Dua Sisi Garis Waktu

Setiap orang punya medan perangnya masing-masing saat berjuang meraih kampus impian. Bagi sebagian orang, musuh terbesar mungkin adalah materi ujian yang rumit atau persaingan yang ketat di bangku SMA. Namun bagiku, perjuangan itu sudah dimulai jauh sebelum aku mengenal apa itu bangku perkuliahan. Sejak aku masih duduk di kelas 4 SD, duniaku sudah dipaksa dewasa oleh keadaan. Di saat teman-teman sebayaku asyik bermain, aku harus belajar akrab dengan aroma rumah sakit dan bunyi alat medis, mendampingi sosok malaikat tanpa sayapku—Ibu—yang sedang berjuang melawan ganasnya penyakit kanker.

​Perjalanan itu tidaklah sebentar. Selama empat tahun lamanya, dari aku mengenakan seragam merah-putih hingga berganti putih-biru di kelas 8 SMP, aku menyaksikan bagaimana Ibu bertarung tanpa lelah. Di sela-sela waktu sekolah dan belajar, hatiku kerap kali bergemuruh oleh rasa takut, bingung, dan sedih yang mendalam. Namun, di atas ranjang rumah sakit itu, Ibu tidak pernah berhenti memberikan senyum terbaiknya. Tatapan matanya selalu menyiratkan harapan yang besar agar aku tumbuh menjadi anak yang kuat dan terus melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya.

Goresan memori tentang senyum Ibu yang tak pernah pudar, kompas pertamaku.

​Ketika perjuangan panjang Ibu akhirnya selesai di masa aku kelas 8 SMP dan Beliau berpulang ke keabadian, duniaku sempat runtuh. Kehilangannya meninggalkan ruang hampa yang begitu besar di rumah kami di Medan. Di masa-masa SMA, riuhnya pikiran negatif, kebingungan arah, dan keraguan pada kemampuan diri sendiri sering kali datang menghantam di dalam kepala. Ada malam-malam di mana aku menangis di meja belajar, bertanya-tanya apakah aku mampu melangkah sejauh yang Ibu impikan. Namun, setiap kali aku ingin menyerah, memori tentang ketangguhan Ibu selama empat tahun itu kembali membakar semangatku. Aku sadar, impian Ibu untuk melihatku sukses adalah amanah yang harus kubawa melangkah maju.

Bersama Ayah dan Adik, fondasi terkuat yang memelukku erat di tengah badai kehilangan.

​Pembuktian cinta itu akhirnya menemui titik terang. Ketika pengumuman kelulusan itu tiba, air mataku tumpah saat melihat namaku tertera sebagai calon mahasiswa baru Jurusan Akuntansi di Universitas Bangka Belitung. Rasa bahagia dan haru bercampur aduk di dada. Kelulusan ini bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan sebuah penghormatan untuk setiap detik senyuman dan doa yang Ibu titipkan padaku selama masa-masa sulitnya dulu.

Gerbang awal perjuangan baru, sebuah janji kepada Ibu yang berhasil kutunaikan.

Langkah baru kini telah menanti di hadapanku. Sembari menunggu hari orientasi studi (Ospek) dimulai, aku sibuk mengemas barang dan menata hati untuk merantau jauh meninggalkan tanah Sumatra Utara, meninggalkan Ayah dan adik perempuan satu-satunya di Medan. Keputusan untuk melangkah menyeberangi pulau ini tidaklah mudah; ada rasa berat untuk meninggalkan rumah yang menjadi saksi sejarah perjuangan kami. Namun, dukungan penuh dari Ayah dan pelukan hangat adik perempuanku meyakinkanku bahwa perantauan ini adalah langkah awal untuk merajut masa depan yang lebih baik.

Mengemas doa dan harapan, siap melangkah jauh meninggalkan tanah

Sumatra demi masa depan.

​Di tanah perantauan Bangka Belitung nanti, aku tahu aku tidak akan pernah benar-benar sendiri. Setiap kali rasa lelah atau keraguan kembali mengetuk pikiran, aku akan selalu mengingat senyum hangat Ibu. Perjuangan meraih kampus impian ini adalah bukti nyata bahwa cinta, kekuatan, dan harapan yang Ibu tanamkan sejak aku kelas 4 SD akan selalu hidup dan tumbuh, membawaku melangkah berani menantang dunia.

~Thanks Mom~

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *