PERJUANGAN MEMASUKI FAKULTAS KEDOKTERAN

Kegagalan dalam tryout, kelelahan saat belajar, nilai yang tidak kunjung meningkat, tekanan dari guru, dan harapan orang tua. Semua hal itu membuat saya merasa sangat terbebani. Disatu sisi saya harus meyakinkan orang lain tentang keputusan yang saya ambil, namun disisi lain saya harus meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya mampu.

Saya Evan, mahasiswa baru fakultas kedokeran USU. Saya adalah murid dari sma swasta yang tidak termasuk sekolah favorit di kota saya. Lahir dari keluarga yang kurang mampu, pernah membuat saya hampir menyerah memperjuangkan mimpi saya. Karena, kata sebagian orang, menjadi dokter bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk anak yang lahir dari keluarga yang kurang mampu. Banyak hal yang harus dikorbankan, seperti uang, waktu, tenaga, dan lain-lain.

Tantangan terbesar saya muncul ketika saya sedang berada di bangku SMA, tepatnya di kelas 12. Saat itu saya terpilih menjadi siswa eligible bersama beberapa teman lainnya. Saat itu saya merasa sangat bahagia untuk sementara waktu, karena saya pikir bahwa perjalanan saya sampai ke fakultas kedokteran sudah sangat dekat. Namun, kebahagiaan itu hilang ketika beberapa dari kami, para siswa eligible, mendapat saran jurusan yang tidak sesuai dengan minat kami. Bahkan, saya beberapa kali disepelekan karena jurusan yang saya pilih.

Mereka mengatakan bahwa jurusan yang saya pilih sangat sulit untuk ditembus, karena sebelumnya tidak ada alumni sekolah kami yang diterima di fakultas kedokteran. Mendengar kenyataan dan penolakan tersebut tidak membuat semangat saya hilang, dan saya memilih untuk tetap memperjuangkan mimpi saya selama ini. Hingga saya memilih jurusan Pendidikan Dokter di Universitas Sumatera Utara pada jalur SNBP tahun 2026.

Pada tanggal 31 Maret 2026, saya menerima fakta yang cukup menyakitkan. Dimana, saya mendapat penolakan dari jurusan di perguruan tinggi negeri impian saya. Ketika saya melihat layar berwarna merah di layar ponsel, saya merasa dunia berhenti untuk sekejab, bahkan berulang kali memeriksa ulang laman website nya, barangkali ada kesalahan. Namun? Tidak ada yang berubah, laman website nya tetap sama.

Sumber: portal.snpmb

Tidak ingin terjebak dalam kesedihan, saya semakin fokus belajar untuk menghadapi seleksi SNBT. Namun, bukannya mendapat dukungan, saya kembali disepelekan oleh keluarga saya. Saya tidak mau memasukkan perkataannya kedalam hati, namun perkatannya tetap bisa membuat keyakinan saya sedikit memudar. Ditengah usaha saya meyakinkan keluarga, saya harus tetap meyakinkan diri saya sendiri, bahwa saya mampu menjadi dokter pertama di keluarga.

Saya kembali belajar, tryout, latihan mengerjakan soal, dan menghafal. Semua cara sudah saya lakukan, tapi belum berhasil meningkatkan nilai tryout saya. Bahkan, nilai tryout saya satu bulan sebelum SNBT 2026 masih dibawah 500.

Sumber: pahamify

Rasa takut, cemas, dan khawatir selalu menemani saya, karena nilai tryout yang tidak kunjung meningkat. Namun, saya memilih untuk tetap belajar dan berdoa kepada Tuhan untuk membantu segala usaha saya.

Setelah perjuangan yang panjang, hari yang ditunggu pun tiba. Tepatnya pada tanggal 25 Mei 2026, saya akan mendapatkan hasil dari jalur SNBT. Saya merasa cemas saat akan membuka pengumuman SNBT tersebut, karena teringat akan momen penolakan pada jalur SNBP kemarin. Kebetulan mama sedang berada di luar kota, jadi saya menelepon mama sebelum membuka pengumuman SNBT tersebut. Kami berdoa kepada Dia, Sang Maha Kuasa. Lalu saya membuka hasilnya, dan… BERHASIL!!!

Sumber: portal.snpmb

Tangis dan haru tak dapat terbendung lagi, saya berlari menghampiri semua saudara dan saudari saya dan menunjukkan hasil pengumuman SNBT saya. Orang tua yang menyaksikan melalui panggilan telepon pun menangis terharu melihat hasil pengumumannya. Begitu banyak rasa terima kasih yang saya panjatkan kepada-Nya, karena Dia lah saya bisa lulus di jurusan impian saya.

Menurut saya, keberuntungan akan datang pada mereka yang mau berusaha. Dan keberhasilan itu adalah keberuntungan yang disertai dengan kerja keras. Itulah kenapa kita harus tetap bekerja sambil berdoa. Dimana, kita mendoakan apa yang kita kerjakan dan mengerjakan apa yang kita doakan.

TERIMA KASIH

  • EVAN ARYA

Tinggalkan Komentar