BAGAIMANA INI DI MULAI

Aku lahir dan besar di Kecamatan Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau. Sebuah kecamatan kecil yang letaknya sangat jauh dari Pulau Jawa, apalagi Yogyakarta. Dulu, aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti aku akan tinggal di sana. Bagiku, Yogyakarta hanyalah sebuah kota pelajar yang terasa begitu jauh untuk digapai.

Seperti kebanyakan anak seusiaku, aku juga memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Namun, keadaan ekonomi keluargaku membuat mimpi itu terasa berat. Berkali-kali aku bertanya kepada diri sendiri apakah aku benar-benar bisa kuliah, terlebih harus merantau ke luar pulau yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah.

Harapan itu muncul ketika aku mengetahui adanya Beasiswa SDM Sawit BPDPKS. Saat membaca informasi mengenai beasiswa tersebut, aku mengetahui bahwa salah satu kampus tujuannya adalah INSTIPER Yogyakarta. Sejak saat itu aku memutuskan untuk mencoba. Aku mengurus seluruh persyaratan, mempelajari materi ujian, dan mencari informasi sebanyak mungkin agar memiliki kesempatan untuk lolos.

Prosesnya tidak mudah. Aku harus menyiapkan berbagai kebutuhan administrasi, seperti biaya fotokopi, mencetak dokumen, dan keperluan lainnya. Agar tidak membebani orang tua, aku memilih bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan selama proses pendaftaran. Bagiku, setiap usaha kecil yang kulakukan adalah langkah menuju masa depan yang kuimpikan.

Saat hari ujian tiba, rasa percaya diriku justru menurun. Melihat banyak peserta lain yang tampak lebih siap membuatku bertanya dalam hati, "Apakah aku benar-benar layak berada di sini?" Keraguan itu terus menghantuiku hingga pengumuman tiba.

Pagi itu aku baru selesai lari ketika ibuku bertanya, "Nak, gimana hasil beasiswamu?" Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa aku akan segera mengeceknya. Dengan tangan gemetar, aku membuka situs pengumuman dan memasukkan nomor pendaftaran. Beberapa saat kemudian, muncul tulisan bahwa aku dinyatakan lulus sebagai penerima Beasiswa SBM Sawit BPDPKS di INSTIPER Yogyakarta. Aku langsung berteriak, "Bu, aku lulus!" Melihat senyum dan kebahagiaan di wajah ibu menjadi momen yang tidak akan pernah kulupakan.

Beberapa minggu kemudian, aku mulai mempersiapkan keberangkatan ke Yogyakarta. Di balik rasa bahagia karena berhasil meraih mimpi, ada kesedihan karena untuk pertama kalinya aku harus meninggalkan kedua orang tuaku dan kampung halaman yang telah membesarkanku. Ketika pesawat lepas landas meninggalkan Riau, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat. Aku sedang meninggalkan rumah untuk mengejar masa depan. Aku percaya, Yogyakarta akan menjadi rumah keduaku, tempat aku belajar, bertumbuh, dan memulai perjalanan sebagai mahasiswa INSTIPER Yogyakarta.

LAMPIRAN

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *