PERJALANAN MENGGAPAI KAMPUS IMPIAN
Siapa disini yang tidak menginginkan kampus impian itu? Setiap anak pasti punya harapan untuk menggapai apa yang telah diimpikan, disini aku akan menceritakan sedikit tentang perjuangan ku untuk menggapai kampus impian ituu, meskipun perjalannya penuh dengan lika-liku tapi semua yang sudah tertakar tidak akan tertukar.
Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Unggulan Badridduja, aku memiliki satu impian besar, yaitu melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri(PTN)dengan jurusan Keperawatan. Bagiku, menjadi seorang perawat bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati untuk membantu sesama. Aku membayangkan diriku mengenakan seragam perawat, merawat pasien dengan penuh kepedulian, dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Karena itulah, aku berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri demi mewujudkan cita-cita tersebut.
Pada tahun 2025, kesempatan pertama datang melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Aku menaruh harapan yang begitu besar pada jalur ini. Setiap hari aku berdoa agar namaku tercantum dalam daftar peserta yang diterima. Aku yakin telah berusaha semaksimal mungkin selama masa sekolah. Namun, ketika pengumuman tiba, kenyataan berkata lain. Namaku tidak ada dalam daftar peserta yang lolos. Saat itu aku merasa sangat sedih dan kecewa. Rasanya seperti melihat impian yang selama ini kupegang perlahan menjauh dari genggaman.
Meski demikian, aku mencoba untuk tetap tegar. Aku percaya bahwa kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti berjuang. Banyak orang mengatakan bahwa masih ada kesempatan lain melalui jalur SNBT. Namun pada tahun 2025, aku tidak mengikuti SNBT karena masih mengabdi di Pondok Pesantren Badridduja. Pengabdian tersebut merupakan tanggung jawab yang harus aku jalankan dengan penuh kesungguhan. Walaupun di dalam hati ada sedikit rasa sedih karena tidak bisa mencoba jalur tersebut, aku yakin bahwa setiap keputusan yang diambil pasti memiliki hikmah tersendiri.
Waktu terus berjalan….Setelah menyelesaikan masa pengabdian, aku kembali menata harapan untuk mengejar kampus impian. Pada tahun 2026, aku memutuskan untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan jurusan Keperawatan sebagai tujuan utama. Aku belajar lebih giat, memperbanyak latihan soal, dan terus memohon doa restu dari orang tua serta para guru. Aku ingin memberikan usaha terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari.
Hari demi hari kulalui dengan penuh perjuangan. Ada kalanya aku merasa lelah, tetapi impian menjadi tenaga kesehatan selalu menjadi penyemangatku. Hingga akhirnya tibalah hari pengumuman yang sangat dinantikan, dengan perasaan campur aduk, aku membuka hasil seleksi. Namun sekali lagi, aku harus menerima kenyataan pahit, aku dinyatakan tidak lolos SNBT 2026.
Saat itu aku benar-benar merasa sedih. Dua kali mencoba masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur yang berbeda dan dua kali pula harus menerima penolakan. Aku mulai bertanya-tanya mengapa jalan yang kuinginkan terasa begitu sulit?, Namun setelah merenung dan berdoa, aku menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan akan menjadi takdir terbaik bagi kita. Terkadang Allah memiliki rencana yang jauh lebih indah daripada yang mampu kita bayangkan.
Akhirnya, aku mulai merelakan impianku untuk masuk PTN di bawah Kementerian Pendidikan. Aku mencoba membuka hati terhadap peluang lain yang mungkin telah Allah siapkan. Saat itulah aku memutuskan untuk mengikuti jalur UMPTKIN di bawah Kementerian Agama. Dengan penuh harapan, aku memilih Program Studi S1 Tadris Biologi di UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember di opsi pertama.
Aku menjalani proses pendaftaran dengan lebih tenang, kali ini aku tidak terlalu membebani diri dengan ekspektasi yang berlebihan, aku hanya berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Ketika hari pengumuman tiba, aku kembali membuka hasil seleksi dengan perasaan berdebar. Alhamdulillah, kabar yang kutunggu akhirnya datang, namaku dinyatakan diterima di Program Studi S1 Tadris Biologi UIN KHAS Jember.
Saat membaca pengumuman itu, aku merasa sangat bersyukur. Semua kesedihan, kegagalan, dan perjuangan yang pernah kulalui seakan terbayar. Aku menyadari bahwa dua kali penolakan yang kualami bukanlah akhir dari perjalanan. Justru kegagalan tersebut menjadi bagian dari proses yang membawaku menuju jalan terbaik yang telah Allah tetapkan.
Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana kita. Kadang-kadang kita begitu menginginkan sesuatu, tetapi Allah mengarahkan kita ke tempat yang berbeda. Bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena ada jalan lain yang lebih baik untuk masa depan kita. Yang terpenting adalah terus berusaha, tidak mudah menyerah, dan selalu mengiringi setiap langkah dengan doa.
Kini aku percaya bahwa kegagalan bukanlah tanda berakhirnya mimpi. Kegagalan hanyalah sebuah belokan yang mengarahkan kita menuju tujuan yang mungkin lebih baik dari yang pernah kita bayangkan. Perjalananku membuktikan bahwa ditolak dua kali bukan berarti kalah. Selama masih ada usaha, doa, dan keyakinan kepada Allah, selalu ada kesempatan untuk meraih masa depan yang cerah. Mungkin kampus impian bukanlah tempat yang akhirnya kutuju, tetapi di UIN KHAS Jember aku menemukan jalan baru untuk terus berkembang, belajar, dan menggapai cita-cita. Dan dari sanalah aku memahami bahwa setiap takdir Allah selalu memilikinya hikmah yang indah pada waktunya.
THE END
