Bukan Seorang Mahasiswa
Aku adalah seorang MahaSantri. Dimana bukan hanya kewajiban sebagai seorang Mahasiswa yang dijalankan, tetapi juga diberi amanah yang besar sebagai seorang Santri. Aku berasal dari universitas dengan basis pesantren, yang berada di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di universitas lainnya, yang tinggal di kos, rumah, atau mungkin juga asrama. Namun, kami disini tidak hanya tinggal di dalam asrama, tapi seluruh kehidupan kami juga berjalan di dalamnya. Asrama bagi kami bukan hanya sebatas tempat singgah, tapi itu adalah rumah kedua kami.
Jika membicarakan perjuangan, perjuangan kami dimulai bukan ketika pintu pendaftaran dibuka. Perjuangan kami dimulai jauh sebelum pintu tersebut terbuka. Kami dibesarkan di sebuah pondok pesantren, yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Ketidaktahuan kami tentang kerasnya kehidupan, membuat pelajaran yang diajarkan kepada kami terasa begitu berarti dan tidak dapat dibayar dengan apa pun. Dengan segala keterbatasan yang ada, kami dibesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kurun waktu 4 sampai 6 tahun, bukanlah waktu yang singkat, dan bukan pula waktu yang mudah bagi kami. Hingga akhirnya, tibalah waktu kami untuk menginjak bangku perkuliahan.
Setelah lulus sekolah, kami diberikan undangan untuk melanjutkan jenjang perguruan tinggi di tempat kami dibesarkan. Mungkin banyak orang yang mengatakan, “Berkuliahlah di universitas ternama dan bergengsi, agar kelak setelah kamu lulus, banyak perusahaan yang menerimamu”. Jika dipikirkan, mungkin ada benarnya perkataan tersebut. Dan jika kami mengedepankan ego kami, akan kami turuti perkataan orang-orang itu. Tapi, kembali lagi pada amanah yang telah diberikan kepada kami, kata Santri bukanlah hal yang mudah untuk dilepaskan, dan tidak mudah pula untuk membawa amanah tersebut. Dan kami tetap memilih untuk menyelesaikan amanah yang telah diberikan oleh para kyai.
Gambar 1: Universitas Darussalam Gontor. Sumber: gontor.ac.id
Universitas kami, bukan seperti universitas pada umumnya, dimana alat elektronik dibebaskan dalam penggunaannya. Kami di sini hanya berbekal laptop, tanpa adanya gadget, dengan akses internet terbatas. Namun, itu semua bukanlah hal yang menjadi penghalang untuk mematahkan cita-cita dan impian kami. Mungkin internet memang terbatas, namun kami memiliki dosen-dosen yang memberikan 24/7 waktu mereka untuk kami, tanpa merasa terbebani atau terpaksa. Membentuk kami sebagai seorang mahasantri yang pantang menyerah pada keadaan yang ada.
Ketika mahasiswa lain merasa rindu pada orang tua, jika ada rezeki lebih, bisa saja mereka langsung pulang. Berbeda dengan kami disini, dimana homesick adalah penyakit yang kami sembuhkan dalam diri kami masing-masing. Tidak ada kebebasan untuk pulang sesuai suasana hati yang ada, tetap ada regulasi yang mengikat kami, agar kami bisa bertanggung jawab. Ketika yang lain sibuk berfikir bagaimana cara agar tidak dijauhi karena jomblo. Kami disini fokus untuk mengembangkan diri, dan memantaskan diri agar dipertemukan dengan orang-orang pantas pula. Ketika yang lain sibuk dengan trend fashion yang semakin marak, kami disini hanya berpakaian sederhana yang sesuai dengan sebagaimana mestinya manusia berpakaian.
Dikelilingi oleh orang-orang yang bisa saling mengingatkan soal kewajiban adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa dapatkan. Tidak hanya mengingatkan kewajiban sebagai seorang mahasiswa kepada dosennya, tetapi juga mengingatkan kewajiban sebagai seorang manusia kepada pencipta-Nya. Dari saling menjaga kewajiban itulah yang membuat kami memiliki ozon tersendiri, yaitu ozon keberkahan. Ozon keberkahan akan menebal jika orang-orang di dalamnya mengerjakan segala kewajiban yang telah diberikan dan disertai dengan perasaan ikhlas dan percaya pada sang Pencipta. Namun, ozon keberkahan itu juga bisa menipis, bahkan hilang, yaitu saat orang-orang di dalamnya tidak lagi mengingatkan, tidak lagi peduli, bahkan tidak mengerjakan kewajiban yang telah diperintahkan. Menjaga ozon tersebut, butuh perjuangan, tidak bisa semata-mata hanya menunaikan kewajiban, tapi harus dilandasi dengan rasa percaya dan diiringi dengan rasa keikhlasan.
Ini adalah perjuangan ku, dimana perjuangan tidak dimulai ketika tanggal ditetapkan, tetapi perjuangan dimulai ketika seluruh amanah telah diberikan. Perjuangan butuh kekuatan, dan kekuatan itu tidak tumbuh dengan sendirinya, tapi harus dibentuk, dipaksa dan dibiasakan, serta diiringin dengan do’a dan keikhlasan, agar apa yang diperjuangkan tidak menjadi sia-sia, dan masih memiliki nilai dimata sang pencipta.
