DITOLAK DUA KALI, DITERIMA ALLAH SEKALI
- SNBP: ditolak.
- SPAN-PTKIN: ditolak.
Padahal saya selalu juara kelas sejak kelas 10.
Saya masih ingat saat membuka pengumuman itu. Tangan gemetar, dada sesak. Di saat teman-teman bersorak karena lolos, saya hanya bisa memaksakan senyum. Saya sudah belajar mati-matian. Mengejar nilai, ikut organisasi, menjaga prestasi. Tapi hasilnya tetap sama: gagal.
Rasanya semakin sakit ketika melihat banner sekolah yang isinya foto-foto siswa yang lolos SNBP dan SPAN-PTKIN. Harusnya ada foto saya di sana. Harusnya nama saya disebut. Tapi kenyataannya tidak. Saya hanya bisa menunduk dan pura-pura kuat di depan teman-teman.
Jujur, saya sempat kecewa sama Allah. Dalam sujud saya bertanya, "Kenapa ya Allah? Sia-sia dong saya bagusin nilai dari kelas 10? Buat apa saya begadang, nangis, dan berdoa kalau akhirnya ditolak juga?" Saat itu saya merasa semua usaha saya tidak ada artinya.
Tapi Allah tidak pernah salah. Tidak lama kemudian, saya melihat banner lain. Bukan banner sekolah tentang SNBP dan SPAN-PTKIN. Melainkan banner pondok. Di sana ada foto saya sedang pidato di depan. Banner itu dipajang untuk promo pondok.
Saya terdiam. Ternyata Allah mengganti rasa kecewa saya dengan cara yang tidak saya duga. Saya tidak ada di banner kelulusan SNBP, tapi Allah menempatkan saya di banner dakwah. Mungkin itu isyarat bahwa jalan saya bukan di situ.
Padahal perjuangan belum selesai. Saya masih harus menghadapi ujian pondok. Pagi sampai sore mengaji, menyetor hafalan, dan mengkaji kitab. Malamnya baru membuka buku UMPTKIN.
Selesai ujian pondok, besoknya langsung tes UMPTKIN. Tanpa jeda, tanpa istirahat. Badan lelah, pikiran kacau.
Di titik terendah itu, teman-teman pondok justru jadi penguat saya. Ketika mereka sudah bisa rebahan, mereka malah duduk menemani saya belajar. "Gass ci lanjutin, dikit lagi." "Jangan nyerah ya cia, kita doain kamu lolos."
Dari mereka saya belajar bahwa berjuang tidak harus sendirian. Ada doa dan dukungan yang menguatkan.
Momen paling menyakitkan adalah ketika saya dipanggil ke panggung sebagai siswa dan santri berprestasi. Tangan memegang piala, wajah tersenyum ke kamera, tapi hati bertanya, "Berprestasi, tapi kenapa SNBP dan SPAN-PTKIN gagal? Apa kurangnya saya?"
Malam itu saya menangis di sajadah. Bukan karena iri, tapi karena bingung.
Seiring waktu saya mulai memahami. Ternyata tidak ada yang sia-sia. Allah tidak pernah tidur dan tidak pernah salah dalam mengatur. Mungkin jika saya lolos dua jalur itu, saya akan merasa cukup dan tidak sekuat ini. Mungkin saya akan lengah.
Tapi karena ditolak dulu, jatuh dulu, dan bangkit sendiri dulu, saya jadi lebih menghargai arti sebuah kesempatan. Saya jadi lebih bersyukur dan lebih siap.
Allah mengajari saya arti sabar. Mengajari bahwa nilai dan piala bukan satu-satunya ukuran. Ada rencana-Nya yang jauh lebih indah. Dan Allah menghitung semua. Menghitung setiap sujud yang lelah, setiap hafalan yang keteteran, setiap doa orang tua, guru, dan teman-teman yang dipanjatkan untuk saya.
Hari itu tiba. Pengumuman UMPTKIN 2026. Dengan jantung berdebar saya membuka hasilnya.
ALHAMDULILLAH
LOLOS UMPTKIN 2026
UIN SALATIGA | KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
Saya menangis. Tangis lega. Ternyata Allah punya rencana terbaik. Seminggu setelah boyong dari pondok, Allah langsung membukakan pintu UIN Salatiga untuk saya. Semua lembur, semua begadang, semua air mata itu tidak sia-sia.
Prestasi dan juara kelas bukan untuk sombong. Itu bukti bahwa saya bisa bangkit walau pernah jatuh dua kali. Gagal bukan tanda kita bodoh. Itu tanda Allah sedang memoles kita agar lebih kuat ketika sampai di tujuan.
Saya memilih Komunikasi Penyiaran Islam karena saya ingin belajar lebih dalam tentang public speaking. Saya ingin mengasah kemampuan berbicara, menyampaikan pesan kebaikan, dan menjadi penyiar yang bisa menginspirasi banyak orang. Saya ingin suara saya bermanfaat, ilmu saya berkah, dan perjuangan saya tidak berhenti di sini.
Terima kasih ya Allah atas semua skenario terbaik-Mu.
Terima kasih Bu, Pak, Mas atas doa yang tidak pernah putus.
Terima kasih teman-teman pondok yang tidak meninggalkan saya.
Terima kasih semua guru atas ilmu dan nasihat yang saya bawa sampai sekarang.
Bismillah. Ini bukan akhir dari perjuangan. Ini adalah awal untuk mengejar impian yang lebih besar. Semoga saya bisa menjadi mahasiswa yang membanggakan, anak yang berbakti, dan santri yang tetap menjaga hafalan dan akhlaknya.
Aamiin.
