Lomba Menulis Artikel 2026

Nama : Ilham Nurcahyo

NPM : 24010458

Wa : 083191930484

Instagram : cahyohorizontal

Mahasiswa Aktif Semester 4 di Salah Satu Kampus Swasta di Medan

PERJUANGAN MASUK KAMPUS

Hai ini kisahku, cerita sederhana perjuangan untuk masuk ke Salah Perguruan Tinggi Negeri sampai akhirnya memutuskan untuk masuk ke Perguruan Tinggi Swasta. Sebut saja dalam cerita ini aku dikenal dengan nama “Horizontal”. Aku kelahiran 6 Januari 2005 di salah satu kota di Sumatera Utara, lebih tepatnya di Medan. Aku lahir sebagai anak terakhir dari dua bersaudara dikeluarga sederhana, dimana ayahku berkerja sebagai buruh bangunan dan ibuku sebagai ibu rumah tangga. Setelah beberapa bulan kelahiranku, keluarga ku merantau ke salah satu provinsi di pulau Sumatera, yaitu Banda Aceh. Singkatnya keluargaku menetap disana sampai usiaku menginjak 10 tahun.

Aku bersekolah di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Banda Aceh sampai kelas 5 semester 1, dan setelahnya lebih kurang 10 tahun di Banda Aceh, keluarga ku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman kami yang ada di Medan. Aku melanjutkan pendidikan ku mulai dari Sekolah Dasar yang aku lanjutkan di sini, kemudian Sekolah Menegah Pertama, sampai dengan Sekolah Menegah Atas.

Kehidupan sekolah ku hampir sama dengan kehidupan anak sesusiaku pada umumnya. Ayahku yang bekerja sebagai buruh bangunan untuk menghidupi keluarga kecilnya beberapa kali di terpa kondisi ekonomi yang naik turun, aku yang pada saat itu sedang bersekolah di tingkat SMA, mulai memikirkan keadaan ekonomi keluarga yang saat itu jadi penyebab utama hampir runtuhnya mimpi ku dan mimpi saudariku untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Kakak ku yang masuk kesalah satu Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) hampir tidak mengambil kesempatan itu karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil. Orang tua ku mengusahakan apapun agar anaknya bisa melanjutkan mimpinya.

Singkatnya Tuhan membuka jalan agar kakak ku dapat menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Aku yang saat itu masih kelas 11 SMA mulai membatasi bahkan hampir mengubur keinginan untuk melanjutkan pendidikan setelah tamat. Pemikiranku saat itu aku hanya ingin saudari ku itu bisa tamat dengan gelar Sarjana Kelautan (S. Kel) dan aku mulai mengubur mimpi ku demi saudari ku. Setelah aku tamat ada secercah harapan dimana aku tetap berusaha mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan harapan aku bisa lulus dan berkuliah sambil bekerja, namun harapan itu tetaplah menjadi harapan karena hasil menunjukan bahwa aku tidak lulus. Keluargaku memintaku agar tidak putus asa dan tetap belajar selagi menunggu tahun depan dan berdoa serta berusaha agar harapan itu manjadi kenyataan. Aku awalnya mulai mengikuti apa yang orang tua ku inginkan yaitu tetap belajar, sampai kenyataan pahit bahwa ekonomi belum juga membaik menjadi tembok tinggi dalam mengejar Perguruan Tinggi Negeri. Aku mulai mempertanyakan bahwa mimpiku harus aku lanjutkan atau aku relakan.

Aku mulai bekerja serabutan mulai dari pelayan di warkop, rumah makan, dan cafe, sales wi-fi, sampai pencuci mobil demi membantu biaya pendidikan saudariku, bahkan aku merahasiakan pekerjaan itu dari orang tuaku. Harapanku setidaknya jika aku gagal mendapatkan gelar, aku punya saudariku yang berhasil memraih mimpi itu. Satu tahun telah berlalu, kesempatan itu mulai muncul kembali dan aku mencoba SNBT itu sekali lagi. Tapi sayangnya, harapanan untuk jadi Mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri itu akan tetap menjadi harapan bahkan sampai hari ini. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan dam memilih untuk bekerja, beberapa bulan setelah itu saudari ku jatuh sakit, aku dan keluargaku berusaha semaksimal mungkin agar dia bisa kembali sehat dan beraktivitas seperti biasanya. Tapi siapa sangka Tuhan punya jawaban lain, dan dia pulang duluan ke sisi Sang Pencipta. Aku dan keluargaku sangat terpukul atas kejadian itu. Aku yang sudah mengubur mimpiku untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri mulai menulis ulang kisahku dan masuk ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Medan.

Aku mulai melanjutkan mimpi keluargaku, saudariku, dan juga mimpiku sendiri untuk melanjutkan Pendidikan di Perguruan Tinggi. Tuhan punya rencana lain, aku yang terlambat berkuliah selama 2 tahun ternyata saat ini sudah sampai di semester 4 dimana teman – teman seusiaku sudah mulai satu persatu mendapat gelarnya masing – masing. Tapi aku paham cerita ini masih panjang, dimana ini bagian kecil dan perjalanan ku yang awalnya bermimpi masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, pada akhirnya melanjutkan ke Perguruan Tinggi Swasta.

Sukses dan Bahagia itu adalah dua hal sederhana, tapi terkadang kita sebagai manusia lupa menghargai prosesnya

Ig : @cahyohorizontal

Singkatnya ternyata Tuhan punya cara sendiri dalam menulis kisah perjalananku, mungkin hal yang saat itu tidak aku sukai adalah mimpi dari banyak orang di luar sana. Hal yang mungkin bisa aku sampaikan secara sederhana adalah cara Tuhan menulis kisah perjalannan bisa saja dari banyak hal, termasuk luka dan duka juga masuk ke dalamnya.

Tinggalkan Komentar