Kisahku, Inspirasiku: Ketika Gagal Bukan Berarti Kalah
Pagi itu, 6 Juni 2025, aku bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, tapi karena perasaan yang tidak bisa dijelaskan campuran antara harap dan takut yang bergumul di dalam dada sejak sebelum mata terbuka. Hari itu adalah hari pengumuman SNBP. Hari yang sudah aku tunggu-tunggu sekaligus aku takuti.
Aku memilih untuk membuka pengumuman itu tidak sendiri. Bukan karena aku tidak berani, tapi karena apapun hasilnya, aku ingin orang tua ada di sampingku. Mereka yang paling banyak berkorban merekalah yang paling berhak tahu duluan.
Dari pagi hingga siang, kami bertiga duduk menunggu. Obrolan kecil sesekali muncul, tapi lebih banyak diam. Diam yang berat. Aku tahu Ayah dan Ibu juga deg-degan, meskipun mereka mencoba terlihat tenang di depanku. Dalam hati aku terus berdoa dan di sela-sela doa itu, ada satu pikiran yang paling membuatku takut: kalau aku tidak lulus, aku akan menyusahkan orang tua.
Impianku sederhana: Universitas Padjadjaran, Jurusan Informatika. Unpad bukan sekadar nama kampus bagiku dia adalah simbol dari semua usaha yang sudah aku tuangkan selama tiga tahun SMA. Nilai, ekstrakurikuler, portofolio, semuanya aku siapkan dengan satu tujuan.
Lalu tibalah waktunya. Jari tanganku gemetar saat membuka laman pengumuman. Layar loading terasa seperti berjalan satu jam. Dan kemudian nama kampus itu muncul. Bukan Unpad.
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Jurusan Informatika.
Aku menangis. Bukan karena kecewa sepenuhnya tapi karena campur aduk. Di satu sisi, aku tidak masuk kampus yang aku impikan. Di sisi lain, aku lulus PTN. Aku lulus di jurusan yang aku cintai. Dan yang paling penting, aku melihat Ayah dan Ibu tersenyum. Mata Ibu berkaca-kaca. “Alhamdulillah, kamu lulus kuliah negeri”, katanya pelan.
Saat itulah aku sadar: perjuanganku tidak gagal. Ia hanya mengambil jalan yang berbeda dari yang aku bayangkan.
Belajar serius di Untirta kampus yang akhirnya aku sebut rumah.
Minggu-minggu awal kuliah di Untirta tidak mudah. Ada rasa yang sulit diungkapkan ketika melihat teman-teman SMA posting foto di kampus impian mereka. Ada bisikan kecil yang kadang datang: “Kenapa bukan kamu yang di sana?” Tapi kemudian aku ingat satu kalimat yang selalu aku pegang: “orang-orang pada bisa, kenapa aku tidak?”
Kalimat itu bukan sekadar motivasi. Itu adalah pertanyaan yang mendorong aku untuk terus bergerak. Kalau orang lain bisa sukses dari kampus mana pun, kenapa aku tidak? Kampus impian bukan jaminan kesuksesan. Yang jadi jaminan adalah apa yang kamu lakukan di dalamnya.
Sekarang, aku sudah berdamai. Lebih dari berdamai aku bersyukur. Di Untirta, aku belajar bahwa passion bisa tumbuh di mana saja. Informatika yang aku pelajari di sini sama-sama nyata, sama-sama menantang, dan sama-sama membuka peluang. Yang berbeda hanya sudut pandangku.
Untuk kamu yang sedang berjuang yang mungkin sekarang sedang menatap layar dan menunggu pengumuman yang serupa aku ingin bilang ini: hasilnya belum kamu tahu. Tapi perjalananmu sudah dimulai jauh sebelum pengumuman itu. Dan perjalanan itu tidak akan berhenti hanya karena satu pintu tertutup.
Kampus impian mungkin bukan tempatmu. Tapi impianmu tetap milikmu. Dan itu tidak bisa diambil oleh siapapun bahkan oleh hasil pengumuman sekalipun.
