Langit, Bolehkah Aku Bermimpi?

Oleh: Lia Karima

Hai, aku Rima. Tahun 2026 menjadi salah satu tahun yang akan selalu kuingat. Setelah perjalanan yang penuh keraguan, air mata, dan doa, aku akhirnya diterima di program studi Hukum Universitas Tidar melalui jalur SNBT sekaligus menjadi penerima Beasiswa KIP Kuliah. Namun, jalan menuju titik itu tidak pernah mudah.

Semuanya bermula ketika aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu aku melihat salah satu saudaraku berhasil diterima di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman. Sejak hari itu, aku mulai penasaran dengan dunia perkuliahan. Aku mencari berbagai informasi melalui internet tentang jalur masuk perguruan tinggi, persyaratan, hingga hal-hal yang perlu dipersiapkan sejak dini. Dari sanalah mimpiku perlahan tumbuh. Aku ingin menjadi mahasiswa Hukum.

Memasuki jenjang SMA, semangatku semakin besar. Aku berhasil diterima di salah satu SMA favorit di Kota Pekalongan dan berusaha memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Aku menjaga nilai akademik, aktif mengikuti organisasi, kepanitiaan, perlombaan, hingga berbagai kegiatan sosial. Bagiku, setiap pengalaman adalah bekal untuk membuka peluang mendapatkan beasiswa dan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Namun, di balik semua usaha itu, ada kenyataan yang tidak bisa kuabaikan.

Suatu malam, ketika aku sedang menyelesaikan persiapan sebuah kegiatan kolaborasi bersama UNICEF, ayah berkata dengan nada yang tenang.

"Kamu yakin ingin kuliah? Biayanya sangat mahal. Jangankan di luar kota, di sini saja ayah belum tentu sanggup. Sekalipun dapat beasiswa, tetap ada biaya hidup yang harus dipikirkan."

Kalimat itu membuatku terdiam. Sejak malam itu, rasa percaya diriku perlahan memudar. Mimpi yang sudah kujaga sejak SMP tiba-tiba terasa sangat jauh untuk kugapai. Aku mulai mempertanyakan apakah semua prestasi yang sudah kuusahakan benar-benar cukup untuk mengantarkanku ke bangku kuliah atau tidak. Untuk pertama kalinya, mimpiku terasa begitu jauh.

Saat itu, aku benar-benar merasa bahwa kuliah di PTN mungkin bukan tempat untuk anak dari keluarga sederhana seperti aku. Aku mencoba menerima keadaan dan berkata pada diriku sendiri bahwa mungkin ada jalan lain yang telah Tuhan siapkan. Meski begitu, jauh di dalam hati, aku belum benar-benar mampu melepaskan cita-cita itu.

Beberapa bulan kemudian, sekolah mengumumkan daftar siswa yang lolos sebagai peserta eligible SNBP. Teman-temanku berlarian menuju mading sekolah, sementara aku memilih tetap duduk di kelas sambil menundukkan kepala di atas meja. Aku tidak berani melihat daftar nama siswa yang dinyatakan eligible.

Tiba-tiba, salah seorang temanku berlari menyusuri koridor sambil memanggil namaku. Dengan napas yang masih terengah, ia berkata bahwa namaku ada di daftar eligible. Aku langsung mengangkat kepala. Satu kelas memberikan tepuk tangan dan ucapan selamat. Di tengah kebahagiaan mereka, aku justru terpaku. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Entah ini keajaiban atau justru awal dari kekecewaan yang semakin dalam.

Sepulang sekolah, aku berniat menemui wali kelas untuk mengundurkan diri dari jalur SNBP. Menurutku, menjadi eligible tidak akan berarti jika pada akhirnya aku tetap tidak mampu membiayai kuliah. Namun, beliau justru meminta agar aku tidak menyerah. Beliau menyarankan agar aku berkonsultasi dengan guru BK. Di ruang BK, aku menceritakan semua kegelisahanku. Untuk pertama kalinya, aku mendengar tentang Beasiswa KIP Kuliah. Guru BK meyakinkanku bahwa keterbatasan ekonomi bukan berarti aku harus menghentikan mimpiku.

Malam harinya, aku kembali berbicara dengan kedua orang tuaku. Setelah berdiskusi cukup panjang, mereka akhirnya mengizinkanku mengikuti SNBP sekaligus mendaftar KIP Kuliah. Bagiku, itu adalah kesempatan yang mungkin hanya datang sekali. Sayangnya, takdir berkata lain. Pada saat hari pengumuman SNBP tiba, layar ponselku menampilkan warna merah. Aku dinyatakan tidak lolos. Apakah ini akhir dari semuanya?

Aku kembali menemui guru BK. Beliau menyarankan agar aku mengikuti SNBT. Saat itu waktu yang tersisa hanya sekitar dua minggu. Di luar sana, ribuan peserta sudah belajar selama berbulan-bulan. Sementara aku bahkan tidak memiliki biaya untuk mengikuti bimbingan belajar atau membeli buku latihan.

Akhirnya aku mengambil keputusan yang mungkin terdengar nekat. Aku menggunakan sisa uang Lebaran yang kusimpan untuk membayar biaya UTBK. Awalnya ayah masih ragu dan memilih untuk acuh, tetapi ibu terus meyakinkanku agar mencoba. Berbekal sisa uang Lebaran itu, aku resmi mendaftar.

Dua minggu terakhir sebelum ujian menjadi masa belajar paling melelahkan sekaligus paling berharga. Aku mencari latihan soal gratis melalui media sosial, mengikuti berbagai try out gratis di internet, dan belajar semampuku setiap hari.

Ketika hari ujian tiba, aku berangkat sendiri ke Semarang. Sebagian biaya perjalanan berasal dari tabungan ibu. Tepat sebelum keberangkatanku, ayah menghampiri dan memberikan sebagian uang simpanannya. Restu sederhana itu menjadi penyemangat yang sangat berarti.

Setelah ujian selesai, aku hanya bisa menunggu. Aku sadar bahwa kesempatan itu adalah kesempatan terakhirku. Jika gagal, aku sudah bertekad membantu orang tua mencari penghasilan sebelum mencoba kembali di kesempatan berikutnya.

Hingga akhirnya hari yang kutunggu datang. Dengan tangan gemetar, aku membuka laman pengumuman SNBT. Beberapa detik kemudian, air mataku jatuh. Aku resmi diterima sebagai mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Tidar. Tidak lama setelah itu, kabar baik kembali datang. Aku dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa KIP Kuliah.

Saat itulah aku benar-benar percaya bahwa mimpi tidak selalu kalah oleh keterbatasan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk tetap melangkah meski jalan di depan belum terlihat jelas. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa perjuangan bukan tentang siapa yang memiliki fasilitas paling lengkap, melainkan tentang siapa yang memilih bertahan ketika keadaan memintanya menyerah. Hari ini aku memang berhasil menjadi mahasiswa PTN. Hari itu aku sadar, usaha memang tidak selalu langsung membuahkan hasil. Namun, selama kita tidak berhenti mencoba, selalu ada kemungkinan bahwa jalan yang selama ini kita cari akhirnya akan terbuka. Tahun 2026 menjadi bukti bahwa mimpi yang sempat hampir kulepaskan ternyata masih menemukan jalannya untuk pulang kepadaku.

Karena pada akhirnya, langit tidak pernah melarang siapa pun untuk bermimpi.

Tinggalkan Komentar