sarjana, begitu aku bilang ke diri sendiri — padahal mungkin itu bukan keyakinan, tapi cara yang lebih mudah untuk tidak berhadapan dengan kenyataan bahwa kuliah butuh uang, dan uang kami tidak pernah benar-benar berlebih.

Jadi aku diam. Menunggu. Tidak terlalu tahu menunggu apa.

Ayahku pergi waktu aku masih duduk di bangku SMK.

Kepergiannya tidak pernah terasa nyata di awal — seperti mimpi buruk yang kamu tunggu-tunggu berakhir, tapi kamu sudah terlanjur bangun dan menyadari ini bukan mimpi. Yang paling aku ingat bukan hari pemakamannya. Yang paling aku ingat adalah malam-malam sesudahnya, ketika ibu masih bangun jam empat subuh seperti biasa, menyiapkan dagangannya seorang diri, tanpa ada yang membantu mengangkat beban berat itu — baik yang fisik maupun yang lainnya.

Ibu tidak pernah mengeluh. Tidak pernah sekali pun.

Dan itu, entah kenapa, justru yang paling menyakitkan untuk dilihat.

Beberapa bulan berlalu begitu saja. Pagi ke siang, siang ke malam, malam ke pagi lagi. Sampai suatu hari — aku tidak ingat persis kapan, tidak ada satu momen dramatis yang bisa aku ceritakan — tiba-tiba ada sesuatu yang bergeser di dalam dadaku.

Aku mau kuliah.

Pikiran itu datang bukan seperti petir. Lebih seperti air yang lama-lama merembes ke bawah pintu — pelan, diam-diam, tapi nyata.

Masalahnya, pendaftaran jalur negeri sudah lama tutup. Aku tidak pernah ikut seleksi manapun karena dari awal memang tidak berencana mendaftar. Jadi pilihannya tinggal satu: swasta. Bukan karena itu yang aku impikan, tapi karena itu satu-satunya pintu yang masih terbuka.

Ada bagian kecil dalam diriku yang sempat bertanya, apakah ini cukup?

Tapi aku diam saja. Karena bertanya seperti itu tidak mengubah apapun.

Waktu aku bilang ke ibu bahwa aku mau kuliah, beliau sedang duduk setelah seharian berdagang. Ada kelelahan yang menempel di wajahnya — bukan kelelahan yang bisa hilang hanya dengan tidur semalam, tapi kelelahan yang sudah bertahun-tahun jadi bagian dari caranya bernapas.

Ibu menatapku cukup lama. Aku bisa melihat dua hal sekaligus di matanya: haru dan khawatir — dua hal yang selama ini kutahu selalu berdampingan dalam hati seorang ibu yang berjuang sendirian.

Beliau tidak langsung menjawab. Tapi kemudian, pelan sekali, beliau berkata:

"Kalau memang itu yang kamu mau, jalani. Jangan setengah-setengah."

Hanya itu.

Tidak ada pidato panjang. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya tujuh kata yang diucapkan dengan suara yang hampir berbisik, tapi entah mengapa terasa seperti sesuatu yang berat sekali untuk diangkat — dan beliau angkat juga, untuk aku.

Aku mengangguk. Tidak bisa bilang apa-apa.

Yang tidak pernah aku ceritakan ke siapapun adalah ini: ketika akhirnya namaku terdaftar sebagai mahasiswa, ketika kartu mahasiswaku resmi dicetak dan aku pegang untuk pertama kalinya — aku berdiri di depan cermin cukup lama.

Bukan karena narsis.

Tapi karena aku tiba-tiba menyadari sesuatu yang belum pernah aku pikirkan dengan sungguh-sungguh sebelumnya.

Aku adalah orang pertama di keluargaku yang kuliah.

Bukan kakak. Bukan adik. Tidak ada yang sebelumku pernah sampai di sini.

Tiba-tiba kartu kecil itu terasa berat di tanganku. Bukan karena bebannya — tapi karena artinya. Di balik plastik tipis itu ada nama ayah yang sudah pergi, ada tangan ibu yang kapalan dari bertahun-tahun berdagang, ada semua pagi yang beliau lewati seorang diri sejak kepergian ayah.

Aku letakkan kartu itu dengan hati-hati di atas meja.

Lalu duduk sebentar, diam.

Kuliah di swasta, bukan di negeri yang entah mengapa terasa lebih bergengsi di telinga orang-orang — itu memang bukan jalan yang aku rencanakan. Tapi aku belajar satu hal yang tidak diajarkan di kelas manapun: bahwa jalan menuju sesuatu yang berarti jarang sekali terlihat keren dari luar.

Kadang ia terlihat seperti keterlambatan. Seperti pilihan kedua. Seperti plan B yang terpaksa dijalani.

Tapi di balik itu, ada yang berdegup — pelan, teguh, dan tidak mau berhenti.

Aku datang terlambat ke gerbang ini. Aku tidak melewati jalur yang biasanya. Dan aku membawa nama keluargaku di pundak dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun sebelumnya.

Tapi aku datang.

Dan mungkin — justru itu yang paling penting.

Ibu tidak pernah tahu betapa sering aku memikirkan kalimatnya.

Jalani. Jangan setengah-setengah.

Di hari-hari ketika lelah datang tanpa permisi, ketika aku bertanya-tanya apakah semua ini akan berakhir seperti yang aku harapkan, ketika bayang-bayang ayah muncul tiba-tiba di kepala dan aku jadi ingin ia ada untuk melihat ini — kalimat itu selalu datang lebih cepat dari ragu.

Mungkin begini cara ibu mencintai: tidak banyak kata, tapi kata-kata yang ia pilih tidak pernah pergi.

Aku tidak tahu seperti apa akhir dari cerita ini nantinya. Wisuda masih jauh. Gelar sarjana masih sesuatu yang harus diperjuangkan hari demi hari.

Tapi aku tahu satu hal dengan sangat jelas —

Kalau nanti aku berhasil berdiri di atas panggung itu, memakai toga, memegang ijazah yang namanya tercetak rapi —

Orang pertama yang akan aku cari di kerumunan adalah ibu.

Bukan untuk pamer.

Tapi untuk bilang: "Bu, kita sudah sampai."

Karena perjalanan ini bukan hanya milikku.

Ia adalah milik semua orang yang pernah diam-diam berdoa untukku,

termasuk yang sudah tidak bisa lagi aku peluk.

— selesai —

Tinggalkan Komentar