Dari Mimpi Sederhana ke Kampus yang Tak Pernah Terbayang

Oleh: Rayhana Putri Roup

Kalau aku diminta menceritakan bagaimana aku bisa sampai di Binus, rasanya… aku masih ingin menghela napas dulu sebelum menjawab. Terlalu banyak hal yang dulu terasa berat untuk dilewati. Aku sampai di titik ini bukan karena hidupku mulus. Aku sampai di sini karena aku terus berjalan, bahkan saat langkahku sendiri sering goyah.

Dulu, mimpi kuliahku sebenarnya sangat sederhana. Aku cuma ingin masuk UT supaya bisa kuliah sambil kerja. Itu saja. Tidak muluk-muluk. Tidak ada bayangan tentang kampus besar, beasiswa penuh, atau pencapaian yang terdengar hebat di telinga orang lain. Yang kupikirkan waktu itu cuma satu: aku ingin tetap belajar, tapi juga ingin membantu diriku sendiri untuk berdiri di kaki sendiri.

Tapi hidup punya cara sendiri untuk mengubah rencana manusia.

Setelah lulus, aku gagal masuk UT. Alasannya bukan karena aku tidak mau, bukan karena aku tidak berusaha, tapi karena saat itu aku belum punya ijazah dan belum bisa memakai SKL. Hal yang bagi orang lain mungkin terlihat seperti urusan administratif biasa, bagiku saat itu terasa seperti pintu yang tertutup rapat. Aku ingat betul rasanya. Diam. Kosong. Bahkan untuk menjawab pertanyaan orang rumah saja rasanya berat. Dan banyak sekali kecewa yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

Di saat seperti itu, aku tidak langsung kuat. Aku juga tidak langsung melihat hikmah. Yang aku rasakan justru pertanyaan-pertanyaan yang datang satu per satu. Apakah aku terlambat? Apakah aku salah jalan? Apakah aku memang harus menerima bahwa jalanku hanya sejauh ini?

Akhirnya, aku memilih gap year selama satu tahun.

Keputusan itu tidak terasa ringan. Jujur saja, di awal aku sempat merasa seperti sedang tertinggal. Teman-teman melangkah, sementara aku berhenti sebentar. Orang lain mungkin melihat gap year sebagai jeda biasa, tapi bagiku waktu itu terasa seperti ruang sepi yang membuatku harus berhadapan dengan banyak hal dalam diriku sendiri. Aku belajar sabar—di hari-hari ketika aku harus menjawab pertanyaan orang, “Sekarang kuliah di mana?” dengan senyum yang kupaksakan. Dan aku belajar menahan kecewa, saat melihat teman-temanku sudah sibuk dengan dunia barunya, sementara aku masih mencoba berdamai dengan jeda yang tidak pernah kurencanakan. Aku belajar bahwa tidak semua perjalanan harus terlihat cepat supaya tetap berarti.

Selama gap year, aku berusaha tidak membiarkan waktuku lewat begitu saja. Aku ikut les komputer. Aku ikut les bahasa Inggris. Mungkin terdengar sederhana, tapi dua hal itu benar-benar jadi bagian penting dari prosesku. Dari sana aku belajar bahwa berkembang tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Kadang, cukup dengan mau duduk, mau belajar lagi, mau mengakui bahwa kita masih perlu bertumbuh. Dan itu bukan hal yang memalukan.

Di tahun itu, aku juga mulai memahami bahwa aku tidak sedang menunggu hidup dimulai. Hidupku justru sedang dibentuk. Pelan-pelan. Tidak ramai. Tidak spektakuler. Tapi nyata.

Awal sampai pertengahan 2025, aku mulai mengikuti banyak tes beasiswa. Waktu itu, aku tidak punya jaminan apa-apa. Aku hanya punya niat, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Aku bukan anak dari keluarga yang serba cukup. Ibuku hanya ibu rumah tangga. Ayahku hanya guru biasa. Mereka bukan orang tua yang bisa memberikan jalan mudah, tapi justru karena itulah aku belajar arti perjuangan yang sebenarnya.

Aku tumbuh dengan melihat bagaimana mereka berusaha diam-diam. Aku melihat bagaimana mereka tetap memberi semangat meski mungkin dalam hati juga khawatir. Aku melihat bahwa cinta orang tua tidak selalu datang dalam bentuk yang mewah. Kadang, cinta itu hadir dalam wajah lelah yang tetap tersenyum, dalam doa yang diucapkan pelan-pelan, dan dalam keyakinan bahwa anaknya harus punya masa depan yang lebih baik.

Setiap kali ikut tes, aku membawa harapan yang sama: semoga ada pintu yang terbuka. Tapi aku juga membawa ketakutan yang sama: bagaimana kalau gagal lagi? Karena jujur, mencoba berulang kali tanpa tahu hasilnya bisa sangat menguras tenaga. Ada hari-hari ketika aku merasa kuat. Ada juga hari-hari ketika aku hanya ingin diam dan tidak memikirkan apa-apa. Tapi di tengah semua itu, aku tetap memilih untuk terus melangkah.

Dan alhamdulillah, satu per satu pintu itu benar-benar terbuka.

Pengumuman pertama yang kuterima, aku membacanya berulang kali. Takut salah lihat. Takut terlalu cepat senang. Tapi saat aku sadar itu benar, ada sesuatu yang pelan-pelan runtuh di dalam diriku—rasa ragu yang selama ini kupendam. Setelah itu, satu per satu kabar baik datang. Dan setiap kali itu terjadi, rasanya seperti diingatkan lagi: mungkin selama ini aku terlalu sering meragukan diriku sendiri.

Aku diterima di President University dengan fully funded. Lalu di MNC University, Universitas Bakrie, Untar, Politeknik, Institut Teknologi Sains Bandung, Universitas Multimedia Nusantara dan Mercu Buana. Semuanya lewat jalur beasiswa. Sampai di situ saja, rasanya aku sudah seperti berkali-kali diingatkan bahwa Allah tidak pernah menutup jalan bagi orang yang mau berusaha.

Tapi aku masih belum berhenti.

Aku masih mencoba Binus University. Jujur, di titik itu aku tidak datang dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Aku datang dengan hati yang tetap gemetar, tapi masih mau berharap. Aku tahu aku bukan anak eligible. Aku juga bukan termasuk 5 besar di sekolah. Kalau dilihat dari awal, mungkin aku memang bukan yang paling unggul di atas kertas. Tapi hidup ternyata tidak selalu memilih orang yang paling mencolok. Kadang, hidup memberi kesempatan pada orang yang terus bertahan meski tidak terlihat menonjol.

Dan kemudian, kabar itu datang.

Aku membaca pengumuman itu sendirian. Tanganku dingin, dan untuk beberapa detik aku hanya diam, seperti tidak berani percaya. Hal pertama yang terlintas di kepalaku bukan diriku sendiri—tapi orang tuaku.

Aku diterima di Binus University lewat jalur beasiswa Widia (prestasi) dengan full 100% selama 4 tahun.

Aku tidak tahu harus menyebut perasaan itu apa. Bahagia, tentu. Syukur, pasti. Tapi lebih dari itu, aku merasa seperti Allah sedang menunjukkan bahwa semua lelahku tidak sia-sia. Bahwa semua air mata yang tidak sempat jatuh di depan orang lain, semua doa yang kubisikkan dalam diam, semua rasa ragu yang pernah menekan dadaku, ternyata tidak berhenti di ruang kosong. Semuanya sampai juga.

Binus adalah sesuatu yang dulu bahkan tidak berani kubayangkan. Dulu aku hanya ingin kuliah sambil kerja. Sekarang, aku justru berdiri di tempat yang dulu terasa terlalu jauh untuk didekati. Dan di situlah aku benar-benar belajar, bahwa hidup sering kali memberi lebih indah dari yang berani kita minta.

Kalau aku menoleh ke belakang, aku tidak melihat perjalanan ini sebagai kisah keberuntungan. Aku melihatnya sebagai perjalanan yang dibangun dari doa, usaha, jatuh bangun, dan keberanian untuk tetap melangkah saat segala sesuatu belum pasti. Aku belajar bahwa gagal bukan akhir. Jeda bukan kehancuran. Dan mimpi yang terlihat kecil pun tetap layak diperjuangkan.

Hari ini, aku hanya ingin bersyukur. Bersyukur karena Allah menuntunku lewat jalan yang tidak pernah kubayangkan. Bersyukur karena kedua orang tuaku tidak pernah berhenti percaya. Bersyukur karena aku pernah jatuh, sebab dari situlah aku belajar berdiri lebih kuat. Dan bersyukur karena pada akhirnya, mimpi yang dulu sederhana justru membawaku ke tempat yang jauh lebih besar dari yang pernah kupikirkan.

Mungkin memang begitulah hidup. Kadang kita hanya perlu tetap berjalan, bahkan saat tidak tahu akan sampai ke mana.

Karena dulu, aku hanya ingin kuliah sambil kerja. Tapi hari ini, aku justru berdiri di tempat yang dulu bahkan tidak berani aku bayangkan.

Berikut bukti Letter of Acceptance (LoA):

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *