Sebingkis Kisah dari Seluruh Kisah Hidupku: Kamu Akan Disambut Keberhasilan Jika Kamu Tidak Menyerah
Oleh: Nisa Agnia Rahma
Masa putih abu adalah masa yang paling menyenangkan sekaligus salah satu masa yang paling dikenang dalam hidup. Namun, di masa ini pun merupakan masa-masa paling menegangkan menurutku. Kalimat tersebut terasa pantas, karena kenangan indah yang tercipta bersama orang-orang yang menyenangkan. Masa ini juga merupakan batu loncatan terakhir dan yang paling dekat untuk menjajaki dunia pendidikan yang berbeda dari sebelumnya, yaitu dunia perkuliahan.
Kisah di masa putih abu ini dimulai ketika aku memutuskan untuk melangkah di sekolah dengan nuansa biru muda yang perjalanannya ditempuh selama 15 sampai 20 menit dari rumah. Di sekolah ini, tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan umum, tetapi juga dilengkapi dengan ilmu keagaamaan. Disamping itu, sejak aku duduk di bangku kelas 10, sedikit demi sedikit aku mulai serius dalam merancang peta perjalanan hidupku, kemana aku akan berjalan selanjutnya. Dalam merancang peta perjalanan hidup tersebut, aku mempunyai beberapa role model yang dijadikan tolak ukur ingin menjadi seperti apa diriku di masa depan. Role model tersebut tidak lain adalah orang tuaku, kakak-kakakku, adikku, guru-guruku di sekolah, kakak-kakak kelasku, teman-temanku, adik-adik kelasku dan tidak lupa tokoh-tokoh influencer yang aku sukai dan aku banggakan.
Hidupku cukup dekat dengan sebuah buku, selain membaca buku pelajaran, terkadang aku membaca novel fiksi remaja, dan yang paling aku suka adalah membaca buku-buku yang menceritakan perjalanan seseorang dalam meraih mimpinya. Saat aku duduk di bangku kelas 8 Madrasah Tsanawiyah, aku dipertemukan oleh Yang Maha Kuasa dengan sebuah buku yang ditulis oleh salah seorang tokoh influencer favoritku, yaitu Kak Nadhira Nuraini Afifa yang berjudul Limitless. Dalam buku itu, ada satu kalimat yang sangat aku ingat sampai saat ini, bahwa “Tidak ada yang membatasi mimpi kita selain pikiran kita sendiri.” Kalimat itu cukup mempengaruhi diriku untuk tidak berhenti memiliki mimpi dan memiliki motivasi untuk meyakinkan bahwa mimpi-mimpiku sangat mungkin untuk aku capai.
Dibalik itu, perjalananku dalam merancang dan meraih mimpiku satu-persatu tidak semulus itu. Namun, salah satu keberuntungan yang aku dapatkan dalam hidup ini adalah mempunyai orang tua yang tidak membiarkan aku kebingungan untuk menentukan jalan hidupku selanjutnya, sehingga dalam menentukan dan meraih mimpi tersebut aku selalu diarahkan oleh orang tuaku dan selalu mendapatkan dukungan penuh jika itu mengarah pada hal-hal yang baik. Sebelum memasuki masa putih abu, mimpiku terbilang cukup banyak, dan mungkin alurnya tidak beraturan karena belum terlalu merasakan bagaimana kehidupan. Waktu demi waktu, bumbu-bumbu kehidupan mulai kurasakan, walaupun belum semua bumbu-bumbu dalam kehidupan aku rasakan. Namun, hal itu membantu aku untuk memilah apa yang seharusnya aku gapai, dan apa yang mampu aku gapai.
Saat aku duduk di bangku kelas 11, aku mulai menemukan kepastian dalam perihal mimpi untuk masa depanku. Berdasarkan mimpiku dan dukungan dari orang tuaku, aku memutuskan untuk memilih bidang pendidikan sebagai sesuatu yang ingin aku tekuni. Memang, sejak aku duduk di bangku kelas 10, aku bercita-cita untuk kelak di masa depan memiliki kontribusi dalam bidang pendidikan. Karena menurutku, pendidikan memiliki peran dan posisi yang sangat penting dalam kehidupan ini. Pendidikan dapat menjadi penerang bagi kelangsungan hidup, bahkan dengan pendidikan kita dituntun untuk memiliki pemikiran terbuka dan tidak hanya berpikir dari satu sudut pandang saja baik dalam memandang kehidupan maupun kepada sesama makhluk hidup, yang mana pola pikir itu sangat membantu kita untuk berproses dalam menjalani kehidupan. Maka dari itu, harapanku dengan memasuki dunia pendidikan dan bercita-cita sebagai tenaga pendidik, kelak aku bisa menebarkan kebaikan, ilmu, motivasi, dan ketulusan kepada generasi selanjutnya, bahwa kehidupan itu sangat berharga dan layak untuk diperjuangkan.
Sebelum memutuskan mimpi apa yang akan kukejar, terlebih dahulu, aku berkonsultasi dengan orang tua, guru-guruku di sekolah, dan meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk menempatkan Program Studi Pendidikan Fisika sebagai jurusan impian di seleksi masuk perguruan tinggi. Bidang Fisika menjadi impianku karena aku memiliki ketertarikan pada bidang tersebut, yang tidak lain aku cukup tertarik pada Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) karena melihat pamanku yang menjadi tenaga pendidik di bidang tersebut, dan ketertarikan itu diperkuat oleh seorang guru Fisika yang mengajarku sewaktu masa putih abu yang cara beliau dalam mengajar memotivasiku untuk tertarik pada bidang Fisika dan menjadi tenaga pendidik yang baik di masa depan. Namun, perjuanganku untuk meraih jurusan tersebut tidak selalu mudah. Kegiatan-kegiatan di kelas 11 dan 12 mulai lebih padat, terlebih aku harus pandai dalam membagi waktu karena bergabung dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Hal tersebut menjadi tantanganku dalam meraih jurusan dan kampus impianku disamping memikirkan bagaimana cara agar nilai rapotku tetap stabil agar lolos ke perguruan tinggi dengan jalur prestasi nilai rapot. Namun, pengalaman dan benefit mengikuti organisasi tersebut sangat banyak, sehingga aku memilih untuk berjuang dalam organisasi tersebut sampai akhir masa jabatan.
Belajar dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guruku menjadi kegiatan sehari-hariku saat itu, disamping itu banyak orang yang mengatakan bahwa jalur langit (beribadah dan berdoa kepada Allah) sangat penting dalam pertarungan meraih masa depan ini. Dalam perjalananku ini, aku mulai mengenal bagaimana kita sebagai seorang muslim mengendalikan iman kita, ekspektasi kita, dan rasa berpasrah kepada Yang Maha Kuasa yang Maha Mengetahui bagaimana masa depan terbaik untuk kita sebagai hamba-Nya.
Menurutku, berdoa kepada Allah SWT., merupakan hal yang sangat penting terlebih dimasa-masa memimpikan sesuatu yang kelak akan menjadi salah satu masa depan kita. Pun, patut untuk diingat pula, bahwa hadirnya kita dikehidupan ini salah satunya adalah untuk diuji, menurutku Allah SWT., menguji hamba-Nya merupakan suatu bentuk kasih sayang. Jadi, jika kalian merasa diuji ketika ingin mendapatkan sesuatu, ingin memperjuangkan sesuatu, maka jangan berhenti berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah SWT. Karena, aku pernah mendengar suatu kalimat, bahwa ujian dari Allah SWT., bisa jadi merupakan cara Allah untuk mengangkat derajat kita.
Pengalamanku pada saat mengejar perguruan tinggi impianku, suatu hal hadir pada perasaanku bahwa Allah SWT., menguji diriku, namun setelah dipahami kembali, aku paham bahwa ujian itu merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya agar lebih mengingat kepada Sang Pencipta, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Yang secara tidak langsung, ujian itu membuatku untuk terus meminta petunjuk kepada Allah, yang mana hal itu sangat dibutuhkan terlebih pada masa itu aku sedang berjuang meraih mimpiku. Dari situlah aku paham, bahwa dibalik ujian itu terkadang kita terlambat memahami bahwa rencana indah dan maksud Allah memberikannya kepada kita adalah tidak lain untuk kebaikan hamba-Nya. Dan harus diyakini bahwa yang terjadi merupakan takdir terbaik dari Allah untuk hamba-Nya, dan pada saat-saat itulah kita harus mengendalikan harapan kita dimana setelah kita berusaha, lebih baik kita berpasrah kepada-Nya.
Kalimat-kalimat yang kutulis sebelum ini merupakan perjuangan singkatku dari aspek spiritual, kali ini aku akan berbagi perjuanganku dalam proses belajar. Sejak awal kelas 12, aku sudah mempersiapkan untuk seleksi masuk perguruan tinggi jalur tes atau dikenal dengan UTBK-SNBT (Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes). Beberapa persiapan yang aku lakukan adalah menjelajahi buku-buku latihan soal UTBK, hingga mencari-cari paket try out yang terjangkau dan gratis.
Disela-sela kesibukan menjadi siswa kelas 12, aku selalu menyempatkan mempelajari sedikit demi sedikit materi-materi dan latihan soal yang muncul di UTBK sebelumnya. Meskipun tidak selalu mengerjakan soal dengan banyak tetapi menurutku dengan konsisten, kita akan mengenal dan cukup terbiasa dengan soal-soal UTBK yang menurutku tergolong sulit. Persiapan UTBK ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika nanti tidak lolos pada jalur seleksi nilai rapot, meskipun itu belum tentu tetapi mempelajari dan mempersiapkan untuk tes UTBK tidak akan sia-sia jika nanti seleksi jalur nilai rapot lolos, itu pandanganku sebelum dilaksanakan SNBP (Seleksi Nasinal Berdasarkan Prestasi) dan UTBK-SNBT.
Hari-hari menjadi siswi kelas 12 terisi dengan belajar, mengerjakan tugas, mengisi buku-buku latihan soal dan try out UTBK, dan persiapan untuk serah terima jabatan OSIS kepada adik kelas. Seiring berjalannya waktu, hari-hari tersebut terlewati meskipun tidak selalu sempurna, tibalah di semester 2 yang dimana pendaftaran SNBP yang kusebut menggunakan nilai rapot, dibuka. Aku beserta teman-teman dibantu dan dibimbing oleh guru BK (Bimbingan Konseling) untuk melakukan tahap demi tahap proses pendaftaran SNBP, awalnya aku sempat ragu apakah aku harus mendaftar atau tidak, karena ketidakpercayaan diriku apakah akan lolos seleksi ini atau tidak. Namun, setelah berkonsultasi kepada orang tuaku, guru BK, dan tidak lupa teman-temanku yang sangat supportif, aku memutuskan untuk mendaftar SNBP di satu hari sebelum penutupan. Karena temanku berkata, bahwa SNBP hanya satu kali seumur hidup kesempatannya, jadi nanti hasilnya lolos ataupun tidak itu urusan belakangan daripada menyesal karena tidak mencobanya. Tidak lupa, sepanjang waktu menunggu pengumuman hasil SNBP, salat malam dan salat duha aku tingkatkan karena ingin mendapatkan hasil yang terbaik dan dilapangkan dada untuk apapun hasil yang akan kuterima nanti.
Sampai akhirnya tibalah di hari pengumuman SNBP, dan hasilnya aku tidak diterima di kampus impianku. Rasanya sedih karena salah satu harapanku tidak terealisasikan, dan takdir ini harus diterima dengan lapang dada dan meyakini bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Bersedih itu hal yang wajar, tetapi kesedihan itu menjadi tidak wajar ketika berlama-lama dan tidak terus melangkah untuk masa depan.
Setelah menerima pengumuman tersebut, aku memutuskan untuk mendaftar melalui jalur tes (UTBK-SNBT) dengan jurusan dan kampus tujuan yang sama saat mendaftar SNBP. Suatu keberuntungan karena telah mempersiapkan UTBK dari jauh-jauh hari, saat pelaksanaan tes tersebut semakin dekat aku mulai mematangkan persiapannya. Sampai tibalah di hari pelaksanaan, aku diantar oleh kakakku ke kampus tempat pelaksanaan. Suasana pagi itu terasa berbeda, udaranya sejuk, dan terasa suasana-suasana perjuangan untuk meraih masa depan ditemani oleh masing-masing orang yang mereka sayangi. Jika mengingat masa ini, rasa haru selalu menghampiri karena mengingat perjuangan-perjuangan orang-orang yang kutemui saat pelaksanaan tes tersebut.
Aku memasuki ruangan tes dengan penuh keberanian walaupun ada ketakutan yang tersembunyi, dengan penuh harap dan doa walaupun aku sendiri masih ragu aku akan lulus atau tidak pada seleksi kali ini. Namun, usaha yang kulakukan sudah tercurahkan semampuku dan yang tersisa hari itu hanyalah aku harus berjuang dengan sungguh-sungguh dan teliti, setelah itu berpasrah akan hasil yang kelak kuterima. Setelah beberapa jam mengerjakan soal, aku berjalan keluar ruangan dengan rasa syukur dan dengan hati yang sudah melepaskan beberapa keraguan dan kecemasan yang sebelumnya dialami. Hari itu berakhir dengan penuh rasa syukur, rasa berharap, dan bahagia.
Tibalah di hari pengumuman hasil UTBK-SNBT, tak mengelak bahwa aku sangat cemas dan sangat takut dengan hasil yang akan aku lihat. Aku takut bagaimana kalau akhirnya kabar yang kuterima tidak sesuai dengan harapanku. Sampai akhirnya, pengumuman tersebut dibuka oleh kakakku, dan akhirnya aku lolos terima di kampus dan jurusan impianku. Rasa haru dan bahagia kurasakan saat mendapatkan kabar itu. Ucapan selamat dan semangat untuk melangkah ke perjalanan selanjutnya banyak kuterima, aku sangat bersyukur dengan hal itu, dan semoga ucapan-ucapan itu menjadi doa pula untuk mereka yang mengucapkannya.
Pada akhirnya, itu bukanlah titik ujung kesuksesanku, melainkan awal yang baru dari langkahku untuk meraih masa depan yang cerah. Harapan dan kenyataan merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan pada masa-masa itu, tetapi sebagai manusia kita harus menjaga harapan kita agar tidak melampaui batas dan lebih bersiap ketika menerima hasil yang mungkin menurut kita tidak baik, tetapi menurut Allah itu yang terbaik. Setiap keberhasilan kita tidak terlepas dari dukungan dan doa-doa dari orang-orang disekitar kita. Maka dari itu, hasil yang baik harus diperjuangkan untuk mengukir senyuman mereka di masa depan kelak. Ketika kita mendapatkan kesempatan baik itu, jangan lupa untuk tetap berjuang dan berdoa agar selalu mempersembahkan hasil yang baik dan dikuatkan disetiap langkah menuju masa depan, serta tidak lupa untuk berdampak baik untuk orang lain, karena ada hak orang lain yang mungkin akan tersampaikan melalui tangan kita. Hari-hari yang berat tidak mungkin hilang, tetapi harus dihadapi dengan keberanian, kebaikan, dan kekuatan. Dan jangan lupa pula, di dunia ini tetap harus bersyukur, menebar kebaikan, keikhlasan dan senyuman agar hidup tidak hanya indah untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Terima kasih untuk semua yang telah mendukungku, memotivasi, dan mendoakanku, semoga kebahagiaan kalian selalu terukir dalam hidup ini. Semoga kita semua selalu dilindungi dan dilimpahkan kasih sayang oleh Yang Maha Kuasa.
