Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
Suatu hari ketika masih berusia tujuh tahun, saya melihat banyak orang datang ke rumah dengan wajah penuh duka. Saat itu, saya belum benar-benar memahami arti kehilangan. Yang saya tahu, setelah hari itu ayah tidak pernah pulang lagi. Beliau meninggal dunia karena sakit keras dan meninggalkan ibu, saya, serta adik untuk melanjutkan hidup tanpa sosok kepala keluarga.
Sejak saat itu, kehidupan kami berubah. Ibu bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penghasilannya tidak menentu, tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah: keyakinannya bahwa anak-anaknya harus tetap bersekolah.
Sebagai anak pertama, saya sering merasa tidak tega melihat perjuangan beliau. Karena itu, saya berusaha membantu dengan berjualan jajanan kecil di sekolah. Keuntungan yang diperoleh memang tidak besar, tetapi dari sana saya belajar bahwa setiap usaha memiliki nilai, sekecil apa pun hasilnya.
Keterbatasan ekonomi tidak membuat saya berhenti bermimpi. Justru keadaan itulah yang mendorong saya untuk terus berprestasi. Saya selalu berusaha mengikuti berbagai perlombaan yang diadakan sekolah maupun luar sekolah. Setiap penghargaan yang saya raih bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga hadiah kecil untuk ibu yang telah berjuang tanpa lelah.
Ketika diterima di SMA Negeri 3 Semarang, saya merasa selangkah lebih dekat dengan cita-cita saya. Di lingkungan yang dipenuhi siswa-siswa berprestasi, saya menyadari bahwa kemampuan saya mungkin tidak sebaik sebagian teman-teman yang lain. Namun, saya percaya bahwa kerja keras dapat menjadi penyeimbang dari segala keterbatasan. Saya belajar secara mandiri dan mengikuti berbagai kompetisi. Alhamdulillah, saya berhasil meraih medali perunggu Olimpiade Bahasa Indonesia tingkat nasional.
Meski demikian, perjalanan menuju perguruan tinggi tidak semudah yang saya bayangkan. Menjelang akhir kelas XII, pengumuman siswa yang masuk kategori eligible menjadi salah satu momen paling berat dalam hidup saya. Saya berharap nama saya ada di sana, tetapi kenyataannya tidak. Hati saya hancur. Saya merasa semua usaha yang telah dilakukan belum cukup untuk mengantarkan saya menuju impian.
Saat saya tenggelam dalam kekecewaan, ibu berkata, “Tidak masuk jalur itu bukan berarti kamu gagal kuliah.” Kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa harapan tidak berhenti pada satu pintu yang tertutup.
Karena keterbatasan biaya, saya tidak mampu mengikuti bimbingan belajar berbayar untuk UTBK. Saya kemudian mencari berbagai peluang beasiswa hingga menemukan program dari Yayasan Lumina yang menyediakan pembelajaran UTBK dan bantuan transportasi. Saya mendaftar dengan penuh harapan dan bersyukur karena diterima.
Hari demi hari saya jalani dengan belajar lebih giat. Di tengah persiapan UTBK, saya juga mendaftar Poltekkes Kemenkes Semarang melalui jalur beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu. Doa, usaha, dan dukungan ibu akhirnya membuahkan hasil. Saya dinyatakan lolos dan resmi menjadi mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis (D-IV) Poltekkes Kemenkes Semarang.
Saat membaca pengumuman kelulusan itu, saya teringat perjalanan panjang yang telah dilalui seorang ibu yang bekerja tanpa mengenal lelah, seorang anak yang berjualan di kelas untuk membantu keluarga, dan mimpi yang hampir padam tetapi memilih untuk tetap menyala.
Kini, selain menjalani perkuliahan, saya juga berjualan makanan secara daring. Saya belajar bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan. Justru dari keterbatasan itulah saya menemukan kekuatan untuk terus melangkah. Sebab, terkadang mimpi terbesar lahir dari perjuangan yang tidak pernah terlihat oleh banyak orang.
