Penantian telah Usai

Oleh: Khiyar Azhari

Hai… Aku Khiyar. Aku adalah seorang anak perempuan yang terlahir dari keluarga sederhana. Anak perempuan yang senang sekali bermain, membaca buku, berpetualang, dan selalu ingin tahu hal baru. Ayahku sudah meninggal ketika aku menginjak di umur 7 tahun. Saat ini, aku menjalani hidup sebagai mahasiswa semester 6 di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Kota Tasikmalaya. Perjalananku untuk masuk PTN ini tidak mudah, banyak hal yang harus aku lalui seorang diri.

Aku memiliki seorang kakak laki-laki yang umurnya hanya selisih 2 tahun denganku, aku panggil dia dengan sebutan aang. Kita berada di Sekolah Mengenah Atas (SMA) yang sama, yang dekat dengan rumah. Di rumah, kita hanya tinggal berdua karena mama harus bekerja di luar kota untuk mencari nafkah.

Kala itu, ketika aku duduk di kelas 10 SMA, aku sudah mulai memikirkan di mana nanti aku akan kuliah. Dan aku memutuskan harus kuliah di PTN. Oleh karena itu, aku mencoba untuk menjadi siswa yang berprestasi di sekolah agar perjalananku masuk PTN itu lebih mudah.

Pada semester 1, aku mendapatkan peringkat kedua di kelas, yups runner up. Lalu, pada awal semester 2, diadakannya seleksi olimpiade siswa nasional tingkat sekolah. Awalnya aku mengikuti seleksi di bidang matematika, namun tidak lulus. Tuhan punya rencana lain, alhamdulillah aku lolos seleksi tingkat sekolah di bidang kebumian. Lucunya, ketika aku sudah masuk di bidang kebumian, tiba-tiba aku dipanggil oleh guru informatika untuk masuk olimpiade bidang informatika. Akan tetapi, aku menolaknya sebab bidang kebumian dahulu yang sudah aku pilih. Finally, aku menekuni di bidang kebumian.

Setelah tahap seleksi tingkat sekolah selesai dilaksanakan, tibalah jadwal pembinaan. Damnn, siapa sangka guru pembimbingku adalah guru biologi. Lucu ya?! Kebumian yang biasanya berhubungan dengan geografi malah dibimbing sama guru biologi. Sehingga, di sela-sela kesibukan organisasi dan ekstrakurikulerku, aku selalu menyempatkan belajar kebumian secara mandiri. Ku baca semua buku kebumian yang aku pinjam dari perpustakaan dan tidak lupa mengerjakan latihan soal olimpiade kebumian tahun sebelumnya.

Beberapa minggu kemudian, tibalah hari di mana tahap seleksi tingkat kota/kabupaten dilaksanakan. Sebelum tes di mulai, siswa dari sekolah lain terlihat sedang belajar dengan buku tebalnya. Aku sedikit mental breakdown tapi karena aku orangnya tidak mudah menyerah, aku tetap percaya diri. Apapun hasilnya, pasti Tuhan sudah memberiku yang terbaik.

Tes dimulai selama 150 menit. Lalu, aku tunggu hari esok untuk melihat hasil pengumumannya. Dan bersyukur aku lolos pada tahap seleksi tingkat kota/kabupaten, yang kemudian aku melaju ke tahap seleksi tingkat provinsi. Qadarullah, di tingkat provinsi ini aku tidak lolos. Tidak apa-apa, setidaknya aku sudah melakukan yang terbaik dan juga yang terpenting mendapat pengalaman ini sekali seumur hidupku.

Pada tahun berikutnya, aku naik ke kelas 11 serta aang kuliah di kampus swasta yang berada di luar kota. Di tahun yang sama juga aku mengulangi pengalaman yang sama seperti pada saat aku kelas 10. Aku mengikuti olimpiade bidang kebumian hanya sampai tingkat provinsi. Di sisi lain, aku mengikuti lomba penelitian dan tidak lolos menjadi finalis. Sekali lagi it’s okay lah. Dari beberapa lomba yang telah aku ikuti, bersyukur aku mendapatkan sertifikat untuk bekal masuk PTN.

Karena aang kuliah di luar kota, sehingga aku tinggal seorang diri di rumah. Pada saat aku di rumah sendiri, banyak sekali pengalaman hidup yang dapat aku pelajari. Aku selalu menyisihkan uang bulananku untuk ditabung, sebab aku ingin sekali memiliki laptop. Seringkali aku menerima bansos karena aku tergolong keluarga kurang mampu. Aku berangkat dari rumah menggunakan sepeda andalanku, kemudian sesampainya di tempat aku bergabung dengan para orang tua lainnya penerima bansos. Ternyata banyak sekali keluarga tidak mampu di daerahku. Aku juga yang mengurus kepentingan rumah, sehingga aku sedikit mengetahui mengenai bayar pajak, membuat kartu tani, dll. Mama juga alhamdulillah mendapat rezeki, ia membelikanku sepeda motor kredit agar aku tidak lagi lelah mengayuh sepeda untuk pergi ke sekolah.

Tibalah aku di kelas 12. Saat itu, COVID-19 masih melanda di negeri tercinta ini. Ditetapkannya new normal, sehingga ada pembatasan jumlah murid ke sekolah. Lalu, beberapa minggu kemudian kegiatan sekolah sudah dilaksanakan seperti biasa yang membuatku sangat senang karena aku dapat menikmati masa SMA ku dengan ceria. Selain aku belajar untuk sekolah, aku juga belajar untuk masuk kedinasan STIS (rencana kedua ku apabila tidak lolos PTN). Serta di tahun ketiga aku sekolah ini, bersyukur uang tabungan dari kelas 10 yang sudah aku kumpulkan cukup untuk membeli laptop. Akan tetapi, lagi-lagi hidup tidak sesuai dengan rencana.

Setelah aku lulus dari SMA, aku mengikuti SNMPTN 2022 dengan tujuan kampus impianku Universitas Siliwangi. Waktu itu, aku tidak memiliki tujuan jurusan tertentu. Namun, ada salah satu guru yang memberikanku saran agar memilih jurusan informatika. Dan aku memilih jurusan informatika Universitas Siliwangi menjadi pilihan pertamaku. Qadarullah, aku tidak lolos. Sertifikat yang selama SMA aku dapat, ternyata tidak dapat membuatku lolos PTN. Karena aku tidak lolos jalur SNMPTN, lalu aku berencana mengikuti jalur SBMPTN 2022 dengan tujuan kampus yang sama namun berbeda jurusan. Aku memilih jurusan Pendidikan Fisika karena aku melihat peluang kerja yang besar pada jurusan tersebut. Banyak sekolah yang kekurangan guru fisika, serta otakku juga mungkin mendukung di jurusan ini.

Tidak lupa aku belajar untuk masuk kedinasan STIS. Berhari-hari aku jalani dengan belajar dan olahraga, hingga aku lupa dengan asupan tubuhku. Aku tidak memperdulikan kesehatanku, aku hanya makan apabila aku merasa lapar. Aku masih ingat sekali. Setelah aku makan rendang yang sangat pedas pada saat lebaran di rumah nenekku. Semenjak itu, aku jatuh sakit berminggu-minggu hampir satu bulan. Mungkin karena sebelumnya aku jarang makan dan tiba-tiba makan sembarangan, sehingga tubuhku tidak kuat menahannya. Setiap malam aku demam dan aku merawat tubuhku seorang diri karena mama tidak bisa pulang harus bekerja dan aang sedang kuliah.

Pada saat detik-detik hari menjelang tes UTBK, aang pulang untuk menjemputku mengikuti tes. Karena kebetulan tempat tes ku berdekatan dengan kos aang. Namun, sebelum berangkat tes aang mengantarku ke puskesmas terlebih dahulu untuk mengecek kesehatanku. Tak disangka-sangka hasil laboratorium menunjukkan bahwa trombosit dan leukositku jauh di bawah batas normal. Dokter menyarankanku untuk melakukan rawat inap. Saat itu aku langsung menolaknya, karena 2 hari lagi aku akan mengikuti tes UTBK. Sehingga dokter pun hanya memberikanku obat dan aku pun pulang dengan badan yang sangat amat lemas.

Sepulang dari puskesmas, aang mengabari kondisi kesehatanku ke mama. Lalu, di esok harinya mama pulang ke rumah. Kesehatanku semakin memburuk dan aku di antar ke IGD puskesmas untuk di cek laboratorium kembali. Dan hasil kesehatanku semakin memburuk. Dari puskesmas aku dilarikan ke RSUD dan di sana aku menjalani rawat inap.

Aku menjalani rawat inap selama seminggu, sehingga aku tidak mengikuti tes apapun. Aku hanya terbaring lemas di keranjang. Ketika aku di rawat, ternyata bertepatan dengan hari ulang tahunku. Aku merayakan ulang tahunku di rumah sakit bersama mama dan aang. Aku merasa senang, bahagia, sedih, bercampur menjadi satu karena aku tidak pernah dirayakan ulang tahunku sebelumnya. Setelah aku pulang dari rumah sakit, aku istirahat total dirumah dan menjalani rawat jalan.

Hari demi hari berlalu, aku didampingi oleh aang dalam masa pemulihan dan bersyukur kesehatanku semakin membaik. Karena aku merasa sudah cukup mampu untuk belajar, sehingga aku berusaha belajar sedikit demi sedikit untuk masuk ke PTN. Hari-hari ku sangat membosankan hanya diisi dengan belajar di kontrakan dekat dengan pemukiman warga kota yang sangat berisik. Karena merasa iba dengan keadaanku, mama menyuruhku untuk ikut les bahasa inggris. Disana aku berjumpa dengan teman dari berbagai kalangan. Kemudian, tiba-tiba ada salah satu teman sekelas di tempat les yang menyukaiku. Semenjak itu hariku sudah tidak membosankan lagi. Hampir setiap hari kita bermain bersama. Ku diajaknya naik sepeda hingga ke atas rooftop mall dan berbagai hal seru lainnya kita lakukan bersama.

Beberapa bulan kemudian, dibukalah pendaftaran PTN melalui jalur SNBT 2023. Aku mendaftar dengan tujuan PTN impianku Universitas Siliwangi dan jurusan yang sama yaitu Pendidikan Fisika. Apa kabar dengan lelaki yang telah mengisi kekosongan hari ku? Ia memilih kuliah di salah satu PTN daerah Jawa Timur. Semenjak tau dia memilih kuliah di sana, hubungan kita semakin merenggang. Ada beberapa kejadian pula yang membuat hubungan kita putus.

Hari pengumuman kelulusan pun tiba, tapi aku masih asik dengan gadget ku. Aang sangat excited agar aku cepat-cepat membuka hasil kelulusan. Aku masih saja bermain games MLBB di gadgetku, sehingga aang yang tidak sabar mengetahui hasil kelulusanku dia membukanya sendiri melalui gawainya. Dan boom, aang tersenyum lebar.

“Dee… de…”, aang memanggilku yang masih asik bermain games.

“Dee… liatt, lulus dee… alhamdulillah”, aang memberitahuku bahwa aku lulus.

Aku tersenyum bahagia, aku sangat ingin melihatnya tapi aku harus menyelesaikan terlebih dahulu match games ini.

Match gamesku selesai. Ku buka hasil pengumuman itu dan benar saja aku lulus SNBT 2023 jurusan Pendidikan Fisika, Universitas Siliwangi. Penantianku selama setahun lebih agar bisa kuliah di PTN impian akhirnya terkabul. Meskipun sempat merasa putus asa, aku tetap bangkit dan berusaha meyakinkan diri bahwa masih ada hari esok untuk aku menggapai mimpi.

Tidak lupa ku ucapkan beribu-ribu terima kasih kepada mama dan aang yang selalu mendukung setiap langkahku. Aku bisa bangkit karena kalian yang selalu menyokongku agar tetap terus semangat. Mungkin di luar sana banyak yang mengira bahwa aku hanya anak biasa yang senang bercanda gurau dengan teman, namun dibalik tertawaku ada kesedihan yang sangat amat mendalam aku pendam. Ku ekspresikan keadaan hidupku dengan senyum lebar, tertawa lepas, dan terkadang hanya dengan gigi meringis. Hihi… Thank you all!!!

1 Komentar

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *