From Doubt to Determination
Preface
This story is not only about getting into college. It is about a journey filled with doubt, struggle, prayer, and hope.
I wrote this story to remind myself how far I have come, and to remember that every step along the way was never easy. There were moments when I felt like giving up, moments when I questioned my own dreams, and moments when I believed that going to college might be impossible for me.
Growing up in a family with financial limitations and being raised by a single mother taught me to see life from a different perspective. I learned that dreams are not always supported by perfect circumstances, but they can still be achieved through effort, patience, and faith.
This story is also dedicated to my mother, who never stopped believing in me—even when I doubted myself. Her prayers, support, and strength became the biggest reasons why I kept moving forward.
Through this story, I hope readers can understand that every struggle has meaning, every tear has a purpose, and every prayer will eventually find its way.
Because in the end, I believe in one simple truth:
those who continue to strive will eventually find their way to success.
— Alia Nurul Azizah
CHAPTER 1
The Beginning of a Dream
“Ibu, S3 itu apa, sih?”
“S3 itu jenjang pendidikan tertinggi. Teteh mau sampai S3?”
“Kalau mau sampai ke situ emang harus gimana?”
“Nanti teteh lulus SMA, terus lanjut kuliah S1 selama empat tahun, terus S2, dan setelah itu baru S3.”
“Ihh lama yah…. Kayaknya teteh udah tua kalau sampai situ.”
“Iya, memang lama. Tapi nanti teteh bisa mendapat gelar doktor, bahkan profesor. Gak apa-apa kalau lama. Banyak juga orang yang udah kakek atau nenek, tapi masih terus belajar.”
“Nanti teteh harus kuliah dan sekolah setinggi-tingginya, ya.”
Malam itu terasa sederhana, tetapi penuh makna. Seorang ibu muda menanamkan mimpi besar kepada anaknya, tepat sebelum mereka terlelap. Di balik percakapan kecil itu, tersimpan harapan yang diam-diam tumbuh dalam hati sang anak.
Sejak saat itu, anak kecil tersebut mulai membayangkan masa depannya. Ia ingin menjadi seorang profesor. Ia juga ingin menjadi ilmuwan—meneliti berbagai hal baru dan menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Mimpi itu terasa begitu indah dan sederhana pada masanya.
Namun, waktu terus berjalan.
Ketika ia beranjak remaja dan duduk di bangku sekolah menengah atas, mimpi itu tidak lagi terasa sesederhana dulu. Ia mulai dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
“Haruskah aku melanjutkan kuliah?”
“Kalau kuliah, jurusan apa yang harus kupilih?”
“Bagaimana dengan biaya yang harus dikeluarkan?”
“Kasihan ibu… pasti mahal.”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikirannya, terutama setiap kali guru atau teman-temannya menanyakan rencana setelah lulus. Perlahan, ia mulai menyadari bahwa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi bukanlah hal yang mudah.
Mimpi yang dulu terasa ringan, kini mulai terasa berat.
Namun, di balik semua keraguan itu, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang: keinginannya untuk tetap melanjutkan pendidikan.
Ia tahu jalan yang akan ia tempuh tidak mudah. Tetapi ia juga tahu bahwa jika ia ingin mencapai mimpinya, ia harus mulai melangkah.
Dan dari situlah, semuanya dimulai.
Chapter 2
When Dreams Meet Reality
Hai, aku Alia Nurul Azizah, biasa dipanggil Alia. Dan si anak itu adalah aku.
Jujur, awalnya aku sempat ragu untuk melanjutkan kuliah. Waktu SMA, aku mulai sadar bahwa kuliah itu tidak mudah, apalagi dari segi biaya yang harus disiapkan yang pastinya tidak murah. Ditambah lagi dengan background aku yang dibesarkan oleh single mom tanpa bantuan apa pun dari ayah. Semua biaya hidup maupun biaya pendidikanku, dari SD hingga SMA, ibulah yang membiayai.
Aku juga lahir dan dibesarkan oleh nenek dan kakek. Hal itu sering membuatku merasa berbeda dari yang lain. Tapi selama bersekolah, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Nilai-nilaiku selalu bagus, dan aku rajin datang ke sekolah tidak pernah terlambat juga, terutama ketika sudah mendekati masa kelulusan SMA.
Saat itu aku mulai berpikir, setelah lulus nanti aku harus jadi apa dan bagaimana. Pertama, aku bingung memilih jurusan karena di satu sisi aku juga sempat tidak ingin kuliah. Sampai akhirnya aku terpikir untuk memilih jurusan Bahasa Inggris.
Alasannya sederhana. Pertama, aku suka menonton film berbahasa Inggris dan mendengarkan lagu berbahasa Inggris. Kedua, aku merasa bahwa belajar Bahasa Inggris di era sekarang sangat penting. Mungkin itu yang membuatku akhirnya memilih jurusan tersebut, dan aku merasa “yang penting nanti aku bisa menikmati prosesnya,” walaupun aku tidak punya basic Bahasa Inggris yang begitu kuat.
Setelah menemukan jurusan yang cocok, sebelum mendaftar tentu yang dilihat adalah nilai rapor. Dan di situ aku bersyukur karena aku masuk ke dalam siswa eligible. Rasanya perjuanganku selama tiga tahun di SMA tidak sia-sia, karena aku selalu berusaha masuk peringkat 10 besar.
Seperti biasa, sebelum mendaftar, semua siswa berkonsultasi dengan guru BK di sekolah. Aku juga begitu. Walaupun sudah punya minat di jurusan Bahasa Inggris, sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan pendidikan, apalagi sastra. Hal itu aku sampaikan di depan guru BK-ku.
Sampai akhirnya beliau berkata,
“Al, sudah kamu ambil saja Bahasa Inggris di Politeknik. Kalau kamu tidak tertarik di pendidikan ataupun sastra, apalagi ada kakak kelas kamu yang lulus jalur rapor di sana, ambil aja ya. Tapi D3, bukan S1 gapapa kan?”
Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung memasukkan jurusan dan Politeknik itu menjadi pilihan pertamaku tidak peduli dengan gelar menurutku itu sama saja mau S1 ataupun D3 aku tidak terlalu memperdulikan itu.
Chapter 3
Choosing a Path
Sepulang sekolah, aku langsung membicarakan hal itu dengan temanku, Suci.
“Cii, aku langsung aja kali ya ambil Politeknik Bahasa Inggris jadi pilihan nanti. Gapapa D3 juga soalnya niat aku dari awal emang gamau lama-lama kuliah. Kayaknya ini cocok buat aku yang pengen langsung kerja setelah lulus. Ditambah lagi, katanya ada kakak kelas kita yang keterima di sana, kayaknya peluangnya juga lebih besar deh.”
“Iya Al, gapapa ambil aja we. Tapi pilihan yang lainnya kamu mau ambil apa?”
“Kayaknya aku ambil UPI juga di pendidikannya. Emang sih aku kurang minat, tapi kalau sastra kayaknya lebih susah deh.”
“Yaudah, berarti kamu udah ada dua pilihan yang sama-sama jurusan Bahasa Inggris kan?”
Ucapan Suci waktu itu benar-benar membuatku semakin yakin dengan pilihanku. Pada saat itu, jujur saja, hanya Bahasa Inggris yang benar-benar aku minati. Walaupun sebenarnya ada pilihan lain, tapi aku lebih memilih fokus pada jurusan Bahasa Inggris dan tidak terlalu memikirkan jurusan yang lain.
Tibalah pembukaan SNBP dimulai. Setelah melewati proses eligible dan pendaftaran, akhirnya aku pun memilih kampus dan jurusan impianku. Dengan kesadaran penuh, aku memilih jurusan Bahasa Inggris dengan pilihan pertama POLBAN dan pilihan kedua UPI.
Di situ temanku sempat bilang kalau penempatan pilihanku salah, karena yang bergelar S1 seharusnya dijadikan pilihan pertama, sementara POLBAN itu bergelar D3. Tapi di situ aku tidak terlalu mempermasalahkannya, karena aku memang tidak ingin terlalu lama mengejar pendidikan. Aku ingin cepat bekerja dan membantu kebutuhan keluarga.
Sebagai anak pertama dan cucu pertama, ada banyak sekali harapan yang tertuju padaku, karena belum ada di keluargaku yang bisa sampai ke jenjang perkuliahan. Tapi di satu sisi aku juga merasa dilema, karena aku berpikir siapa yang nanti akan membantu ibu, apalagi setelah ibu memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga.
Tapi untungnya, ibu selalu memberi dukungan dan motivasi kepadaku.
Chapter 4
Hope Through SNBP
Setelah semua proses pemilihan jurusan dan kampus selesai, aku mulai menjalani hari-hari dengan banyak harapan. Walaupun di dalam hati masih ada rasa khawatir tentang bagaimana hasilnya nanti, aku mencoba untuk tetap berpikir positif.
Di tengah semua kekhawatiran itu, ibu selalu menjadi orang yang paling memberi dukungan kepadaku. Hampir setiap kali kami berbicara tentang kuliah, ibu selalu berusaha menenangkan pikiranku.
Suatu hari ibu berkata kepadaku,
“Teteh, gapapa. Teteh ambil aja kalau emang ada kesempatan buat daftar kuliah. Gausah mikirin biaya atau khawatir sama yang lain.”
“Ibu percaya teteh pasti bisa.”
“Teteh juga harus terus ingat ini…”
“Man Jadda Wajada.”
“Siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil.”
Kalimat itu yang selalu aku ingat dan aku tanamkan dalam diriku, terutama saat mendaftar kuliah. Dengan pilihanku itu, aku cukup yakin.
Pertama, aku yakin akan diterima di kampus tersebut karena ada alumni dari sekolah SMA-ku dulu yang juga lolos di sana. Kedua, aku juga cukup yakin dengan nilai raporku yang memenuhi rata-rata untuk lolos di salah satu kampus itu.
Sampailah akhirnya tiba tanggal pengumuman SNBP. Aku masih ingat waktu itu sekitar jam tiga sore, tepat saat azan Ashar berkumandang. Aku menunaikan shalat terlebih dahulu dengan harapan setelah shalat nanti hasil SNBP itu menjadi kabar yang membahagiakan.
Namun sebelum pengumuman SNBP keluar, aku juga tetap merasa pesimis. Aku takut tidak lolos melalui jalur tersebut. Saat itu hanya ada satu jalur lagi yang bisa aku tempuh, yaitu SNBT atau jalur seleksi. Itu menjadi satu-satunya jalur yang aku miliki selain SNBP, karena bagiku jalur mandiri hampir tidak mungkin untuk diikuti. Selain biayanya yang lebih mahal, ibuku juga tidak mengizinkannya.
Kala itu, pada suatu malam yang dingin dan sejuk dengan santapan mie yang masih hangat, aku duduk dan bercakap dengan ibuku di ruang makan. Ibu kemudian bertanya,
“Teteh, kalau udah jalur rapor, ada jalur apa lagi?”
“Nanti ada jalur tes, Bu, namanya SNBT. Tapi itu juga harus bayar sekitar dua ratus ribu dulu.”
“Kenapa ada bayarnya?”
“Emang dari prosedurnya gitu, Bu, tapi bayarnya cuma sekali.”
“Udah itu ada jalur apa lagi?”
“Ada jalur mandiri. Itu daftar langsung ke kampusnya, jadi setiap kampus dan jurusan biayanya beda-beda.”
“Berarti itu lebih mahal, ya?”
“Iya, emang.”
Aku menjawab itu dengan wajah yang sudah mulai kehilangan harapan.
Beberapa hari setelah percakapan itu, ibu kembali berkata kepadaku,
“Teteh gapapa coba saja nanti jalur SNBT yang itu. Uang segitu mah nanti kita cari dulu dari mana. Tapi kalau ga lolos juga gapapa ya, teteh bisa kerja dulu, kuliah kan bisa nyusul sambil kerja juga.”
Mendengar perkataan ibu saat itu membuat hatiku begitu remuk. Sejak kecil aku sudah sangat memimpikan untuk bisa berkuliah. Rasanya pasti menyenangkan bisa bertemu lingkungan baru, merantau, dan menjalani sekolah dengan memakai baju bebas, tidak seperti sekolah yang selalu mewajibkan memakai seragam.
Namun setelah itu aku mencoba menerima keadaan ekonomi keluargaku yang sudah tidak sebaik dulu. Setiap malam aku sering bertanya-tanya dalam hati.
“Ya Allah, kenapa cobaan seperti ini datang saat aku ingin masuk kuliah? Kenapa ga dari dulu aja?”
“Kenapa ibu harus berhenti bekerja saat kita sedang sangat membutuhkan biaya?”
Pertanyaan “kenapa” itu terus muncul di pikiranku. Namun aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri dengan mengingat kalimat yang selalu ibu katakan tadi.
Sebelum pengumuman SNBP keluar, aku sudah mulai belajar sendiri di rumah tanpa mengikuti bimbingan belajar. Aku hanya mengandalkan materi dari internet dan berbagai media yang bisa aku temukan.
Aku mulai mencari materi apa saja yang akan diujikan dalam SNBT. Setelah mencari tahu, ternyata ada tujuh materi yang harus dipelajari, yaitu PK, PPU, PBM, PK, Literasi Bahasa Indonesia, Literasi Bahasa Inggris, dan Penalaran Matematika.
Awalnya aku sempat berpikir, “Ih, kok banyak banget ya materinya. Apa aku bisa?”
Namun karena aku ingin mengejar mimpiku, setiap malam aku tetap belajar sedikit demi sedikit. Sekitar tiga bulan sebelum pengumuman SNBP, aku sudah mulai mempelajari materi-materi itu.
Buku, pensil, dan pulpen selalu menemaniku setiap malam.
Hingga suatu hari, saat upacara hari Senin, temanku memanggilku.
“Al, kamu udah belajar, kan? Ikutan bimbel juga?”
“Iya. Kenapa emang , Ci? Kamu mau ikut bimbel? Aku sih nggak dulu,pasti ngeluarin biaya lagi.”
“Ih bukan. Ini ada program gratis dari UNPAD, tapi harus ikut tes dulu sebelum masuk programnya. Mau nggak? Aku juga ikut, sama anak kelas aku.”
“Mau! Nanti kasih tau dong gimana caranya.”
“Nanti aku kirim link-nya pulang sekolah.”
Malam itu juga temanku, Suci, mengirimkan link kepadaku. Aku membaca semua persyaratan pendaftarannya, mulai dari mengisi beberapa formulir hingga membuat postingan twibbon di Instagram.
Aku baru sadar kalau tesnya akan dimulai minggu depan. Karena aku ingin sekali lolos program itu, setiap malam aku terus belajar seperti biasanya. Aku juga merasa cukup percaya diri karena sebelum tahu tentang program itu, aku memang sudah mulai belajar sendiri.
Akhirnya tibalah malam tes itu.
Aku ingat sekali bahwa soalnya hampir sama dengan simulasi UTBK lainnya, hanya saja cara mengerjakannya berbeda. Tidak seperti UTBK yang dikerjakan langsung di komputer, program ini menggunakan handphone dan kuota internet, sehingga kami bisa mengerjakan soal dari rumah.
Sebelum mengerjakan soal, aku tidak lupa membaca shalawat dan berdoa dengan harapan semoga program ini bisa membantuku untuk lolos SNBT.
Panitia juga menjelaskan bahwa tiga hari setelah tes, mereka akan mengumumkan peserta yang lolos melalui akun Instagram mereka.
Dan itu adalah bukti foto ketika aku dinyatakan lolos dalam program PEC UNPAD.
Jujur, aku sangat senang bisa mengikuti program tersebut selama satu bulan, apalagi bertepatan dengan bulan Ramadhan. Selain mendapatkan pengarahan dari kakak-kakak panitia, aku juga mendapatkan banyak teman baru dari berbagai latar belakang dan daerah yang berbeda.
Setiap hari Sabtu pagi, aku dan teman-temanku pergi bersama ke Jatinangor, tempat program itu diadakan. Dari pagi hingga malam kami benar-benar belajar bersama. Bahkan kami bangun untuk sahur bersama, lalu jam tujuh pagi sudah mulai belajar lagi hingga sore. Setelah itu, pada hari Minggu siang kami kembali ke rumah masing-masing.
Kegiatan itu kami lakukan selama satu bulan penuh. Awalnya kami tidak saling mengenal, tetapi lama-kelamaan kami menjadi akrab.
Setiap minggu aku selalu merasa excited dan ingin cepat-cepat hari Sabtu datang, karena rasanya seru bisa belajar bersama dan mengikuti sharing session di malam harinya untuk membahas materi yang sudah dipelajari dari pagi sampai sore.
Ini adalah foto kegiatanku selama mengikuti program tersebut. Seru banget, kan?
Kembali ke cerita saat pengumuman SNBP.
Setelah shalat Ashar, aku tidak lupa berdoa dan bershalawat dengan harapan keberuntunganku datang hari itu. Akhirnya aku memberanikan diri membuka web pengumuman SNBP. Namun ternyata web milikku mengalami error, sehingga aku meminta bantuan temanku untuk membuka web tersebut menggunakan akunku.
“Gimana hasilnya? Sudah keluar belum?”
“Ini mau dibuka, bentar ya, Al.”
Sambil menunggu, aku terus membaca doa, zikir, dan bershalawat.
Beberapa saat kemudian temanku berkata,
“Al, ini sudah keluar hasilnya.”
“Merah, Al.”
Saat itu aku langsung kaget dan setengah tidak percaya. Aku meminta temanku mengirimkan hasil SNBP itu kepadaku, dan ternyata memang benar berwarna merah.
Badanku langsung terasa tidak enak. Panas dan dingin seperti bercampur menjadi satu. Aku hanya bisa mematung, masih mengenakan mukena karena baru saja selesai melaksanakan shalat Ashar.
Chapter 5
Rising After Failure
Setelah mengetahui hasil pengumuman SNBP yang berwarna merah, banyak sekali hal yang berkecamuk di dalam pikiranku. Namun satu pertanyaan langsung muncul dalam diriku.
Apa yang aku lakukan saat itu? Menyerah?
Tentu tidak.
Aku langsung melepaskan mukenaku dan kembali duduk di depan meja belajar. Malam itu aku kembali membuka materi dan menonton channel YouTube yang sangat membantuku saat itu, yaitu Al-Faiz Channel, yang selalu menemaniku belajar.
Namun di tengah proses belajar itu, aku tetap bertanya-tanya kepada diriku sendiri.
“Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa aku tidak lolos? Perasaanku nilai yang aku miliki sudah memenuhi. Ditambah lagi ada kakak kelasku yang sebelumnya lolos melalui jalur ini. Kenapa aku tidak?”
Pertanyaan itu terus muncul setiap malam. Aku sering merenungkannya sambil menangis. Namun ketika pagi datang, aku kembali sadar bahwa sekarang hanya jalur SNBT yang bisa aku andalkan.
Karena itu aku memutuskan untuk menambah waktu belajarku. Jika sebelum pengumuman SNBP aku hanya belajar pada malam hari, setelah pengumuman itu aku mulai belajar dari pagi hingga sebelum tidur. Dalam satu hari aku bisa mempelajari sekitar tiga sampai empat materi yang akan diujikan di UTBK.
Setiap pagi, setelah membantu nenek membereskan rumah dan sarapan, hal pertama yang aku lakukan adalah melaksanakan shalat dhuha. Aku sadar bahwa selain usaha, aku juga membutuhkan doa yang kuat.
Namun bukan hanya doa yang aku panjatkan. Ikhtiar juga tidak pernah aku tinggalkan.
Setelah shalat dhuha, aku langsung mulai belajar dari pukul 09.00 sampai 13.00. Setelah itu aku beristirahat untuk melaksanakan shalat dzuhur, mandi, dan makan siang.
Kemudian aku kembali belajar dari pukul 14.00 sampai 16.00. Setelah itu biasanya aku beristirahat lagi sambil menunggu waktu maghrib. Setelah shalat maghrib, aku biasanya tadarus Al-Qur’an terlebih dahulu.
Baru setelah shalat isya, aku kembali melanjutkan belajar sampai malam. Biasanya aku belajar sampai sekitar pukul 22.00 atau 23.00. Setelah itu aku memberi waktu sekitar setengah jam untuk diriku sendiri, seperti membaca buku atau sekadar scrolling media sosial.
Itulah jadwal belajarku pada hari-hari biasa, baik sebelum maupun sesudah bulan Ramadhan. Namun ketika bulan Ramadhan tiba, rutinitasku sedikit berbeda.
Di bulan Ramadhan, selain mengikuti program PEC UNPAD setiap akhir pekan, aku juga tetap belajar setiap hari selama satu bulan penuh.
Biasanya aku bangun sekitar pukul 09.00 atau 10.00 pagi, setelah sahur dan tadarus di waktu subuh. Setelah bangun, aku melaksanakan shalat dhuha, kemudian langsung mulai belajar lagi hingga sekitar pukul 13.00.
Setelah itu aku beristirahat untuk mandi dan melaksanakan shalat dzuhur. Pada hari biasa mungkin ada waktu untuk makan siang, tetapi karena sedang berpuasa, aku langsung melanjutkan belajar lagi sekitar pukul 13.30.
Setiap hari aku hampir tidak pernah merasa lelah untuk belajar. Walaupun kadang merasa bosan, ada sesuatu yang membuatku tetap bersemangat. Bukan hanya karena dukungan ibuku yang selalu mendorongku untuk melanjutkan kuliah, tetapi juga karena aku memang tipe orang yang sangat suka menulis.
Setiap selesai belajar atau menonton materi dari YouTube Al-Faiz, aku selalu menuliskan kembali semua materi yang aku pelajari.
Aku sengaja menyimpannya agar aku selalu ingat betapa kerasnya aku berjuang untuk bisa lolos ke perguruan tinggi negeri.
Setelah siang hari, aku kembali melanjutkan belajar hingga sekitar pukul 16.00 atau 16.30. Setelah itu aku biasanya melanjutkan tadarus sore atau ngabuburit sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Setelah berbuka, aku bersiap untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih. Setelah shalat tarawih selesai, aku kembali melanjutkan belajar lagi pada malam hari.
Selain ingin terus mengejar tujuanku, aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memperbanyak amal di bulan Ramadhan. Dalam setiap doa, aku selalu memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri.
Setelah belajar hingga malam, aku kembali beristirahat dan bangun lagi untuk sahur.
Jam belajarku saat itu sebenarnya hampir sama dengan jadwal yang aku jalani ketika mengikuti program PEC UNPAD, karena aku ingin menjaga keseimbangan antara waktu belajar ketika sendiri dan ketika belajar bersama dalam program tersebut.
Chapter 6
The Final Preparation
Waktu yang tersisa untukku saat itu hanya sekitar satu bulan lagi. Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Di tengah persiapan itu, aku mulai sering melihat berbagai promo buku persiapan UTBK di media sosial. Akhirnya aku mencoba meminta izin kepada ibu untuk membeli salah satu buku tersebut.
“Ibu, beli buku ini ya, Bu. Murah kok, seratus ribu udah dapat tiga buku. Beli ya, Bu?”
“Apa itu, Teteh? Bayar UTBK aja belum ada uangnya, kan itu dua ratus ribu?”
Memang saat itu sudah mendekati masa pendaftaran teknis untuk UTBK. Biasanya kami dijadwalkan datang ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru BK mengenai pendaftaran tersebut. Namun saat itu aku kembali mencoba meyakinkan ibu.
“Nanti aja, Bu. Kan masih sebulan lagi atau beberapa minggu lagi.”
“Lagian Teteh juga masih punya sedikit uang dari THR.”
Saat itu aku memang menyimpan beberapa uang sakuku, berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu membutuhkannya. Setelah melihat promo buku di TikTok dan menghitung tabunganku yang tidak begitu banyak, akhirnya aku memutuskan untuk membeli buku tersebut.
Tidak disangka, bukunya sampai hanya dalam waktu tiga hari. Aku sempat merasa heran, karena biasanya pengiriman dari TikTok cukup lama. Namun di sisi lain aku merasa sangat senang, karena akhirnya aku bisa belajar lebih efektif.
Materi di dalam buku itu sangat lengkap, dan ada begitu banyak latihan soal yang bisa aku gunakan untuk berlatih menjawab soal UTBK nanti. Sejak saat itu semangat belajarku semakin meningkat.
Seiring berjalannya waktu, aku juga mulai semakin akrab dengan teman-teman dari program PEC UNPAD. Kami sering berdiskusi bersama dan saling bertukar pengalaman belajar.
Namun ketika waktu tersisa dua minggu lagi dalam program tersebut, tubuhku tiba-tiba tidak bisa menahannya. Sejak pagi aku merasa mual dan muntah-muntah. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur dan bahkan tidak bisa menjalankan puasa hari itu.
Itu adalah pertama kalinya aku sakit di bulan Ramadhan.
Aku pun menghubungi temanku, Suci, untuk meminta izin tidak hadir pada pertemuan minggu itu. Walaupun sedang sakit, sebenarnya aku tidak benar-benar berhenti belajar. Aku masih membuka materi dan mengerjakan latihan soal UTBK melalui handphone-ku.
Setidaknya bagiku, hari itu tidak boleh benar-benar kosong tanpa belajar.
Aku sadar waktuku tidak banyak. Banyak orang yang mempersiapkan UTBK selama lebih dari tiga bulan, bahkan satu tahun. Sedangkan aku hanya belajar sekitar empat bulan, dan menurutku satu bulan pertama belum terlalu efektif. Jika dihitung, mungkin hanya sekitar dua bulan lebih aku benar-benar fokus belajar.
Mungkin itu juga salahku, karena dari pagi hingga malam aku terus memaksakan tubuhku untuk belajar, bahkan sampai larut malam. Kadang jika mengingat masa itu, aku sendiri baru menyadari betapa kerasnya aku berusaha agar bisa lolos ke perguruan tinggi negeri.
Karena bagiku, itu adalah satu-satunya kesempatan. Jika aku tidak lolos, ibu sudah mengatakan bahwa aku harus bekerja terlebih dahulu.
Setelah tiga hari sakit, akhirnya aku mulai sembuh dan kembali bisa belajar seperti biasanya. Namun selama sakit itu ada satu momen yang terlewatkan olehku, yaitu acara buka bersama dengan teman-teman alumni SD yang biasa kami adakan setiap tahun.
Seminggu kemudian adalah minggu terakhir dalam program PEC UNPAD, dan alhamdulillah aku masih bisa hadir pada pertemuan terakhir itu.
Seperti biasanya, kami belajar terlebih dahulu dengan jadwal yang sama seperti minggu-minggu sebelumnya. Namun yang membedakan pada minggu terakhir itu adalah adanya beberapa penampilan pada malam harinya. Ada yang menampilkan drama, ada juga yang bernyanyi bersama.
Di akhir acara, kami semua berkumpul untuk berdoa bersama. Kami memohon agar diberikan kemudahan saat menghadapi ujian UTBK nanti, dengan harapan bisa lolos di salah satu pilihan kampus.
Aku masih ingat salah satu kakak panitia berkata,
“Kalau berdoa, doakan juga teman-teman kalian. Doakan mereka agar bisa lolos UTBK nanti. Karena kalau kita mendoakan orang lain, insyaAllah kebaikan itu juga akan kembali kepada kita. Akang dulu juga begitu, dan alhamdulillah akhirnya bisa lolos.”
Sejak mendengar kata-kata itu, setiap selesai shalat wajib maupun shalat sunnah aku selalu berdoa. Bukan hanya untuk kemudahanku sendiri, tetapi juga untuk teman-temanku.
Bukan karena berharap balasan, tetapi karena aku tahu bagaimana perjuangan mereka. Kami sering belajar bersama, berdiskusi, dan saling menyemangati satu sama lain. Itu yang membuatku merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.
Karena itu setiap selesai berdoa, aku tidak pernah lupa mendoakan mereka dan akan selalu mengingat perjuangan kami bersama.
Chapter 7
Registering for the Future
Satu bulan pun berlalu, dan akhirnya pendaftaran UTBK resmi dibuka, termasuk proses pembayarannya. Pada waktu itu aku mendaftar pada hari ketiga masa pendaftaran UTBK. Untuk lokasi ujian, aku memilih UPI karena kampus tersebut cukup dekat dengan tempat tinggalku.
Saat memilih jurusan, aku hanya memilih tiga pilihan karena sebenarnya aku masih bingung harus mengambil jurusan apa selain Bahasa Inggris. Awalnya aku sempat berpikir untuk mengambil jurusan Sastra Inggris, tetapi akhirnya aku mengurungkan niat tersebut. Selain karena merasa kemampuan bahasa Inggrisku masih kurang, jurusan Sastra Inggris juga sangat diminati dengan jumlah pendaftar yang bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang setiap tahunnya.
Akhirnya aku memilih tiga jurusan, yaitu Pendidikan Bahasa Inggris di UPI, Bahasa Inggris di POLBAN, dan Destinasi Pariwisata di POLBAN.
Ada alasan menarik mengapa aku memilih jurusan Destinasi Pariwisata. Jurusan tersebut termasuk jurusan baru di POLBAN, dan aku juga memiliki ketertarikan pada bidang pariwisata. Mungkin karena ibuku dulu pernah bekerja di bidang pariwisata, sehingga dari situ aku merasa memiliki sedikit kedekatan dengan bidang tersebut. Selain itu, aku juga berpikir bahwa peluangku mungkin akan lebih besar di jurusan yang masih baru.
Setelah memilih jurusan dan lokasi ujian, proses berikutnya adalah pembayaran UTBK. Saat itu ibuku terlihat cukup khawatir dan terus bertanya-tanya.
“Ini transfernya ke mana?”
“Teteh udah bisa belum itu?”
“Ini sudah selesai atau belum?”
Aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil menjelaskan bahwa prosesnya sudah hampir selesai dan tinggal menunggu jadwal ujian saja. Di dalam hati aku benar-benar hanya bisa pasrah dan terus berdoa agar aku diterima di salah satu jurusan dan kampus yang sudah aku pilih.
Selain usaha yang sudah aku lakukan selama ini, tentu aku juga tidak pernah lupa untuk berdoa. Aku juga meminta doa dari keluarga, terutama dari ibuku. Bagiku, tidak ada doa yang lebih mustajab selain doa seorang ibu, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi.
Aku masih ingat dengan jelas bahwa jadwal tes UTBK-ku adalah tanggal 2 Mei 2024. Itu berarti hari kedua pelaksanaan UTBK, karena hari pertama dilaksanakan pada tanggal 31 April, sementara tanggal 1 Mei adalah hari libur.
Selain mendaftar UTBK, ibuku juga menyarankan agar aku mendaftar KIP Kuliah. Seperti yang sudah aku ceritakan di bagian awal, aku dibesarkan oleh seorang single mother dan kehilangan peran ayah dalam hidupku. Bagi ibuku, mendaftarkanku ke perguruan tinggi tentu bukan hal yang mudah.
Apalagi saat itu ibuku memilih bekerja secara freelance dengan penghasilan yang tidak menentu. Selain itu, ibuku juga harus menafkahi adikku, nenek, dan kakek. Pengeluaran keluarga kami sering kali jauh lebih besar dibandingkan dengan pemasukan.
Karena itulah aku akhirnya mendaftar KIP Kuliah sesuai dengan saran ibuku. Walaupun masih ada sedikit keraguan di dalam diriku, pada akhirnya aku hanya bisa berserah diri. Aku percaya bahwa Tuhan selalu memiliki rencana terbaik untuk setiap hambanya, termasuk untukku.
Chapter 8
The Day of the Test
Hari demi hari, minggu demi minggu, hingga bulan pun berlalu. Setelah menyiapkan segala ikhtiar, doa, dan tawakal untuk bisa lolos UTBK, akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu pun tiba.
Dua hari sebelum tes, aku pergi ke Bandung. Memang disarankan untuk datang minimal dua hari sebelumnya atau beberapa jam sebelum tes dimulai agar tidak terburu-buru. Aku menginap di rumah nenek dari pihak ayahku. Rencananya, jika aku lolos di salah satu dari dua kampus yang aku pilih, aku akan tinggal di sana. Itu juga menjadi salah satu alasan mengapa aku memilih kedua kampus tersebut, karena ibuku tidak menyarankanku untuk tinggal di kost. Tentu saja alasannya karena biaya yang harus dikeluarkan akan semakin besar.
Aku pergi ke Bandung sendirian dengan menggunakan kereta. Bersama tas yang kubawa, ada pula semua catatan, ingatan, dan mental yang sudah aku persiapkan jauh-jauh hari.
Setelah sampai di rumah nenek, aku beristirahat sejenak. Namun pada malam harinya aku kembali membuka catatan-catatan dan latihan soal yang sudah aku bawa. Sebenarnya hal itu tidak disarankan. Banyak yang mengatakan bahwa tiga atau dua hari sebelum UTBK sebaiknya kita berhenti belajar sejenak untuk menyegarkan pikiran setelah belajar keras sebelumnya.
Namun aku tidak mendengarkan saran itu. Aku tetap membuka buku dan belajar hingga malam. Bahkan pada H-1 pun aku masih belajar. Aku baru tidur sekitar pukul setengah dua belas malam karena berpikir, “Ah, nanti saja tidurnya. Toh besok pagi masih bisa tidur lagi. Lagian tesnya juga sesi dua.”
Memang benar, jadwal tesku adalah sesi dua, yaitu sekitar pukul dua siang.
Karena aku mendapat jadwal pada hari kedua UTBK, tentu saja sudah banyak cerita dan informasi yang beredar mengenai seperti apa tes UTBK itu. Temanku yang mengikuti tes pada hari pertama hanya mengatakan bahwa soalnya cukup sulit dan ruangannya sangat dingin karena menggunakan AC.
Aku hanya bisa pasrah dan mempersiapkan diriku sebaik mungkin. Selebihnya aku hanya bisa bertawakal kepada Sang Maha Pengatur segala urusan.
Pada hari itu aku berangkat ke tempat tes sebelum adzan dzuhur. Ayahku mengantarku menggunakan motor. Sesampainya di gerbang UPI, kami berpamitan dan saling bersalaman. Ayahku mendoakan agar semuanya berjalan lancar.
Aku kemudian masuk ke dalam gerbang kampus. Waktu masih cukup lama sebelum tes dimulai, sehingga aku memutuskan untuk bertemu dengan temanku yang juga mengikuti tes di UPI. Kami duduk di ayunan yang ada di area kampus sambil menunggu jadwal tes UTBK kami.
Aku, temanku, dan ibunya sempat berbincang-bincang. Kami membicarakan berbagai hal, seperti rencana kuliah, jurusan yang diambil, hingga kemungkinan rencana jika tidak lolos nanti.
Di situlah aku juga sempat merekam sebuah vlog sebelum memasuki ruang ujian UTBK.
Empat puluh menit sebelum tes dimulai, aku berpamitan kepada temanku dan juga ibunya. Kami harus berpisah karena ruang ujian kami berbeda.
Aku masih ingat bahwa ruanganku berada di Gedung Direktorat. Namun sebelum menuju ke sana, aku terlebih dahulu mencari mushola untuk menunaikan sholat dzuhur. Karena aku berangkat dari rumah sebelum adzan, aku khawatir akan terlambat jika menunggu waktu sholat di perjalanan, apalagi saat itu cuaca terlihat mendung dan berangin.
Aku sempat bertanya kepada satpam mengenai lokasi mushola. Ternyata mushola tersebut berada di lantai paling atas, di ujung pojok kanan gedung.
Aku pun menunaikan sholat di sana. Setelah sholat, tentu saja aku berdoa. Akhirnya waktu yang aku tunggu-tunggu tiba. Setelah hampir empat bulan belajar, aku berharap semua usaha dan doa yang telah aku lakukan bisa membuahkan hasil yang terbaik.
Setelah selesai sholat dan berdoa, aku kembali menuju Gedung Direktorat. Di sana aku tidak sendirian. Aku bertemu dengan salah satu teman sekelasku yang ternyata berada di ruang ujian yang sama denganku. Kami duduk sambil menunggu dan mengobrol sebentar.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, kami dipersilakan masuk karena waktu tes sudah hampir dimulai. Namun sebelum masuk, kami diperiksa dan dipindai terlebih dahulu oleh petugas yang berjaga. Setelah itu barulah kami diperbolehkan memasuki ruangan.
Ketika masuk, aku sedikit terkejut karena ruangan tersebut ternyata cukup panas dan tidak menggunakan AC seperti yang diceritakan temanku sebelumnya. Ruangan itu juga disekat-sekat menggunakan papan kayu. Temanku yang datang bersamaku berada di sekat tepat di sebelahku.
Saat itu hanya tersisa sekitar lima menit sebelum tes dimulai. Kami semua diminta menyimpan tas di luar ruangan. Hanya alat tulis yang diperbolehkan dibawa masuk, bahkan botol minum pun tidak diizinkan.
Sebelum tes dimulai, aku dan temanku sempat pergi ke toilet terlebih dahulu. Kami khawatir jika di tengah-tengah tes ingin ke toilet, karena durasi tes UTBK hampir empat jam.
Setelah kembali dari toilet, kami saling menyemangati sebelum masuk ke ruang masing-masing. Aku masuk ke ruanganku, begitu juga dengan dia.
Aku duduk di kursi paling depan sebelah kanan. Mungkin karena namaku diawali huruf A, sehingga aku ditempatkan di barisan paling depan.
Tak lama kemudian pengawas masuk dan menjelaskan tata cara pengerjaan soal UTBK. Di depan kami sudah tersedia komputer yang akan menampilkan soal-soal ujian. Kami akan mengerjakannya langsung di komputer tersebut dengan timer yang sudah disediakan.
Setelah itu, pengawas membagikan kertas kosong yang bisa digunakan untuk menghitung atau mencatat rumus.
Tes pun dimulai.
Sebelum memulai, kami semua berdoa terlebih dahulu. Setelah itu aku dan peserta lainnya menyalakan komputer, memasukkan identitas, lalu mulai mengerjakan soal.
Pada sesi pertama, yaitu Penalaran Umum, aku masih merasa cukup tenang. Aku bisa mengerjakannya dengan cukup lancar. Begitu juga pada sesi kedua dan ketiga, walaupun tetap ada sedikit keraguan.
Namun ada sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, tetapi justru aku alami.
Sejak awal tes dimulai, sebenarnya aku sudah merasa tidak enak badan. Tubuhku terasa panas dan dingin secara bersamaan. Ditambah lagi ruangan itu ternyata tidak ber-AC, sehingga aku merasa semakin kepanasan dan sesak.
Mungkin itu juga akibat aku yang masih belajar hingga larut malam sebelumnya. Walaupun hanya membaca sedikit-sedikit, tetap saja membuatku tidur terlalu malam.
Ketika masuk ke sesi Literasi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, kondisiku mulai tidak karuan. Rasa kantuk yang luar biasa mulai datang. Ditambah lagi soal-soal literasi yang sangat panjang membuatku semakin sulit menahan rasa kantuk.
Namun aku tetap berusaha menyelesaikannya.
Sesi terakhir adalah Penalaran Matematika. Di bagian ini aku benar-benar pasrah. Aku memang tidak terlalu pandai dalam berhitung, dan selama masa belajar pun materi matematika terasa sangat sulit untuk kupahami.
Dalam kondisi tubuh yang sudah tidak enak, aku hanya bisa berusaha mengerjakan soal dengan kemampuan yang aku miliki.
Akhirnya waktu tes pun habis.
Aku melepaskan tanganku dari komputer, berdiri dari kursi, mengambil tas, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Setelah empat bulan belajar, akhirnya semua usaha itu benar-benar diuji.
Namun di sisi lain aku juga merasa sedikit kecewa. Tubuhku tidak berada dalam kondisi yang baik saat tes berlangsung. Aku merasa seolah gagal menjaga kesehatanku sendiri karena terlalu fokus pada belajar tanpa memikirkan kondisi tubuh.
Karena aku sangat takut tidak lolos dan hanya memiliki satu kesempatan melalui jalur UTBK, aku sampai melupakan hal-hal penting yang seharusnya juga aku perhatikan.
Setelah keluar dari ruangan, aku berjalan menuju gerbang bersama temanku yang satu ruangan denganku. Kami keluar sekitar pukul lima sore, setelah memulai tes pada pukul dua siang.
Temanku kemudian berpamitan karena jemputannya sudah datang. Sementara itu aku menunggu ayahku di gerbang kampus.
Sekitar lima belas menit kemudian ayahku tiba dan menjemputku pulang. Sepanjang perjalanan pulang, perasaanku campur aduk.
Sesampainya di rumah nenek, aku langsung mengabari ibuku yang berada di rumah. Aku menceritakan semuanya tentang tes hari itu. Ibuku hanya bisa menenangkan dan berkata agar aku tidak terlalu memikirkannya.
Menurutnya, aku sudah melakukan yang terbaik. Untuk hasilnya, biarlah Tuhan yang mengatur.
Chapter 9
The Answer to My Prayers
Beberapa hari setelah tes UTBK, aku kembali ke Garut dan menunggu pengumuman hasilnya di sana. Hari-hariku kembali berjalan seperti biasa. Di satu sisi aku merasa bebanku berkurang, tetapi di sisi lain ada sesuatu yang terasa hilang.
Biasanya dari pagi, siang, hingga malam aku selalu belajar tanpa henti. Namun setelah UTBK selesai, rasanya ada bagian dari diriku yang kosong. Walaupun begitu, aku tetap harus memantau perkembangan pelaksanaan UTBK karena seingatku tes ini berlangsung selama dua minggu dengan soal yang berbeda setiap harinya.
Teman-temanku mendapatkan jadwal yang berbeda-beda. Ada yang mengikuti tes di minggu pertama, dan ada juga yang di minggu kedua. Begitu pula dengan saudaraku yang juga mengikuti UTBK. Sama sepertiku, itu adalah satu-satunya kesempatan baginya.
Di grup kami, aku dan teman-teman saling menyemangati satu sama lain. Begitu juga dengan saudaraku. Kami sama-sama berusaha memberi dukungan agar tetap kuat menjalani proses ini sampai selesai.
Beberapa minggu pun berlalu, hingga akhirnya tibalah hari pengumuman hasil UTBK.
Saat hari itu datang, aku justru merasa biasa saja. Aku benar-benar tidak ingin membahas soal hasilnya. Pengumuman itu diumumkan pada jam yang sama seperti pengumuman SNBP sebelumnya, yaitu setelah adzan ashar.
Berbeda dengan saat pengumuman SNBP dulu, ketika aku sangat bersemangat membuka website setelah shalat ashar, yang akhirnya hanya melihat layar berwarna merah, kali ini aku justru tidak berani membukanya.
Setelah shalat ashar, aku malah langsung berbaring di tempat tidur. Aku sama sekali tidak ingin membuka handphone. Dalam pikiranku hanya ada satu kalimat, “Nanti aja bukanya. Biar orang lain dulu. Toh malam juga masih bisa.”
Aku memeluk bantal guling sambil menutup mata.
Saat itu aku lupa bahwa ibuku berada di grup orang tua siswa. Di dalam grup tersebut sudah ramai dengan kabar dari para orang tua yang anaknya sudah mendapatkan hasil UTBK. Ada yang dinyatakan lolos, dan ada juga yang tidak.
Dengan semangatnya, ibuku datang ke kamarku sambil membangunkanku.
“Teteh, cepet buka webnya. Orang-orang udah ada pengumumannya. Tuh, ada yang udah lolos.”
“Nanti aja, Bu. Malem juga bisa,” jawabku dengan nada yang sudah tidak bersemangat.
“Sekarang cepet. Ini udah ada yang buat list. Yang gak lolos juga udah ada listnya,” kata ibuku sambil membacakan beberapa nama yang ada di daftar itu.
Akhirnya aku terpaksa membuka website tersebut dengan perasaan yang tidak enak. Aku sangat takut jika kejadian saat pengumuman SNBP terulang kembali.
Aku pun membuka website itu. Namun yang pertama kali kubuka justru transkrip nilai, bukan halaman yang menunjukkan apakah aku lolos atau tidak.
“Mana, Teteh? Lama pisan. Udah ada belum?” tanya ibuku.
“Sabar, Bu. Teteh salah buka. Mau tanya dulu.”
Ibuku kemudian duduk di sampingku sambil menunggu dengan tidak sabar. Sementara itu aku mencoba bertanya kepada kakak kelasku yang sudah lebih dulu kuliah.
“Kak, nilai segini lolos nggak?”
“Harusnya bisa lolos di salah satu kampus. Tapi jangan buka yang itu.”
“Iya, yang mana?”
“Coba buka yang ini, Al,” jawabnya sambil mengirimkan link pengumuman yang benar.
Aku pun membuka link yang diberikan oleh kakak kelasku itu dan memasukkan identitas serta password yang diminta. Saat halaman itu terbuka, aku tidak langsung membaca tulisannya. Aku justru melihat warna layar terlebih dahulu.
Layar itu berwarna biru.
Aku sempat ragu, karena aku pernah melihat bahwa ada juga tampilan biru yang tidak menunjukkan kelulusan. Namun ketika aku mulai membaca tulisan yang ada di bawahnya, mataku langsung tertuju pada kalimat:
“Selamat! Anda dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes.”
Saat itu juga aku langsung terkejut dan berteriak.
“Ibuuuuu! Nenekkkk! Teteh lolos!”
Saat itu ibuku sempat kembali ke kamarnya karena menunggu terlalu lama aku membuka website. Begitu mendengar teriakanku, ibu dan nenek langsung menghampiriku ke kamar. Mereka masih mengenakan mukena.
“Liat, liat! Teteh lolos di POLBAN jurusan Bahasa Inggris!”
Aku bisa melihat wajah mereka yang begitu bahagia. Mata mereka berbinar-binar penuh haru.
Kemudian nenekku berkata,
“Alia, nenek tiap hari beres shalat selalu mendoakan Alia biar lolos dan dilancarkan. Ini juga nenek masih pakai mukena, belum berangkat ngaji, nunggu hasil Alia dulu. Sekarang udah lolos mah nenek tenang. Nenek mau berangkat ngaji dulu.”
Setelah mengatakan itu, nenek pun keluar dari kamarku untuk bersiap pergi ke pengajian rutinnya.
Sementara itu ibuku kembali duduk di sampingku sambil melihat layar pengumuman tersebut.
“Teteh screenshot hasilnya. Kirim ke ibu, terus kasih tahu juga ke grup keluarga di sini sama yang di Bandung kalau Teteh lulus.”
Aku yang biasanya hanya membaca pesan di grup tanpa pernah banyak berkomentar, tiba-tiba mengirimkan kabar gembira itu. Tidak lama kemudian, ucapan selamat mulai berdatangan dari keluarga.
Aku juga teringat daftar yang disebutkan ibuku di grup sekolah. Aku pun menuliskan namaku beserta kampus tempat aku lolos di daftar tersebut. Setelah itu semakin banyak ucapan yang datang dari guru-guru dan teman-teman seangkatanku. Mereka semua mengucapkan selamat kepadaku.
Tidak lama kemudian, saudaraku yang berada di Bandung juga mengirimkan screenshot yang sama seperti milikku. Ternyata dia juga lolos SNBT, hanya saja di jurusan dan kampus yang berbeda. Ia diterima di Pendidikan Kimia UPI.
Aku ikut merasa sangat senang mendengar kabar itu.
Ini adalah beberapa foto ucapan selamat serta screenshot pengumuman kelulusanku di POLBAN.
Saat itu aku merasa sangat bahagia sekaligus bangga. Setelah berbulan-bulan belajar dari pagi hingga malam, bahkan terkadang sampai pagi lagi, akhirnya semua usaha dan doa yang aku lakukan membuahkan hasil yang sepadan.
Chapter 10
An Unexpected Twist
Namun, ternyata ini belum menjadi akhir dari ceritaku.
Kalian masih ingat, bukan, bahwa di halaman-halaman sebelumnya aku sempat mendaftar KIP Kuliah? Dari situlah cerita lain kembali dimulai. Setelah aku dinyatakan lolos di POLBAN, aku diminta untuk mengisi beberapa formulir dan data, termasuk data kesiapan untuk disurvei oleh pihak kampus.
Aku pun mengisi semua persyaratan yang diminta dan menyatakan kesiapanku untuk disurvei oleh pihak POLBAN.
Jadi, setelah pengumuman SNBT, hal berikutnya yang aku tunggu adalah kedatangan pihak kampus untuk melakukan survei ke rumah.
Sekitar satu hingga dua minggu kemudian, seseorang menghubungiku melalui WhatsApp.
“Neng, ini saya Ibu Wedi dari POLBAN yang mau survei rumah eneng hari ini. Ibu lagi di jalan. Boleh share lokasi rumahnya?”
Aku sedikit terkejut saat membaca pesan itu. Ternyata benar, pihak kampus benar-benar akan datang langsung ke rumahku. Setelah itu aku segera mengirimkan lokasi rumahku kepada ibu tersebut.
“Ibu, itu yang dari POLBAN mau datang ke sini. Beresin dulu ini, jangan sampai acak-acakan.”
Aku langsung memberi tahu ibuku, walaupun sebenarnya setiap pagi rumah sudah aku rapikan. Aku juga memberi tahu nenek bahwa pihak dari POLBAN akan datang untuk survei.
Nenek kemudian pergi ke warung sebelah untuk mengambil kue yang sudah dipesan sejak sehari sebelum survei.
Aku dan Ibukku menunggu kedatangan mereka. Tidak lama kemudian, ibu tersebut kembali mengirim pesan sambil mengirimkan foto lokasi.
“Neng, ini di sini bukan tempatnya. Ibu ada di sini.”
“Bukan, Bu. Itu kelebihan. Ibu balik lagi saja. Nanti ada tugu warna hijau, Alia tunggu di situ.”
Karena rumahku berada di dalam gang, aku pun menunggu Ibu Wedi di depan gang. Tidak lama kemudian datang sebuah mobil Avanza berwarna putih. Dua orang ibu-ibu keluar dari mobil itu. Mereka mengenakan kerudung dan pakaian yang rapi.
Salah satu dari mereka bertanya, “Ini Alia?”
Saat itu aku langsung menyadari bahwa yang bertanya adalah Ibu Wedi.
Aku pun menyapa dan bersalaman dengan mereka, lalu menunjukkan jalan menuju rumahku.
“Ibu, maaf ya. Jalannya memang harus masuk gang dulu. Tadi ibu sempat kelebihan juga ya? Soalnya rumah saya memang tidak ada di peta.”
Aku mengatakan itu karena merasa tidak enak sudah membuat mereka kebingungan sampai melewati rumahku.
“Tidak apa-apa, neng. Maklumlah, namanya juga di kampung. Ibu juga memaklumi kok,” jawab Ibu Wedi.
Untungnya Ibu Wedi dan Ibu Puri memaklumi keadaan tersebut.
Akhirnya kami sampai di rumahku. Mereka duduk di ruang tengah bersama ibuku. Kemudian survei pun dimulai. Mereka menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan apakah aku termasuk mahasiswa yang layak menerima KIP Kuliah atau tidak.
Ibuku mulai menceritakan kondisi keluarga kami.
Ia menjelaskan bahwa aku tumbuh sebagai anak dari keluarga broken home dan juga fatherless, karena ayahku tidak bisa bertanggung jawab sebagaimana seharusnya seorang ayah. Ibuku juga menceritakan bahwa saat ini ia sudah tidak bekerja sebagai tour guide lagi. Selama ini, semua biaya hidupku hanya ditanggung oleh ibuku seorang diri.
Selain itu, ibuku juga menjelaskan bahwa tanggungannya bukan hanya aku dan adikku. Ia juga harus membantu membiayai keluarganya. Jika dihitung, ada sekitar sepuluh orang tanggungan yang harus ia pikirkan.
Dengan kondisi tersebut, tentu sangat berat bagi ibuku untuk membiayai kuliahku, apalagi dengan pekerjaan serabutan yang penghasilannya tidak menentu.
Ibu Wedi dan Ibu Puri hanya menyimak cerita kami sambil sesekali mengangguk.
Kemudian Ibu Wedi bertanya,
“Kalau nanti kuliah di Bandung, mau kost atau ada rumah saudara?”
“Ada rumah nenek, Bu. Jaraknya dari POLBAN tidak terlalu jauh,” jawabku.
“Memangnya di mana yang tidak terlalu jauh itu?”
“Ibu tahu Pasteur? Di situ,” jawabku lagi.
“Oh ya? Ibu juga dulu tinggal di daerah Pasteur. Pasteurnya di mana?”
“Di Jalan Dr. Djunjunan, Jalan Haji Yasin,” tambah ibuku.
Saat mendengar nama jalan itu, Ibu Wedi terlihat semakin penasaran. Alisnya sedikit mengerut, seolah-olah ia mengenali sesuatu.
Kemudian ia bertanya lagi,
“Neneknya namanya siapa? Kamu anak siapa?”
“Namanya Ibu Ine, yang jualan sayur di gang itu.”
“Terus kamu anak siapa?”
“Anaknya Pak Asep, anak pertamanya Ibu Ine.”
Tiba-tiba Ibu Wedi mendekatiku dengan mata yang berbinar. Ia berusaha memelukku sambil berkata,
“Ya Allah… berarti kita saudaraan!”
Aku benar-benar kebingungan saat itu. Saudara bagaimana? Dengan siapa? Dan Ibu Wedi ini sebenarnya siapa?
“Ibu ini anaknya Ibu Idah, kakaknya Nenek Ine. Jadi ibu ini saudara ayah kamu.”
Kami semua saling berpandangan dengan wajah tidak percaya. Bagaimana mungkin orang yang datang untuk menyurvei rumahku ternyata adalah seseorang dari keluargaku sendiri—orang yang sebenarnya aku kenal dari cerita, tetapi belum pernah aku temui secara langsung.
Apakah ini hanya kebetulan, atau memang sudah menjadi rencana-Nya?
“Neng, jadi ini eneng ya. Ibu cuma sering dengar cerita tentang eneng dari nenek. Tapi ibu memang belum pernah ketemu langsung sebelumnya. Waktu itu ibu juga hadir di pernikahan ibu eneng,” kata Ibu Wedi.
Ibuku pun menambahkan,
“Ya Allah, kok bisa ketemu saudara di sini. Saya juga belum pernah ketemu ibu sebelumnya, soalnya memang kurang tahu keluarga dari pihak mamah.”
Tanpa terasa, kami semua mulai menitikkan air mata. Kami tidak menyangka bisa bertemu dengan salah satu keluarga yang belum pernah kami temui sebelumnya, dan itu terjadi di situasi yang benar-benar tidak terduga.
Menurutku, ini adalah plot twist yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
“Kok saya jadi ikut terharu juga ya,” kata Ibu Puri yang sejak tadi hanya menyimak percakapan kami.
Mendengar itu, kami semua tertawa kecil.
Kami kembali berbincang-bincang. Ibu Wedi bahkan sempat melakukan video call dengan nenekku di Bandung dan juga dengan ibunya, untuk memberitahu bahwa kami bertemu secara tidak sengaja.
Mereka pun sangat terkejut melihat Ibu Wedi berada di rumahku.
Selama video call itu kami banyak bercanda dan tertawa karena masih tidak menyangka dengan kejadian tersebut.
Tidak lama kemudian nenekku pulang dari warung sambil membawa bingkisan untuk disuguhkan. Ia terlihat kebingungan melihat wajah kami yang seperti habis menangis tetapi juga tertawa.
Ibuku pun kembali menjelaskan kronologi plot twist yang baru saja terjadi.
Setelah berbincang cukup lama sambil menikmati kue yang sudah disiapkan, akhirnya Ibu Wedi dan Ibu Puri berpamitan. Mereka tidak bisa berlama-lama karena masih harus melakukan survei ke mahasiswa baru lainnya.
Sebelum pergi, Ibu Wedi berkata,
“Neng, eneng siapkan saja berkas-berkas seperti surat keterangan tidak mampu dan foto kondisi rumah. Eneng tenang saja, ibu bantu supaya eneng bisa lolos KIP. Eneng tidak usah khawatir soal biaya kuliah. Semua ini gratis. Nanti eneng cukup fokus belajar saja.”
Ibu Puri juga menambahkan,
“Neng, kalau ada apa-apa mampir saja ke rumah ibu. Rumah ibu dekat dari POLBAN. Banyak kok mahasiswa yang sering datang ke rumah ibu, bahkan ada yang sampai menginap.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Rasanya sangat terharu dan bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.
Siapa sangka, dalam proses survei itu ternyata ada plot twist yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya—bahwa Ibu Wedi ternyata adalah sepupu dari ayahku.
Aku pun berpamitan dengan mereka dan mengantarkan mereka sampai ke depan gang. Kami bersalaman dan saling melambaikan tangan dari kejauhan.
Mobil mereka pun perlahan pergi meninggalkan gang kecil itu.
Chapter 11
A New Beginning
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pengumuman penerimaan KIP Kuliah keluar.
Dan tebak, menurut kalian aku lolos atau tidak?
Yap, sesuai dengan yang pernah diucapkan oleh Ibu Wedi waktu itu—bahwa beliau ingin membantuku agar lolos—akhirnya aku benar-benar diterima sebagai penerima KIP-K.
Aku merasa sangat lega karena akhirnya tidak perlu lagi terlalu mengkhawatirkan masalah biaya kuliah. Program KIP-K ini benar-benar sangat membantuku. Selain biaya daftar ulang yang digratiskan, aku juga mendapatkan uang saku setiap semester. Bagiku, itu sudah sangat cukup untuk menjadi bekal selama kuliah, terutama dengan kondisi ibuku yang hanya bekerja sebagai freelancer.
Pada 1 Agustus 2024, keluargaku mengantarkanku ke Bandung untuk melakukan daftar ulang dan mengambil almamater di POLBAN. Kami semua pergi bersama. Sepanjang perjalanan, kami merasa sangat excited untuk datang ke kampus itu.
Sesampainya di sana, aku, ibuku, dan nenekku pergi menuju ruang Direktorat. Sementara itu, adikku dan kakekku menunggu di mobil sewaan yang keluargaku sewa hanya untuk mengantarku. Sebelum masuk, aku berpamitan terlebih dahulu kepada mereka.
Kami bertiga kemudian masuk ke gedung Direktorat untuk menemui Ibu Wedi. Saat masuk ke salah satu ruangan, ternyata benar beliau ada di sana. Kami dipersilakan duduk, lalu berbincang kembali. Saat itu kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Wedi karena telah membantu dan meloloskanku sehingga aku bisa mendapatkan beasiswa KIP-K.
Setelah itu, nenekku memberikan sedikit hadiah dan oleh-oleh sebagai tanda terima kasih kami.
Tidak lama kemudian, ibuku dan nenekku berpamitan kepada Ibu Wedi. Aku juga berpamitan dengan mereka berdua, dan akhirnya mereka meninggalkanku di sana.
Jujur, di momen itu aku merasa terharu sekaligus sedih.
Terharu karena akhirnya aku benar-benar berada di kampus yang dulu sempat aku ragukan. Tetapi di sisi lain, aku juga merasa sedih karena untuk pertama kalinya aku tidak tinggal bersama keluargaku, terutama nenek dan kakekku yang sejak taman kanak-kanak sampai SMA selalu merawat dan menjagaku. Hari itu menjadi salah satu hari ketika aku harus mulai belajar mengurus diriku sendiri.
Setelah itu aku masuk ke salah satu gedung tempat pengambilan almamater. Namun sebelumnya, aku sudah membuat janji dengan beberapa teman yang sebelumnya hanya aku kenal secara online saat masa penerimaan mahasiswa baru.
Saat bertemu mereka secara langsung, aku merasa sangat senang. Akhirnya kami bisa bertemu setelah sebelumnya hanya saling mengenal lewat layar. Kami pun mengambil almamater bersama.
Setelah pengambilan almamater, kami berkumpul karena ada acara first meet bersama kakak tingkat. Acara dimulai dengan sesi perkenalan. Kakak tingkat memperkenalkan diri terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan oleh kami, para mahasiswa baru.
Setelah itu mereka menjelaskan sedikit tentang jurusan yang akan kami jalani nanti. Kemudian ada sesi sharing session dan Q&A, di mana kami bisa bertanya apa saja tentang kehidupan perkuliahan.
Acara tersebut ditutup dengan sesi foto bersama.
Di bawah ini adalah salah satu foto bersama angkatanku dan juga kakak tingkatku.
(Foto ditempatkan di sini)
Namun setelah acara itu selesai, kami tidak langsung pulang. Aku dan beberapa teman pergi bermain ke rumah salah satu temanku. Di sana kami makan bersama, mengobrol, bermain game, bahkan sempat kehujanan saat itu.
Waktu terasa sangat cepat. Tidak terasa sore pun tiba. Akhirnya kami saling mengucapkan goodbye dan pulang ke rumah masing-masing.
Kebetulan ada temanku yang rumahnya searah denganku, jadi ia mengantarkanku sampai ke depan gang rumah nenekku di Bandung.
Kemudian pada 18 Agustus 2024, akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa baru setelah mengikuti beberapa rangkaian acara pengenalan mahasiswa baru dan program PPKMB di kampus. Namun bagian itu tidak akan aku ceritakan lebih jauh di sini, karena menurutku cerita ini sudah cukup panjang.
Sejak saat itu, aku mulai menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa. Setiap hari aku pergi ke kampus, dan sampai sekarang aku tidak pernah alpha sekalipun. Kini aku tidak lagi mengenakan seragam seperti saat sekolah.
Aku juga mengikuti berbagai kegiatan kampus seperti himpunan dan UKM. Selain itu, aku selalu berusaha menjalankan kewajibanku sebagai mahasiswa: mengerjakan tugas tepat waktu, tidak pernah terlambat mengumpulkan tugas, dan mengikuti semua ujian di kampus.
Hari-hari itu membuatku sering teringat pada perjalanan panjang yang sudah aku lewati. Dari seorang anak yang hanya berani bermimpi untuk kuliah, hingga akhirnya benar-benar bisa duduk di bangku perkuliahan.
Mungkin perjalanan ini masih panjang dan masih banyak hal yang harus aku pelajari. Namun satu hal yang pasti, setiap langkah yang aku jalani hari ini adalah bukti bahwa mimpi yang dulu terasa mustahil… ternyata bisa menjadi kenyataan.
Epilog
Perjalanan ini dimulai dari sebuah mimpi sederhana.
Mimpi seorang anak kecil yang ingin melanjutkan pendidikan hingga ke bangku kuliah, karena ia selalu melihat bagaimana ibunya begitu percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan.
Namun jalan menuju mimpi itu tidak pernah benar-benar mudah. Di tengah perjalanan, ia sempat diliputi keraguan karena keadaan keluarga yang penuh keterbatasan. Ada saat-saat ketika mimpi itu terasa sangat jauh, seolah-olah sulit untuk digapai.
Meski begitu, ia tidak pernah berhenti mencoba. Ia tetap berusaha mengambil setiap kesempatan yang ada untuk melangkah lebih dekat menuju dunia perkuliahan.
Awalnya ia gagal di jalur SNBP, jalur yang sangat ia harapkan. Kegagalan itu sempat membuatnya merasa bahwa satu pintu besar telah tertutup. Namun ia memilih untuk bangkit kembali dan mencoba jalur kedua, yaitu SNBT. Dari situlah akhirnya ia mendapatkan kampus dan jurusan yang selama ini ia impikan.
Namun perjalanan itu belum berhenti sampai di sana. Keraguan kembali muncul ketika ia memikirkan biaya kuliah yang tidak sedikit. Dengan kondisi keluarga yang terbatas, melanjutkan pendidikan terasa seperti sebuah tantangan besar.
Akhirnya ia mencoba mengikuti seleksi KIP Kuliah, sambil berharap ada jalan yang dapat membantunya melanjutkan pendidikan. Ia pun siap kapan saja jika harus menjalani proses survei.
Hingga suatu hari, ketika proses survei itu benar-benar terjadi, muncul sebuah kejadian yang sama sekali tidak ia bayangkan. Orang yang datang ke rumahnya ternyata adalah saudara dari ayahnya sendiri—ayah yang selama ini tidak hadir dalam hidupnya.
Pertemuan yang tidak terduga itu menjadi sebuah kejutan besar.
Namun dari sanalah bantuan datang. Ibu itu membantunya melalui proses tersebut, dan pada akhirnya ia benar-benar dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah.
Dan pada akhirnya, mimpi yang dulu terasa begitu jauh itu perlahan menjadi kenyataan.
Anak kecil yang dulu hanya berani membayangkan dirinya duduk di bangku kuliah… kini benar-benar telah melangkah ke dunia perkuliahan sebagai seorang mahasiswa.
Closing
This is my story. Through this story, I hope to motivate others who may be going through similar situations, especially those who still dare to dream.
Many children dream of going to college, but there are also those who doubt themselves and ask, “Will I ever be able to pursue higher education?” I once asked myself the same question.
I grew up in a small village where access to education is more limited compared to living in a big city. At that time, my family’s financial condition was very difficult, which made college seem almost impossible for me. On top of that, I often faced teasing because I came from a “broken home” and grew up without a father’s role.
However, despite all the trials that Allah has given me, I remain grateful. Allah blessed me with the strongest woman I know—my mother. She has supported me from the very beginning until today. Even when I doubted myself, she always reminded me, “You can do more than you think,” and “You deserve to have dreams just like everyone else.”
Because of her, I never gave up. I kept studying, praying, and hoping that one day I would be able to go to college—something my mother never had the chance to experience. I still remember my grandmother once telling me that my mother could not continue her education because she had to take care of me when I was still a baby. After hearing that, I became even more determined to make my dream come true—not only for myself, but also for my mother.
Another important lesson I learned from this journey is that everyone is tested by Allah. However, I truly believe that Allah never gives a test beyond the ability of His servants. I have been tested in many ways, especially through family struggles and financial difficulties. There were times when I doubted myself, but I never doubted the power and plan of Allah—and in the end, that faith proved to be true.
After every hardship, Allah always brings ease. Today, I am able to attend college just like other students who grew up in complete families and better financial situations. Allah has also surrounded me with people who continue to support me—my mother, my grandmother, my grandfather, my siblings, and my friends who have walked this journey with me.
The final lesson from my story is that prayer and effort must always go hand in hand. Without prayer, effort feels empty. And without effort, prayer becomes only a wish without action.
Thank you to everyone who has taken the time to read my story. I sincerely hope that this story can inspire you and bring meaning to your own journey.
Warm regards,
Alia Nurul Azizah
