Restu Orang Tua Mengantarkanku ke Kampus Impian

Oleh: Maulana Ibrahim

Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik

Universitas Trunojoyo Madura

"Di balik setiap langkah seorang anak menuju kampus impian, ada doa yang tak pernah putus dari kedua orang tua. Ada tangan yang terus bekerja tanpa mengenal lelah, meski tak selalu terlihat. Aku adalah salah satu anak yang merasakan betapa besar arti perjuangan itu."

Setiap pagi sebelum matahari benar-benar menyinari hamparan sawah, ayahku telah lebih dulu berangkat bekerja. Dengan cangkul di tangan dan semangat yang tak pernah padam, beliau mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga kami. Ketika musim tanam atau panen tiba, ibuku turut membantu beliau di sawah. Namun, jika adik bungsuku yang masih berusia tiga tahun membutuhkan perhatian, ibu memilih tetap berada di rumah untuk merawatnya. Kehidupan kami memang sederhana, tetapi penuh dengan kasih sayang, kerja keras, dan pengorbanan.

Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adikku yang kedua masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, sedangkan adik bungsuku masih sangat kecil. Sebagai anak pertama, aku memahami bahwa setiap langkah yang kuambil bukan hanya tentang diriku sendiri. Aku membawa harapan kedua orang tuaku dan ingin menjadi contoh yang baik bagi kedua adikku.

Keluarga saya — ayah, ibu, dan adik-adikku, kekuatan di balik setiap langkahku menuju kampus impian. (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Sejak duduk di bangku SMA, aku bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Bagiku, kuliah bukan sekadar mengejar gelar, tetapi menjadi jalan untuk mengubah masa depan keluarga. Aku memiliki dua kampus impian. Yang pertama adalah Universitas Negeri Malang (UM), karena aku ingin merasakan pengalaman belajar di luar Pulau Madura. Yang kedua adalah Universitas Trunojoyo Madura (UTM), kampus negeri kebanggaan masyarakat Madura.

Universitas Trunojoyo Madura (UTM) — salah satu kampus impian yang akhirnya menjadi tempatku menimba ilmu. (Sumber: RRI.co.id)

Keinginanku untuk merantau sebenarnya cukup besar. Aku ingin mengenal lingkungan baru, bertemu banyak orang, dan belajar hidup mandiri. Namun, sebagai anak pertama, aku juga sering dibutuhkan di rumah ketika keluarga menghadapi berbagai urusan. Orang tuaku berharap aku tetap melanjutkan pendidikan di Madura agar tidak terlalu jauh dari mereka. Awalnya aku merasa bimbang. Di satu sisi ada mimpi untuk merantau, tetapi di sisi lain ada harapan orang tua yang tidak ingin kutinggalkan.

Setelah banyak berpikir dan berdiskusi bersama keluarga, aku memilih mengikuti restu mereka. Aku percaya bahwa restu orang tua adalah bekal yang tidak ternilai dalam setiap langkah kehidupan.

Aku kemudian mengikuti seleksi masuk Universitas Trunojoyo Madura melalui Jalur Mandiri Prestasi Qiraatul Kutub. Jalur tersebut menjadi kesempatan yang sangat berarti bagiku karena kemampuan yang kupelajari selama di pesantren dapat menjadi jalan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hari pengumuman pun tiba. Alhamdulillah, aku dinyatakan diterima sebagai mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

Saat melihat namaku tercantum sebagai mahasiswa baru, aku merasa sangat bahagia. Salah satu impianku akhirnya terwujud. Namun, di balik kebahagiaan itu muncul kegelisahan yang terus menghantui pikiranku. Aku berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Aku sadar bahwa biaya kuliah bukanlah jumlah yang kecil bagi keluargaku.

Aku masih ingat malam ketika memberanikan diri berbicara kepada ayah.

"Ayah, saya keterima di Universitas Trunojoyo Madura lewat Jalur Mandiri Prestasi Qiraatul Kutub. Saya bangga dan bahagia, tapi ada satu hal yang membuat saya berat."

Ayah menatapku dengan tenang lalu bertanya,

"Terus apa, Cong?"

Aku menjawab dengan suara pelan,

"Saya tidak lolos beasiswa, Yah. Saya harus membayar UKT sekitar tiga juta rupiah setiap semester."

Ayah terdiam sejenak, lalu berkata dengan penuh keyakinan,

"Gapapa, Cong. Nanti ayah usahakan. Meskipun ekonomi keluarga kita seperti ini, selama kamu mau kuliah dan bersungguh-sungguh, ayah akan berusaha membiayaimu."

Mendengar jawaban itu, hatiku justru semakin berat. Aku tahu bagaimana kerasnya perjuangan ayah mencari nafkah setiap hari. Aku tahu uang sebesar itu bukanlah hal yang mudah bagi keluarga kami.

Aku kembali berkata,

"Tapi Yah, apakah ayah sanggup? Itu baru biaya UKT. Belum biaya hidup saya selama kuliah."

Ayah tersenyum sambil menepuk pundakku.

"Insyaallah mampu, Cong. Yang penting kamu terus belajar. Jangan lupa doakan ayah supaya Allah memberi rezeki."

Aku hanya mampu mengangguk sambil menahan air mata.

"Iya, Yah. Aamiin."

Percakapan sederhana itu tidak pernah hilang dari ingatanku. Malam itu aku benar-benar merasakan betapa besar pengorbanan seorang ayah. Beliau tidak pernah berkata bahwa beliau mampu, tetapi beliau memilih berjuang agar anaknya tetap bisa mengejar cita-cita.

Dengan segala usaha yang dilakukan kedua orang tuaku, aku akhirnya dapat membayar UKT dan menyelesaikan proses registrasi sebagai mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura. Aku mulai mengikuti kegiatan pengenalan kampus dengan penuh semangat. Namun, di balik semangat itu, aku terus berdoa agar Allah memberikan jalan untuk meringankan beban kedua orang tuaku.

Doa itu ternyata dijawab pada pertengahan semester pertama. Kampus membuka pendaftaran KIP Kuliah susulan. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mendaftar. Aku melengkapi seluruh persyaratan dengan harapan yang besar. Proses menunggu hasil seleksi terasa sangat panjang. Setiap hari aku hanya bisa berdoa agar Allah memberikan jalan terbaik.

Hari pengumuman akhirnya tiba. Dengan tangan yang gemetar, aku membuka hasil seleksi. Aku membaca namaku berulang kali karena tidak percaya. Aku dinyatakan lolos sebagai penerima KIP Kuliah.

Saat itu aku menangis. Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah. Aku langsung menemui kedua orang tuaku dan memeluk mereka. Aku bersyukur kepada Allah SWT karena akhirnya diberikan jalan untuk meringankan beban keluarga kami. Rasanya seperti ada beban besar yang selama ini kupikul akhirnya terangkat.

Aku semakin yakin bahwa Allah selalu memiliki waktu terbaik untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kegagalanku memperoleh beasiswa di awal ternyata bukan akhir dari segalanya. Allah menggantinya dengan kesempatan yang jauh lebih baik melalui KIP Kuliah.

Beasiswa itu bukan hanya membantuku secara finansial, tetapi juga menjadi amanah yang harus kujaga. Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.

Kini aku menjalani perkuliahan dengan semangat yang lebih besar. Setiap kali memasuki ruang kelas, aku selalu teringat wajah ayah yang setiap pagi berangkat ke sawah dan ibu yang selalu mendukungku dengan penuh kasih sayang. Mereka adalah alasan terbesarku untuk terus belajar dan memberikan hasil terbaik.

Kuliah di Universitas Trunojoyo Madura juga mengubah cara pandangku terhadap dunia. Jika dahulu aku hanya terbiasa bergaul dengan teman-teman dari daerahku sendiri, kini aku memiliki teman dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri. Aku belajar menghargai perbedaan budaya, bertukar pengalaman, dan memahami bahwa pendidikan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan memperluas wawasan.

Aku juga berusaha memanfaatkan kesempatan kuliah dengan aktif berorganisasi. Di lingkungan kampus, aku bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (BEM KM UTM). Di luar kampus, aku aktif di Ikatan Mahasiswa Pamekasan sebagai anggota Divisi Komunikasi dan Informasi serta pernah menjadi panitia dalam program Abdi Desa sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, aku juga aktif di Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), organisasi alumni pondok yang menjadi tempatku belajar kepemimpinan dan tanggung jawab. Saat ini aku dipercaya sebagai Koordinator Divisi Komunikasi dan Informasi sekaligus Sekretaris Pelaksana dalam kegiatan Pengaderan Anggota Baru. Semua pengalaman tersebut mengajarkanku bahwa pendidikan tidak hanya diperoleh di dalam kelas, tetapi juga melalui organisasi, pengabdian, dan kerja sama dengan banyak orang.

Alhamdulillah, hingga saat ini aku tidak lagi merasa kesulitan memenuhi kebutuhan selama kuliah. Bahkan ketika masih ada sisa dana setelah seluruh kebutuhan pendidikan dan biaya hidupku terpenuhi, aku berusaha membantu kebutuhan adik-adikku. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi bagiku itulah cara sederhana untuk meringankan beban orang tua yang selama ini telah berjuang tanpa lelah.

Kini aku menyadari bahwa kampus impian bukan sekadar tempat untuk memperoleh gelar sarjana. Kampus impian adalah tempat aku belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi orang lain.

Perjalanan ini mengajarkanku bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Selama masih ada usaha, doa, dan restu orang tua, selalu ada jalan yang Allah SWT bukakan. Aku percaya bahwa keberhasilanku hari ini bukan semata-mata karena kemampuanku sendiri, melainkan karena doa seorang ayah yang setiap hari bekerja di sawah, ketulusan seorang ibu yang selalu mendampingi keluarga, serta kasih sayang Allah SWT yang menghadirkan pertolongan pada waktu yang paling tepat.

Suatu hari nanti, ketika aku telah menyelesaikan pendidikan dan meraih cita-citaku, aku ingin melihat kedua orang tuaku tersenyum bangga. Aku ingin mereka merasakan bahwa setiap tetes keringat di sawah, setiap doa yang mereka panjatkan, dan setiap pengorbanan yang mereka lakukan tidak pernah sia-sia.

Semoga kisah sederhana ini dapat menjadi pengingat bagi siapa pun yang sedang berjuang meraih kampus impian. Tidak semua perjalanan dimulai dengan kemudahan, tetapi selama kita terus melangkah, tidak menyerah, memohon pertolongan kepada Allah SWT, dan menghormati restu orang tua, selalu ada jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Karena pada akhirnya, kampus impian bukan hanya tempat aku belajar, melainkan tempat aku membuktikan bahwa perjuangan seorang anak dan pengorbanan kedua orang tua dapat bertemu dalam satu tujuan: masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Komentar