Di Antara Mimpi dan Angka
Ada masa ketika aku berpikir bahwa mimpi adalah hak istimewa milik mereka yang tidak perlu menghitung pengeluaran sebelum tidur. Tapi untuk saat ini, aku memberi izin pada diriku sendiri untuk bermimpi.
Di sekelilingku, banyak teman yang bisa memilih jurusan berdasarkan passion, membicarakan universitas impian dengan santai, bahkan menganggap kuliah sebagai sesuatu yang pasti terjadi. Sementara aku tumbuh dengan pertanyaan yang berbeda.
"Bisa tidak ya ibuku membiayainya?"
Sejak ayah meninggal beberapa tahun lalu, ibuku menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Penghasilannya tidak tetap. Hari ini ada pemasukan, besok belum tentu ada. Tidak ada gaji bulanan,tidak ada penghasilan tetap, hanya ada harapan bahwa hari ini ada yang membeli dagangan ibu sehingga besok kami masih bisa melanjutkan hidup seperti biasa. Di rumah, pembicaraan tentang kuliah tidak pernah dimulai dengan nama universitas, melainkan dengan biaya hidup, uang kos, dan apakah kami sanggup bertahan sampai semester berikutnya.
Aku iri.
Aku iri kepada orang-orang yang hanya perlu memikirkan cita-cita tanpa harus memikirkan kondisi ekonomi keluarga.
Tetapi semakin aku bertambah dewasa, aku mulai menyadari bahwa hidup bukanlah perlombaan yang dimulai dari garis yang sama.
Ada yang berlari di lintasan datar.
Ada yang harus berlari sambil membawa beban di punggungnya.
Dan tidak apa-apa jika langkahku lebih lambat selama aku tidak berhenti berjalan.
Berulang kali aku mengganti pilihan, mencari jalan yang paling mungkin untuk kuliah tanpa memberatkan keluarga. Aku belajar tentang daya tampung, tingkat keketatan, peluang kerja, biaya hidup, hingga berbagai jalur bantuan pendidikan.
Aku menghabiskan banyak malam dengan rasa takut.
Takut salah jurusan.
Takut menjadi beban bagi ibuku.
Takut membuat pengorbanan beliau sia-sia.
Namun di tengah semua ketakutan itu, ibuku mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku lupakan.
"Selama kamu sungguh-sungguh ingin sekolah dan belajar dengan baik, Ibu juga akan selalu yakin." Kalimat sederhana itu menjadi tempatku pulang ketika pikiranku terlalu berisik.
Aku akhirnya memahami bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap melangkah meskipun takut.
Hari demi hari berlalu, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk mempercayai pilihanku sendiri. Aku belajar bahwa mendengarkan banyak saran memang penting, tetapi ada saatnya seseorang harus berani bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Hingga akhirnya hari yang kutunggu pun tiba.
Namaku dinyatakan diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP.
Saat itu aku menangis.
Bukan hanya karena bahagia, tetapi juga karena untuk pertama kalinya aku merasa perjuanganku selama ini tidak sia-sia.
Aku merasa satu pintu menuju masa depan akhirnya berhasil kubuka.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Setelah pengumuman SNBP, aku mengetahui bahwa aku tidak lolos menerima KIP Kuliah.
Perasaanku campur aduk.
Di satu sisi aku sangat bersyukur karena berhasil diterima di perguruan tinggi negeri.
Namun di sisi lain, lagi-lagi aku kembali dihadapkan pada pernyataan yang selama ini selalu menghantuiku, biaya.
KIP Kuliah bagiku bukan sekadar bantuan pendidikan.
KIP Kuliah adalah harapan agar ibuku tidak harus memikul semuanya sendirian.
KIP Kuliah adalah harapan agar aku bisa menuntut ilmu tanpa terus-menerus dihantui rasa bersalah setiap kali memikirkan biaya yang harus dikeluarkan keluarga.
Aku sempat kecewa.
Aku sempat bertanya-tanya apakah aku masih boleh bermimpi sebesar ini.
Namun kemudian aku menyadari sesuatu.
Aku memang kehilangan kesempatan mendapatkan bantuan yang kuharapkan, tetapi aku tidak kehilangan alasan untuk terus berjuang.
Aku masih memiliki seorang ibu yang tidak pernah berhenti percaya kepadaku.
Aku masih memiliki doa-doa yang setiap hari dipanjatkan untuk masa depanku.
Dan aku masih memiliki Tuhan yang selama ini selalu membuka jalan, bahkan ketika aku tidak bisa melihatnya.
Mungkin aku tidak memulai hidup dari garis yang sama dengan banyak orang.
Mungkin jalanku akan sedikit lebih panjang dan sedikit lebih berat.
Tetapi aku percaya, perjuangan tidak pernah mengkhianati seseorang yang terus berjalan.
Hari ini aku melangkah menuju masa depan dengan membawa harapan, doa, dan keyakinan, walau hanya anak seorang pedagang kering kentang aku tak akan pernah berhenti berjuang.
Karena aku tahu, selama masih ada ibuku di sisiku dan selama masih ada Allah yang menjagaku, dunia akan baik-baik saja.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar percaya akan hal itu.
Penulis : Kamila Avisa Azarine
