ARTIKEL

MENJEMPUT TAKDIR YANG DITENTUKAN OLEH-NYA MELALUI PERJALANAN SERIBU BATU BERMULA DARI SATU LANGKAH

KISAH PERJUANGAN MERAIH KAMPUS IMPIAN

KISAHKU, INSPIRASIKU

Disusun Oleh:

Nashwa Putri Latifah

NIM: 16102620033

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2026

Artikel

Menjemput Takdir yang Ditentukan oleh-Nya Melalui Perjalanan Seribu Batu Bermula dari Satu Langkah

Kisah Perjuangan Meraih Kampus Impian

Kisahku, Inspirasiku

Disusun Oleh:

Nashwa Putri Latifah

NIM: 16102620033

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2026

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

  1. Judul Karya : Menjemput Takdir yang Ditentukan oleh-Nya Melalui Perjalanan Seribu Batu dari Satu Langkah
  2. Nama Penulis : Nashwa Putri Latifah
  3. NIM : 16102620033
  4. Asal Instansi : Universitas Muhammadiyah Semarang
  5. No. HP : 085800853489

Dengan ini menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa karya tulis berupa makalah/artikel dengan judul "Menjemput Takdir yang Ditentukan oleh-Nya Melalui Perjalanan Seribu Batu dari Satu Langkah" yang saya ajukan dalam Lomba Menulis Kisahku, Inspirasiku adalah benar-benar karya asli (orisinal) yang saya susun sendiri secara mandiri.

Saya menjamin bahwa karya ini:

  1. Tidak mengandung unsur plagiarisme atau pelanggaran hak cipta pihak lain.
  2. Murni gagasan dan rumusan saya sendiri tanpa bantuan pembimbing maupun pihak lain.
  3. Belum pernah dipublikasikan di media mana pun dan belum pernah diikutkan dalam perlombaan lain.

Apabila di kemudian hari terbukti ditemukan pelanggaran atas pernyataan ini, saya bertanggung jawab penuh secara akademik dan bersedia menerima sanksi diskualifikasi dari panitia lomba.

Semarang, Juli 2026

Yang Membuat Pernyataan

( ……………………… )

Nashwa Putri Latifah

MOTTO

“Segala hal yang nyata dan kau inginkan tetapi belum dapat kau raih adalah fiksi, tetapi semua mimpi yang fiksi dan kau usahakan adalah nyata.”

Fredrik Ornata

“Manusia tidak merancang untuk gagal, mereka gagal untuk merancang.”

William J. Siegel

“Apabila sesuatu yang kau senangi tidak terjadi, maka senangilah apa ysng terjadi.”

Ali bin Abi Thalib

"Tidak ada gairah yang dapat ditemukan dengan bermain-main dalam hidup yang kurang dari yang mampu kamu jalani."

Nelson Mandel

PERSEMBAHAN

Makalah ini secara khusus dipersembahkan kepada:

  1. Orang tua yang telah menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan kekuatan bagi saya. Terima kasih atas segala pengorbanan, kesabaran, dan kepercayaan yang telah diberikan. Saya berharap karya ini dapat membuat kalian bangga.
  2. Seluruh teman seperjuangan, dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada saya.
  3. Para pembaca yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan minat dalam memahami artikel saya.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, petunjuk, dan bimbingan-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah artikel ini. Makalah artikel ini berjudul “Menjemput Takdir yang Ditentukan oleh-Nya Melalui Perjalanan Seribu Batu Bermula dari Satu Langkah.”

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada jungungan kita, Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.

Makalah artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan memberikan kontribusi positif kepada para pembaca mengenai judul yang saya pilih. Saya berharap makalah artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca, terutama para remaja.

Dalam penulisan makalah artikel ini, saya menyadari masih banyak kekurangan. Kritik dan saran dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas penulisan makalah artikel ini. Semoga makalah artikel ini bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Semarang, Juli 2026

Tanda Tangan Penulis

DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ii

MOTTO iii

PERSEMBAHAN iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI vi

ABSTRAK vii

ARTIKEL 1

ABSTRAK

Artikel ini mengulas refleksi mendalam mengenai dinamika pencarian identitas, ambisi, dan penerimaan diri pada seorang remaja dalam menghadapi transisi menuju perguruan tinggi. Melalui pendekatan naratif personal, penulis mengisahkan benturan antara idealisme impian masa muda sebagai penulis dengan realitas restu orang tua yang mengarahkannya ke bidang kesehatan. Esai ini membedah kompleksitas emosional selama proses seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur SNBP, SPAN-PTKIN, hingga ujian mandiri di tengah himpitan jadwal akademik madrasah yang padat. Hasil refleksi menunjukkan bahwa kegagalan beruntun tidak serta-merta mengubur ambisi, melainkan memicu perubahan personal dari perasaan insecurity menuju pertumbuhan diri. Artikel ini menyimpulkan bahwa integrasi antara ilmu gizi dan literasi merupakan jalan keluar konstruktif untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sekaligus membuktikan bahwa takdir sekunder dapat menjadi media terbaik untuk bertumbuh jika dihadapi dengan ketegaran dan optimisme.

Kata Kunci: Ambisi, Penerimaan Diri, Transisi Akademik, Pertumbuhan Diri.

ARTIKEL

Menjemput Takdir yang Ditentukan oleh-Nya Melalui Perjalanan Seribu Batu Bermula dari Satu Langkah

Nashwa Putri Latifah

Program Studi S1 Gizi

Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan

nashput14@gmail.com

Aku perempuan yang terkadang melewatkan hal-hal krusial hanya karena berpikir telah melakukan segalanya dengan baik. Teliti namun juga tergesa-gesa. Mereka melihatku sebagai “Perempuan Ambis” yang tak demikian. Karena aku tidak banyak puas dengan hasil yang kucapai. And this isn’t just my opinion, but also myparents opinion.

Nashwa Putri Latifah, akulah perempuan ambis itu. Perempuan yang lahir di Kota Atlas, kota dengan julukan Venetië van Java. Julukan tersebut diberikan oleh Belanda karena kota ini memiliki banyak sungai dan kanal di wilayah dataran rendahnya, mirip seperti kota Venesia di Italia.

1# Lawang Sewu

2# Masjid Agung

3# Kota Lama

4# Klenteng Sam Poo Kong

Ya, kota tersebut adalah Semarang. Sebuah kota tenang yang menyimpan keindahan tiada habisnya. Cuma di Semarang, kita bisa menjumpai gedung megah berpintu seratus, Lawang Sewu. Gedung kokoh yang mempunyai sejarahnya sendiri. Tidak hanya itu, masih banyak back sorty dari tempat-tempat bersejarah di Semarang yang bisa dikunjungi sebagai edukasi.

Namun, perjalanan hidup membawaku sedikit bergeser dari kota kelahiran. Aku alumni dari MA NU Banat Kudus sekaligus juga Pondok Pesantren Yanaabii’ul Ulum Warrahmah. Kenapa sih malah sekolah di Kudus? Jujur, aku sempat menolak. Awalnya aku tertarik untuk masuk ke SMK jurusan Tata Boga. Tapi karena Ibu lulusan SMK, dan Bapak lulusan SMA yang tahu suka dukanya, mereka menyarankanku untuk bersekolah di madrasah. Singkatnya kita bisa sebut dengan MANUBAKU. Dan di sanalah aku mulai menggali hobi menulisku yang kini hanya menjadi tumpukan karya. Sebagian kubuang, karena alaynya itu tentang my crush.

Jurnalistik adalah ekstrakurikuler yang kuikuti ketika menempuh pendidikan di MANUBAKU. Di sana aku semakin dibuat jatuh cinta dengan menulis. Dari menulis berita-berita inilah aku menemukan my type, tipe penulisanku. Fun fact, aku tuh orangnya kaku. Bisa dibilang lebih baik berkomunikasi dalam bentuk teks daripada langsung.

Alurnya sudah bisa ditebak, kalau aku ini bercita-cita sebagai seorang penulis. Sayangnya, impian itu sempat terganjal restu. Bapak kurang menyetujui keputusan tersebut, bahkan sempat menertawakannya. Tentunya i’m really really heartbroken. ”Why can’t i do it? Do i have to work at a job i don’t like? Why?? Wouldn’t it be more fun if i did what i wanted?” Banyak pertanyaan yang memutar terlontar tanpa henti di dalam kepalaku. Bapak mengarahkanku untuk mengambil jurusan kesehatan. Dan aku memilih jurusan Gizi. And why “nutrition”? because i have a phobia of blood, soo i chose that. Terlepas dari arahan itu, aku sudah legowo. Membantu orang-orang yang membutuhkan ilmu-ilmu dari ku kedepannya sudah menjadi tujuanku. Tetapi mimpiku untuk dapat menerbitkan sebuah buku tidak terkubur

begitu saja. Dengan perjalanan yang panjang ini aku yakin dapat mewujudkan keduanya. Step by step toward a noble dream by reaching out to others through actions and writing.

Langkah awal kuperjuangkan dengan mendaftar di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Semarang pada programl D4 jurusan Gizi dan Dietetika. And i’m so excetid for this! Aku lebih menyukai praktek daripada membahas teori, karena melalui hasil prakteklah kita tidak perlu memperdebatkan teori-teori yang ada. Tapi siapa sangka aku masuk ke daftar eligible sekian? Melalui beberapa siswi yang mengundurkan diri, Allah dengan segala kebaikan-Nya memberikan kesempatan ini kepadaku.

Sejujurnya aku tidak terlalu percaya diri dengan jalur SNBP ini. Selain pesaingnya banyak, i don’t want to feel like i’m not enjoying it. Ternyata dramanya banyak banget. So, i’m chose D4 Teknologi Rekayasa Kimia Industri di Universitas Diponegoro. Why? Bcs i can’t move away, and the closest university is UNDIP. I thought it was over, but it turns out it wasn’t. Aku mengira perjuangan ini telah usai, tetapi ternyata belum. Aku juga mendaftarkan diri di SPAN-PTKIN UIN Walisongo Semarang pada program studi Ilmu Falaq dan Pendidikan Matematika.

And, fail. Aku gagal di keduanya,baik di Poltekkes maupun SNBP. Since this isn’t the first time i’ve felt disappointed, i’m not going to just give up. Aku langsung melanjutkan pendaftaran ujian CBT-Poltekkes Semarang. Sayangnya lagi, jadwal ujian tersebut bentrok dengan pelaksanaan ujian praktik di sekolahku. Hal ini sempat membuatku kesal, sebab di sekolah lain para siswanya sudah tidak perlu lagi memikirkan beban ujian sekolah yang bertabrakan seperti itu.

Sebelum tiba hari kelulusan, aku dibingungkan dengan dua pilihan pelik: Mengikuti ujian CBT-Poltekkes yang jika tertolak aku harus menerima pilihan di UIN. Atau menerima kenyataan bahwa akhirnya harus bersekolah di swasta, Universitas Muhamadiyah Semarang? Itu menjadi pilihan berat bagiku.

And yap, kenyataannya aku harus menghadapi teori-teori akademik itu. Aku dinyatakan diterima di Universitas Muhammadiyah Semarang pada progam studi S1 jurusan Gizi. Namun setelah itu, pengumuman menunjukkan bahwa aku juga lolos pada pendaftaran SPAN-PTKIN. My parents were so happy, namun hal tersebut tidak mengubah takdirku untuk tetap melangkah pada program studi S1 Gizi di UNIMUS.

Pastinya kalian bertanya-tanya, “Kenapa Nashwa tidak mencoba melalui jalur SNBT?” Jalur SNBT dimulai sesudah H-20 ujian praktek di madrasah selesai. And it’s not just about me, semuanya, banyak teman-temanku yang dibingungkan oleh pertanyaan, “How can i manage my time effectively?” Mengingat jadwal ujian yang begitu padat dan panjang, total ada 20 hari ujian yang beruntun yang harus dilaksanakan sebelum SNBT. Situasi ini sangat berat bagi semua orang karena rentetan ujian akhir, remedial dan susulan, ujian madrasah, dan urutan terakhir ujian praktik madrasah. Kami semua berharap untuk ke depannya, linimasa jadwa; akademik bisa dikendalikan. Bagaimanapun juga, membagi waktu dan pikiran di tengah tekanan bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan, right?

Aku tentunya sangat mengapresiasi teman-teman yang bisa meluangkan waktunya, bahkan mengorbankan waktu tidurnya, untuk belajar dan berjuang. Istirahat disaat orang lain bermain, dan belajar disaat yang lain tertidur. Karena melihat yang lain, walau tidak semua aku sempat merasa tidak percaya diri dengan segala keterbatasan waktu dan situasi tanpa jeda yang terjadi pada diriku.

Ini adalah perjalanan sangat emosional bagi semuanya. Sebuah fase yang penuh harapan maupun kekecewan yang harus dihadapi dengan lapang dada. Namun, di sepanjang perjalanan yang tak menentu ini, aku tidak pernah menyesali setiap Langkah yang pernah kuambil. Karena bagiku, rasa menyesal hanya membuatku tenggelam dalam kesedihan. So, don’t forget to get back up buddy.

Banyak tangis dan tawa yang kulalui ketika menempuh pendidikan di Kudus. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuatku menyesal untuk melangkah di dalamnya. Di sanalah aku mendapatkan banyak pengalaman yang tidak akan bisa kurasakan di luar sana. Tekanan yang menguras emosi ini membentukku menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Rasa kurang atau kata insecure itu kini telah berubah menjadi kata grow. Aku selalu mencoba segala hal dalam diri pribadi yang tak pernah menyerah ini.

Kalian perlu tau, sebelumnya aku tidak percaya diri dengan semua yang sedang terjadi. Tapi disamping itu aku selalu memaksimalkan usaha terbaik yang dapat aku lakukan. Berdoa, bertawakal, belajar dengan giat. Belajar sampai pagi, juga tak lupa dengan bangun pagi, walau kusadari masih ada yang lebih baik dari diriku. Dari titik itulah aku belajaruntuk menjadi lebih tegar dalam menerima kenyataan yang memang tak seindah mimpi kala itu.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa jalan inilah yang terbaik. Tidak hanya bagiku, tetapi juga untuk semuanya. Aku percaya mimpi tinggiku ini, baik sebagai ahli gizi maupun seorang penulis dapat memberikan kontribusi nyata dan membantu banyak masyarakat di luar sana. In Syaa Allah.

Tinggalkan Komentar