Langkah penakut
“Masuk ke mana aja ga penting sih. Santai aja.. Aku juga ga peduli banget sebenarnya.” Kalimat itulah yang terus aku ulang, kepada teman temanku yang lebih pintar dan beruntung, kepada diriku sendiri, untuk rasa aman yang palsu.
Selama tiga tahun bersekolah di MAN, benar aku anak madrasah, aku tidak pernah benar – benar berusaha untuk apapun. Aku hanyalah anak biasa, anak yang tidak pernah memasuki top 3 di kelasnya, anak dengan sertifikat peserta, anak yang tidak ikut ekstrakulikkuler ataupun, hanya anak biasa yang tentu saja diabaikan saat SNBP. Aku yakin, kampus kampus itu bahkan tidak melirik saat aku mendaftarkan diri. Bayangkan saja, seorang anak biasa dari sekolah tak terkenal di ujung sumatera, bahkan aku tidak akan memilih diriku sendiri. Tapi tidak apa – apa. Tidak lulus SNBP juga tidak masalah. Aku juga tidak berharap banyak, warna biru itu memang mustahil untuk orang biasa yang tidak mau berjuang.
Hari itu, aku ingat dengan jelas. Sore hari pukul 3, hatiku berdebar di hadapan angka besar yang semakin berkurang. 30 menit. 17 menit. 3 menit lagi. Detak jantungku tak karuan, bukan karena rasa penasaran namun akumulasi rasa takut yang sudah ada sejak 3 bulan yang lalu. Aku tertawa dan terlihat santai dihadapan orang lain, bercanda bahwa jika tidak lulus juga tidak masalah, namun sebenarnya aku takut. Sangat takut. Kepalaku dipenuhi rasa takut dan cemas hingga membuatku mual.
Pada akhirnya, angka di layar laptop itu berhenti tepat pada 15.00. Aku buka hasil selama 3 tahun sekolahku dan benar saja, aku ditolak. Untungnya aku meyakinkan oran tuaku terlebih dahulu agar tetap berada di luar kamar. Jika tidak, maka mereka akan melihat wajah ini, yang penuh keputusasaan. Setelah beberapa menit aku beranikan diri keluar kamar, aku sampaikan kegagalanku dengan setengah bergurau. Aku tidak ingin mereka khawatir. Ini bukanlah masalah besar, masih ada SNBT, aku baik baik saja. Ya aku baik – baik saja, bukan masalah besar. Berkali kali kuulang kata kata itu dalam kepalaku, meski aku tidak percaya sedikitpun.
Aku berlagak tangguh, membuat story Whatsapp dengan layar laptop bewarna merah. Agar dunia tahu aku baik baik saja, agar aku bisa baik baik saja. Satu bulan yang aku jalani setelahnya terasa begitu lambat dan cepat. Aku belajar setiap hari. Anak yang sering belajar hanya 30 menit sebelum ujian, kini belajar di siang dan malam. Aku mengunduh berbagai aplikasi latihan UTBK, membuat catatan berbagai kosakata bahasa inggris dan indonesia, mengikuti segala Try Out UTBK yang bisa kutemukan, ikut Zoom kelas hinggan 5 kali dalam sehari, segalanya. Aku juga mulai begadang setiap malamnya, tidak lagi untuk menonton drakor tengah malam, namun untuk mengerjakan kuis soal penalaran umum. Sekarang, aku mungkin terdengar seperti seorang pekerja keras yang berjuang untuk mimpinya, namun kenyataannya aku hanya takut. Setiap kali aku mencoba beristirahat dan melakukan hal lain, aku dipenuhi rasa takut dan cemas yang mendalam. Ketika aku bersiap tidur, hasil try out sebelumnya kembali membayangi. Segalanya terasa tidak pernah cukup, mau berapa jam pun aku belajar, rasa cemas ini tidak pernah hilang. Ada hari dimana aku ingin menyerah. Menang dari orang orang yang mengikuti bimbel hingga ke kota dan belajar hingga bertahun tahun terasa mustahil, meski begitu entah mengapa keesokan harinya aku kembali duduk di meja belajar itu lagi.
Setiap hari keyakinanku untuk lolos semakin menurun. Aku tidak akan pernah menang. Tidak mungkin. Rasa ragu, cemas, takut, semuanya menghantuiku. Semakin kuat mereka datang, semakin keras aku belajar. Hanya karena aku takut, bukan menjadi alasan untuk berhenti. “Aku harus terus belajar setiap harinya, waktuku tidak banyak”. Aku mulai mengancam diri sendiri.
Dalam 30 hari itulah aku belajar untuk terus melangkah. Terus belajar sembari ragu, Ikut kelas sembari cemas, ikut tryout sembari takut. Beginilah jalanku sebagai seorang pengecut. Aku tidak punya cerita yang begitu hebat seperti sudah mulai belajar UTBK sejak masuk SMA atau berusaha mengumpulkan banyak prestasi agar lulus SNBP. Jalanku menuju PTN hanyalah jalan yang dipenuhi keraguan dan ketakutan, bukan hal yang luar biasa. Jadi untuk kalian orang – orang biasa sepertiku, pengecut yang selalu takut dan cemas, teruslah berjuang. Meski kalian tidak yakin pada diri sendiri, tetap ambil satu langkah itu. Kerjakan satu soal, hapalkan satu kosakata, lulus atau tidaknya bukan di tangan kita.
Aku rasa hal yang ingin aku katakan adalah, tanpa satu langkah penuh ragu itu, siapa pun sudah pasti kalah. Akan tetapi jika kalian mau mengambil satu langkah itu, siapa tahu, mungkin saja sepertiku, kalian juga bisa menggapai mimpi yang kalian inginkan.
