Merajut Asa di Balik Doa Ibu: Perjalanan Panjangku Menuju Kampus Impian

Muhammad Nadzril Ishlah Azkiah

Tema: Kisahku, Inspirasiku

Setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing, dan setiap perjuangan memiliki ceritanya sendiri. Namaku terukir sebagai salah satu lulusan angkatan ke-32 dari SMKN 3 Buduran, Sidoarjo. Sebagai seorang siswa SMK dengan jurusan Teknik Pendingin dan Tata Udara, bayangan masa depanku awalnya tak jauh dari dunia teknik, mesin, dan segala hal yang berbau praktikal. Namun, takdir rupanya memiliki skenario yang jauh lebih indah dan tak terduga untukku. Inilah kisah perjalananku, sebuah epik tentang kegigihan, air mata, dan keajaiban doa orang tua dalam mengejar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impian.

Kisah ini bermula ketika pengumuman siswa eligible untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dirilis. Namaku berada di urutan ketiga di jurusanku. Sebuah kebanggaan tersendiri, namun kejutan tak berhenti di situ. Dua teman di atasku memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah, yang secara otomatis menempatkanku di posisi teratas. Harapan pun membumbung tinggi. Dengan penuh percaya diri, aku mendaftarkan diri di jalur SNBP dengan pilihan jurusan D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan S1 Teknik Sipil di UPN "Veteran" Jawa Timur. Sesuai dengan latar belakang pendidikanku, teknik adalah jalan ninjaku. Namun, kenyataan berkata lain. Layar pengumuman SNBP menampilkan warna merah; aku ditolak. Kekecewaan tentu ada, tetapi aku sadar ini baru permulaan.

Sembari menunggu pendaftaran jalur tes (SNBT), aku mencoba peruntungan di sekolah kedinasan. Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG) menjadi sasaranku. Sayangnya, langkahku harus terhenti lebih awal karena aku gagal lolos di tahap registrasi administrasi. Dua kegagalan beruntun ini cukup memukul mental, tetapi semangatku belum padam.

Tibalah saatnya pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Di sinilah terjadi sebuah titik balik yang mengubah arah hidupku. Sebelumnya, aku dan orang tua telah sepakat bahwa aku akan fokus mengambil jurusan teknik. Namun, di lubuk hati terdalam, ibuku memiliki harapan lain. Beliau mengarahkanku untuk mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Bagi seorang siswa SMK Teknik, banting setir (lintas jurusan) ke dunia pendidikan adalah sebuah lompatan yang sangat ekstrem. Namun, aku teringat pepatah bahwa "ridho Allah terletak pada ridho orang tua". Dengan keyakinan bahwa ada keberkahan di balik pilihan ibu, aku menyematkan S1 PGSD Universitas Negeri Surabaya (UNESA) di pilihan pertama SNBT. Pilihan selanjutnya tetap pada jalurnya, yakni D4 Teknik K3 PPNS dan D4 Teknik Perancangan dan Konstruksi Kapal PPNS. Aku belajar giat, mengikuti UTBK dengan penuh harap. Namun, lagi-lagi, semesta memintaku untuk bersabar. Pengumuman SNBT kembali berwarna merah. Aku tidak lolos.

Kegagalan demi kegagalan mulai terasa berat, terlebih lagi pada masa-masa krusial ini, aku harus berjuang sendirian. Kedua orang tuaku sedang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Tidak ada pelukan hangat saat aku menangis melihat pengumuman penolakan, tidak ada teman diskusi secara langsung saat aku kebingungan mencari informasi pendaftaran jalur mandiri. Semua proses pendaftaran, pencarian informasi, hingga tes, kulakukan sendiri dengan mandiri. Meski raga mereka jauh, aku tahu doa mereka tak pernah putus mengalir dari tempat paling suci di bumi.

Aku pun bangkit dan mencoba jalur Mandiri. Aku mengikuti tes Mandiri di PPNS, masih dengan tekad mengejar Teknik K3. Hasilnya? Masih belum rezeki. Penolakan seolah menjadi teman akrabku. Di titik ini, rasanya ingin menyerah, tetapi aku ingat wajah orang tuaku dan harapan mereka.

Sebagai usaha terakhir, aku mendaftar jalur Mandiri Non-Tes (menggunakan nilai UTBK) di UNESA. Kali ini, aku sepenuhnya mengikuti kata hati dan doa ibu. Aku memilih S1 PGSD dan S1 Pendidikan PPKN. Hari-hari menunggu pengumuman terasa sangat panjang dan mendebarkan. Hingga akhirnya, hari penentuan itu tiba. Dengan tangan gemetar, aku membuka laman pengumuman. Dan kali ini, layar itu tidak lagi berwarna merah. Warna biru menyapaku dengan tulisan "SELAMAT! Anda dinyatakan lulus seleksi". Aku diterima di S1 PGSD UNESA!

Air mata haru tak terbendung. Penantian panjang, penolakan berkali-kali, dan perjuangan sendirian itu akhirnya terbayar lunas. Yang lebih membuatku takjub, S1 PGSD adalah salah satu jurusan dengan peminat terbanyak dan keketatan tertinggi di UNESA. Lulusan SMK Teknik sepertiku berhasil menembusnya!

Dari perjalanan panjang ini, aku belajar satu hal yang sangat berharga: sekeras apa pun kita merencanakan sesuatu, rencana Tuhan selalu yang terbaik. Kegagalan di jalur teknik ternyata adalah cara Tuhan mengarahkanku pada jalan yang diridhoi oleh ibuku. Dukungan penuh dari orang tua, meski dari kejauhan, adalah bahan bakar utamaku untuk tidak pernah menyerah. Kisahku ini adalah bukti nyata bahwa doa ibu mampu menembus langit dan mengubah kemustahilan menjadi kenyataan. Bagi kalian yang sedang berjuang, jangan pernah takut gagal, dan yang terpenting, jangan pernah meragukan kekuatan doa orang tua. Teruslah melangkah, karena kampus impianmu sedang menunggumu di ujung perjuangan.

Tinggalkan Komentar