ANAK AUTISM HYPERACTIVE TIDAK MUNGKIN BISA SAMPAI KE BANGKU KULIAH

By: Joey Malvine Andry Pratama, S.Sos

Youtube: Joey Malvine | Instagram: @joeymalvine | Tiktok: JoeyMalvine

PERKENALAN

Bismillah, perkenalkan aku Malvine, aku lahir di Tangerang disaat Indonesia masih dipimpin oleh Presiden Profesor Habibie. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan S2 di Magister Perencanaan Kepariwisataan Universitas Mataram Nusa Tenggara Barat. Saat aku balita, aku didiagnosis Autism Hyperactive Syndrome. Tidak bisa diam, berbicara tidak lancar, dan sulit untuk fokus pada satu titik hingga suka menghancurkan barang-barang yang ada disekitar ku. Tidak berniat menghancurkan sebenarnya, hanya ingin tahu bagaimana kerja barang tersebut, sehingga aku “bongkar” isi dalam barang tersebut yang dimana orang dewasa normal saja sudah otomatis berfikir ini adalah hal yang merepotkan, aku tidak bisa secara natural memikirkan hal ini, pokoknya yang penting gimana cara nya aku bisa bongkar dan tahu isi dalamnya. Termasuk aku yang penasaran bagaimana respon orang disaat aku meludahi orang tersebut, sesuatu hal yang tentu sangat diluar nalar, tapi ini mengundang rasa penasaranku juga pada saat itu, huft sungguh lelah rasanya menjadi seorang ibu, apalagi kalau ibu tersebut anaknya adalah aku.

TAKDIR, AUTISME, DAN EDUKASI

Dijaman yang dimana internet belum seperti sekarang, ibuku giat dan aktif mencari informasi sana-sini terkait tumbuh kembang ku, termasuk sampai ke RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dan bertemu dengan Dr. Melly Budiman yang saat itu adalah Ketua Umum Yayasan Autisme Indonesia. Beliau menilai dan menyarankan ibu ku untuk cari kesukaan ku yang terbaik dan bernilai manfaat, lalu dukung penuh aku disana. Karena ibuku melihat diriku selalu tenang apabila melihat saluran acara TV Berita dan Talkshow seperti Seputar Indonesia RCTI (saat itu News Anchor nya Tulang Putra Nababan, saat ini beliau Anggota Komisi VII DPR RI) Om Farhan ANTV (seperti nama acara nya, Host saat itu adalah Om Muhammad Farhan yang sekarang mengemban amanah menjadi Walikota Bandung), Jejak Petualang TV7 sebelum TV tersebut berganti nama menjadi Trans7 hingga saat ini, (Adventure Host nya saat itu adalah Kak Medina Kamil yang sempat hilang berhari-hari di Perairan Asmat hingga jadi berita nasional pada saat itu), dan acara-acara investigasi budaya hingga kriminal, seperti Wisata Kuliner Trans TV Mendiang Pak Bondan Winarno hingga Bang Napi “Waspadalah! Waspadalah!” RCTI. Dari tontonan ini semua jadi salah satu klik jalan takdir yang membuat aku bisa sampai di hari ini.

Dari ini semua, akhirnya ibuku membelikan Buku Pintar Seri Senior (semacam Buku Ensiklopedia) yang tema besar nya saat itu terkait Era Baru Indonesia setelah Pelantikan Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla tahun 2004. Inilah yang jadi titik temu metode ibuku dalam mengarahkan anak laki-laki tertua satu-satunya dari 3 bersaudara (yang dimana adik-adikku semua nya adalah perempuan), untuk diarahkan betul ke arah sosial budaya. Walaupun belum sepenuhnya jelas fokus detil nya akan kearah yang mana, tapi yang terpenting saat itu bagi ibuku adalah, fokus besar nya sudah ketemu untuk diriku, dan akupun alhamdulillah sangat menyukainya hingga saat ini.

KELUARGA KU

Ohh yaa, aku belum bercerita soal keluarga ku, Bapak dan Ibu ku adalah seniman, walau saat ini posisi nya adalah mantan seniman, tapi memang beliau besar dan lama berkecimpung di dunia tersebut. Ibu ku adalah Penyanyi sekaligus model, Putri Indonesia Maartha Tilaar Perwakilan Provinsi Riau tahun 1995, Bapakku adalah Musisi, Eks Gitaris Powerslaves, Boomerang dan Mahadewa. Aku dan ketiga adik-adikku tumbuh dengan lingkungan seni hingga kami sekeluarga sama-sama memutuskan untuk hijrah ke dunia seni kuliner tahun 2016. Termasuk saat kami sekeluarga hijrah domisili dari Tangerang Selatan, Banten, menuju ke Mataram, Nusa Tenggara Barat pun juga adalah bagian dari fokus hijrah bersama ini. Sehingga, dibilang keluarga berada, tidak juga. Dibilang keluarga tidak mampu, tidak juga.

TK,SD,MTs, DAN SMA

Selama perjalanan kisah yang sangat penuh perasaan campur aduk ini, alhamdulillah diriku menjalani apa yang seperti dijalani anak-anak pada umumnya, kadang aku buat kesalahan, kadang aku cetak prestasi, kadang aku tidak tahu apa-apa tapi bicara lebih, kadang aku punya kompetensi untuk bicara lebih namun aku memilih mengalah untuk diam. Termasuk kisah ku yang bisa sampai jadi Wakil Ketua OSIS di SMA. Semakin dilengkapi dengan romansa taik kucing yang dimana aku tumbuh dimasa “Yang bandel lebih diterima, yang baik dianggap gak asik. Giliran disakitin, semua cowok sama aja!”. Atas seizin Allah aku lalui ini semua dengan berbagai macam catatan pembelajaran penting untuk masa depan, setidaknya untuk hari ini. Tentu peran para Orang Tua ku di sekolah tidak bisa aku hapuskan dari perjuangan ku dimasa ini. Di masa TK Kusuma Jaya aku melewati masa berhasil dan gagal aktif yang kelewat gila dan tidak bisa diam. Di SDI Amalina aku berhasil dan gagal menempatkan diri ku pada segala pelajaran-pelajaran yang berbau IPS, dimasa MTs Annajah aku melewati berhasil dan gagal dalam menjaga Ibadah dan Integritas, dimasa SMA Ketika lulus SMA aku menemui jatidiri ku yang sesungguhnya, BAHWA AKU TIDAK BISA DIAM BELAJAR DAN BERGERAK HANYA DI SATU TEMPAT SAJA!

SELAMAT DATANG DI BANGKU KULIAH

Inilah inti dari tulisan ini, Karena minat ku yang sangat tinggi pada Ilmu Sejarah, sebenarnya target ku adalah Prodi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu dan Budaya, Universitas Gadjah Mada, namun secara strategis ini kurang realistis untuk ku pilih. Namun karena aku memang saat itu sangat ingin bisa belajar dan hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta, akhirnya Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta lah yang akupilih di SNMPTN 2017. Ternyata, takdir tidak membawaku ke UNY dan ke Jogja via jalur undangan, sehingga di jalur tes SBMPTN 2017 aku berstrategi untuk memilih jurusan yang bukan jurusan utama ku, tapi tetap jadi salah satu minat ku dan minim pesaing, ku pilih lah Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (ini sejalan dengan masa kecil ku ceritakan diatas, dimana aku suka menyimak acara TV tentang Investigasi). Namun takdir juga hanya mengantarku sekedar lewat Depok saja, tidak jadi anak Depok sepenuhnya, sehingga aku putuskan untuk meninggalkan jalur mandiri dan memilih Kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Budi Luhur Jakarta Selatan, yang akhirnya membawaku untuk “melalang buana” termasuk bisa berkawan dekat dengan kawan-kawan sesama mahasiswa saat itu yang berasal dari berbagai macam kampus, tak terkecuali kampus-kampus yang aku gagal masuk kedalamnya. Masa ini juga membawaku ke level “Politis” tertinggi sepanjang hidupku hingga saat ini, namaku masuk ke bursa Bakal Calon Presiden Mahasiswa Universitas Budi Luhur 2020, memang ditahun sebelumnya aku aktif sebagai Wakil Kepala Himpunan Mahasiswa Kriminologi Universitas Budi Luhur, dan berbagai macam aktivitas lain di dalam maupun luar kampus, termasuk urusan yang terkait Sepakbola dan Futsal, mulai dari Pemain, Pelatih, Wasit, Panitia, Penjual di Bazar, Media, Penonton, dan hanya menjadi donatur saja yang aku belum merasakannya, karena memang belum banyak punya rezeki. Hingga akhirnya aku lulus di masa Pandemi dengan Skripsi STRATEGI PENCEGAHAN KEJAHATAN PUNGUTAN LIAR DI LINGKUNGAN PASAR TRADISIONAL SE-KOTA TANGERANG SELATAN DENGAN PENDEKATAN KEMASYARAKATAN.

CITA-CITA HIDUP DI LUAR PULAU JAWA YANG TERWUJUD

Sejak kelas 3 SMA aku punya cita-cita ini, karena aku merasa Indonesia harus dikenali lebih dalam dan lebih luas. Termasuk disaat SMA pula sekolah ku memang menaruh Peta Indonesia di setiap kelas, disitulah hasrat ku untuk melihat gambaran cakrawala Indonesia secara semakin bertumbuh. Tetapi, yang aku targetkan saat itu adalah Pekanbaru, Riau yang dimana adalah kampung halaman ibu ku dan aku sudah mengenalnya sejak usia 5 bulan. Aku tidak membayangkan untuk bisa hidup di Provinsi tempat Marc Marquez bertarung balap di arena MotoGP Mandalika ini, apalagi sampai kuliah Magister disini. Sejak kuliah S1 semester 6, memang aku sudah tertarik dan menemukan kunci kenapa aku harus lanjut kuliah S2, ada banyak segudang pertanyaan yang jawabannya hanya bisa aku kembangkan kalau aku kuliah S2. Tapi begitu pertamakali aku dan orang tua ku menginjakkan kaki di Pulau Lombok, tentu aku tidak langsung berkuliah disini, karena memang tujuan awalnya adalah berniaga dan serius di bidang seni kuliner, kami membawa entitas kuliner GULTIK BLOK M ke Provinsi ini yang saat itu ternyata belum ada. (ada banyak faktor soal perpindahan ini yang insya Allah dikesempatan lain nanti akan ku ceritakan).

Sejak TK hingga kuliah S1 aku belum pernah berpendidikan di institusi milik negara, semuanya adalah milik swasta. Tentu tidak ada kalah-menang soal negeri atau swasta, karena semua akan kembali ke pribadi kita masing-masing. Tapi untuk melengkapi hidup rasanya ingin juga punya pengalaman belajar secara langsung di intitusi milik negara, sehingga ketika aku ingin melangkahkan kaki ku ke jenjang yang lebih tinggi lagi, sebenarnya aku hendak mencoba Beasiswa yang bisa membawaku keluar dari Indonesia untuk sejenak, namun jalan takdir belum membawaku kesana dan memang keadaannya masih sulit untuk ku yang memang harus membagi waktu antara jualan, berdagang, bikin konten dan berpetualang. Akhirnya jalan membawaku untuk berkuliah di Universitas Mataram sebagai mahasiswa Magister. Namun sebenarnya kisah awalnya bukanlah Unram, justru adalah Universitas Islam Negeri Mataram. Karena di Unram tidak ada Magister Ilmi Komunikasi (yang sebenarnya adalah tujuan awal ku, karena aku sudah terlalu banyak hadir di publik, aku merasa harus semakin “gila” belajar Komunikasi), ternyata UIn Mataram lah yang mempunyai Jurusan Komunikasi. Tapi ternyata ada satu persyaratan yang ini jadi hikmah aku bisa kuliah di Kampus tertua di Nusa Tenggara Barat ini (UNRAM), salah satu syarat masuk ke Pascasarjana UIn Mataram adalah sertifikasi TOEFL.

Pusat Bahasa Universitas Mataram memang menyajikan paket lengkap sertifikasi ini, sehingga aku pergi kesana, ternyata itulah justru membuat aku bertemu dengan Prodi Magister Perencanaan Kepariwisataan yang pada awalnya aku mengira hanya yang berasal dari S1 atau D4 Pariwisata lah yang bisa lanjut ke Prodi tersebut, ternyata karena aku berasal dari Prodi jenis Sosial Humaniora lah yang buat aku eligible untuk masuk ke prodi tersebut yang artinya aku diterima secara persyaratan untuk masuk ke Universitas Legendaris nya NTB ini. Tes masuk pun aku lalui bersama-sama dengan hampir seribuan orang yang disitu banyak diantara nya ASN, Pengusaha dan berbagai macam orang yang “tidak sepele”. Alhamdulillah aku diterima

TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN ADALAH KLISE YANG NYATA

Alhamdulillah, aku mengucapkan berbagai rasa syukur dan terimakasih kepada Allah, Orangtua ku, dan berbagai macam pihak. Sekali lagi terimakasih juga sudah membaca, niatku murni hanya ingin berbagi, aku paham ini “kompetisi”, dan tentu ingin juga meraih juara nya, namun aku rasa, semua yang ikut dalam kompetisi ini, sudah jadi juara nya di kehidupan masing-masing. Terimakasih banyak, aku Malvine, ini ceritaku hidup menuju kuliah ku, kalau ceritamu bagaimana?

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *