Di Balik Mitos Jalur Hoki: Kisahku Memperjuangkan SNBP di Kampus Impian

Banyak orang melihat SNBP sebagai panggung keberuntungan, sebuah tiket emas yang jatuh begitu saja dari langit. Namun, mereka yang berdiri di sana tahu betul bahwa keberuntungan yang datang pada mereka hari ini adalah hasil dari keringat dan air mata mereka selama bertahun-tahun. Hai semuanya, aku Oktaviana Ersa Ramadhani. Aku akan menceritakan bagaimana perjuanganku meraih kampus impian melalui jalur yang sering orang sebut sebagai jalur hoki.

Awal Mula Sebuah Impian

Langkah perjalananku bermula ketika aku masih duduk di bangku TK. Saat itu, aku sangat menikmati masa sekolahku. Guru-guru yang sabar dan menyenangkan membuat sebuah impian terbesit di kepalaku: Aku ingin menjadi seperti mereka kelak. Itulah dimana akhirnya aku memutuskan berjuang untuk dapat mengajar anak-anak.

Sejak kecil, orang-orang mengenalku memiliki kapasitas otak di atas teman-teman seusiaku. Predikat juara kelas tidak pernah lepas dari tanganku, namun mama selalu berpesan untuk selalu rendah hati atas segala pencapaian yang aku raih. Mama selalu berkata,””

Sejak dahulu, saudara dan tetangga selalu mencibir bahwa kecerdasanku ini hanyalah sebuah kebetulan dan prestasiku akan menurun seiring bertambahnya kelas akibat beratnya persaingan di tingkat yang lebih tinggi. Namun nyatanya? Semua ucapan itu keliru. Predikat juara kelas itu masih aku dapatkan bahkan hingga saat ini, hingga aku resmi berstatus menjadi mahasiswa.

Jatuh Bangun Demi Mengejar Tiket Emas

Jika ada satu hal yang paling membekas dan terus berputar-putar di kepalaku hingga saat ini, maka itu adalah bagaimana perjuanganku untuk lolos lomba Olimpiade Sains Nasional atau OSN. Perjuangan ini menjadi tiket emas yang membawa diriku menuju gerbang SNBP.

Semua bermula ketika aku duduk di bangku SD. Saat itu, dari 45 sekolah yang menjadi sainganku, aku mendapatkan peringkat 12. Meski tidak mendapatkan peringkat 10 besar apalagi 3 teratas, hati ini tidak merasa kecil apalagi berniat untuk menyerah. Apalagi dengan sekolahku yang notabenenya adalah peringkat 42 dari 45 sekolah, mendapatkan peringkat 12 adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagiku.

Sebenarnya kala itu, aku dapat meningkatkan kapasitas otakku lagi agar lebih maksimal dalam mengerjakan. Namun, sifat pemaluku ini selalu menghalangiku. Aku lupa dengan beberapa rumus namun tidak aku tanyakan. Dan ternyata, itulah soal yang paling banyak keluar di lomba. Dari situ aku belajar satu hal: memelihara rasa malu dapat menjemput kegagalan.

Kemudian pada saat SMP, aku juga mengikuti lomba yang sama sesuai dengan jenjangnya. Kali ini, aku bertekad untuk tidak mengulangi kesalahanku yang lalu. Niat dan semangat kembali membara dalam diriku. Seluruh buku yang berkaitan juga aku kumpulkan agar persiapan lebih matang. Jika aku tidak bisa mengerjakan, dengan berani aku mencoba untuk menghubungi guru dan meminta penjelasannya. Namun, ketika seluruh persiapan itu telah aku susun sebaik-baiknya, badai COVID-19 melanda membuat lomba ini mundur dan harus dilaksanakan di rumah. Di tengah situasi yang serba membingungkan ini, lagi-lagi aku kembali menelan pil pahit. Aku gagal lolos ke tahap selanjutnya.

Memasuki tahun pertama SMA, titik terang kembali muncul ketika Kepala Sekolah menunjukku secara langsung untuk menjadi perwakilan dalam lomba OSN. Sekolahku yang ini berbeda dengan jenjang-jenjang sebelumnya. Mereka memberikan dukungan penuh bahkan menghadirkan fasilitas berupa mentor khusu yang sabar mengajari kami setiap saat. Oleh karena itu, keseharianku hanya diisi dengan belajar, belajar dan belajar hingga larut malam. Namun, realita kembali menamparku. Materi olimpiade yang sangat rumit dan kompleks membuat diriku kembali gagal. Yap, aku sudah gagal untuk ketiga kalinya dengan tiga jenjang sekolah yang berbeda.

Pernah rasanya diri ini berpikir, “Apa aku menyerah saja ya?” atau “Apakah semua ini akan berujung sia-sia?”. Apalagi, pikiran itu selalu berputar-putar ketika mengingat dengan jelas perkataan saudaraku pada masa persiapan Olimpiade. Dia berkata,”Hai, tahukah kamu, biasanya orang yang terlalu ambisi itu tidak akan menang.” Sakit. Sakit sekali rasanya. Padahal jelas-jelas aku sedang berjuang mati-matian agar lolos ke tingkat selanjutnya, namun orang terdekatku justru berkata demikian.

Puncak Perjuangan dan Ujung dari Penantian

Tahun ini adalah tahun keduaku di SMA. Itu artinya, ini adalah kesempatan terakhirku untuk mendapatkan tiket emas itu. Aku sudah berdamai dengan trauma kegagalan di masa lalu dan mencoba meyakinkan diri bahwa pada kesempatan terakhir ini, aku pasti akan berhasil.

Segala niat yang sempat padam kini telah terkumpul kembali. Pagi, siang, dan malam kembali aku isi untuk membedah soal dan mengulas materi tanpa henti. Aku tahu betul, sertifikat OSN tingkat provinsi adalah tiket emas menuju perguruan tinggi. Dengan segala tekat yang aku miliki, keajaiban akhirnya datang menjemputku. Ketika pengumuman telah rilis, namaku terpampang jelas pada daftar peserta yang lolos OSN menuju tingkat provinsi. Tangis haruku pun pecah. Akhirnya, perjuangan panjangku dari SD hingga SMA tidak berujung kecewa.

Dari pengalaman itu aku belajar bahwa segala sesuatu yang kita perjuangkan, pasti akan membuahkan hasil suatu hari nanti. Layaknya olimpiade yang aku perjuangkan dari SD, terus dicoba di SMP dan akhirnya membuahkan hasil di jenjang SMA.

Pengumuman Sore itu dan Pembuktian

Sertifikat yang aku dapat dari lomba OSN kemudian menjadi senjata utama untuk bertempur di jalur SNBP . Ketika pengumuman pukul 15.00 WIB sore itu, warna biru terpampang jelas dari layar ponselku tertulis namaku yang diterima di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta, jurusan yang aku impikan sejak dulu.

Tidak dapat dipungkiri rasa senang yang luar biasa menjalar hebat di dadaku. Aku benar-benar menyadari bahwa apa yang aku dapat hari ini tidak serta merta karena keberuntungan atau hoki semata. Ini adalah bayaran tunai dan pembuktian dari setiap malam-malam tanpa tidur, doa yang tidak pernah putus, dan penolakan untuk menyerah. Andai hari itu aku memilih untuk menyerah, mungkin perjalananku menuju kampus impian akan berujung beda.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *