ANAK KAMPUNG BERNASIB BAIK

Kalau aku tutup mata sekarang, aku masih bisa mencium bau asap pawon itu. Masih bisa mendengar suara tungku kayu yang berderak, dan suara adik laki-lakiku yang cerewet tidak ada habisnya. Aku, Rahayu, ingin bercerita tentang kami berdua tentang dari mana kami berasal, dan bagaimana kami sampai di sini.

Kami berdua mendapat panggilan khas dari warga si sulung dan si bontot. Aku si sulungnya, Rahayu. Adikku si bontot, namanya Raden. Begitulah kedua orang tua kami memberikan nama dengan sebaik-baiknya, konon nama adalah doa. Aku dan Raden hanya terpaut usia 15 bulan. Ibu tidak mengetahui sedang mengandung Raden ketika masih menyusuiku, ternyata di dalam perutnya sudah ada sang adik.

Sedari kecil mereka berdua bermain Bersama, masak-masakan, dan gubug-gubugan adalah mainan favorit mereka. Masak-masakan dan gubug-gubugan adalah paket permainan paling menyenangkan. Mereka menghhabiskan waktu sembari menunggu air yang di masak sang ibu mendidih di tungku api kayu itu untuk mandi. Iya, tungku kayu, kehidupan mereka sangat sederhana bahkan bbisa dibilang kelewat miskin dan mlarat, jangan tanyakan teknologi internet. Untuk sekelas tv saja pun rumah mereka tak punya. Mereka cukup bersyukur rumah mereka setidaknya mendapatkan aliran Listrik, itu saja lebih dari cukup dan mewah.

Ibu selalu memasak di dapur sederhana beralaskan tanah, merebus, menggoreng, dan tumis-menumis beliau lakukan dengan sabar menggunakan tungku kayu, atau kami di kampung menyebutnya pawon. Muka ibu selalu merah, keringat mengalir didahi dan wajahnya karena panas dari api, belum lagi asap yang mengepul berbau sangit menari-nari di udara dan menyebarkan aroma sangit itu kemana-mana.

“den, udah yuk mainya!” ucap Rahayu, karena meresa bosen

“bentar dulu to mbak, selesainya nanti nunggu di panggil ibu jadi langsung mandi.”

Memang, sudah menjadi kebiasaan bahwa panggilan ibu itu adalah tanda mainya sudah harus selesai.

“mbak, tadi aku ikut ibu kewarung. Aku pengin banget makan bakso tau mbak, tapi ibu malah belinya tempe lagi, tempe lagi bosen aku mba!” keluh Raden karena merasa bosen dengan menu tempe setiap harinya, komen anak yanng polos yang terlalu jujur dan apa adanya. Sedangkan mbakyu nya Rahayu, hanya bisa memeberikan pengertian seadanya. “loh tempe enak tau, katanya makanan favorit kamu tempe kan? Makanya ibu beli tempe terus, itu tandanya ibu sayang banget sama kamu tau Den.”

“tapi kan aku bosen mba, makan tempe terus, aku pengin banget bakso pokonya!”

“nanti kalo kita udah gede, udah sekolah kaya mbak dan mas yang pake seragam. Raden pasti bisa kok makan bakso sepuasnya, heheh”

“ahhhh… masih lama! Tapi aku juga mau sekolah mbaaakk…” rengek Raden

“iya dong nanti kita sekolah, pake seragam” ujar Rahayu menimpali, sembari tangan mungilnya sedang menguleg pecahan bata merah.

Siang itu mataharinya terik, tak dirasakan oleh dua anak kecil Rahayu dan Raden, tangan mungil mereka sibuk menguleg, mengiris daun talas, mencampur tanah dan kembang-kembang yang mereka temui disekitar merek yang nantinya akan mereka jemur, seolah-olah campuran tanah tersebut adalah roti coklat.

Sementara itu, sang ibu sedang menyiapkan air hangat untuk memandika dua anak tercintnya. Beliau angkat air yang sudah mendidih diatas panic besar yang sedikit peot dan hitam it uke ember. Keringat diwajahnya semakin banyak. “Raden… Rahayu ayok mandi!”

“nggih bu!” jawab mereka kompak sambil lari kesumber suara.

“bu, nanti kita sekolah kan ya Rahayu sama Raden pengin banget sekolah ibu, pake seragam, gendong tas bagus, pake sepatu, dan aku lihat mas dan mbak yang biasa lewat itu juga bawa buku-buku besar. Rahayu mau juga punya buku besar bu…” ucap Rahayu saat sang mulai meratakan air sang adiknya, Raden.

“iya, nduk nanti Rahayu dan Raden pasti sekolah kok. Kalian berdua berdoa terus ya agar bapak hasil taninya nanam padi panen. Kalian nanti bisa beli seragam, Sepatu, sama tas.” Ucap ibu dengan senyum dan muka teduhnya, meski sorot matanya terlihat sangat Lelah tapi selalu ibu tutupi dengan senyum yang sangat tulus.

“iya ibu, Rahayu sama Raden berdoa terus buat ibu, bapak, dan untuk kita semua. Iya kan den?”

“iya ibu, Raden selalu berdoa, Semoga ibu dan bapak Panjang umur, punya uang banyak supaya Raden bisa makan bakso, bisa sekolah, bisa beli mobil-mobilan juga” mulut kecil Raden nyrocos tampa henti, sehingga membuat sang ibu gemas dan menciumnya. “iya kulup, Raden cah bagus”

Setelah selesai mandi, aku dan Raden langsung mengeringkan badan dengan satu handuk yang sama yang juga dipakai ibu dan bapak. Bahaya penyakit kulit yang menular dari handuk? Kami memang tidak tahu soal itu waktu kecil, tapi aku yakin bapak tahu. Karena dari kami berempat, hanya bapak yang menempuh pendidikan tertinggi yaitu menengah akhir, meski kemudian hanya menjadi seorang petani di kampung. Sedangkan ibu, lulusan menengah pertama. Itu yang kami tahu.

Setiap malam, Raden dan Rahayu belajar mengenal huruf dan angka Bersama bapak. Bapak sangat pintar, Rahayu ingin sekali sekolah supaya bisa kaya bapak. Rahayu ingat betul, bapaknya bahkan membuatkan papan tulis untuk belajar Bersama, alat tulisnya menggunakan kapur, saking asiknya belajar menulis abjad sampai jari-jari tangannya terasa panas.

“pak, jari Rahayu panas pak.” Sambil menyodorkan tangan mungil it uke bapaknya.

“mana nduk? Bapak bersihin dan bantu tiup nduk?”

“nggih pak.” Memang, belajar Bersama bapak selalu seru dan sampai lupa waktu. Sampai suara adzan dari spiker langgar menggema ke seluruh dukuh, bapak bergegas untuk menunaikan sholat jamaah isya. Memang bapak jarang sekali sholat di rumah selalu dan selalu jamaah. Bahkan kegiatan rutin itu ssampai membekas di ingatan Rahayu dan Raden kecil, tak lupa mereka selalu merengek minta ikut ke langgar, walhasil di tangan kiri dan kanan bapak selalu ada Rahayu dan Raden kecil.

“pak, Rahayu kalo orang-orang habis selesai sholat kan ada mereka baca laillahaillah bareng-bareng kan ya pak?”

“iya nak, bener nduk. Rahayu kenapa?”

“Rahayu selalu berdoa tau pak, agar bapak punya banyak uang supaya Rahayu sama Raden sekolah. Rahayu mau sekolah kaya bapak” ucap Rahayu polos

“iya pak, Raden juga mau sekolah. Makanya Raden selalu doain bapak punya uang banyak, nanti bapak beliin Raden sepatu, tas, sama mobil-mobilan pak.” Raden kecil memang selalu lebih cerewet.

“iya nak, bapak terimaksih banget sama kalian sudah doain bapak sama ibu terus. Pasti bapak usahain kalian sekolah, bahkan Pendidikan kalian harus lebih tinggi dari bapak. Kalian yang manut ya kalo di nasihatin sama ibu, yang nurut juga, jangan nakal, jangan berantem terus yaa..”

“ih… kita ga pernah berantem tau pak, itu kan bagian dari permainan heheh…” lagi lagi Raden yang menimpali, sedangkan Rahayu hanya bisa menimpali dengan anggukan kepala tanda setuju. “kalian ini, memang anak bapak.” Rahayu dan Raden saling tatap dan mengedikan bahu mereka bersamaan.

Ibu pergi ketika aku kelas satu SD. Tidak ada pamit, tidak ada surat, tidak ada penjelasan yang cukup untuk dua anak kecil yang waktu itu masih terlalu polos untuk mengerti. Aku ingat bapak hanya diam tiga hari penuh. Tidak makan, tidak ke sawah, hanya duduk di dipan kayu itu dengan rokok yang tidak pernah benar-benar dihisap. Aku dan Raden tidak berani bertanya. Kami hanya duduk di sebelahnya, bergantian, supaya bapak tidak merasa sendiri.

Tapi bapak tidak pernah berhenti. Sawah tetap digarap, pawon tetap dinyalakan, dan setiap malam papan tulis kapur itu tetap dikeluarkan. Bapak belajar menjadi dua orang sekaligus dan menurutku, beliau berhasil. Bukan karena beliau sempurna, tapi karena beliau tidak pergi. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Bertahun-tahun kemudian, beasiswa itu datang. Bukan dari langit, tapi dari doa-doa kecil yang kami panjatkan sehabis sholat isya di langgar itu, dari nilai-nilai yang kami kejar dengan mata yang sering mengantuk di bawah lampu belajar yang redup. Aku dan Raden akhirnya merantau ke kota yang sama. Kampus kami berbeda, jarak kami tidak selalu dekat, tapi kami tahu kalau salah satu jatuh, yang lain masih ada.

Suatu malam Raden menelepon. Bukan hal yang biasa, karena kami lebih sering bertukar pesan singkat untuk menghemat pulsa. Suaranya terdengar aneh, sedikit serak.

“Mbak, tadi aku telepon bapak. Bapak nangis, mbak.”

Aku tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang menyesak di dada, tapi bukan sedih lebih seperti sebuah simpul yang selama bertahun-tahun terikat kencang, akhirnya mengendur pelan-pelan. Bapak menangis. Bapak yang diam tiga hari itu, bapak yang tidak pernah mengeluh meski bertani sendiri, bapak yang belajar mengepang rambut kami meski tangannya kasar dan hasilnya tidak pernah rapi akhirnya menangis. Dan itu, anehnya, terasa seperti kabar baik.

“Den, itu tandanya bapak udah mulai bisa ngelepas,” kataku pelan. “Orang yang belum memaafkan itu tidak menangis. Mereka cuma diam.”

Raden diam sebentar. “Mbak juga udah memaafkan?”

Aku pikir sebentar. Jujurnya, memaafkan itu tidak datang sekaligus. Ia datang pelan-pelan, seperti air yang meresap ke tanah kering tidak terasa, tapi suatu hari kamu menoleh ke belakang dan kamu sadar tanahnya tidak sekering dulu. “Perlahan, Den. Perlahan,” jawabku.

Malam itu aku berbaring di kamar kosanku yang sempit, menatap langit-langit yang retak di sudutnya. Aku pikir tentang bapak di kampung, yang sekarang tidur sendiri di rumah beralaskan tanah itu, di bawah atap yang sama, di dekat pawon yang sama. Aku pikir tentang doa-doa kecil kami di langgar, tentang kapur di jari-jari yang panas, tentang satu handuk untuk berempat, tentang tempe yang selalu ada di meja makan meski kami tidak pernah memintanya.

Kami memang anak kampung. Tapi mungkin justru dari sanalah semuanya bermula dari pawon yang berasap, dari langgar yang bercahaya, dari bapak yang tidak pergi. Nasib baik bukan berarti hidup tanpa luka. Nasib baik adalah ketika lukamu tidak membuatmu berhenti berjalan.

Tinggalkan Komentar