About Me

Nayla adalah seorang Mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang yang menulis berdasarkan pengalaman pribadi dan refleksi kehidupan setelah lulus Sekolah Tahun, 2025.

{Gugur Tiga kali, Tumbuh di kampus Impian}

Oleh: Nayla Safitri

Aku, Nayla, adalah seorang gadis yang memiliki cita-cita tinggi, akan tetapi terbentur dengan keterbatasan ekonomi keluarga. Meskipun begitu, aku percaya salah satu jalan untuk mengubah nasib keluargaku hanyalah melalui pendidikan. Oleh karena itu, aku memutuskan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu bangku perkuliahan. Banyak hal yang sudah aku coba untuk bisa melanjutkan cita-cita dengan cara mencari beasiswa.

Pertama, mencoba jalur SNBP Kip Kuliah karena aku termasuk siswa yang masuk eligible di sekolah. Akan tetapi aku gagal. Aku sempat menangis, tapi hal itulah yang justru membuatku bangkit. Aku berpikir bahwa menggapai cita-cita itu butuh proses yang sangat panjang, sedangkan hasil tersebut baru langkah awal dalam perjalananku.

Akhirnya aku memutuskan mencoba jalur SNBT Kip Kuliah. Di saat itu, aku belajar dengan sungguh-sungguh dengan cara membeli buku UTBK SNBT 2025, karena aku tidak bisa belajar menggunakan media sosial karena aku adalah seorang santri yang tinggal di pondok pesantren yang tidak diperbolehkan menggunakan telepon genggam. Namun, hal tersebut tidak membuatku menyerah untuk terus berjuang.

Tibalah saatnya pengumuman hasil UTBK SNBT 2025, dan ternyata aku masih gagal. Di saat itu aku hampir menyerah, akan tetapi aku masih dapat dukungan dari orang tua untuk mencoba lagi pada jalur UMPTKIN. Akhirnya aku bangkit dan belajar kembali. Jalur UMPTKIN menjadi harapan terakhir yang aku pertaruhkan. Di tengah keterbatasan ruang gerak sebagai santri, aku kembali membuka buku-buku latihan soal dan memanjatkan doa di sepertiga malam, dan memasrahkan kepada Tuhan. Aku meyakinkan diri bahwa jika suatu pintu tertutup, bukan berarti perjalananku selesai; mungkin Tuhan sedang mengarahkanku ke pintu lain yang lebih baik.

Ternyata perjuanganku belum selesai. Aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku kembali gagal untuk ketiga kalinya pada jalur UMPTKIN. Tidak berhenti di situ, aku mencoba lagi dengan mendaftar di dua kampus swasta. Aku dinyatakan lolos, tapi tanpa beasiswa. Mengingat keterbatasan ekonomi keluarga, dengan berat hati kesempatan itu tidak aku ambil. Setelah hasil tersebut sudah aku terima, “Sebulan kemudian” Tuhan menjawab doa-doaku dengan cara yang tak terduga. Pada siang hari saat aku sedang berlibur bersama keluarga, berusaha menghilangkan rasa sedih yang teramat dalam, tiba-tiba telepon genggam di sakuku berdering. Lewat panggilan telepon itulah, aku mendapatkan informasi bahwa aku di terima di Universitas Muhammadiyah Malang dengan beasiswa full hingga lulus nanti.

Saat mendengar informasi tersebut, rasa haru dan senang bercampur aduk menjadi satu. mata langsung menetes, tetapi kali ini adalah tangis kebahagiaan dan rasa syukur yang luar biasa.

Kini, setiap kali aku berjalan melewati koridor kampus Universitas Muhammadiyah Malang, aku selalu teringat masa-masa sulit di pondok pesantren tanpa telepon genggam. Kegagalan beruntun yang sempat mencuri senyumku, ternyata hanyalah cara Tuhan untuk menempaku menjadi pribadi yang tangguh. Melalui kisah ini, aku ingin menyampaikan kepada siapa pun yang sedang berjuang: jangan pernah menyerah pada keadaan. Ketika pintu-pintu yang kita harapkan tertutup, percayalah bahwa Tuhan sedang mempersiapkan pintu terbaiknya yang akan terbuka tepat pada waktunya.

Perjalananku adalah bukti nyata bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan cara terbaik untuk mendewasakan jiwa. Di kampus impian inilah, kisah baruku resmi dimulai dengan semangat yang tak akan pernah padam.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *