MIMPI YANG BERTAHAN DI TENGAH KETERBATASAN

Oleh : Hasbi imansyah

Mimpi tidak pernah memilih dari keluarga mana seseorang berasal. Mimpi hanya menunggu siapa yang cukup berani untuk memperjuangkannya.

Saya lahir dan dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana. Sejak kecil, saya percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah masa depan. Namun, saya juga menyadari bahwa perjalanan menuju cita- cita tidak akan semudah yang dibayangkan. Saat duduk di bangku SMA , saya harus menerima kenyataan bahwa nilai saya tidak memenuhi syarat untuk mendaftar SNBP dikarenakan saya adalah siswa pindahan. Saat melihat teman teman saya yang mempersiapkan diri untuk mendaftar kampus melalui jalur tersebut, saya hanya bisa menyaksikan dan berusaha menerima kenyataan. Rasa kecewa tentu ada, tetapi saya tidak ingin berhenti karena satu jalur tertutup.

Saya kemudian memutuskan untuk mengikuti seleksi nasional berbasis tes (SNBT). Karena keterbatasan ekonomi membuat saya tidak mampu mengikuti bimbingan belajar seperti teman teman saya lainnya. Biaya les yang mahal menjadi sesuatu yang tidak sanggup dijangkau oleh keluarga saya. Karena itu, saya memilih belajar secara mandiri selama tiga bulan penuh.

Hari hari saya di penuhi dengan banyak latihan soal dari internet, menonton video pembelajaran gratis di youtube, dan membaca materi dari buku yang saya beli di online shop. Tidak ada guru privat, tidak ada kelas ekslusif, hanya tekad dan semangat yang ada. Saat saya mendaftar SNBT saya juga mendaftar kip kuliah. Program tersebut menjadi secercah harapan agar kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan.

Hari pengumuman SNBT akhirnya tiba. Dengan perasaan gugup, saya membuka hasil seleksi. Air mata haru langsung mengalir ketika melihat nama saya dinyatakan lulus. Memang, saya diterima di pilihan kedua, tetapi kampus itu tetap merupakan salah satu kampus impian saya, yaitu Universitas Andalas. Kebahagiaan itu sulit digambarkan dengan kata-kata.

Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa kondisi ekonomi keluarga membuat saya ragu untuk melakukan daftar ulang. Jarak kampus yang jauh dari rumah berarti membutuhkan biaya hidup, biaya perjalanan, dan berbagai kebutuhan lain yang tidak sedikit. Saya sempat bertanya dalam hati, “Apakah mimpi ini benar-benar bisa saya wujudkan?”

Sambil menunggu pengumuman KIP Kuliah, saya terus mencari peluang lain. Saya mencoba mendaftar berbagai program beasiswa, mulai dari Beasiswa Mandiri ITS, Beasiswa Mandiri Universitas Airlangga, Beasiswa Mandiri Universitas Diponegoro, Beasiswa Telkom University, hingga Beasiswa Semen Indonesia di Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI). Saya berharap salah satu di antaranya dapat menjadi jalan untuk melanjutkan pendidikan. Namun, hasil yang saya terima justru sebaliknya. Satu demi satu pengumuman datang dengan kabar saya belum berhasil lolos. Berkali kali penolakan tentu bukan hal yang mudah. Ada rasa kecewa, sedih bahkan keraguan terhadap diri sendiri. Akan tetapi, saya memilih tidak menyerah. Saya percaya bahwa kegagalan adalah jalan untuk menuju kesuksesan.

Dengan penuh keyakinan, saya akhirnya memutuskan untuk tetap melakukan daftar ulang di Universitas Andalas meskipun hasil KIP Kuliah belum diumumkan. Keputusan tersebut saya ambil karena saya tidak ingin kehilangan kesempatan yang telah saya perjuangkan selama ini.

Beberapa waktu kemudian, kabar yang paling saya nantikan akhirnya datang. Saya dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah. Saat membaca pengumuman tersebut, rasa syukur yang luar biasa memenuhi hati saya. Semua kekhawatiran yang selama ini menghantui perlahan berubah menjadi harapan baru. Air mata yang jatuh saat itu bukan lagi karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan dan rasa syukur atas pertolongan Tuhan yang datang pada waktu terbaik.

Hari ini, saya adalah mahasiswa semester 2 menuju semester 3 di Universitas Andalas. Saya juga menjadi orang pertama dalam keluarga yang berhasil meraih kampus impian dan diterima di perguruan tinggi negeri terbaik Indonesia. Bagi sebagian orang, hal ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi saya dan keluarga saya, ini adalah sejarah baru sekaligus harapan baru bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus membatasi masa depan.

Perjalanan saya mengajarkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tidak dapat mengikuti SNBP bukan berarti kehilangan kesempatan. Ditolak berbagai beasiswa bukan berarti impian harus dihentikan. Justru setiap penolakan mengajarkan saya untuk menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih yakin terhadap tujuan yang ingin dicapai.

Kisah ini bukan hanya tentang saya yang berhasil masuk Universitas Andalas. Kisah ini adalah bukti bahwa mimpi tidak mengenal status ekonomi, tidak bergantung pada mahalnya bimbingan belajar, dan tidak berhenti hanya karena beberapa kali mengalami penolakan. Selama kita tidak menyerah, selalu ada harapan yang menunggu di ujung perjuangan.

Karena pada akhirnya, bukan mereka yang tidak pernah gagal yang berhasil meraih impian, melainkan mereka yang tetap memilih bangkit setiap kali kehidupan menjatuhkan mereka.

Tinggalkan Komentar